
Cerita menguraikan jejak langkah masa lalu yang pernah terangkai indah, melipatgandakan sebuah rasa yang sangat sukar untuk dihapus. Rindunya pun seakan tak pernah padam, menanti kejora bersinar kembali menyapa sang bulan.
Tapi ia hanyalah langit,yang diam untuk mendengarkan. Sibuk menekan getaran hatinya yang berdenyut tak karuan. Ia benci, sungguh. Ia benci karena harus terlibat merelakan diri sebagai jembatan menggapai asa yang teramat tinggi digantungkan.
Rabbku, rasa apakah ini?
Berminggu ia menunggu bahteranya beranjak dari dermaga namun sepertinya ia harus bersabar dan menunggu lebih lama lagi. Mungkin tiupan angin kiranya sudi mengantar mengarungi ombak yang menggulung dan mendaratkan bahteranya di pelabuhan impian.
Tami menutup album mini yang terangkai mawar kering di covernya. Lantas menyambar benda putih melingkar bulat dengan berlian kecil di atasnya. Manik matanya merenungi benda itu begitu lama, mengingat kembali sang Adam yang pernah menitipkan benda itu kepada sang Hawa. Lagi-lagi hatinya berdenyut. Ada rasa tidak nyaman dari kedua sisi yang menyeruak mengobrak-abrik serta menggoyahkan tekad dan pilihannya.
Ia bersumpah tak akan melihat benda terkutuk itu lagi setelah ini. Tami mengikat benda itu pada tali pembatas buku diary. Lalu ditutupnya dengan gugup. Ia berjanji bahwa ini yang terakhir. Mata bulatnya melirik jam dinding. Jarum jam menunjukkan pukul tiga subuh. Bergegas ia menyimpan mini album milik Alvin dan menyimpan diary usangnya di dalam koper. Air wudhu menjadi penyegar jiwa yang gersang. Menentramkan hati yang bergejolak.
Sunyi malam menemaninya merenung nasib bahteranya. Lalu berbagi cerita kepada Sang Penguasa Langit tentang rasa hati yang kini tak tentu arah sebab nahkoda enggan beranjak dari masa lalu yang menyiksa hati. Allah pertemukan dua insan yang telah terpisah lama, namun sayang dua jiwa dan hati belum mampu bersatu karena terikat jiwa dan hati yang lain. Lalu di manakah kiranya ujung benang yang melilit hati suaminya kini? Ia perlu segera mengurainya guna melepaskan belenggu cinta yang erat mengekang.
"Sudah shalat subuh,Ta?"
Tami menutup doanya dengan mengusap kedua belah tangannya ke wajahnya. Lantas menjawab pertanyaan Alvin.
"Belum, Mas. Adzan subuh belum berkumandang. Tadi Tami sholat tahajud." ujarnya. Segala kegundahan hati telah sirna di balik senyumnya yang menawan. Tami terlalu khusyuk curhat dengan Rabbnya hingga tak menyadari kapan suaminya turun dari tempat tidur dan mengambil air wudhu.
Duhai hati, siapakah yang tak bergetar melihat aura keshalihannya? Indah senyumnya, serta binar mata yang menampakkan keteduhan meski tingkahnya amburadul dan mulutnya yang seperti petasan renteng. Ingin Alvin menjadi pemilik separuh hati gadis yang telah sah menjadi istrinya, namun kata cinta bagai rantai yang mengekangnya. Hati dan jiwanya terlampau kecewa karena wanita. Ia bukanlah pria yang mudah menaruh hati pada seorang wanita. Bahkan cintanya pada Karina adalah rasa kasih sebagai seorang abang yang tanpa sadar berubah menjadi cinta di kala dewasa. Ia tak pernah menaruh hati kepada perempuan lain sebelumnya dan setelah apa yang dilakukan Karina, mampukah ia merajut benang cinta yang lain? Ia menyangsikan hal itu. Terlalu dalam rasa cinta yang dimilikinya untuk Karina. Mungkin dengan perlahan rasa sesak itu akan terganti harumnya bunga yang bermekaran di taman hati andai keikhlasan atas takdir yang digariskan Allah dapat bertandang di hati menggantikan semua rasa sakit dan kecewanya. Ya, semoga saja kali ini ia tak salah mencintai lagi. Berharap cintanya akan jatuh pada hati yang tepat. Jadi ia tak perlu lagi merasakan luka hati yang begitu menyiksa.
"Mas?" panggil Tami. "Mas, mau sholat tahajud?"
Alvin segera mengalihkan pandangannya dari wajah Tami. Sedari tadi tanpa sadar ia telah terlalu lama merenung wajah istrinya. Berusaha menghadirkan getaran rasa yang ditenggelamkan kekecewaan. Ia tahu ini akan butuh waktu, mungkin lama tapi mungkin juga tidak sama sekali. Entahlah, hidup harus tetap berjalan meski dengan atau tanpa cinta.
"Eh, iya. Ngomong apa tadi, Ta? Mas nggak dengar."
"Tadi Tami nanya.Mas mau sholat tahajud ya?"
"Iya, deh. Daripada tidur lagi. Bentar lagi adzan subuh juga berkumandang."
"Ya sudah, mas sholat dulu. Tami mau beresin barang mas yang ada di lemari terus dimasukin koper. Bolehkan?" tanya Tami meminta persetujuan.
Alvin tersenyum kecut melihat Tami, lalu menganggukkan kepalanya.Pertanda ia menyetujui pertanyaan Tami. Alvin memandangi istrinya yang dengan lincah beranjak dari atas sajadahnya dan mengemas semua barang miliknya ke koper. Berbagai pertanyaan bergelayut di benak Alvin.
Apakah Tami menganggap serius ikatan suci ini?
Apakah Tami menganggap dirinya sebagai seorang istri dan Alvin adalah suaminya?
Dan satu pertanyaan yang paling ingin Alvin ajukan adalah, Apakah hati dibalik mukenah itu sudah ada pemiliknya?
Namun semua pertanyaan itu hanya mampu Alvin ajukan di dalam hati. Dua bibirnya kompak tertutup rapat dari mengeluarkan suara.
Tami menutup resleting koper terakhir setelah mengemas semua barang yang ada di lemari. Hari ini ia dan Alvin akan pindah ke rumah baru yang diberikan mertuanya sebagai hadiah pernikahan. Dan kewajibannya adalah membangun rumah itu menjadi baiti jannati, rumahku surgaku.
Ide jahil untuk menggoda suaminya melintas begitu saja di benak Tami. Ia menyadari bahwa sejak tadi pergerakannya tidak luput dari perhatian Alvin yang hampir membuatnya jengah. Manik mata pria itu terus lekat memandanginya tanpa beranjak dari tempatnya berdiri. Entah apa yang sedang dipikirkannya. Mungkin sedang memberikan penilaian terhadap dirinya yang kadang dewasa dan kadang seperti bocah.
"Mas ada pelampung nggak?" tanya Tami dengan binar mata jahil.
Kedua alis Alvin bertaut, heran sekaligus bingung dengan pertanyaan yang diajukan Tami. Untuk apa dia tanya pelampung dini hari begini? Lagipula rumah mereka di tengah kota, bukan di lepas pantai yang membutuhkan pelampung untuk mengapung.
"Pelampung? Untuk kamu? Buat apa?" Alvin balik bertanya, heran.
Tami terkikik kecil menahan tawanya yang ingin segera mengudara. Pertanyaan yang diajukan Alvin benar-benar menggelitik perutnya.
"Bukan untuk Tami, tapi untuk mas Alvin."
Alvin semakin bingung saja dengan jawaban melantur yang dikatakan Tami. Apa dia kesambet hantu laut sampai nyari pelampung di pagi buta seperti ini?
Tami berjalan mendekati Alvin, lalu berjinjit sambil membisikkan sesuatu di telinga suaminya.
"Mas hati-hati loh. Kalau nggak bawa pelampung bisa-bisa mas tenggelam, tenggelam ke dasar hati Tami kalau merhatiinnya sedalem itu."
Alvin hanya melongo mendengar gombalan absurd Tami. Sementara gadis itu sudah melesat ke dapur. Entah gombalan dari film manakah yang di copy paste gadis itu. Alvin segera memasang peci dan baju kokonya, lantas menghabiskan waktunya di atas sajadah untuk bertemu Rabbnya sembari menanti mentari pagi terbit mengeringkan embun pagi.
__ADS_1
.....
Tami melepas kedua sendalnya, lalu berjalan di atas rumput basah sambil menyapa embun pagi yang hinggap di dedaunan. Ia sangat menyukai embun pagi serta bau tanaman yang menyeruak menembus hingga ke ruang dadanya. Ia berlajan sembari berlari kecil mengelilingi taman seperti bocah perempuan yang tengah asyik bermain hujan. Alvin yang tengah menyesap black coffee hanya tersenyum melihat tingkah kekanakan istrinya. Seperti de javu, pikirannya seolah berkelana mencari kebenaran bahwa ia pernah melihat hal yang sama tapi entah dimana. Pemandangan di depan matanya tak akan pernah ia lihat jika mempelainya tidak melarikan diri. Tami adalah sosok riang kekanakan, apa adanya, sekaligus dewasa dalam satu waktu. Berbeda sekali dengan sosok Karina yang anggun dan jaim di depannya. Dua bersaudara yang memiliki sikap bertolak belakang satu sama lain.
Tami menghentikan langkah kakinya dan berdiri mematung, keceriaan di wajahnya seketika lenyap berganti rasa malu yang luar biasa. Entah sudah berapa lama Alvin duduk di meja dapur sambil bertopang dagu memperhatikan tingkahnya.
Oh tidak. Batinnya. Kenapa pria itu harus berada di sana. Meskipun manik mata Alvin melihat ke arah lain tapi Tami mengetahui bahwa suaminya hanya tak ingin menambah rasa malu yang menderanya. Berpura-pura tidak melihat sosoknya adalah pilihan terbaik saat ini. Tami mengendap dengan langkah sedikit berjinjit melewati satu-satunya pintu masuk dari arah dapur. Seperti ninja, bahkan separuh wajahnya tertutup bagian bawah khimarnya. Gelak tawa Alvin tertahan di ujung tenggorokan melihat tingkah konyol istrinya.
Mendadak sekujur tubuh Tami membeku, hawa dingin dari lantai seakan menjalar menembus telapak kaki hingga ke ubun-ubunnya. Tangan kanan Alvin hampir melingkar sempurna di pinggangnya. Demi mamang duren di depan komplek, mimpi buruk apa lagi yang akan terjadi kini.
Ya Allah, tolong hambamu ini. Jagalah hambamu ini dari segala marabahaya dan tipu daya. Jangan biarkan syaitan yang terkutuk menguasai jiwa-jiwa yang lemah iman maupun kuat iman. Aamiin. Tami mengusap wajah dengan dua belah telapak tangannya, mengamini doa ngelantur yang baru saja ia panjatkan.
Alvin menarik pinggang Tami, namun sekuat tenaga pula gadis itu mempertahankan posisinya. Alvin melemaskan pelukannya di pinggang istrinya. Hal itu dimanfaatkan Tami untuk melepaskan diri. Bukannya berhasil lepas dari cengkraman Alvin, Tami malah jatuh terduduk di atas paha suaminya. Ternyata ia telah terjebak trik suaminya sendiri yang sengaja melemaskan tangannya agar Tami lengah. Mendadak suhu di ruangan itu terasa pengap dan dingin, seperti berbagi oksigen dari tabung yang sama. Kegugupan melingkupi keduanya, terlebih Tami yang merasa segala persendiannya melemas seketika. Ia seperti tak memiliki cukup tenaga meski sekedar untuk merubah posisi jari tangannya.
Wajah keduanya begitu dekat, manik mata Alvin seakan menyerobok menyambar dua indra penglihatannya.
"Tetaplah seperti ini, Mas menyukainya. Manis serta diselimuti kepolosan serta keceriaan."
Alvin berbisik dengan senyuman menawan. Membuat sekujur bulu halus Tami meremang. Air, mana air? Saat ini ia butuh seember air hangat untuk mengguyur tubuhnya. Tami menarik kedua sudut bibirnya dengan ragu, membentuk segaris senyum.
"Mau lolipop." tawarnya sembari mengacungkan permen lolipop bulat bergaris pink putih. Saat gugup tadi tanpa sengaja jemarinya menemukan sebuah permen lolipop dibalik saku bajunya.
Tawa Alvin meledak seketika. Kegugupan tergambar jelas di wajah istrinya, mungkin tidak hanya wajah tapi sekujur tubuh Tami sudah memerah menahan rasa gugup. Tami memukul pundak Alvin dengan geram. Ia benar-benar kesal karena Alvin terus mempermainkannya.
"Ih, Tami kesel sama mas Alvin. Lepasin Tami, Tami nggak mau ngomong sama Mas Alvin!" seru Tami dengan kesal. Kepalan tangannya tak henti mendarat di bahu bidang Alvin.
"Kesel apa gugup? Wajahmu saja sampai merona begitu." goda Alvin.
Tami segera menutup dua pipinya dengan telapak tangan. Jika tadi ia merasa dingin, kini mendadak suhu tubuhnya melonjak tinggi. Jantungnya berdetak dengan abnormal, seakan menggedor-gedor ruang dadanya. Huh, sepertinya ia harus segera memeriksakan jantungnya pada dokter Hafshah sebelum terlambat.
Bugh
Tami menoleh melihat siapa kiranya orang yang tengah tertimpa musibah. Buru-buru Tami turun dari pangkuan Alvin lantas menghampiri adik iparnya yang terpentok pintu dapur.
"Alya!" seru Tami dengan nada khawatir. Sebenarnya rasa khawatirnya itu lebih tepat dikatakan untuk menutupi rasa malu karena kepergok mesra-mesraan di pagi hari. Tami mengusap kening Alya yang terbentur pintu.
"Ngelihat banyak malah lebih bagus, Ly. Syukur-syukur kamu jadi kepepet nikah. Jadi Mamah nggak perlu nuntut cucu segera dari, Mas." ujar Alvin.
Tami melotot gusar kepada Alvin. Rasa malunya berkali-kali lipat lebih tebal karena ucapan Alvin.
"Alya naik ke kamar dulu, ya. Kak Tami sama mas lanjutin lagi deh mesra-mesraannya."
"Itu tadi lagi berantem, Ly, bukan mesra-mesraan." ujar Tami berusaha menjelaskan situasi yang sebenarnya. Kepalanya sudah mengeleng tidak karuan.
"Nggak usah naik dulu, Ly. Siapa tahu kamu mau lihat adegan yang lebih dari itu." Alvin melirik Tami. Gadis itu melihatnya dengan tatapan jengkel. Entah kenapa, tapi ia suka saat melihat Tami yang salah tingkah.
"Nggak mau, ah. Lya masih jomblo. Takut nanti cuma obat nyamuk doang."
Alya berlari menaiki anak tangga dengan setoples cemilan di tangannya. Sebuah cubitan gemas Tami hadiahkan kepada Alvin.
"Tami malu tahu!" serunya kesal.
Alvin hanya tertawa renyah menanggapi kekesalan Tami. Namun tak lama Alvin memasang wajah murung, ia merasa begitu bersalah pada Tami.
"Maafkan aku Tami karena memelukmu, aku tak tahan, aku begitu merindukan Karina." gumam Alvin sendirian.
.....
"Ta, ngapain barang-barangnya di masukin ke bagasi?"
Tami menatap heran wajah ibu mertuanya. Apa perlu dipertanyakan lagi kenapa ia melakukan itu? Bukankah ibu mertuanya itu yang telah menghadiahkan rumah baru untuk ia dan Alvin akan tinggali.
"Kan mau pindahan, Mah. Masa iya barangnya harus Tami panggul sampai ke rumah?" tanyanya heran. "Nggak kuat, Mah. Bisa retak seribu tulang Tami"
"Ya nggak dipanggul juga, Ta, cuma perlu diseret doang."
__ADS_1
Tami semakin bingung dengan perkataan ibu Rafika. Apa sekarang harga bbm sudah naik lagi sampai ibu mertuanya menyuruh berjalan kaki.
"Emang rumahnya di mana sih, Mah? Kok sepertinya sangat rahasia sekali. Kuncinya saja belum mamah berikan." ujar Alvin. Pria itu sibuk memasukkan kopernya yang berisi buku di bangku bagian tengah mobil.
"Sini, ikut Mamah."
Tami dan Alvin saling melempar pandangan lalu berjalan mengikuti langkah ibu Rafika menyeberang jalan. Tak sampai dua menit ketiganya sudah sampai di rumah bercat putih. Rumah kayu sederhana dengan nuansa yang begitu menarik hati Tami. Materialnya berasal dari kayu yang dicat putih.Dengan pagar kecil dan dua pohon tanpa daun di kanan dan kiri rumah.
"Jatuh cinta Tami." Tami terkesima. Hatinya berbunga-bunga karena rumah impiannya benar-benar terwujud di depan mata.
" Tami suka rumahnya?" tanya bu Rafika. Tami mengangguk antusias.
"Suka banget, Mah." jawab Tami tanpa mengalihkan pandangannya dari rumah itu. Ia seperti abg yang jatuh cinta pada pandangan pertama.
"Kalau begitu, mulai hari rumah ini jadi milik Tami. Rumah ini khusus Mamah hadiahkan untuk menantu Mamah yang tersayang." kata bu Rafika sambil menyerahakan kunci rumah itu.
Tami melongo menerima sekumpulan kunci dari tangan ibu Rafika. Ia tidak percaya kalau mamah mertuanya sampai menghadiahkan rumah secantik itu untuknya.
"Rumah ini, Mah? Rumah lima langkah dari rumah mertua?"
"Iya." jawab bu Rafika dengan mantap.
Tami masih tertegun beberapa saat. Memandangi rumah itu lalu wajah ibu mertuanya. Selang dua menit Tami melompat gembira lantas memeluk erat ibh mertuanya dan menghadiahkannya dengan dua kecupan di pipi. Alvin hanya menggeleng melihat tingkah istrinya. Mungkin kalau Tami diselundupkan menjadi anak SMP tak akan ada yang menyadarinya mengingat badannya yang kecil serta tingkahnya yang seperti bocah.
"Alhamdulillah, terima kasih ya Allah engkau berikan satu lagi nikmatmu untuk hamba." ucap Tami penuh syukur. "Makasih banyak juga ya, Mah. Maa syaa Allah, Tami seneng banget dapat mertua sebaik Mamah." kata Tami terharu. Bahkan dua bulir air matanya sukses meluncur jatuh ke pipinya.
"Kalau begitu berterima kasihlah pada yang lain karena hadiah ini bukan cuma dari Mamah, tapi juga dari orang tuamu dan di desain spesial oleh masmu, Keenan dan rekannya, Arsa."
Tak lama berselang keluarga Tami datang. Tanpa babibu Tami langsung menyalami dan memeluk kedua orang tuanya begitupun dengan masnya, kecuali Arsa tentunya.
"Ih, Mas Keen baik banget deh mau bikinin rumah buat Tami." ujar Tami tulus. Tangannya melingkar di badan Keenan. Ia memeluk masnya dengan begitu erat
"Mas cuma ngerombak dikit doang nih rumah. Pemilik rumah sebelumnya temen Mas. Dia arsitek juga, jadi dari awal nih rumah sudah cantik emang." kata Keenan merendah.
"Pokoknya masih banget ya, Mas Keenan ku tersayang." Tami melepas pelukannya.
"Mas, engh mas ...." Tami susah payah mengingat nama rekan Keenan, ia sampai lupa karena terlalu senang.
"Arsa, nama saya Arsa."
"Iya, Mas Arsa makasih banget ya udah bikin rumah secantik dan sebagus ini buat Tami."
"Iya sama-sama."
Setelah Tami menyingkir dari samping Keenan, barulah Alvin menyalami abang iparnya itu. Saat bersalaman dengan Keenan, dapat Alvin rasakan kode ancaman yang dialamatkan Keenan kepadanya. Seakan-akan mengatakan berhati-hatilah, jika kamu menyakiti adikku maka bersiaplah menjadi pasien di rumah sakit. Alvin hanya tersenyum menanggapinya.
"Apa kabar Arsa, lama nggak ketemu." tanya Alvin saat menyalami Arsa. Arsa adalah rekannya juga semasa SMA, sama seperti Keenan. Namun Arsa lebih sering bersama Keenan sekarang karena mereka bekerja di kantor yang sama.
"Kabar baik, Vin." jawabnya dengan hangat. "Ku kira kamu nikah sama Karina, eh nggak tahunya sama adiknya."
Alvin tersenyum kecut.
"Ceritanya panjang, Sa. Kpan-kapan aku ceritain."
.....
Semuanya sudah pergi, tinggallah Tami dan Alvin memandangi rumah mungil itu. Senyuman bahagia tak henti-hentinya terkembang di wajah ayu Tami. Keluarga mereka membiarkan keduanya untuk melihat-lihat bagian dalam rumah.
"Ayo." ajak Alvin sembari menggenggam tangan kiri Tami. Gadis itu terkejut lantas mendongak, ingin melihat ekspresi suaminya. Namun wajah pria itu datar-datar saja, tidak seperti dirinya yang sudah merona.
"Assalamu'alaina wa'alaa ibadillahish shalihin." ucap pasangan halal itu saat pertama memasuki rumah.
Genggaman tangan mereka terlepas karena Tami terlebih antusias menjelajahi seisi rumah. Gadis itu menggagumi setiap inci dari rumah itu. Rumah sederhana bergaya shabby chic dengan lantai berwarna putih gading. Warna-warna pastel berpadu sempurna dengan bunga-bunga kecil mendominasi sofa, gorden, hiasan dinding sampai karpet bulat di bawah meja. Perabotan rumah lebih banyak di dominasi dari bahan kayu. Di lantai satu terdapat dua kamar dengan gaya yang sama dan sebuah dapur sederhana mengahadap taman kecil. Namun ada yang janggal dari kedua kamar tadi karena tidak terdapat satupun tempat tidur. Hanya di lantai dua Tami menemukan tempat tidur dengan ukuran yang cukup besar di sebuah kamar yang agak lebih besar dari kamar yang berada lantai bawah. Terdapat tempat bersantai dengan sepasang balai-balai kecil. Bagian atasnya terdapat lapisan kaca bening yang secara otomatis dapat terbuka dan tertutup, jadi bisa melihat langsung ke arah pemandang kerlipan ribuan bintang dan binar cahaya bulan. Di hadapannya terdapat tiga jendela panjang menghadap ke arah jalan di depan rumah.
Alvin cukup puas dengan hadiah yang diberikan oleh keluarganya. Meski terlihat nyata bahwa rumah itu sengaja di buat semata-mata untuk menyenangkan hati istrinya yang memang menyukai rumah dengan gaya shabby chic seperti kamar Tami di rumah mertuanya.
__ADS_1
Tami melirik Alvin yang melipat tangan di dada sambil tersenyum kepadanya. Dalam hati kecilnya ada doa dan harapan yang Tami panjatkan agar ada masa di mana akan terdengar tangisan bayi dan senyuman riang anak-anaknya bersama Alvin. Semoga Allah kiranya sudi mengabulkan
permohonannya.