Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 5 (Bunda Ina)


__ADS_3

Tami menyendok ikan patin asam pedas dari dalam mangkok lantas menaruhnya di samping nasi putih yang mengepul. Sudah beberapa kali tadi ia menelan liurnya saat melihat ikan patin itu berenang bersama bumbu dapur di atas kuali. Ditambah dengan tumis pakis, betapa nikmatnya. Dengan semangat cacing-cacing yang sedang demo di dalam perutnya Tami menyuap makanan dengan lahap hingga tak bersisa walau sebiji nasi pun di piringnya.


"Alhamdulillah, kenyang." ujar Tami saat selesai meneguk air putih yang disediakan ibunya tadi.


Tangannnya mengusap-usap perutnya yang sudah penuh. Perjuangannya bersama "peliharaannya" menunggu ikan matang tidak sia-sia.


"Masakan Ibu memang paling top markotop deh." Tami mengacungkan jempolnya tepat di depan wajah ibunya. Kebiasaan ini memang sering dilakukannya saat ia memakan masakan orang lain. Ia memang jagonya makan tapi ia sendiri tak pandai dalam urusan masak memasak. Karena itu ia sering menjadi juri dadakan yang akan mencoba semua makanan yang dihidangkan di atas meja.


Ibunya tersenyum puas melihat anak gadisnya itu memuji masakannnya. Ibunya memang mempunyai bisnis katering yang dirintisnya sejak Tami kecil dulu, jadi tidak heran kalau ia bisa memasak jenis makanan apapun. Inilah untungnya jadi anak ibu katering. Semua makanan dapat ia nikmati tanpa mengeluarkan biaya.


"Ibu kenapa nggak makan?" tanya Tami saat menyadari sejak tadi ibunya bahkan belum menyentuh barang secuil pun makanan dari atas piring yang berada di depannya.


"Ibu tadi mau makan sebenarnya, tapi melihat kamu makan dengan lahap, Ibu udah merasa kenyang duluan. Apalagi ditambah pujian kamu, jadi makin kenyang Ibu." Sebenarnya tadi ia juga lapar, namun saat melihat Tami makan dengan begitu lahap, rasa laparnya teralihkan untuk memerhatikan Tami. Dulu sebelum gadis itu kembali ke keluarga kandungnya ia bisa menghabiskan banyak waktu untuk bersenda gurau, namun kini hanya dengan mendengar kabar Tami saja sudah membuatnya senang luar biasa. Jika rindu pada Tami, ia tak akan memberitahunya dan memilih memendamnya saja. Ia tidak ingin Tami terbebani antara membagi waktu dengan keluarga kandungnya dan dirinya.


"Ye, Ibu. Mana ada orang kenyang hanya dengan ngeliatin orang lain makan. Apalagi orang yang makan jenisnya macam Tami, yang ada bukannya kenyang, malah tambah ngiler."


Tami menyendok nasi dan secuil ikan dari piring lalu mengulurkannya pada ibunya. Ibunya menurut saja disuapi Tami.


"Ibu jangan sampai nggak makan. Walaupun nggak tiap waktu Tami bisa nemenin Ibu, tapi Ibu tetap harus jaga kesehatan, jaga pola makan. Jangan sampai maag Ibu kambuh lagi. Tami bukan bermaksud nggak mau ngejaga Ibu dikala Ibu sakit. Kalau bisa Tami akan memberikan seisi dunia ini buat Ibu. Tami cuma nggak mau Ibu menderita. Tami pengen masa tua Ibu hanya dipenuhi dengan kebahagiaan." Tami tanpa sadar meneteskan air matanya, dadanya terasa sesak.


Perlahan tangan tua ibu meyeka air mata yang bercucuran di pipi anak gadisnya. Perasaannya begitu terharu saat ini. Sungguh halus dan lembut perasaan anaknya ini. Apa yang ia ucapkan selalu penuh ketulusan dan lahir dari hati. Jika orang lain mungkin sudah begitu membencinya karena perbuatannya di masa lalu. Namun Tami, gadis yang selalu ceria dan tak pernah menyimpan dendam pada orang lain. Meskipun tak diberi kesempatan oleh yang kuasa untuk mengandung dan melahirkan seorang anak, namun Allah telah mengirimkan sesosok penyejuk hati yang mampu menghapuskan segala luka dan dukanya. Seorang anak yang membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya.


"Duh, cengeng banget sih anak Ibu ini. Gitu saja sudah nangis. Nanti nggak ada pasang di laut, nggak ada hujan turun dari langit tiba-tiba rumah Ibu banjir, kan repot jadinya." Ibu berusaha keras untuk berbicara seceria mungkin. Ia tidak ingin putrinya itu menyadari kesedihannya karena kepindahannya ke keluarganya. Ia sadar betul jika bukan karena dirinya, Tami tidak perlu hidup susah bersamanya.


"Ya, sudah. Makanya Ibu makan yang banyak. Tami saja sampe nambah dua kali, loh."


"Jangan kebanyakan makannya. Nanti kalau badan kamu melar, nggak lelaki yang mau sama kamu gimana?"


Tami langsung cemberut mendengar kalimat yang diucapkan ibunya.


"Ye, Ibu ngeraguin daya pikat Tami, ya? Gini-gini banyak yang naksir loh. Jangan salah, satpam rumah sakit saja kalau lihat Tami udah seperti ikan yang terdampar dari laut. Langsung kelepek-kelepek." Ujar Tami dengan bangga.


Bukannya kegeeran tapi memang setiap kali Tami bertemu dengan Pak Rudi pasti ia akan dihadang dengan gombalan mautnya yang kadang bikin Tami pengin muntahin semua isi perutnya. Pak Rudi juga sering memberikan makanan kepadanya namun makanan itu tidak pernah sampai diperutnya karena pasti akan ia berikan kepada Tuti, si Ibu kantin di rumah sakit yang sudah lama naksir berat sama Pak Rudi. Awalnya niat Tami akrab dengan Pak Rudi karena ingin menjadi mak comblang untuk Tuti, tapi nyatanya si satpam malah baper sama Tami. Jadilah ia yang kerepotan menjaga perasaan Tuti agar tidak terluka. Yah begitulah nasib jadi mak comblang yang cantik.


"Tapi Tami kan orangnya baik, Bu. Jadi Tami nyodorin Pak Rudi buat Bu Tuti saja yang sudah lama naksir sama dia."


"Hmm. Percaya deh, Ibu."


Ibunya akhirnya mengalah juga. Ia tahu kalau tingkat kepedean putrinya itu setinggi awan dilangit, jadi susah untuk dilawan.


Tami menepuk dahi saat mengingat jika ia datang mengunjungi Ibunya dengan mengemban satu amanah. "Oh iya, hampir saja Tami lupa kalau bulan depan Mbak Karina mau nikah, jadi Mama mau pesan katering dari Ibu saja."


Ibu mengangkat sebelah alisnya, membuat dahinya jadi berkerut dalam.


"Bukannya Mama kamu nyewa hotel buat nikahan, Karina? Kok pesen katering dari Ibu? Kan harusnya sepaket lengkap dengan makanan."


"Iya memang begitu, Bu...tapi itu cuma buat acara resepsi saja. Kalau nikahan mah di masjid dekat rumah. Jadi Mama mau pesen katering dari Ibu. Jadi Ibu masak yang nggak berat-berat saja. Gimana, Ibu bisa ngga?"


Ibu mengingat-ngingat sejenak daftar pesanan katering untuk bulan depan. "Insya Allah, Ibu bisa. Kebetulan yang pesan katering untuk bulan depan nggak terlalu banyak."


.....


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikummussalam, Sya." balas Tami.


"Ya ampun, anak gadis pagi-pagi udah nguap saja. Perasaan belum nikah deh, jadi nggak perlu kerja rodi sampai pagi. Kan nggak ngurus suami, apalagi ngurusin anak." kata Tasya yang melihat Tami menguap lebar di depan ruang istirahat para perawat rumah sakit.


Tami yang mendengar ledekan sahabatnya itu langsung mengatupkan bibirnya dengan geram. Ye, emang cuma orang yang sudah menikah saja yang bisa kerja rodi semalam suntuk. Kan dari zaman penjajahan sudah ada kerja rodi, rungut hatinya.


"Nggak usah ngeledek deh, seperti nggak tau saja kalau kita ini adalah pasukan yang selalu siap siaga dua puluh empat jam sampai ngorbanin waktu istirahat kita yang berharga untuk menolong nyawa orang lain." omel Tami panjang lebar.

__ADS_1


Hidungnya mengendus-endus baju yang dikenakan Tasya. Dari baunya tercium seperti wangi bunga lavender, persis bau obat nyamuk semprot dirumahnya. Namun karena bercampur bau obat jadi baunya berubah tidak karuan.


"Ngapain ngendus-ngendus, aku? Kenapa, wangi banget ya?" tanya Tasya dengan percaya diri.


Bukannya menjawab, Tami malah balik bertanya kepada Tasya. "Sudah berapa orang yang kamu temuin atau kamu lewatin pagi ini?"


"Maksud, kamu?" tanya Tasya heran. Ia sama sekali tak mengerti arah pembicaraan Tami.


"Maksud aku itu, udah berapa orang yang pingsan saat nyium bau parfum kamu. Kalau aku sih masih tahan, nggak tau deh sama yang lain, mungkin udah masuk UGD kali." katanya dengan tak berperasaan.


Tasya langsung menekuk wajahnya mendengar perkataan Tami. "Andai dia tahu perjuanganku yang rela mengantri untuk membeli parfum yang lagi diskon besar-besaran ini. Sampai diriku rela digencet Emak-Emak. Hikss, nasib-nasib punya sahabat kok nggak punya hati." ujar Tasya seakan berbicara pada dirinya sendiri. Tami langsung menggeleng-gelengkan kepalanya. Tingkat dramatis gadis itu mulai menyentuh tahap maksimal.


"Makanya jangan langsung percaya sama produk yang dilabeli diskon, kan begini jadinya. Walaupun disemprot satu botol juga kagak bakal wangi, yang ada malah bau apek. Apalagi ditambah bau obat-obatan. Masih wangi juga obat nyamuk semprot di rumah aku." ekspresi wajah Tasya sudah seperti orang yang hendak gantung diri mendengar kata-kata pedas Tami.


"Kalau kamu mau pikat lelaki nggak perlu pakai bau-bau yang dapat makan membangkitkan nafsu lelaki. Jadi perempuan yang natural saja itu lebih baik. Mending perbanyak doa dan ibadah biar jodohnya dipercepat sama Allah. Kamu nggak ingat dalam surah Al-Isra ayat 32, " Tami merogoh ponsel yang ada di sakunya, lalu membuka aplikasi Al-Qur'an online. "Nih, dengar ya, Allah mengatakan "Dan janganlah kamu mendekati zina: (zina) itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan uang buruk." dan sabda Rasulullah salallahu alaihi wa sallam: siapa saja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zina." (HR.An-Nasai ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)"


Tasya mendengar Tami dengan seksama.


Astagfirullah.


Ia beristigfar dalam hati karena tanpa ia sadari, dirinya telah mengundang syaitan untuk membantu menambah jumlah bilangan dosanya.


"Nih ya, mumpung belum ada yang pingsan karena kamu, mending sekarang kamu ganti baju terus pakai parfum aku yang ada di loker. Tapi jangan banyak-banyak nanti aku tekor. Nanti kalau shift kamu sama aku barengan pagi, malemnya kita pergi beli parfum di langganan aku, gimana?"


"Iya, boleh deh, tapi beliin ya." Tasya memasang wajah yang sengaja diimut-imutkan, matanya juga kedap-kedip seperti lampu korslet.


"Iya."


Walaupun dari luaran Tami kelihatannya pelit, tapi sesungguhnya ia memiliki hati yang sangat baik.Tapi kalau soal bikin orang patah semangat itu memang keahliannya. Ketika sudah mulai berbicara, mulut ceplas ceplosnya tidak akan bisa di rem.


Allah tidak melarang hambanya untuk mempercantik diri asalkan sesuai dengan ketentuan-Nya.


"Janji ya, dibeliin. Awas kalau nggak."


Tami menepuk dahinyanya saat menyadari bahwa dirinya tadi berniat ganti baju agar bisa pulang ke rumah setelah sehari semalam berada di rumah sakit.


Dalam perjalanan Tami sudah membayangkan betapa nikmatnya tidur diatas kasur empuk sambil menikmati mimpi indah bertemu dengan jodohnya. Tunggu dulu, apa tadi? Jodoh? Ya ampun kok aku udah mikirin sampai ke situ sih. Wajar juga sih kan umur dia sekarang sudah hampir dua puluh tiga tahun. Mungkin karena efek kelelahan dan omongan Tasya yang selalu membicarakan tentang jodoh. Lagian itu anak kebelet banget pengen nikah. Padahal masa depan masih panjang. Emang nggak mau lagi hahahihi seperti hantu bareng sohib-sohibnya? Kalau belum nikah bisa bebas mau naksir siapa saja boleh sama mamang cilok juga boleh asal dia belum punya gandengan. Tapi apapun itu dia berdoa agar Tasya cepat bertemu jodohnya.


Sedang asyik bermonolog sendiri, tiba-tiba ponsel di tasnya berdering dengan begitu nyaring. Ia meminggirkan motornya ke dekat trotoar yang cukup sepi. Maklum sudah hampir jam setengah sebelas, jadi orang-orang pasti sudah sampai ke tempat kerjanya masing-masing. Seharusnya ia pulang dari jam delapan pagi tadi, tapi karena ada pasien yang perlu segera ditangani, maka ia dengan berat hati terpaksa mengesampingkan keinginannya yang ingin segera terlelap di atas kasur.


Tami menepuk dahinyanya untuk yang kesekian kali. Ckckck, bagimana dia bisa lupa kalau hari ini ia sudah berjanji untuk menjemput Nala di sekolah. Masih muda saja sudah pikun tingkat daerah apalagi kalau tua bisa pikun tingkat nasional dia. Cepat-cepat ia beranjak pergi. Kasihan Nala pasti dia sudah lama menunggu.


Tami berlari kecil menghampiri gadis kecil yang duduk dengan wajah cemberut. Jemari mungilnya sibuk memelintir gantungan tas.


"Assalamu'alaikum, Nala."


"Wa'alaikumussalam." jawab Nala dengan wajah cemberut.


"Nala udah lama nunggunya, sayang?" tanya Tami dengan nafas tersengal.


"Ih, Bunda Ina lama banget sih jemput Nala. Temen-temen Nala sudah di jemput Mamanya semua. Tinggal Nala sendiri yang belum dijemput." protes Nala dengan bibir mengerucut.


"Iya itu tadi Bun..." belum sempat Tami menyelesaikan pembicaraannya saat seorang guru muda datang menghampiri mereka.


"Ibu mau jemput Nala ya?" tanya ibu guru itu dengan senyuman manis.


"Iya, saya mau jemput Nala, Bu. Tadi saya sibuk sampai lupa kalau Nala sudah pulang sekolah." Tami tersenyum dengan kikuk. Ia merasa bersalah karena membuat Nala lama menunggunya.


"Nala anaknya nggak rewel, Bu. Kalau anak-anak yang lain pasti sudah nangis karena nggak dijemput-jemput." puji ibu guru. Tangannya mengelus kepala Nala dengan lembut.


"Dari tadi kita ngomong tapi belum berkenalan. Kenalkan nama saya Tami, tapi biasanya Nala manggil saya Bunda Ina karena nama panjang saya, Tami nurul sabrina." Tami mengulurkan tangan kananya ingin bersalaman dengan si ibu guru. Ibu guru tersenyum menyambut uluran tangannya.

__ADS_1


"Saya Andira Maulydia Pramesti, biasanya dipanggil Dira."


Tami berfikir sejenak, sepertinya nama Dira tidak asing di pendengarannya. Tapi dimana ya ia pernah mendengar nama itu. Dasar si Tami ini, eh dasar apa ya? oh iya, dasar pikun.


"Bunda Ina, kapan kita baliknya? Nala sudah capek nunggu disini dari tadi." Nala merengek sambil menarik-narik ujung baju Tami.


"Iya, sayang . Kita balik sekarang , ya. Ibu Dira, saya pulang dulu ya, Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati di jalan ya."


Tami bersalaman sekali lagi dengan Dira sebelum ia beranjak pergi. Nala juga melakukan hal yang sama. Tangan mungilnya melambai-lambai saat motor Tami sudah mulai bergerak meninggalkan area sekolah, membelah padatnya lalu lintas ibu kota.


"Nala mau makan apa, sayang?" tanya Tami saat melihat-lihat makanan yang tersedia di daftar menu.


"Nala mau makan es krim saja, Bunda Ina." Jawab Nala dengan wajah yang ceria. Ia sudah lupa ngambeknya pada Tami beberapa saat yang lalu.


"Nala nggak boleh makan es krim terus, nanti kena flu. Kasihan nanti Bunda sedih. Nala mau Bunda sedih?"


"Tapi Nala udah lama nggak makan es krim, Bunda Ina." Nala merengek lagi. Nada bicaranya seperti ingin ngambek lagi dengan Tami. Kedua bola matanya yang bulat sudah berkaca-kaca. Kapan saja bisa pecah tangisannya di cafe ini.


Tami menghembuskan nafasnya sejenak. Ia akhirnya mengalah juga. "Ya sudah, kalau begitu Nala harus makan nasi dulu, baru nanti kita makan es krim, ya."


"Horeee, Nala tambah sayang deh sama Bunda Ina." Nala bersorak gembira. Wajahnya kembali ceria, entah kemana air mata yang tadi menggantung di pelupuk matanya.


"Makannya pelan-pelan, sayang. Jangan sampai tumpah es krimnya ke baju Nala." Nala hanya mengangguk-anguk saja membuat dua kuncir kuda rambutnya bergoyang-goyang. Bibir mungilnya tengah sibuk menyuap es krim strawberry kesukaannya.


"Habis ini kita kemana, Bunda Ina?" tanya Nala saat selesai menghabiskan es krimnya.


"Nala maunya kemana?" Tami balik bertanya. Nala berfikir sejenak. Tiba-tiba wajahnya berubah muram. Air matanya mengalir begitu saja. Tami yang melihat itu langsung memeluk bahu Nala yang bergetar.


"Nala kenapa nangis, sayang. Bunda ada salah ngomong, ya?" tanya Tami bingung dengan sikap Nala yang berubah-ubah. Ia mengahapus air mata Nala yang tidak berhenti mengalir seperti keran bocor.


Nala menggeleng kuat. "Nggak, Bunda Ina nggak salah ngomong kok." ujar Nala sambil terisak.


"Terus kenapa Nala nangis? Coba cerita sama bunda Ina." bujuk Tami.


"Biasanya kalau waktu-waktu seperti ini, Nala akan main dengan Mbah, tapi sekarang Mbah sudah pergi jauh, jadi Nala nggak bisa main lagi dengan Mbah." air mata kembali mengucur deras di pipi mungilnya mengingat kepergian mbahnya menghadap Ilahi setahun yang lalu.


Para pengunjung restoran menatap mereka dengan penuh tanda tanya. Tami hanya tersenyum kepada mereka lalu kembali berusaha membujuk Nala.


"Nala jangan nangis lagi ya, nanti Mbah di surga juga pasti sedih. Gimana kalau hari ini Bunda Ina ngajak Nala ketemu Mbah baru. Mau nggak?"


Mata bulat Nala yang penuh air mata menatap Tami penuh tanda tanya. "Maksud Bunda Ina?"


"Nala jawab dulu, mau atau nggak."


"Iya deh, Nala mau."


"Nala jangan nangis lagi. Kan mau ketemu Mbah baru." Tami mengusap air mata Nala dengan tissue.


Mereka kemudian beranjak dari kursi untuk pergi. Saat hampir berada di dekat pintu, Nala tanpa sengaja menabrak seorang pria. Nala cepat-cepat meminta maaf kepada orang itu.


"Maaf, Om. Nala nggak sengaja." ujar Nala dengan takut-takut. Tami juga ikut meminta maaf kepada orang tersebut.


"Iya nggak apa-apa." pria itu menjawab dengan tersenyum manis pada Nala.


"Tami, ngapain disini?" tanya seseorang dari arah samping.


Tami langsung menoleh ke arah sumber suara. Bibirnya tersenyum lebar saat melihat siapa yang bertanya tadi.


"Mas Keen! Tami datang kesini untuk makan sama Nala."

__ADS_1


Alis Keenan tertarik ke atas. Menyiratkan kebingungan tengah melandanya.


"Nala? Anak kamu? Kamu kok nggak bilang kalau sudah punya anak?" tanya Keenan beruntun.


__ADS_2