
Istri Rasulullah, Aisyah radhiyallahu anha, ummul mukminin pernah difitnah dengan keji oleh kaum munafik yang menuduh dirinya melakukan perbuatan yang tak sepantasnya dengan salah seorang sahabat nabi yang bernama Safwan. Beliau dengan tabah melewati ujian itu hingga Allah menurunkan ayat di surat An-Nur yang menunjukkan kesucian Aisyah radhiyallahu anha dan Safwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka.
Sungguh luar biasa ketabahan ibunda kaum muslimin. Ketabahan yang seharusnya dijadikan contoh oleh setiap muslimah dalam menghadapi ujian dari Allah.
Rasanya sakit luar biasa saat niat baik untuk menyambung tali silaturahmi yang hampir putus justru disalah artikan oleh orang lain. Memang benar bahwa penilaian Allah di atas segalanya, namun penilaian orang lain yang bukan apa-apa terasa sangat menusuk dan menghujam hati. Kalau bisa, ingin saja Tami berteriak dengan lantang bahwa ia hanyalah gadis biasa yang memiliki hati rapuh, mudah tergores walau dengan sebuah jarum. Bahkan batu besar di bibir pantai akan menganga jika diterjang abrasi pantai terus menerus.
Kesabarannya sedang diuji Rabbnya saat ini. Seberapa kuatkah dirinya menerima hujaman panah siksaan batin dari mulut-mulut yang tanpa merasa berdosa terus menyudutkannya. Beberapa minggu ini ia masih sanggup mengangkat kepalanya dengan tegar, bahkan saat dirinya disamakan dengan pengemis yang meminta kasih-sayang dari orang lain. Tapi tidak sekarang. Ia menunduk dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir bagaikan cucuran hujan yang membasahi bumi. Ia mencengkram kuat seragamnya, seakan tengah memegangi hatinya yang remuk. Rasa sesak yang begitu menyiksa selama hampir dua minggu ini ia keluarkan melalui isakannya.
Ya Rabb, sungguh lemah hambamu ini. Bahkan Rasulullah yang menerima begitu banyak luka fisik maupun luka batin senantiasa memaafkan dan mendoakan orang yang menyakitinya.
Lalu mengapa hamba menjadi selemah ini?
Tuduhan sebagai perebut suami orang dan perusak kebahagiaan kakak sendiri yang hamba alami tidak ada apa-apanya dibanding yang harus dilalui Rasulullah dalam menyiarkan Islam. Batin Tami. Tak pantas rasanya menjadi umat Rasulullah jika ia selemah ini.
"La tahzan innallaha Ma'ana. Janganlah berduka sesungguhnya Allah selalu bersama kita, Tami."
Mai mengelus lembut punggung Tami yang bergetar hebat karena menagis. Mendengar curahan hati Tami sesungguhnya membuat Mai ikut merasa terluka. Namun ia hanya bisa menguatkan Tami melalui kalimat-kalimat penyemangat yang mengalun lembut dari bibirnya.
Perempuan itu makhluk yang diciptakan Allah dengan hati yang rapuh, maka dari itu perlu perlakuan dan penjagaan yang begitu hati-hati terhadap perasaannya. Wanita bagaikan mutiara yang berada di dasar laut dengan cangkang keras yang melindunginya. Jika hati wanita diselimuti dengan keimanan dan cinta yang kuat maka memancarlah cahaya yang akan membawa kebahagiaan bagi semua orang. Namun jika engkau menggores luka dihatinya maka mereduplah cahaya kebahagiaan.
"Dia disana Mai, saat rentetan kalimat menyayat hati itu dilontarkan tapi dia hanya diam, tak berniat membela kehormatanku sedikit pun. Apakah aku sebegitu berdosa menjadi mempelai pengganti? Jika bukan sebagai istrinya setidaknya ia membelaku sebagai wanita yang diinjak-injak perasaannya, kehormatannya dan harga dirinya."
Tami terisak semakin kuat. Bayangan kejadian tadi sore seakan terputar kembali bagaikan potongan adegan film yang tayang di depan matanya. Saat ia berada di bangsal, dimana mulut-mulut jahat itu menaburi luka hatinya dengan garam. Alvin juga sedang berada di sana tapi tak menghiraukan keberadaannya dan malah memilih pergi tanpa sepatah kata pun. Setidaknya ia berharap agar diajak pergi dari sana, bukan malah meninggalkannya di kawanan orang-orang mulut berbisa. Sesungguhnya itulah yang paling melukai hatinya.
Mai meleraikan pelukannya lalu menghapus air mata Tami dengan kedua telapak tangannya dengan lembut.
"Jangan habiskan air matamu untuk sesuatu yang seperti ini. Air mata ini lebih pantas kamu tumpahkan saat mengingat kebesaran dan keagungan Allah."
Mai menggenggam kedua tangan Tami. Gadis itu sudah seperti saudara kandung baginya. Ia mengenal Tami saat ospek kelas satu SMA. Bersama Clara dan Tasya, persahabatan mereka tak pernah putus hingga hari ini. Gadis dengan keluguan, keberanian, keshalihan dan mulutnya yang terkadang cempreng luar biasa. Tami adalah salah seorang sahabat yang memberinya beribu kekuatan saat ia dalam keadaan terpuruk tanpa arah dan tujuan hidup. Melihat keadaan Tami saat ini bukanlah seperti Tami yang dikenalnya. Luka di hatinya terpatri jelas di wajahnya yang muram.
"Berprasangka baik Tami. Karena hanya itu satu-satunya obat yang bisa menyembuhkan lukamu.Ingatlah bahwa kamu akan mendapatkan pahala yang besar dari Allah jika kamu berhasil melewati ujian ini. Innalaha ma'ashobirin. Allah selalu bersama orang-orang sabar. Allah bersamamu, Allah melihatmu, Allah menyaksikanmu."
Tami mengangguk dan tersenyum mendengar nasihat sahabatnya. Sahabat yang seperti inilah yang akan membawamu ke surga. Sahabat yang senantiasa mengingatkan kepada sang pencipta. Insyaa Allah persahabatan mereka until jannah.
"Sudah ya, jangan sedih lagi. Jangan dipikirin omongan orang-orang yang nggak berperasaan itu. Nanti lama-lama mereka juga berhenti sendiri. Anggap saja seperti berita viral yang akan tenggelam seiring dengan kemunculan berita viral yang lain. Roda kehidupan itu berputar. Aku yakin suatu saat nanti sinar kebahagiaan akan datang juga menyinari pernikahan kalian. Apapun yang terjadi tetaplah berfikir positif. Terlebih kepada suamimu, karena surga seorang istri terletak pada suaminya."
Tami memeluk Mai. Kali ini bukan dengan air mata kesedihan melainkan dengan penuh syukur. Memiliki sahabat seperti Mai tidak bisa dinilai dengan apapun di dunia ini. Bagi Tami, persahabatan mereka merupakan salah satu hadiah terindah dari Allah.
"Alhamdulillah. Aku beruntung banget memiliki sahabat seperti kamu, Mai."
"Aku juga beruntung memiliki sahabat seperti kamu, Tami. Kamu adalah orang pertama yang selalu siap menjadi tameng agar aku selalu bahagia." ujar Mai dengan tulus.
Tok...tok...tok...
Suara ketukan pintu di luar mengganggu momen bahagia mereka. Dengan segera mereka meleraikan pelukan.
"Aku buka pintu dulu, Ta. Kamu ke belakang dulu cuci muka. Malu kalau ada tamu yang lihat wajah sembab kamu. Nanti aku dikira habis bully anak orang lagi."
Tami menuruti saran Mai. Ia beranjak dari sofa ke belakang untuk mencuci wajahnya. Sementara Mai bergegas membuka pintu yang diketuk secara membabi buta dari luar.
"Iya, sebentar." kata Mai setengah berteriak. Tamu di luar benar-benar bisa membuat emosi siapapun tuan rumahnya. Mai menggeleng-gelengkan kepala saat tahu siapa gerangan tamunya.
"Assalamu'alaikum." seru Tasya dan Clara bersamaan. Keduanya memasang wajah yang begitu ceria seakan-akan tidak berdosa karena membuat sang tuan rumah jadi emosi.
"Wa'alaikumussalam."
Mai mempersilahkan kedua tamunya untuk masuk lalu ia menutup pintu. Mai berjalan menghampiri mereka sambil mengomel.
"Kalian ngetuk pintu sudah seperti mengetuk kandang harimau saja. Untung saja aku bukan harimau, kalau enggak sudah aku mangsa kalian." Mai melabuhkan tubuhnya di samping Clara yang sedang selonjoran kaki. Sepertinya gadis itu keletihan setelah seharian bekerja.
"Untung tuan rumahnya ekstra sabar." ujar Tasya.
"Aamiin." Mai mengamini. Ia memang berharap agar Allah memberinya kesabaran ekstra dalam menjalani hidup ini.
__ADS_1
"Kamu di sini, Ta?" tanya Tasya saat melihat Tami yang keluar dari dapur. Tami mengusap wajahnya yang masih basah. Untunglah ia sudah mencuci muka jadi wajah sembabnya tidaklah terlalu kentara. Ia bukannya tidak mau menceritakan masalahnya kepada Clara dan Tasya, ia hanya takut kalau Clara akan membuat masalah di rumah sakit jika tahu bahwa sebagian pegawai dan staf di rumah sakit telah memfitnahnya dengan keji. Clara tidak akan rela jika ada wanita yang tersakiti, terlebih jika itu sahabatnya sendiri.
"Iya, aku disini. Kamu pikir aku hantu?"
Tami melabuhkan tubuhnya di samping Tasya. Ia segera mencari topik pembicaraan lain sebelum fokus sahabatnya tertuju ke bola matanya yang memerah karena terlalu banyak menangis.
"Kok kalian pada ke sini?" tanya Tami dengan tenang.
"Aku yang nelpon mereka untuk ke sini. Kebetulan hari ini aku masak banyak jadi bisa makan malam ramai-ramai. Sepi kalau berdua mulu bareng Nala." jawab Mai. Tami hanya mengangguk mendengar jawabannya.
"Masak apaan, Mai?" tanya Clara antusias.
"Gulai kepala ikan, pacri nanas, sama tadi beli pisang goreng srikaya buat camilan."
"Asik, nggak sia-sia aku nahan laper dari tadi." ujar Clara. Ia memang menahan lapar dari siang tadi, banyaknya pasien membuatnya sampai lupa untuk makan siang. Aish, rezeki malam hari ini namanya.
"Kamu tuh, Nyonya Alvin. Nggak dicariin suami datang ke sini malem-malem?" Tami hanya nyengir mendengar pertanyaan Tasya. Meskipun ia tahu bahwa Alvin tak akan peduli kemanapun ia pergi, tapi ia tetap meminta izin suaminya melalui pesan singkat. Ia sedang malas mendengar suara Alvin.
"Kamu diterima kerja, Mai?" Tami segera mengalihkan topik pembicaraan. Malas jika harus berbicara panjang lebar mengenai pria yang bernama Alvin. Kalau saja tidak berdosa, ingin saja ia membungkus Alvin menggunakan karung lalu dilempar di sungai Kapuas biar dimakan sekalian sama buaya-buaya penghuni sungai.
"Alhamdulillah, Tami. Aku diterima di salah satu perusahaan sebagai staf keselamatan pekerja. Jadi pekerjaanku tidak akan seberat kalian."
Clara yang tadi terlentang langsung duduk bersila dengan wajah sumringah.
"Ada lowongan lagi nggak, Mai?" tanya Rara dengan pengharapan tinggi. "Rasanya aku mau resign saja, nggak kuat nanganin pasien yang bejibun tiap hari."
Mai menggelengkan kepalanya. Clara yang tadi sumringah jadi kehilangan semangat. Ia kembali ke posisinya semula.
"Sudah, yuk. Kita makan malam dulu. Keburu larut nanti kalian pulangnya. Bahaya, begal merajalela. Makan malam ini sekalian untuk syukuran kecil-kecilan karena aku sudah diterima bekerja." Tami, Clara dan Tasya mengiyakan apa yang dikatakan Mai. Selang beberapa detik kemudian Mai kembali melanjutkan kalimatnya. "Aku bangunin Nala dulu ya. Dia pasti senang banget melihat semua Bundanya datang."
Lagi-lagi ketiganya hanya mengangguk saja. Mereka terlalu keletihan untuk menjawab perkataan Mai dengan kalimat. Di tengah-tengah kebersamaan sahabatnya, Tami melupakan sejenak masalahnya. Meskipun tidak akan mudah, namun ia bukanlah perempuan lemah. Ia akan tunjukkan kepada semua orang, terlebih kepada dirinya sendiri bahwa ia mampu melewati ujian ini. Ia hanya akan menyerah jika Rabbnya sudah tak merestui jalan yang dipilihnya.
.....
Alisnya hitam dan lebat. Bola matanya yang hitam terlihat bersinar penuh keteduhan. Hitungnya mancung dan bibirnya terlihat cerah karena Alvin tidak punya kebiasaan merokok. Kulitnya berwarna putih meski tidak seputih kulitnya. Ciptaan Allah yang hampir sempurna dalam pandangan manusia.
Tampan dan mempesona
Itulah tiga kata yang bisa menggambarkan sosok Alvin secara fisik. Yang tidak Tami mengerti hanyalah sikap Alvin. Kadang pria itu perhatian padanya, kadang pula pria itu cuek setengah mati. Tami jadi gemas melihatnya.
"Jadi setelah memelototinya, mas Alvin itu bagaimana menurutmu?"
Tami jadi teringat dengan pertanyaan Karina saat ia kepergok memperhatikan calon iparnya. Dan lucunya ternyata calon iparnya itulah yang sekarang menjadi suaminya. Saat itu ia tidak tahu harus menjawab apa, tapi sekarang ia sudah tahu jawaban yang tepat untuk menjabarkan seperti apa sosok seorang Alvin Haiy Brahmantyo.
Suaminya itu aslinya adalah seseorang yang hangat, tapi ditutupi oleh tampilannya yang begitu cool, galak, cuek, dan kadang menyebalkan. Menurut cerita yang dituturkan Karina, Alvin itu pria yang setia, mungkin karena itulah Alvin masih setia dengan cintanya pada Karina meskipun telah dilukai hatinya. Alvin adalah dokter yang profesional. Tami mengambil kesimpulan bahwa sikap Alvin yang tidak membelanya siang tadi adalah bagian dari keprofesionalannya. Alvin adalah imam yang baik bagi makmumnya, karena itulah yang Tami rasakan selama beberapa minggu ini. Meskipun kelelahan menjadi dokter, Alvin tetap mau menjadi imamnya saat shalat sunnah tahajjud di sepertiga malam. Pria itu tak pernah sekalipun meninggalkan kewajiban sholat lima waktu berjamaah di masjid, kecuali jika ada operasi yang mengharuskannya sholat sendiri.
Namun malang nian nasibmu dokter karena ditinggal kekasih. Ckckck. Tami berdecak prihatin di dalam hati.
Alvin yang merasa dipandangi dengan intens sedari tadi mengalihkan fokusnya untuk menatap Tami. Gadis itu gelagapan dan langsung menyembunyikan wajahnya di balik buku.
"Kenapa ngeliatin aku terus? Ganteng ya?"
Tami memutar bola matanya dengan jengah. Ia berusaha menetralkan getaran jantungnya yang terasa hampir copot karena ketahuan mandangin si empunya badan. Subhanallah, pede bener nih manusia satu. Batin Tami.
"Siapa yang liatin kamu? Orang aku lagu baca buku. Idih, pede banget. Gantengan juga gorila di kebun binatang." ujar Tami dengan sinis. Padahal barusan ia mengatakan kalau suaminya itu tampan. Omongan kok mencla-mencle begitu,Tami. Mana suami dibandingin sama gorila lagi. Astagfirullahalladzim.
"Beneran gantengan gorila daripada aku?Awas loh nanti kesemsem sama aku." goda Alvin. Ia beranjak dari kursi lalu menaruh bukunya di rak buku. Tak lama kemudian ia naik ke tempat tidur dan duduk di samping Tami.
"Amit-amit jabang bayi." Tami berlagak seperti orang yang ingin muntah.
Tadi saja waktu para staf rumah sakit ngomongin aku yang nggak-nggak, aku dibiarin kayak kambing conge. Sekarang waktu berdua begini dia bisa ngeluarin suara buat ngegodain aku. Dasar jutek, galak, nyebellin, hantu laut, tunggu saja pembalasanku.
Kedua belah pipi Tami terasa panas. Apa pipinya panas karena merona digodain sama si hantu laut itu? Rasa panas itu menjalar di seluruh tubuhnya. Tiba-tiba ia jadi merasa menggigil. Tami meletakkan bukunya di nakas lalu menarik selimut hingga ke paras dada.
__ADS_1
"Kamar ini banyak hantunya, ya? Kok aku tiba-tiba menggigil begini?"
Bagaimana ia lupa, tadi kan pas pulang dari rumah Mai dia sempet kehujanan. Mana badannya memang sudah meriang disko dari tadi pagi. Ini pasti juga karena ia sangat merindukan ibunya. Memang sudah kebiasannya sedari kecil, jika ia rindu berat dengan seseorang maka tubuhnya akan memberikan signal mulai dari meriang hingga berakhir demam.
Alvin menggeser tubuhnya agar lebih dekat kepada Tami. Gadis itu menggeser tubuh lebih ke samping untuk menghindari Alvin. Ia langsung membenamkan tubuhnya di bawah selimut. Alvin mencoba menarik selimut, namun Tami mencengkramnya dengan kuat. Bulu kuduknya jadi berdiri semua.
Ya Allah, selamatkanlah hamba dari marabahaya dan tipu daya syaitan yang terkutuk. Tami merapalkan ayat kursi di dalam hatinya. Ia takut kalau-kalau suaminya kerasukan setan atau sebangsanya. Setelah selesai merapalkan ayat kursi, masih dengan adegan tarik menarik selimut Tami memberanikan diri mengeluarkan suaranya meski terdengar bergetar karena ketakutan.
"Ka...kamu...siapa? Mau ngapain?" tanyanya galak. Tangannya masih berusaha mempertahankan selimut sebisanya.
Alvin melepaskan selimut dari tangannya. Matanya fokus menatap mata Tami yang menatapnya dengan takut. Ia berusaha mencerna pertanyaan yang diajukan Tami. Sepertinya istrinya itu terlalu sering menonton film hantu, makanya sering parnoan. Padahal ia hanya ingin memegang kening Tami karena melihat wajah gadis itu yang memerah dan tubuhnya yang menggigil.
Alvin mengurungkan niatnya dan memilih menarik selimut dan memejamkan kedua indra penglihatannya. Lengan kanannya ia letakkan di atas kedua matanya.
Tami menyembulkan kepalanya dari balik selimut. Ia mengucap syukur yang teramat karena bahaya sepertinya sudah berlayar ke pulau kapuk. Ia turun dari tempat tidur lalu mengambil jaket tebal miliknya dan mengenakannya. Tak lupa kakinya ia bungkus dengan sepasang kaus kaki, setelah itu ia kembali menenggelamkan diri di bawah selimut.
Alvin terbangun karena mendengar gumaman Tami yang tidak jelas. Gadis itu terlihat gelisah. Bibirnya pucat dan bergetar hebat. Alvin duduk bersila, tangannya terulur memegang dahi Tami.
"Ya Allah, badannya panas banget."
Alvin segera menuju ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil. Ia melepas khimar yang dikenakan Tami, lalu dengan cekatan mengompres dahi Tami. Alvin juga menyeka leher Tami yang berkeringat dengan handuk yang sudah dicelupkan di air hangat. Alvin melakukannya berulang-ulang namun suhu tubuh Tami tak kunjung turun.
"Ding...innn." gumam Tami.
Alvin baru menyadari ternyata pendingin ruangan masih menyala. Ia mengambil remote control yang ada di nakas lalu mematikan pendingin ruangan. Tami membuka kelopak matanya yang terasa berat. Pandangan sayunya bertemu dengan pandangan Alvin.
"Mas." panggilnya
"Iya, kenapa?"
"Tami kedinginan, Mas." ujar Tami dengan suara bergetar. Sesungguhnya ia ingin meminta Alvin untuk memeluknya, tapi dia malu untuk mengutarakannya. Setiap kali demam maka Ibunya pasti akan berada di sampingnya untuk memeluknya sampai suhu tubuhnya menurun.
Karena suhu tubuh Tami tak kunjung turun, Alvin turun kembali ke dapur untuk mengambil kompres bye-bye fever di kotak obat. Kompres penurun demam itu sebenarnya diperuntukkan untuk bayi, tapi mengingat ini genting maka Alvin terpaksa mengambil kompres penurun demam yang sebenarnya milik Naufal, keponakannya. Ia juga mengambil obat penurun demam dan segelas air putih. Saat ia mengisi air putih di dalam gelas, tiba-tiba lampu dapur hidup dan membuat pria itu terjangkit kaget.
"Vin, ngapain gelap-gelapan di dapur?" tanya Bu Rafika.
"Mamah, bikin kaget saja. Ini Mah, Alvin ngambil obat buat Tami, dia lagi demam
tinggi"
"Oh iya, Mamah lupa ngasih tahu kamu kalau tadi siang Ibunya Tami nelpon, dia bilang Tami sempet ngomong kalau dia meriang. Biasanya kalau dia meriang pasti malamnya demam tinggi ditambah lagi tadi dia pulang kehujanan."
"Oh, Alvin nggak tahu Mah kalau Tami tadi pulang kehujanan."
Bu Rafika mendekati putranya lalu memukul lengannya dengan gemas. "Makanya, lain kali perhatian dikit dong sama istri "
Alvin hanya bisa nyengir kikuk. Ia akui memang ia tak mengambil berat tentang istrinya. Ia tak ingin terlibat hubungan apapun dengan Tami. Ia takut suatu hari nanti perhatiannya pada Tami akan membuahkan rasa cinta di hati gadis itu. Cukup ia yang merasakan luka saat ditinggalkan orang yang dicintai. Ia tak ingin saat Karina kembali dan ia pasti memilih meninggalkan Tami. Ia tak ingin meninggalkan gadis itu dengan luka yang sama dengan yang dirasakannya saat ini.
"Iya Mah, diusahain. Alvin naik dulu ya."
"Iya, dijagain tuh mantu Mamah. Jangan dibikin tambah parah demamnya."
Alvin hanya mengangguk mengiyakan pesan bu Rafika. Ia berjalan menaiki anak tangga, namun baru sampai di anak tangga ketiga bu Rafika kembali memanggilnya.
"Vin!" panggil bu Rafika.
Alvin menoleh menjawab panggilan bu Rafika.
"Ya, Mah?"
"Mamah cuma mau bilang, kata Ibunya, Tami itu kalau demam biasanya dipeluk semalaman baru turun demamnya. Kamu coba ya peluk Tami, siapa tau demamnya sembuh."
Alvin mengangguk lalu lanjut menaiki anak tangga. Sesampainya di kamar ia langsung menempelkan kompres instan di dahi Tami. Tami bergumam tidak jelas saat merasakan benda dingin menempel di kepalanya. Meski dengan susah payah, Alvin membangunkan Tami agar mau meminum obat penurun panas. Setelahnya Alvin mengangkat kepala Tami lalu membentangkan tangan kirinya. Dengan hati-hati Alvin menaruh kepala Tami agar berbantalkan lengannya. Alvin membawa Tami ke dalam pelukannya, berharap agar kalor panas tubuhnya berpindah di tubuh Tami yang kedinginan. Alvin menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Malam ini Tami tidur dengan pelukan "ternyaman" dalam hidupnya.
__ADS_1