Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 6 (Tiga Ibu)


__ADS_3

"Mama, Tami bawa cucu untuk Mama." teriak Keenan dengan nyaring saat memasuki pintu rumah. Laungannya terdengar sampai ke taman belakang, tempat dimana bu Rahma sedang bersantai. Mendengar teriakan putra sulungnya, bu Rahma spontan berdiri.


Nala menarik-narik celana Keenan. "Om...Om..., kata Bunda nggak boleh teriak-teriak, nanti nggak bisa ngomong lagi karena pita suaranya putus. Lagian yang biasanya teriak-teriak kan, Tarzan." celotehnya. Jari telunjuknya terayun-ayun di udara menunjuk Keenan.


Tami tertawa mendengar celotehan bocah perempuan berusia lima tahun itu. Keenan juga sebenarnya ingin ikut tertawa, tapi sengaja ia tahan karena terlanjur malu mendengar Nala yang seperti menyamakannya dengan Tarzan.


"Hmm, pinter banget sih, Nala. Pasti Bunda Nala pinter juga orangnya. Maafin Om ya, karena tadi teriak-teriak dan bikin Nala jadi nggak nyaman. Om sebenarnya terlalu senang dapat keponakan lucu bin imut-imut seperti Nala." Keenan mencubit kedua belah pipi tembem Nala.


"Ih, pipi Nala jangan dicubit Om. Nanti pipi Nala melar jadi nggak cantik lagi." tangan kecil Nala memukul tangan Keenan yang besar, meminta agar pipinya segera dilepaskan.


Keenan terkekeh pelan melihat wajah cemberut Nala. Gadis kecil itu tengah mengusap-usap pipinya setelah dilepaskan Keenan. "Ih...ih..., Nala ternyata narsis juga ya seperti Om Keen."


Tami tersenyum samar memerhatikan tingkah keduanya. Ia tak begitu heran dengan kedekatan Nala dan Keenan yang cepat sekali akrab meski baru bertemu dan saling mengenal. Ada sesuatu dalam diri Nala yang tidak dimiliki oleh anak-anak lain di dunia ini. Sesuatu yang membuat orang lain tertarik untuk menyayanginya. Jiwa alamiah Nala seperti ingin membuktikan bahwa ia layak untuk ada di dunia dan layak untuk mendapatkan kasih sayang orang-orang di sekelilingnya.


"Ih...ih...Nala ternyata narsis juga ya, seperti Om Keenan"


Wajah Nala jadi berkerut seribu mendengar kata narsis yang diucapkan Keenan. "Bunda Ina...Bunda Ina...narsis itu apa sih? Nasi campur sosis ya?"


Tami melongo mendengar pertanyaan Nala. Ia melotot tajam kepada Keenan. Karena tidak tahu harus menjawab apa, maka Tami berkata, "Iya kali, Bunda Ina juga nggak tahu apa artinya, sayang.Tanya saja sama Om Keen apa artinya."


Keenan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sama sekali, lalu mencoba memasang senyum yang membuat mimik wajahnya malah terlihat seperti orang meringis.


"Iya, maksud Om Keen itu nasi campur sosis. Nala pinter deh nebaknya."


"Besok Nala mau minta Bunda bikin narsis aja buat bekal sekolah." ujar Nala dengan riang.


Lagi, Tami mendelik tajam pada Keenan. Aduh masku ini, nanti aku jelasin apa ke, Mai? Gerutu Tami dalam hati.


"Bunda Ina, mana Mbah barunya Nala? Katanya hari ini Nala mau dikenalin dengan Mbah baru, mana Mbahnya?" Nala menarik jemari Tami yang sedari tadi tercegat di depan pintu. Tami baru hendak mengajak Nala ke dalam, namun Keenan justru menarik tangan mungil Nala agar mengikuti langkahnya yang besar.


"Nala ikut Om saja, ya. Kalau nungguin Bunda Ina mah kelamaan, nanti nggak ketemu-temu sama Mbah."


Sebenarnya maksud Keenan cepat-cepat mengambil alih Nala adalah karena ingin melarikan diri dari tatapan Tami yang seperti ingin mengulitinya saja.


Punya saudara perempuan kok pada galak-galak semua sih?


Ya Allah janganlah engkau jodohkan hamba dengan perempuan galak. Berilah hamba pasangan yang lemah lembut lagi penyabar, aamiin. Keenan mengusapkan tangan kanan ke wajah setelah mengaminkan doanya yang hanya bisa dipanjatkannya di dalam hati.


Melewati beberapa bagian rumah yang tak bersekat, Keenan membawa Nala ke taman belakang, tempat mamanya biasa menghabiskan waktu untuk mengurusi kebun bunga miliknya. Di taman belakang bu Rahma tidak sendirian, ada bu Rafika yang merupakan Ibu Alvin, calon mertua Karina dan seorang bocah laki-laki yang usianya tidak jauh dari usia Nala.


"Ma, nih Tami bawa cucu untuk Mama." ujar Keenan bersemangat. Tami memukul lengan Keenan dengan kesal. Masuk rumah bukannya ngucapin salam malah ngomong hal yang bisa bikin orang jantungan.


bu Rahma dan nu Rafika terkejut bukan kepalang. Bola mata mereka tak berkedip. Terlebih lagi bu Rahma yang merasa saat ini deru nafasnya berhenti sesaat dan aliran darahnya seakan berpusat hanya di satu titik. Ia terlalu terkejut saat ini. Bagaimana mungkin putrinya yang baru kembali ke pangkuannya beberapa bulan lalu ternyata sudah memiliki seorang anak. Lalu kenapa Tami tidak mengatakannya dari awal? Setidaknya ia tak akan seterkejut ini.


Keenan membisikkan sesuatu ke telinga Nala. Nala mengangguk-angguk tanda mengerti apa yang dibisikkan oleh Keenan. Gadis kecil itu berjalan menghampiri bu Rahma lalu mencium punggung tangannya tanpa canggung.


"Assalamu'alaikum, Mbah."


"Wa...Wa'alaikumussalam." bu Rahma menjawab salam Nala dengan terbata. Raut keterkejutan masih bertandang di wajahnya.


Nala lalu beralih mencium punggung tangan bu Rafika.


"Assalamu'alaikum, Nini."


"Wa'alaikumussalam, sayang." jawab bu Rafika dengan senyum hangat. Dielusnya kepala Nala dengan lembut.


Semua orang terdiam, kecuali Keenan yang sedang tertawa dengan nyaring karena berhasil membuat nu Rahma syok berat. Tami mencubit lengan Keenan dengan geram.


"Aw...aw...sakit, Tami." Keenan meringis sambil mengelus-elus lengannya yang terasa seperti digigit semut hitam.


"Rasain tuh." seru Tami dengan dongkol.


Tami menuntun bu Rahma yang masih syok untuk duduk. Sementara Nala duduk di samping bocah laki-laki tadi.

__ADS_1


"Tami udah nikah? Udah beranak? Kenapa nggak bilang-bilang ke Mama?" tanya bu Rahma seperti orang linglung.


Beranak? Kucing kali ah beranak.


Tami menggenggam tangan bu Rahma. Ia sempat menghadiahkan Keenan dengan pelototan tajam sebelum menjawab pertanyaan bu Rahma.


"Tami belum nikah, Ma. Nala itu bukan anak Tami, dia anak sahabat Tami."


Bu Rahma menghembuskan nafas lega. Dari tadi tanpa sadar ia menahan nafas. Separuh nyawanya yang sempat terasa melayang kini kembali ke jasad. Cah bagusnya itu benar-benar usil. Untung nggak jantungan dia.


"Awas kamu Mas, tak langsung kawinin besok sama Dira biar tahu rasa." ancam Rahma berapi-api.


Mata Keenan melotot gusar mendengar ancaman Bu Rahma. Bayangan dulu waktu Dira kecil menendang tulang keringnya kembali berkelabat di benaknya. Ora, ora sudi aku jadi rempeyek. Keenan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan dramatis seakan menghilangan semua bayangan buruk di benaknya.


"Iya Ma, Tami setuju sama, Mama."


Habislah dia. Adik yang diharapkan membelanya kini malah jadi satu komplotan dengan mamanya dan Karina. Nasibmu lah Keenan, dikelilingi wanita-wanita kejam.


"Ampun, Ma. Keenan kapok dah ngerjain Mama. Please jangan kawinin Keenan sama Dira. Emang tega lihat wajah tampan anakmu ini babak belur?" ujar Keenan. Wajahnya dibuat sememelas mungkin, seakan menikah dengan Dira akan membuat masa hidupnya tamat. "Nggak apa-apa lah, Keen. Nanti nikahannya bareng sama Alvin dan Karina." kali ini bu Rafika yang angkat bicara, membuat semangat hidup Keenan kian menipis.


Apa semua wanita dan sebangsanya selalu seperti ini? Kenapa mereka pada kompak banget pengen aku hidup dengan "pembunuh berantai"? Gerutu Keenan.


"Keen nyerah, deh. Kapok ngelawan perempuan." katanya dengan frustasi. Ia memilih meninggalkan para wanita itu, daripada terus menerima teror mereka. Bukannya kasihan, mereka malah tertawa bahagia melihat penderitaannya. Heeh, emang dasar emak-emak, kalau anak belum nikah disuruh cepat-cepat nikah, kalau sudah menikah ditanya mulu kapan punya anak, sudah punya anak malah minta cucu, ada cucu terus minta cicit.


Nggak sekalian saja gitu ditanyain, kapan mati?


Heh, sampai dunia kiamat juga permintaan emak-emak nggak akan ada habisnya. Keenan memilih naik ke kamarnya. Ia harus segera menelepon Tari untuk menanyakan kapan kekasihnya itu siap untuk dilamar. Ia sungguh menyesali keputusannya mengajak Tari berpacaran. Seharusnya ia langsung mengajak gadis itu menikah bukan malah menjalani hubungan yang tidak jelas arah dan tujuannya. Lihatlah sekarang, Ia malah diteror dengan pertanyaan "kapan nikah?" ditambah lagi dengan ucapan bodohnya yang menyetujui tantangan Karina. Tamatlah riwayatnya kalau sampai Tari menolak lagi lamarannya.


"Nala tau dari mana pangilan Nini?" tanya bu Rafika saat sesi menertawakan penderitaan Keenan selesai.


"Oh, itu Nala tadi dibisikin sama Om Keen." kata Nala dengan senyum sumringah.


Bu Rafika hanya ber oh ria sambil mengangguk-angguk mendengar jawaban Nala.


"Sekarang Nala senang deh punya Mbah sama Nini, jadi Nala nggak sedih lagi kalau ingat sama Mbah. Boleh ya, Mbah, Nini kalau Nala jadi cucu Mbah sama Nini?" gadis polos itu mengucapkan permintannya dengan nada memohon.Terlihat jelas sekali bahwa Nala masih belum bisa menerima kepergian neneknya.


"Sekarang Nala main sama Aa Naufal dulu ya, nanti kita baru makan siang."


Nala manut perintah Tami. Tangan kecilnya menggandeng lengan Naufal yang pemalu menuju ayunan yang berada di pojok taman.


"Nala anaknya pinter, ya. Nggak pemalu." puji bu Rafika. Matanya tak lekang memerhatikan cucunya, Naufal dan cucu barunya, Nala.


"Iya, Teteh bener. Ngomongnya juga lancar banget nggak cadel-cadel lagi seperti anak seusianya." bu Rahma menimpali.


"Umur Nala berapa tahun Tami?" tanya bu Rafika.


"Baru lima tahun, Mah." ujar Tami.


Ia memang sudah terbiasa memanggil bu Rafika dengan sebutan mamah. Saat pertama kali bertemu, bu Rafika mengatakan bahwa waktu kecil dulu, Kirana alias Tami memanggilnya dengan sebutan mamah seperti Keenan dan Karina. Dua keluarga mereka memang sudah akrab sejak zaman kuliah dulu. Tami jadi merasa sangat bahagia karena memiliki tiga orang ibu yang menyayanginya.


"Emang Ibunya Nala seusia kamu, Ta?"


"Iya, Ma. Sahabat Tami itu namanya Mai, dia hamil Nala waktu usianya baru 17 tahun. Makanya sekarang Nala udah gede."


"Masih muda banget ya dia nikahnya. Mending nikah muda daripada terjerumus zina." Tami mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan mamanya.


....


Tami berjalan menuruni anak tangga setelah melakukan kewajibannya kepada Sang Pencipta. Bau semerbak kue yang dipanggang menyapa indera penciumannya. Malam ini akan datang tamu spesial, sangat spesial. Tamu yang sudah ditunggu-tunggu oleh Tami, yaitu calon abang iparnya. Ia harus memanggilnya apa ya? akang atau aa? Tapi yang pasti ia sudah tak sabar ingin melihat pria yang katanya sejak kecil mengejar-ngejar Karina, kakak perempuannya.


Menurut penuturan Karina, Tami juga mengenal pria itu yang merupakan abang yang sangat akrab bagi mereka saat kecil dulu. Katanya pria itu juga seorang dokter di rumah sakit tempat Tami bekerja. Siapa dia? Karina sengaja tak mau memberi tahu siapa nama calon kakak iparnya, katanya kejutan.


Ketika sampai ke dapur, anak matanya mendapati pemandangan yang membuatnya menggeleng-gelengkan kepala. Keenan, kakak lelakinya tengah duduk dengan sepiring kue bingke dan segelas besar orange juice. Tami menarik kursi lalu duduk di samping Keenan. Ia menatap tepat di bola mata hitam milik Keenan. Sepertinya masnya itu sedang galau berat. Mulutnya saja yang tidak berhenti mengunyah tapi pikirannya entah melayang kemana. Jika diperhatikan, Keenan sudah mirip tokoh Kim Sam Soon di drama korea yang hobi sekali makan kue jika sedang sedih. Tapi bedanya Kim Sam Soon itu perempuan jadi wajar saja kalau galau makan kue, lah ini mas nya kan laki-laki, kok kelakuannya malah mirip perempuan sih?. Sikapnya berbanding terbalik dengan fisiknya yang tegap dan macho, oh jangan lupa dengan kenarsisannya yang merasa bahwa ialah pria paling bagus (ganteng) di dunia.

__ADS_1


"Mas...Mas...Mas Keeeeen." Tami menyenggol lengan Keenan yang tengah fokus dengan kegalauannya. Pria itu seperti tak menghiraukan kehadiran Tami yang sedari tadi lekat menatapnya.


"Mas habis ditolak lagi lamarannya sama Mbak Tari, ya?" mendengar Tami menyebut nama Tari langsung mengembalikan kesadarannya dari kegalauan. Keenan cepat-cepat membekap mulut Tami dengan sepotong kue yang ada di tangannya. Sementara jari telunjuknya di letakkan di atas bibirnya memberi isyarat agar Tami tidak bicara keras-keras. Tami mengunyah kue di mulutnya dengan mata melotot.


"Mas kenapa nyumpal mulut Tami pake kue, kalau keselek gimana?" omel Tami setelah menyelesaikan kunyahannya.


"Nih minum." Keenan menyodorkan gelas minumannya kepada Tami. Gadis itu minum sambil menggerutu.


"Makanya ngomongnya dikecilin dikit volumenya, Tami. Nanti kalau Mbak Asni sama Bi Lina dengar mau taruh dimana muka aku yang ganteng ini?"


"Habisnya dari tadi dipanggil-panggil nggak nyahut sih." Tami balik menyalahkan Keenan.


"Iya, tadi kan aku lagi khusyuk ngegalau?


Galau kok khusyuk sih, shalat dong yang khusyuk. Gimana sih?


"Jadi benar kan tebakanku, kalau Mas habis ditolak lam..." belum sempat Tami menyelesaikan kalimatnya, Keenan sudah kembali membungkam Tami. Tapi kali ini dengan menggunakan tangan besarnya.Tami memukul-mukul tangan Keenan agar melepaskannya.


"Hush, jangan nyaring-nyaring ngomongnya Tami. Kalau Karina denger bisa habis aku."


Tami mengangguk-anggukkan kepalanya barulah Keenan melepaskan bekapan tangannya.


"Kenapa sih, Mas takut banget nikah sama Dira? Lebih baik meminang yang pasti-pasti saja Mas daripada menunggu yang tidak pasti."


"Tapi kalau yang pasti itu pembunuh berantai kamu mau?"


Tami menggeleng kuat mendengar pertanyaan yang diajukan Keenan.


"Makanya aku juga nggak mau."


"Tapi, itu kan penilaian Mas terhadap Dira waktu dia masih kecil. Siapa tau Dira yang sekarang sudah berbeda dengan Dira yang dulu. Kenapa nggak dicoba dulu saja, Mas?"


"Nggak ah, Mas nggak mau. Lagipula Mas masih ada waktu empat bulan lagi sebelum tantangan Mama sama Karina berlaku."


"Heeh, terserah Mas Keen saja deh. Tami mah selalu siap sedia mendukung apapun keputusan Mas Keen. Tami doain semoga jodohnya disegerakan untuk dipaketin biar dikirim ke Mas Keen secepatnya, aamiin." Tami mengusap kedua telapak tangannya ke wajahnya mengamini doanya.


"Nah, gitu dong. Itu baru adiknya, Keenan." Keenan mengusap kepala Tami dengan lembut.


...


Tami celingak-celinguk dari balik pintu dapur mengamati calon abang iparnya yang sedang mengobrol dengan Keenan di taman belakang. Kedua bola matanya mengerjap-ngerjap, seakan tidak mempercayai pemandangan yang ada di depannya. Bagaimana bisa dokter Alvin yang galak seperti banteng di rumah sakit adalah calon suami kakaknya. Ternyata cinta memang bisa mengubah pribadi seseorang. Pesona Karina benar-benar luar biasa karena bisa menaklukkan hati Alvin bahkan sedari ia masih belia.


"Hayo, lagi ngeliatin siapa?" Karina memukul pundak Tami yang menempel di pintu.


Tami yang sangat kaget spontan memutar kepala ke belakang. Namun sepertinya kemalangan tak pernah jauh dari hidupnya. Saat ia ingin menoleh ke belakang, kepalanya malah menabrak daun pintu. Ia meringis sambil memegangi keningnya yang terasa berdenyut. Karina yang berdiri di belakang Tami tertawa lepas melihat tingkah adiknya. Tami memukul lengan Karina dengan kesal.


"Ih, Mbak itu kan dokter. Ngelihat saudaranya kesakitan bukannya ditolongin, malah diketawain." gerutu Tami dengan cemberut. Meskipun Karina berkali-kali melarangnya memanggil Mbak tapi Tami tetap saja memanggil Karina dengan embel-embel Mbak sebagai penghormatannya kepada saudara perempuannya yang lebih tua. Ia melangkah menuju meja makan, lalu menarik salah satu kursi untuk didudukinya. Karina mengikutinya dari belakang masih dengan gelak tawanya yang tak ingin usai. Tami memelototi kakaknya dengan gusar. Ini saudarinya habis kesambet sama kuntilanak kali ya? Bahagia sekali menertawakan penderitaan orang lain. Tami jadi mendengus sebal.


"Kamu ngapain sih ngintipin orang laki yang lagi ngobrol? Nanti matanya bintitan loh." ujar Karina setelah menyelesaikan tawa panjangnya. Telunjuknya menuding tepat pada mata Tami.


"Emang aku ngintipin orang mandi apa?"


"Lagian kamu ngeliatin mereka begitu banget sih. Kalau mau ngobrol kenapa nggak gabung saja dengan mereka. Siapa tahu kamu mau mengenal lebih jauh lagi calon Abang iparmu itu."


Tami yang merasa kalau kata-kata Karina memiliki maksud lain didalamnya buru-buru mengelengkan kepala. "Aku nggak ada maksud mbak untuk nggak menjaga pandanganku ini."


"Iya, aku tahu seperti apa adikku ini," Karina menepuk punggung tangan Tami. "Maksud aku siapa tahu kamu bisa mengingat masa kecilmu dulu, karena Mas Alvin itu adalah salah satu bagian penting dalam memori masa kecil kita."


Tami tersenyum lega. Ternyata dia yang salah mengartikan apa yang dikatakan kakaknya. Ia menumpuk kedua tangannya diatas tangan Karina. "Aku sudah sangat bahagia bisa berkumpul lagi dengan kalian, keluargaku. Aku nggak perlu mengingat masa kecilku lagi Mbak, karena yang sekarang sedang kujalani telah menjadi memori indah dalam ingatanku, menggantikan masa kecil yang nggak bisa ku ingat."


"Iya, aku juga seneng banget ngedengernya, Tami. Aku mau setelah semua kesedihan yang kamu lalui kamu akan mendapat bahagiamu. Aku janji." ujar Karina bersungguh-sungguh.


"Berada di sini bersama kalian adalah kebahagiaan yang amat besar yang tak akan tergantikan oleh apapun di dunia ini."

__ADS_1


Karina memeluk adiknya dengan erat. Keduanya meneteskan air mata bahagia. Bahagia karena Allah menyatukan mereka kembali setelah berpisah dalam waktu yang sangat lama. Cukup lama dalam keadaan seperti itu, barulah mereka meleraikan pelukan satu sama lain.


"Jadi setelah memelototinya, menurut kamu, Mas Alvin itu gimana orangnya?" tanya Karina dengan menaik-turunkan sebelah alisnya.


__ADS_2