
Allah itu baik, maka Dia menguji hambanya dengan ujian yang sedemikian rupa agar manusia menjadikannya sebagai tumpuan untuk ancang-ancang sebelum melompat ke kehidupan yang lebih menantang, kehidupan dunia yang penuh kemunafikan.
Dunia itu kejam. Dunia itu hina.
Dengan cobaan, Allah secara tidak langsung menggembleng hamba-Nya menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih sabar, lebih tabah, lebih tegar, dan yang terpenting manusia menjadi lebih bersyukur atas segala kenikmatan gratis yang selama ini diberikan-Nya. Jika mengeluh terhadap ujian yang diberikan, toh ujian itu tidak akan berkurang malah hanya akan semakin menambah beratnya karena hati dan diri yang tidak ikhlas diuji. Seorang ibu saja tidak akan menyakiti buah hatinya, apalagi Allah yang menciptakan seluruh ibu di dunia.
Bagaimana mungkin Allah menjadikan ujian sebagai media untuk menyakiti hambanya?
Tidak mungkin Allah menyakiti hambanya. Ketahuilah bahwa Allah itu Ar-rahmaan, Maha Pengasih dan Ar-rahiim, Maha Penyayang. Allah tidak akan memberi ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Andai manusia mengetahui bahwa ahlul musibah akan mendapat tempat yang begitu tinggi, derajat yang begitu tinggi di sisi Allah, maka manusia psti akan berbondong-bondong memohon kepada Allah agar ditimpakan ujian sekiranya dapat melunturkan segala dosa dari perbuatan yang sia-sia.
Tami menutup pintu ruang anggrek, tempat beberapa pasien dirawat. Ia baru saja selesai mencatat status pasien.Pasien yang diuji Allah melalui suatu penyakit. Sakit adalah ujian, namun jika manusia yang menjadi pasien menyadari bahwa sakit dapat menggugurkan dosa dan dengan tabah dan ikhlas menghadapinya maka tersenyumlah ia karena mengetahui bahwa Allah menyayangi dengan memilihnya sebagai hamba yang diringankan timbangan keburukannya di hari akhir.
Sesungguhnya bersama rasa sakit Allah menyelipkan begitu banyak kenikmatan. Kenikmatan karena berkumpulnya kembali keluarga yang mungkin tak terjadi jika engkau sehat, raga dapat istirahat dari urusan dunia, dan nikmat karena rasa sakit mendekatkan kita pada Ilahi Rabbi. Tergantung manusia saja bagaimana memandang ujian itu. Apa dia ikhlas dan sabar menerima ujian atau malah menyalahkan takdir yang digariskan untuknya begitu kejam.
"Gila! Nggak nyangka ya pelakor zaman sekarang alim-alim."
Tami menghentikan aktivitasnya memasang sepatu saat mendengar suara tak asing ditelinganya. Suara yang menambah bekal pemiliknya menuju panasnya api neraka. Kalimat yang disampaikan oleh syaitan yang terkutuk untuk menjurumuskan manusia yang lemah, karena hanya manusia lemah yang mengikuti bisikan syaitan.
Tami menatap sekelilingnya. Meskipun sudah tahu siapa yang dimaksud Teresytha, namun ia tetap ingin memastikan siapa tahu ada orang malang yang jadi korban selanjutnya dari mulut jahat Teresytha yang tidak berasuransi.
Diberi Allah mulut yang sempurna kok digunakan untuk nambah bekal dosa. Tidak berkaca apa pada orang yang tak memiliki mulut sempurna namun mereka masih tetap bersyukur dengan mengatakan hal yang baik-baik. Menjadikan kekurangan mereka sebagai ladang pahala agar dibangunkan Allah rumah di surga-Nya yang begitu mulia.
"Percuma alim kalau ngerebut tunangan kakak sendiri. Munafik." sekali lagi Teresytha berteriak mengejeknya dengan sinis.
Entah dendam kesumat apa gadis itu kepadanya hingga menyebarkan fitnah yang begitu keji. Tami mengetahui bahwa Teresytha lah yang menyebarkan fitnah bahwa dirinya merebut Alvin dari Karina karena tanpa sengaja mendengar perbincangan dua orang perawat di toilet. Sungguh hanya kesabaranlah yang mendorongnya untuk tidak meladeni Teresytha.
"Covernya alim tapi isinya busuk, menjijikkan. Cihh." Teresytha meludah ke samping, seakan ia melihat Tami seperti benda najis dan menjijikkan.
Gadis yang bersama Teresytha memukul pundaknya, seakan memberitahu bahwa apa yang diucapkan gadis itu sudah sangat kelewat batas. Tapi Teresytha tidak peduli. Ia belum puas menyakiti Tami.
Bohong jika Tami mengatakan ia baik-baik saja, tidak marah, tidak jengkel, tidak sakit hati. Ejekan yang dilontarkan Teresytha tak ubahnya bagai ribuan jarum yang menusuk-nusuk hatinya. Dadanya terasa begitu sesak dihimpit rasa sakit yang bertubi-tubi mendera. Disaat seperti ini ia biasanya akan menangis, jika tidak maka rasa sesak itu tak akan pernah pergi dan akan terus membelenggu dan menyiksanya.
Tami menghirup udara sebisanya sambil terus beristigfar dan menyebut asma Allah untuk menguatkannya melawan kesombongan syaitan yang tengah bersorak-sorai merayakan kemenangan karena telah berhasil membutakan hati salah seorang cucu Adam. Tami lanjut memasang sepatunya yang tadi sempat tertunda. Ia berdiri sembari menarik kedua sudut bibirnya hingga membentuk seperti busur panah. Meski ekspresinya tak sejalan dengan yang hatinya rasakan, ia tetap mengangkat kepalanya dengan tegar. Ia tak akan membiarkan syaitan bersorak lebih lama lagi.
Tami melangkah mendekati Teresytha lalu berkata, "Penilaian Allah di atas segalanya, Tere. Meski seberapa keras pun kamu menebar fitnah, Allah lebih tahu kebenarannya. Jangan jadikan nikmat yang diberikan Allah sebagai alat untuk menghasilkan dosa. Suara kamu bagus, akan lebih bermanfaat jika kamu gunakan lisanmu untuk mengaji dan bershalawat. Nilai pahala di sisi-Nya menantimu."
"Eh, aku nggak perlu ya ceramah dari perempuan berhati busuk kayak kamu, jijik aku dengernya. Pengen muntah." seru Teresytha penuh amarah.
Tami meninggalkan area masjid setelah mengatakan kalimat panjang tadi. Meski lega tapi dadanya masih terasa sesak. Teresytha? Gadis itu masih melontarkan kalimat yang begitu mengiris telinga dan menyayat hati pendengarnya. Namun Tami menabahkan langkahnya, tidak mau menatap lagi ke belakang. Tidak usah diladeni, nanti dia akan lelah sendiri. Teresytha menghentakkan kakinya dengan kesal karena merasa usahanya untuk menyakiti Tami secara batin sia-sia. Entah kekuatan apa yang dipakainya hingga Ia setegar itu. Teresytha lebih suka dilawan, ditampar atau dipukul sekalipun daripada didiamkan seperti tadi. Ia jadi merasa kalah telak.
.....
Tami menyandarkan tubuhnya di dinding lorong yang sepi. Tubuhnya luruh begitu saja di lantai yang dingin bersama deraian air mata yang sedari tadi ingin meledak. Ia meremas seragamnya dengan kencang,seakan memegangi hatinya yang begitu terluka. Ia tidaklah setegar Ummul mukminin dalam menerima fitnah. Wanita adalah makhluk ciptaan Allah yang begitu pandai menyembunyikan kesakitan di depan orang lain meski hatinya berdarah sekalipun, tapi saat sendiri maka meletuslah balon air mata yang menyayat pilu. Tembok ketegarannya hancur di hantam badai hingga porak-poranda.
Ya Rabbul izzati. Sesungguhnya hamba ikhlas diuji. Air mata ini hanya ungkapan perasaan hati hamba yang begitu terluka. Maafkanlah hamba-Mu ini yang begitu lemah dalam menerima ujian yang kecil ini. Jagalah diri hamba dari sifat dendam dan pemarah. Selimutilah diri hamba dengan ketabahan dan kesabaran agar diri ini tak mengikuti bisikan syaitan yang memperalat manusia agar bersedia menemaninya di neraka dan berikanlah teman hamba hidayah agar kembali ke fitrahnya sebagai manusia yang memberi manfaat bagi orang lain. Mohon Tami dalam hati kecilnya.
Ia menepuk-nepuk dadanya guna mengurangi kesakitan batinnya. Perlahan isakannya mulai mereda, meski tidak mudah tapi ia berusaha kembali menampilkan wajah ceria seperti biasa. Setelah membasuh dirinya dengan air wudhu, ketenangan perlahan menelusup ke dalam hatinya, mendamaikan relung jiwa yang sempat berkocak hebat.
"Tami."
Tami menoleh ke belakang, mendapati seorang teman lama dengan lengan baju disisingkan. Pemuda itu tersenyum menawan. Senyum yang sama seperti saat pertama kali Tami melihatnya sepuluh tahun yang lalu.
Umurnya tiga belas tahun saat pemuda yang bernama lengkap Muhammad Surya Ramadhan memperkenalkan diri sebagai tetangganya. Pemuda yang menginspirasi Tami menjadi seorang perawat. Hal yang dikagumi Tami dari pria itu adalah kegigihannya dalam mengejar cita-cita menjadi seorang dokter meskipun ia berasal dari keluarga yang kurang mampu.
"Abang kenapa mau jadi seorang dokter?tanyanya ketika mendapati Surya yang serius belajar di balai-balai samping rumah.
"Tahu nggak kalau jadi dokter itu bisa mengotak-ngatik tubuh orang secara legal."
__ADS_1
Tami yang polos bergidik ngeri mendengar jawaban Surya. "Ih, Abang jahat banget. Abang psikopat ya." tanyanya dengan ngeri.
"Nggak. Abang cuma bercanda. Alasan sebenarnya abang ingin menjadi dokter karena cinta yang diajarkan Rasulullah. Waktu Abang kecil, Abang sering sakit-sakitan dan dokter yang merawat Abang adalah dokter yang teramat baik,l emah lembut, telaten, dan penuh ketulusan. Bahkan saat orang tua Abang nggak sanggup membayar biaya rumah sakit, beliau merelakan gajinya untuk biaya perawatan Abang. Terus waktu Abang sudah sembuh, Abang tanya sama dia kenapa dia merawat Abang sampai sebegitunya. Tahu nggak dia jawab apa?"
Tami menggeleng. "Ya mana Tami tahu Bang, kan waktu itu dokternya ngomong sama Abang, bukan sama Tami."
Surya tersenyum. "Dokter Ana bilang, ia melakukan itu untuk hidupnya kemanusiaan seperti yang di ajarkan baginda Rasulullah. Rasulullah itu pembawa cahaya yang menerangi kegelapan dan kepengapan zaman jahiliah. Maka dari itu beliau terus mengamalkan apa yang diajarkan baginda Rasulullah agar cahayanya senantiasa menerangi kehidupan umat manusia. Menjadi dokter itu panggilan jiwa, bukan hanya sekedar profesi karena adanya dua huruf di depan nama pemiliknya yaitu d dan r."
Sejak mendengar jawaban hebat dari Surya, Tami bertekad akan menjadi seorang perawat agar dapat menjadi bagian orang-orang yang selalu menghidupkan rasa kemanusiaan.
"Iya, dok. Ada apa?"
Surya berlari kecil menghampirinya lalu menebar senyumnya yang meneduhkan.
"Nggak usah manggil pakai embel-embel dok-dok segalaTami, emang aku kodok?"
"Terus Tami harus panggil apa?"
"Panggil saja Abang, seperti biasa."
Tami tersipu. Sudah lama ia tidak berjumpa dengan teman masa kecilnya itu karena kesibukan masing-masing. "Kebiasaan Bang. Abang ada apa manggil Tami?"
"Nggak. Cuma mau ngucapin selamat atas pernikahanmu dengan dokter Alvin. Semoga kalian menjadi keluarga sakinah, mawaddah, dan rahmah." ucap pria itu dengan tulus. Seulas senyuman menghiasi wajahnya meski hati tak selaras dengan ucapan lisan.
"Aamiin. Makasih, Bang. Sampaikan salam Tami pada Ayah, Abang."
"Pasti itu. Sampaikan ucapan selamat dan salamku pada suamimu."
"Insyaa Allah. Tami pamit dulu. Assalamu'alaikum."
Surya menatap punggung Tami hingga gadis itu menghilang di pertigaan lorong rumah sakit.
Ternyata Allah tak menjodohkan aku denganmu Tami meski aku dengan terang-terangan memintamu kepada Allah di dalam doa panjangku. Entah sejak kapan, aku pun tak menyadari jika hatiku sudah terpaut denganmu. Allah yang menghadirkan rasa cinta ini, maka biarlah Allah juga yang menghapusnya. Bukankah cinta tak harus memiliki? Cukup melihatmu bahagia dengannya maka akupun akan bahagia meskipun hatiku yang harus terluka.
Surya melangkah gontai mennyusuri lorong. Masih terbayang wajah gadis yang dicintainya begitu antusias saat ia diterima sebagai mahasiswa kedokteran. Saat itu juga Tami berjanji akan menjadi perawat agar dapat berjuang bersamanya. Dua bulan yang lalu diam-diam ia menyiapkan rencana untuk mengutaran niatnya kepada ibu Tami bahwa ia akan mengkhitbah gadis pujaannya itu. Namun Allah ternyata telah menyandingkan nama Tami dengan dokter Alvin sebagai jodohnya sebelum ia sempat melaksanakan rencananya.
Jangan tanyakan betapa dalamya luka hati yang diderita pria itu saat tahu pujaan hatinya telah diikat dan dihalalkan pria lain dalam sebuah janji suci pernikahan. Impiannya sirna seketika, terenggut begitu saja dalam sekejap. Sungguh, manusia hanya bisa membuat rencana namun ia lupa bahwa Allah itu the best planner. Ia akan mengubur dalam rasa cinta itu bersama sejuta impian yang tak mungkin terealisasikan. Mudah-mudahan Rabbnya memudahkan. Ia yakin bahwa Allah telah menyiapkan jodoh terbaik untuknya, mungkin seseorang yang selama ini juga secara diam-diam menyelipkan namanya di setiap bait doa yang diterbangkan hingga menembus langit yang ketujuh.
.....
Alvin berdiri mematung di belakang pintu, menajamkan pandangannya kedepan. Rasanya ia tak perlu heran lagi melihat siapa yang tengah terbaring tertelungkup di atas meja. Ia menghembuskan nafasnya perlahan lalu berjalan mendekati meja untuk membangunkan istrinya.
"Ta, Tami. Bangun udah malam." Alvin sedikit mengguncangkan bahu Tami. Gadis itu bereaksi dengan bergerak gelisah namun kelopak matanya enggan terbuka, hanya bibirnya saja yang bergumam mengeluarkan protes pada Alvin karena telah mengganggu lelapnya.
"Aduh, kok masih malam aku sudah dibangunin?" gumamnya dengan malas.
"Udah siang ini, udah jam sembilan pagi."
Antara sadar dan tidak sadar, Tami berusaha mencerna pernyataan Alvin. Jam sembilan pagi terus tergiang di telinganya hingga ia terbangun dengan panik. Lem yang tadi merapatkan kedua kelopak matanya menghilang bersamaan dengan rasa panik yang dirasakannya.
"Ih, kenapa nggak bangunin aku dari subuh? Kan aku jadi ketinggalan sholat subuh, mana aku ada jadwal shif pagi lagi. Habislah aku diceramahin gratis sama Mbak Salwa."
Tami mengomel sambil mondar-mandir mengitari ruangan mencari pintu toilet namun tak kunjung menemukannya. Alvin tergelak, ia tak mampu menahan tawanya melihat Tami yang linglung mengitari seisi ruangan. Tami menghentikan langkahnya. Sepertinya ada sesuatu yang salah. Pikirnya. Ia mengambil ponsel yang berada di saku lalu menghidupkannya.
"Ihh, Mas Alvin nyebellin." Tami menghampiri Alvin lalu memukul lengannya dengan kesal. Ternyata sekarang jam sembilan malam, bukan jam sembilan pagi.
.....
__ADS_1
"Aku minta maaf Tami, tadi pas aku bilang jam sembilan malam kamu malah makin pulas tidurnya makanya aku bilang jam sembilan pagi."
Tami melengoskan wajahnya. Ia masih kesal dengan Alvin. Pemandangan ibu kota lebih menarik ketimbang melihat wajah Alvin yang menurutnya sangat menyebalkan.
"Lama ya tadi nunggunya?" tanya Alvin. Meskipun Tami cuek bebek dengan permintaan maafnya, ia tetap berusaha mengajak gadis itu berbicara. Percayalah, saling diam itu tidak enak rasanya.
"Lumayan, ada dua abad." jawab Tami dengan kesal. Wajahnya masih setia melihat ke luar.
"Pantesan kamu kelihatan keriput."
Mendengar kata keriput, tanpa babibu tangan Tami langsung mendarat di pundak Alvin. Ia paling anti dengan orang yang mengatakan dirinya tua. Alvin pura-pura meringis. Meskipun Tami memukulnya sekuat tenaga, tapi karena ia pria, rasanya tidak seberapa sakit. Ia sengaja mengatakan Tami keriput agar gadis itu mau berbicara dengannya walau yang diterimanya adalah pukulan. Istrinya itu sepertinya jebolan ajang pencarian preman se-kota Pontianak. Kejam plus sadis.
"Aduh, kamu sadis banget sih jadi perempuan. Kerjaannya KDRTin suami mulu."
"Siapa suruh ngatain aku keriput." kata Tami dengan sinis. Arrgh, moodnya benar-benar hancur hari ini.
"Lain kali aku nggak mau lagi satu mobil sama kamu. Bisa-bisa aku nggak sampai tujuan, malah sampai ke rumah sakit akibat jadi korban keganasan kamu."
Tami tak mau mengalah, selagi ia masih mampu membalas maka ia tak akan menyerah begitu saja. "Siapa juga yang mau satu mobil sama kamu?" katanya dengan bibir miring-miring.
"Mamah yang mau aku satu mobil sama kamu gara-gara hujan tadi pagi. Mamah nggak mau menantu kesayangannya kenapa-kenapa. Karena demammu waktu itu, Mamah jadi parnoan. Padahal kan kamu sakit gara-gara aku godain."
Tami bergidik dengan ekspresi seperti orang mual. "Idih, pede banget. Aku demam karena aku kangen sama Ibu tau, bukan karena digodain kamu."
"Tapi kok minta peluknya sama aku?"
"Itu...itu..." Tami kehilangan kata-kata. Mendadak otak pintarnya terasa buntu. Selain itu pipinya juga merona. Aih, malu-malu kambing si Tami
"Itu, apa?" desak Alvin sambil menaik-naikkan sebelah alisnya.
Setelah jeda sekian detik barulah otaknya menemukan jawaban yang pas. "Itu karena tiap kali aku demam ibu yang selalu meluk aku. Lagipula kan waktu itu aku nggak ada ngomong minta dipeluk."
"Iya, iya."
Alvin memilih mengalah. Baru kali ini ia bertemu wanita yang kalau ngomong ngalahin bunyinya petasan. Suasana kembali hening setelah perdebatan yang tidak penting. Alvin kembali membuka pembicaraan setelah menemukan topik yang pas.
"Tadi kenapa nggak nelpon aku ,Ta?"
Tami menoleh ke samping, menatap Alvin yang sedang khusyu di balik kemudi. "Nelpon siapa? Nelpon Spiderman minta jemput aku?Nomor handphone kamu saja aku nggak punya." katanya dengan ketus.
"Ya, udah. Kamu simpan nomor aku, simpenin juga nomor kamu di handphone aku, siapa tahu nanti kamu butuh dipeluk lagi." goda Alvin.
"Ora sudi." desis Tami. Ia benar-benar geram dengan Alvin karena terus membahas soal pelukan saat Ia demam tinggi.
"Nih." Alvin menyerahkan benda persegi panjang pipih kepada Tami. Dengan malas Tami menggapainya.
"Jangan lupa loh ya save nomor handphone kamu. Jangan sampe minta peluk pria lain."
"Ih, kenapa juga aku punya suami semenyebalkan kamu." gerutu Tami.
"Nggak ada manusia menyebalkan seganteng aku. Iya, kan?" Alvin menaik-naikkan sebelah alisnya ke atas. Entah kenapa ia begitu senang menggoda Tami. Ada kesenangan tersendiri jika melihat wajah memerah Tami. Yang digoda tambah menggerutu kesal.
Tami tertegun melihat walpaper di handphone Alvin.Di walpaper itu Alvin tersenyum bahagia bersama Karina di sampingnya memamerkan cincin pertunangan mereka. Mereka terlihat begitu bahagia dan serasi. Andai Tami hadir kembali ke keluarganya setelah Alvin dan Karina mengikat janji suci maka hari ini ia tak akan terjebak dalam suatu ikatan yang tak diinginkan ini. Ia tak akan pernah melihat banyak hati yang akan terluka termasuk hatinya juga hati seseorang yang telah dititipkan kepadanya. Pernikahan ini membahagiakan banyak orang, namun di saat yang bersamaan pernikahan ini akan melukai banyak pihak.
Sedari awal bahtera yang diawali dengan ijab qabul yang menggetarkan langit hanya memiliki satu tujuan. Yakni menggapai ridho Allah agar membawa kebahagiaan di dunia serta di akhirat. Namun jika sang nahkoda masih terjerat rantai masa lalu maka terombang-ambinglah bahtera itu di lautan. Badai kapan pun siap menghantam dan memporak-porandakan bahtera itu sebelum mencapai tujuan. Bahkan bahtera yang telah mencapai pulau impian sekalipun akan hancur dihantam badai jika sampai dua insan yang bersatu tak mampu menghalau badai itu karena tak menyiapkan benteng yang kokoh. Maka berpestalah syaitan karena misi besarnya telah tercapai, membawa dua cucu Adam mendengar ketok palu di pengadilan. Akankah bahtera yang masih bersandar di pelabuhan ini akan membuat syaitan merayakan sekali lagi kesuksesannya? Tidak!Mereka berdua sudah menjalankan sunnah Rasulullah dengan menyempurnakan separuh agama, jangan sampai separuh agama yang telah sempurna ini hancur hanya karena tak mampu melawan liciknya rencana syaitan.
Ketidakjelasan pernikahan ini harus segera diakhiri. Tekad Tami.
__ADS_1