Sang Mempelai Pengganti

Sang Mempelai Pengganti
Chapter 3 (Bahagia karena Kebohongan dan Menderita karena Kejujuran)


__ADS_3

"Kalau caramu seperti tadi, lebih baik kamu nggak usah masuk ruang operasi." omel dokter Alvin pada Tami.


Mereka baru saja selesai melakukan operasi yang selama dua jam lebih ini menguras kesabarannya. Bagaimana tidak, sebenarnya operasi ini tidaklah sulit, namun perawat yang menggantikan Mira itu membuatnya kerepotan. Gadis itu memang di ruang operasi tapi pikirannya entah menjelajah kemana. Ia benar-benar kesal dan bersumpah tak akan satu ruang operasi lagi dengannya.


"Maaf, dok. Saya tadi sedang tidak fokus." Tami hanya bisa pasrah saat dokter yang terkenal pemarah itu mengomelinya. Ia sadar betul semua kelalaiannya di ruang operasi tadi bisa saja membahayakan nyawa pasien. Tidak seharusnya ia mencampurkan masalah pribadi dengan masalah pekerjaan. Hasil tes DNA itu benar-benar membuatnya syok hingga semua yang dilakukannya tidak ada yang benar.


"Jangan minta maaf ke saya, minta maaf dengan pasien tadi. Saat operasi, pasien sepenuhnya mempercayakan keselamatan dirinya pada kita. Mengerti?" gertak dokter Alvin. Penampilan pria itu tampak sangat berbeda dengan sikapnya yang pemarah.


Tami hanya mengangguk pasrah. Ia memang pantas mendapatkan muntahan kemarahan itu. Dokter Alvin meninggalkan Tami yang masih terdiam di depan ruang operasi. Tami melepaskan maskernya lalu melangkah pergi untuk mengganti pakaian yang tadi dipakai untuk operasi dengan pakaian biasa. Pikirannya menjalar kacau dimana-mana. Saraf otaknya terasa amat kusut. Untunglah hari ini ia tak ada jadwal jaga jadi dia bisa pulang dan mengistirahatkan pikirannya yang sedang kacau. Mandi dengan air dingin mungkin bisa memperbaiki pikiran kusutnya.


"Hei, Ta. Kau nak balek ke? (Kamu udah mau pulang?)" Tasya menarik lengan Tami. Gadis itu kebetulan berada di parkiran untuk mengambil barangnya yang ketinggalan di jok motor ketika anak matanya melihat Tami yang berjalan dengan lunglai.


"Iya, Sya. Hari ini aku nggak ada jadwal shift malam."


"Yakin bisa balik sendiri? Wajahmu pucat begitu." Tasya begitu khawatir melihat keadaan sahabatnya yang sangat berantakan itu. Tangannya terulur memperbaiki letak bros mini yang berada di sebelah kiri bahu Tami. Lalu ia juga merapikan khimar putih Tami yang agak berantakan.


"Iya, aku bisa kok pulang sendiri. Nggak usah khawatir, Sya."


"Ya sudah, hati-hati pulangnya. Jangan ngebut-ngebut, hidup itu cuma sekali. Aku nggak mau melihatmu terbaring di rumah sakit ini sebagai pasien"


Tami mengangguk. "Iya, Sya. Bilangin sama Clara ya kalau aku balik duluan. Assalamu' alaikum." pamitnya lalu memasang helm dan menaiki motor maticnya.


"Iya, wa'alaikumsalam." jawab Tasya.


Tasya menghembuskan nafasnya dengan berat. Ia tahu bahwa sahabatnya itu sedang frustasi berat namun ia tak bisa melakukan apa-apa untuk membantunya. Hanya untaian doa di dalam hati yang dapat ia panjatkan kepada Sang Khalik agar keselamatan sahabatnya itu terjaga dan semua cobaan yang menghampirinya dapat ia lewati. Tasya melambaikan kedua tangannya pada Tami saat motornya sudah mulai meninggalkan area parkiran.


Tami memarkirkan motornya di garasi sederhana yang ada di samping rumahnya lalu melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum." ucapnya sambil melepaskan sneakers putih yang ia kenakan


"Eh, wa'alaikumussalam warahmatullah. Sudah pulang kamu, Nak. Tumben cepet. Ibu kira kamu pulangnya nanti malam."


"Engh, nggak, Bu. Tami nggak ada jadwal shift malam."


"Ya, sudah. Sana mandi dulu, shalat maghrib lalu istirahat sebentar. Nanti baru ibu bangunin waktu mau makan malam. Eh, jangan sampai shalat isyanya ketinggalan."


"Iya, Bu. Tami ke kamar dulu ya."

__ADS_1


"Iya, sayang."


Begitu memasuki kamar, Tami langsung menjatuhkan tubuhnya diatas ranjang sederhana miliknya. Ia mencoba memejamkan mata sejenak


Ya Allah apa yang harus hamba lakukan? Apa mungkin ibu yang sangat menyayangiku bukan ibu kandungku. Apa mungkin ia tega berbohong padaku. Tapi bukti tes DNA itu berkata sebaliknya. Aku bukan putrinya, lalu mengapa aku bisa menjadi putrinya. Hasil tesku dengan ibu Rahma sangat akurat. Apa mungkin ada kesalahan dalam tes itu? Apa aku harus tes ulang?


Tami mengadukan semua kegelisahannya pada yang Maha Tahu. Berharap ia akan mendapat jawaban meskipun ia sendiri tahu kebenarannya sudah ada di depan mata. Selepas shalat magrib sampai waktu shalat isya jari jemarinya tak henti menjentikkan tasbih. Kalimat agung memuji kebesaran Allah tak henti-hentinya mengalun dari bibirnya.


Sehabis makan malam Tami membuka lagi dua amplop putih yang sedari tadi teronggok manis di dalam tas bacpack mini miliknya. Ia membaca tulisan yang ada di kedua kertas itu dengan seksama secara bergantian. Lalu sekali lagi dan mengulanginya untuk ketiga kalinya


Apa yang kau harapkan Tami? Memang tulisannya bisa berubah jika kau membacanya berkali-kali. Memangnya sulap pak Tarno yang bisa mengubah lidi jadi setangkai bunga. Mimpi saja sana. ckckck. Detik hati kecilnya.


Ia lalu melipat dan menaruh kedua kertas itu di amplopnya masing-masing. Haruskah ia bertanya langsung kepada ibunya? Tapi ia bingung harus memulainya dari mana. Ia tak ingin salah langkah dan membuat hati ibunya terluka.


Berulang kali Tami mencoba membuat kedua indra penglihatannya terpejam namun hasilnya nihil. Kedua matanya itu tak mau bekerja sama. Ia lalu bangun dan keluar kamar. Kedua kakinya melangkah ke arah lemari di dekat tv, lalu mencari sesuatu di dalam lemari itu, tempat ibunya biasa menyimpan album-album foto kebersamaan mereka. Ia melirik sebentar ke kamar Ibunya, sepertinya ibunya sudah tidur. Kamarnya sudah gelap. Wajar saja karena jam di dinding menunjuk ke angka sepuluh lewat lima belas menit. Ia lalu kembali fokus membuka album yang sudah terlihat usang.


Tidak ada yang berubah dari isi album itu. Masih sama seperti saat ia melihatnya beberapa tahun yang lalu. Ia mencoba membuka album yang lainnya, namun apa yang dicari-carinya tidak kunjung ia temukan. Kenapa ia tak menyadari kalau foto masa kecilnya tak ada di sana? Yang ada hanya foto sewaktu ia berusia sekitar lima enam tahun keatas. Tami menghembuskan nafasnya pelan lalu menaruh tumpukan album di tangannya ke dalam kotak dan memasukkannya ke laci yang terbuka. Lagi, ia membuka laci yang berada paling bawah dan menemukan setumpuk majalah lama yang entah terbit tahun berapa. Perhatiannya teralihkan saat ia melihat sudut kotak di bawah tumpukan majalah. Setelah mengeluarkan semua majalah, tangannya dengan lihai membuka kotak berbentuk segi empat tersebut.


Tami mendapati dua lembaran koran yang dilipat-lipat dan membukanya. Dengan seksama ia mulai membaca isi koran tersebut. Tidak ada yang spesial disana, gambarnya pun sudah mulai pudar, mungkin karena terlalu lama disimpan. Namun satu judul berita di ujung koran itu menarik perhatiannya. Itu bukan berita, namun tepatnya tentang pengumuman orang hilang.


Kirana? Kirana Putri Adhyastha?


Ayolah Tami, semua orang pasti punya koran lama di rumahnya, apa yang salah dengan itu? Batinya.


Tami berusaha keras mengubur kecurigaan yang semakin membesar di hatinya. Tangannya membuka lipatan koran yang lainnya dan mulai membacanya dengan seksama, kali ini kecurigaannya tak terbendung lagi. Kenapa ibunya menyimpan semua lembaran koran yang memberitakan tentang hilangnya Kirana, hingga berita tentang penemuan jasad gadis itu di sebuah sungai. Ia memang ingin tahu siapa sebenarnya dirinya, tapi apa mungkin ia sanggup menerima kenyataan yang sebenarnya. Semakin ia menyangkalnya, kebenaran semakin mendorongnya melihat kenyataan yang sebenarnya. Tami memijat pelipisnya dengan frustasi. Seakan beban berat sedang menimpanya saat ini.


"Tami...kamu ngapain di situ, Nak?"


Gadis itu terlonjak kaget mendengar suara serak wanita yang selama ini dipanggilnya ibu. Wanita itu sedang berdiri didepannya sembari memegang segelas air putih di tangannya. Tami langsung memasukkan lembaran koran tadi ke dalam kotak. Ia belum sanggup mendengar yang sebenarnya meski kenyataan itu sudah di depan mata.


"Kamu mau dengar semuanya, Nak?" tanya Ibunya


"Dengar apaan, Bu? Dengar ceramah Ibu lagi?"


"Kamu tahu apa yang Ibu maksud."


Tami tidak menjawab. Gadis itu terlalu bingung untuk mengatakan apa. Bibirnya terkunci rapat, sementara kakinya ikut melangkah ke arah sofa di depan tv mengikuti ibunya. Ia duduk di samping ibunya lalu meletakkan kotak tadi diatas meja.

__ADS_1


"Semuanya benar, Tami. Hasil kedua tes DNA itu tidak salah."


"Kapan Ibu membacanya?"


"Tadi. Waktu Ibu mau melihatmu di kamar, Ibu tak sengaja melihat dua amplop itu dan membacanya."


"Mungkin hasilnya keliru, Bu. Lagian Tami lebih percaya ibu dibanding hasil tes DNA itu, jadi bilang Bu kalau hasil tes itu tidak benar dan Tami anak kandung Ibu maka Tami sanggup menutup telinga dari semua kebenarannya yang ada."


Pandangan Tami lurus ke depan saat ia mengucapkan kalimat itu, ia tak mampu memandang wajah ibunya. Ia tak yakin sanggup menahan rasa kecewanya saat ibunya mengatakan kebenaran tentang siapa dirinya sebenarnya. ibunya mengeluarkan potongan koran dari dalam kotak dan mengambil sebuah bingkai foto yang sudah berdebu di bawah potongan koran tadi, lalu dilapnya dengan tissue.


"Mereka keluarga kamu yang sebenarnya." Kata ibu sambil menunjuk bingkai di tangannya.


Tami mengambil bingkai foto. Ia ingin sekali untuk menolak melihat foto itu, namun organ matanya mengambil alih segalanya. Tangannya terulur untuk mengusap wajah cantik ibu Rahma.


"Dialah Ibu kandungmu, Rahmadita. Orang yang sudah melahirkan kamu dan kakakmu, Karina."


Tami tak bereaksi, ia tetap diam namun hatinya seperti ditumpuki batuan yang beratnya berpuluh-puluh ton hingga dadanya terasa begitu sesak.


"Dia ayahmu, Rizal Adhyastha." ucap ibunya saat ia meraba wajah pria yang sedang berdiri memeluk bahu ibu Rahma. " Keenan Putra Adhyastha adalah kakak laki-lakimu, dan tentu kamu mengenal siapa yang berada di sebelah kirinya."


"Kenapa, Ibu harus memisahkan aku dari keluargaku sementara Ibu tahu bahwa betapa sakitnya hati seorang wanita karena kehilangan putrinya?" nada suara Tami terdengar memelas. Ia terlampau kecewa dengan keadaan yang ada.


Ibunya terdiam seribu bahasa. Karena obsesinya lah Tami harus terpisah dari keluarganya, karena obsesinya lah keluarga ibu Rahma harus menanggung kesedihan selama bertahun-tahun dan karena obsesinya lah yang kini membuatnya merasa sangat berdosa. Ini saatnya ia memberitahu yang sebenarnya kepada Tami. Lebih baik hidup menderita karena kejujuran daripada dibahagiakan karena kebohongan. Tapi sanggupkah dia untuk melepaskan seorang anak yang selama ini menjadi pengobat duka laranya, penyemangat hidupnya dan sumber kebahagiaannya. Bencikah Tami pada dirinya jika mengetahui yang sebenarnya? Pun begitu tetap ia akan mengatakan kebenarannya karena ia tak memiliki hak apapun atas diri Tami. Hak yang dimilikinya selama ini hanyalah hak yang ia renggut dari keluarga Tami hingga gadis itu tak merasakan kasih sayang orang tua dan keluarganya selama hampir dua puluh tahun lamanya.


"Ibu pernah keguguran dan dokter memvonis tak akan bisa hamil lagi. Kesetiaan yang pernah mantan suami Ibu ucapkan nyatanya tak pernah berwujud hingga Ibu pergi membawa lara sendiri. Menjauh darinya dan kebahagiaan barunya. Saat itu rasanya seperti tak berpijak lagi di bumi, membawa Ibu mengikuti arah angin yang berselimut luka dan air mata yang tak berkesudahan. Berartinya wanita karena ia menjadi seorang Ibu, bagi yang tak bisa mendapat gelar itu dicampakkan bagai debu yang perlu disingkirkan. Dua tahun akhirnya luka itu terobati saat Ibu melihat senyuman manis dari dua anak perempuan yang periang. Saat itu Ibu dipercaya untuk merawat kamu dan dan kakakmu, Karina. Semakin hari rasa sayang Ibu semakin besar hingga Ibu tak menyadari kalau rasa sayang itu sudah menutupi nurani Ibu dan berubah menjadi ego karena ingin memiliki. Usiamu empat tahun saat itu, Ibu membawamu pergi dari taman dengan menggunakan jasa orang suruhan. Selama hampir tiga bulan Ibu menitipkanmu pada seorang teman lama, membawamu menjauh dari keluargamu. Bahkan air mata dan rangungan keluargamu seakan menjadi angin lalu. Bagi Ibu yang ada hanya kepuasan tanpa rasa bersalah. Setelah tiga bulan Ibu mengundurkan diri. Lalu membawamu ke sebuah pulau tempat Ibu lahir dan dibesarkan. Kamu memang anak yang penurut, hingga semua orang yang mengenal Ibu percaya bahwa kamu memang putriku. Saat cerah itu menjadi mendung saat ia mengetahui keberadaanmu dan ingin mengambilmu dari pelukan Ibu. Mantan suami ibu memang sangat egois saat itu. Dia mengira kalau kamu putrinya. Karma itu memang ada karena ternyata istri keduanya juga tak bisa menjadi seorang, meruntuhkan semua mimpi semu yang dibinanya. Perdebatan alot dan berkepanjangan membuat semua orang terbelenggu ego termasuk mantan mertua Ibu. Ia menginginkanmu menjadi cucunya. Pertengkaran pun tidak terelakkan, bahkan kamu menjadi korban untuk kesekian kalinya karena perbuatan itu. Dia menyerah saat mengetahui kamu bukan darah dagingnya namun itu semua tak membuat Ibu bahagia. Ibu tak bisa mengembalikan ingatanmu. Penyesalan menjadi tak berarti, jadi Ibu bertekad menjadi seorang Ibu yang sesungguhnya sampai saat ingatanmu kembali, disaat itu Ibu akan menerima semua balasan atas semua perbuatan yang Ibu lakukan padamu dan keluargamu."


Mata Tami memanas, beberapa detik kemudian aliran air mata di pipinya menjadi begitu deras. Ia menangis tanpa suara, membuat rasa sesak membelenggu dadanya. Suaranya tercekat di tenggorokan. Perlahan tangan kanannya terulur untuk menekan dadanya yang sesak. Seakan ia mampu menggenggam rasa tak karuan yang berkecamuk di sana. Ia sedih, marah dan kecewa. Namun ia tak ingin menunjukkannya pada wanita di sampingnya itu.


"Ibu tak menyangka kalau ternyata kebenarannya sudah kamu ketahui lebih dahulu sebelum Ibu menceritakannya." suara ibunya terdengar bergetar. Wanita itu juga ikut menangis mengingat kebodohan yang pernah ia lakukan. "Ibu akan mengembalikanmu pada keluargamu dan akan menerima apapun konsekuensi semua perbuatan Ibu. Kamu berhak membenci Ibu."


Wanita itu pun merasakan perasaan yang sama seperti Tami bahkan sebelum ia mulai menceritakan semua kebenaran tadi. Ia tahu rasa kecewa Tami jauh lebih besar. Ia menyesal namun ia juga harus bersyukur karena gadis di sampingnya itulah yang mengajarkannya makna kehidupan yang sesungguhnya.


Seluruh tubuh Tami terasa dingin. Ia memeluk tubuhnya sendiri berharap kehangatan menelusup ke tubuhnya. Menghentikan denyut yang secara bertubi-tubi menghentak dadanya. Raganya terasa lemas, melayang seperti tak berpijak lagi di bumi mungkin persis seperti ini yang ibunya rasakan suatu ketika dahulu. Saat kamu di kecewakan orang yang kamu sayangi, kebahagiaan yang ia tawarkan di hidupmu sekarang seakan menjadi racun yang menghancurkannya, meruntuhkannya, menjatuhkannnya ke dalam jurang kenistaan yang begitu dalam menggores luka.


Tami hampir saja jatuh terduduk andai ibunya tak menahannya. Namun ia tepiskan kedua tangan yang terasa rapuh karena rasa bersalah itu. Bahkan ia tak ingin bertentang mata dengan kedua mata teduh yang selama ini menghangatkannya dengan uluran kasih sayang yang seakan tak pernah habis. Saat ini rasa kecewa lebih menguasainya, membuat ia berjalan lemah menuju kamarnya. Tangan rapuh itu tak lagi menuntunnya seperti saat-saat ia kecewa sebelum ini. Tami terduduk di lantai dan bersandar di pinggiran ranjang. Ditariknya selimut diatas ranjang untuk menutupinya. Berharap selimut itu menghangatkannya dari rasa menggigil yang tiba-tiba mengusai tubuhnya. Isakan halus keluar dari ujung bibirnya. Sedari tadi ia menahannya tapi sekarang ia ingin meluapkannya, meluapkan segala rasa kecewa dan rasa sedihnya.


Ibu...kenapa? Kenapa kau sanggup malakukannya? Bahkan disaat kau begitu menyayangiku seharusnya kau berbohong saja dan menyimpan dalam-dalam rahasia ini hingga kita berdua tak perlu merasakan rasa sakit ini. Tapi bagaimana dengan rasa sakit yang ditanggung keluargaku selama hampir dua puluh tahun?

__ADS_1


Ibu sudah membahagiakanku dengan kebohongan dan sekarang ibu membuatku menderita karena kejujuran.


__ADS_2