
Tami menatap bayangan wajahnya di cermin kecil yang berada dalam genggaman. Berkali-kali ia mengusap kelopak matanya. Meskipun sudah dikompres, kelopak matanya masih saja kelihatan bengkak dan terlihat tebal di bagian atas. Seharian ini ia mengurung diri di kamar karena malu bertemu anggota keluarganya. Bahkan makan dan minum pun terpaksa ia meminta bantuan bi Lina untuk diantarkan ke kamarnya.
"Rrrr, semua ini karena dokter Alvin yang menyebalkan itu." Tami menggerutu sendiri. Ia mengamuk di bawah selimut. Ingin sekali ia berteriak sekencang-kencangnya untuk mengeluarkan segala kekesalannya. Stok kesabarannya sudah habis saat menghadapi Alvin kemarin malam.
Tok...tok...tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Buru-buru Tami membereskan tempat tidurnya yang berantakan. Ia mengambil kacamata lalu memakainya guna menutupi matanya yang bengkak.
"Tami. Kamu di dalam kan, sayang? Ini Mama, buka pintunya. Ada yang ingin Mama bicarakan." Tami membuka pintu kamar dan mendapati mamanya tengah berdiri dan menatapnya dengan wajah khawatir.Tami mempersilahkan mamanya masuk dan kembali menutup pintu lalu menghampiri mamanya yang duduk di ujung tempat tidur.
"Tami, kenapa pakai kacamata malam-malam begini, sayang?" bu Rahma memperhatikan wajah putrinya dengan seksama. Gadis itu tersenyum manis seperti biasa, namun bu Rahma mengetahui bahwa apa yang diperlihatkan Tami saat ini tidak sama dengan apa yang dirasakannya.
"Tadi Tami lagi ngebersihin debu jadi pakai kacamata karena takut kelilipan." Tami tidak berani menatap mata mamanya karena kalimat yang baru dia ucapkan adalah dusta. Ia tidak ingin membuat mamanya khawatir meskipun kekhawatiran itu terpatri jelas di wajah bu Rahma.
"Jangan bohong sama, Mama. Kamu juga nggak keluar kamar seharian, kenapa?" bu Rahma menolehkan dagu Tami agar menghadap dirinya. Beliau melepaskan kacamata yang dipakai Tami dan melipatnya. Tami masih diam, ia bingung apakah harus menceritakan apa yang dilakukan Alvin padanya atau tidak.
"Apa benar apa yang dikatakan Masmu?"
"Emang mas Keenan bilang apa ke, Mama?"
"Masmu bilang kalau nak Alvin nyakitin kamu. Apa benar seperti itu, Tami?"
Tami sebenarnya ingin mengangguk namun ia malah menggeleng kuat, menidakkan apa yang dikatakan mamanya. Maafkan hamba ya Allah karena harus berbohong. Hamba yakin Engkau pasti mengerti karena hamba harus menjaga tali silaturahmi dua keluarga agar tidak putus.
"Kalau nak Alvin memang nyakitin kamu, lebih baik pernikahan ini dibatalkan saja. Mama tidak ingin kamu menderita karena menyetujui pernikahan ini. Tidak apa-apa menanggung malu asalkan anak Mama tidak menjadi korban karena keegoisan keluarga yang memintamu menggantikan posisi Karina."
Tami memeluk bu Rahma dengan erat. Air mata sudah meluber dan mengalir deras di pipinya.
"Ma, Tami nggak apa-apa. Tami menyayangi kalian semua. Ini sudak ketentuan-Nya. Inilah cara Allah mempertemukan Tami dengan jodoh Tami." suara Tami terdengar bergetar. Sekuatnya Tami berusaha untuk meyakinkan bu Rahma. Ia meleraikan pelukannya lalu mencium kedua belah punggung tangan Bu Rahma.
"Ma,Tami percaya bahwa keputusan yang Tami sedang jalani sekarang ini akan menjadi kebahagiaan terbesar Tami suatu hari nanti dan ketika saat itu tiba Mama akan menjadi orang pertama yang akan Tami ucapkan terima kasih karena telah mempercayakan Tami untuk menjalaninya."
Bu Rahma memeluk Tami dengan erat. Ia takjub dengan kedewasaan putrinya itu. Ia semakin yakin bahwa keputusan meminta Tami menggantikan posisi Karina tidak salah.
"Dengar, sayang. Mama dan Mamah Rafika pasti akan membantu kamu untuk menggapai kebahagiannmu bersama nak Alvin." bu Rahma meleraikan pelukannya.
"Sekarang kamu tidur. Nanti Mama akan mengompres matamu agar tidak bengkak lagi. Malam ini Mama akan tidur disini menemanimu."
"Terus Ayah gimana? Masa harus tidur meluk guling."
"Tidak apa-apa meluk guling. Biar sekali-kali Ayahmu merasakan rindu kalau tidak ada Mama. Selama ini kan Mama yang biasanya memendam rindu kalau Ayahmu pulang kerja larut malam."
"Ih, Mama bisa saja."
.....
Dengan lihai penata rias menyematkan hiasan cantik di bagian samping pashmina Tami untuk menyempurnakan maha karyanya. Sederhana namun terkesan anggun.
Tami berjalan menghampiri suaminya yang baru selesai mengucapkan ijab qobul. Allah dan para malaikat menjadi saksi penyatuan dua insan yang akan saling melengkapi kekurangan dan kelebihan mereka.Tami menyalami tangan Alvin saat pria itu selesai memasangkan cincin di jari manisnya. Siapa sangka, cincin yang sempat ia coba beberapa hari yang lalu memang berjodoh dengan jarinya. Bu Rafika memberi kode kepada Alvin agar ia mencium kening istrinya. Pria itu tidak punya pilihan lain, lagipula semua mata sedang memandangnya. Alvin lalu mencium kening Tami dan seketika orang-orang disekelilingnya memberikan sorak-sorai menggoda si pengantin baru.
Huh, baru dicium di kening sudah semriwing gini ya rasanya. Batin Tami. Gadis itu bahkan merasa bulu kuduknya berdiri semua. Apa si dokter jutek ini titisan hantu perawan ya. Eh salah, hantu perjaka maksudnya.
Setelahnya Alvin memegang kepala istrinya dan membacakan doa setelah akad, sebagaimana yang terdapat dalam hadits riwayat Abu Dawud dan Ibnu Majah.
Allahumma inni as'aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa 'alaih. Wa a'udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha 'alaih.(Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan dirinya dan kebaikan yang Engkau tentukan atas dirinya. Dan Aku berlindung kepada-Mu dari kejelekannya dan kejelekan yang Engkau tetapkan atas dirinya.)
Selesai berdoa, mereka kemudian melakukan shalat sunnah berjamaah untuk pertama kalinya sebagai pasangan suami istri.
Tami bernafas lega saat apa yang ditahannya tuntas sudah. Dari tadi ia berhajat ingin buang air kecil, tapi banyaknya orang yang bersalaman memberikan selamat membuat ia harus menahan hajatnya itu untuk beberapa saat.
Tami memegang gaunnya agar tidak menyapu lantai. "Kenapa juga gaunnya harus serempong ini." gerutunya.
Ia tadi terpaksa meminjam sepatu teplek milik bi Lina karena tidak tahan memakai sepatu yang entah seberapa tinggi haknya. Padahal kan ia tak sependek itu sampai harus memakai sepatu hak tinggi guna menyamai tinggi badan suaminya. Tami melompat kaget saat seseorang tiba-tiba memegang pinggangnya dari belakang. Alhasil ia sukses jatuh tergolek di atas lantai samping masjid. Tami menatap Alvin dengan geram.
"Suami macam apa dia, tuh? Istri jatuh bukannya ditangkap seperti di dalam drama, eh malah dibiarkan jatuh macam nangka busuk." Tami mengomel dengan geram. Ia berusaha untuk berdiri. Alvin hanya memperhatikan tingkah istrinya itu sambil menahan tawa. Melihat Tami yang kesusahan berdiri, Alvin kemudian mengulurkan tangan kanannya untuk membantu Tami berdiri, namun gadis itu menepisnya dengan kesal.
"Nggak usah, aku bisa sendiri" ujar Tami ketus. Setelah beberapa saat berusaha, Tami akhirnya bisa berdiri dengan tegak. Ia mengusap-usap bagian belakangnya yang terasa sakit.
Tanpa disangka-sangka Alvin menarik pinggangnya sekali lagi lalu menempelkan tubuhnya di dinding. Tami bisa merasakan lututnya yang langsung lemas karena wajah Alvin yang begitu dekat dengan wajahnya.
__ADS_1
Dia ini nggak tahu apa kalau aku itu belum pernah sedekat ini dengan pria. Batinnya.
Tami menaikkan kedua alisnya seakan bertanya kenapa. Meski kepalanya hanya mentok di dada Alvin, hal itu tidak membuat nyalinya menciut. Hanya lututnya yang lemas saja yang membuatnya tidak menendang tulang kering pria itu. Kecil-kecil begini ia pernah membuat temannya yang barandalan menginap di rumah sakit selama seminggu.
"Kamu manis juga," jari telunjuk Alvin menyusuri garis wajah Tami yang tajam. "Wajahmu mungil dan menggemaskan, tapi sayang nasibmu jelek karena menikah dengan pria bertemperamen buruk sepertiku."
Tami tahu Alvin sedang menyindir dirinya dan berusaha menyudutkannya. Ia tidak boleh mundur mengingat ia yang lebih dulu menantang pria itu untuk menikahinya.Ya Allah, hamba sedang membutuhkan pertolonganmu saat ini tolong kuatkan hamba menjalani ikatan suci ini. Hamba tak bisa membiarkan pria ini menyudutkan hamba. Rasulullah saja sangat memuliakan wanita, tapi mengapa pria ini tak melakukan hal yang dicontohkan Rasullullah. Mengapa ia begitu dendam? Padahal semua ini adalah skenario-Mu. Jalan yang diarahkan oleh petunjuk-Mu. Setelah selama dua menit terjepit antara dinding dan tubuh suaminya, Tami seperti mendapat kembali kekuatannya. Saraf-saraf di seluruh tubuhnya menegang. Jari-jari tangannya mencengkram lengan Alvin yang mengurungnya antara tubuh pria itu dan tembok. Alvin kaget bukan kepalang mendapati bahwa dirinya lah yang sekarang tak berdaya. Cengkraman Tami di lengannya sangat kuat. Mata gadis itu menatap tajam kepadanya.
"Suamiku yang tersayang," Tami rasanya ingin muntah saat mengatakan sayang pada Alvin, tapi ia berusaha mengendalikan diri. Selang beberapa detik Tami kembali melanjutkan kalimatnya. "Istrimu ini memang bukan preman, tapi bisa saja menjadi preman di saat-saat seperti ini."
Tami menghempaskan tangan Alvin dari cengkeramannya. Ia sebenarnya ingin menendang tulang kering pria itu, tapi ia membatalkan niatnya mengingat mereka akan berdiri selama berjam-jam saat resepsi nanti dan memilih menginjak kaki Alvin. Untuk pertama kalinya ia menyesal tak memakai sepatu hak tinggi. Kalau memakai sepatu hak tinggi tadi pasti sakitnya lebih terasa ketimbang menginjak kaki Alvin dengan sepatu teplek milik bi Lina.
Tami melangkah meninggalkan Alvin yang masih dalam mode diam karena terlalu terkejut. Tami memutar tubuhnya sebentar ke belakang lalu memberikan kiss fly nya pada Alvin lalu berkata, "Sampai jumpa di rumah, suamiku tersayang."
Tami berjalan angkuh meninggalkan Alvin yang terlihat bergidik ngeri. Ternyata di balik penampilan muslimahnya, gadis itu ganas juga seperti preman. Mungkin memang ia preman yang sedang insyaf. Parahnya, Alvin telah membangunkan aura preman gadis itu. Bersiaplah Alvin. Kamu yang sudah memulainya, maka sekarang tanggunglah akibatnya.
.....
Alvin berdiri di depan kamar Karina. Seharusnya ia masuk ke kamar itu hari ini. Namun manusia hanya berencana dan Allah adalah pemegang skenarionya. Semunya hanya rencana sia-sia karena pada praktiknya berkata lain. Justru kamar di sebelahnya lah yang akan ia masuki. Hal yang sekalipun tak pernah terlintas di benaknya.
Kenapa kamu setega ini padaku, Karina? Kamu tahu seberapa besar rasa cintaku kepadamu. Kenapa kamu menerima lamaranku kalau akhinya menyakitiku dengan cara seperti ini. Apa salahku hingga kamu tega mencampakkan aku? Aku hancur Karina. Rasanya separuh jiwaku telah menghilang bersama kepergianmu. Bagaimana aku akan menjalani hariku setelah hari ini? Pernikahan ini, bagaimana aku menjalaninya? Sekarang aku terjebak bersama adikmu, si preman pasar itu. Wajahnya memang persis sepertimu, tapi sifatnya dan sifatmu bagai langit dan bumi.
Sejuta pertanyaan ingin Alvin ajukan kepada Karina. Namun semua pertanyaan itu hanya mentok di hatinya saja. Hingga menimbun luka di situ dan menyesakkan dadanya. Dadanya berdesir seakan pisau bedah yang biasa ia pakai di ruang operasi sedang merobek-robek jiwanya saat ini.
Dengan gontai Alvin melangkahkan kaki menuju kamar Tami, istrinya. Langkahnya terasa amat berat seakan ada rantai yang mengikat kedua kakinya. Andai tak memikirkan kehormatan dua keluarga dan pengorbanan Tami yang bersedia menjadi mempelainya, ia juga ingin melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Karina. Kabur dan mencari wanita yang dicintainya walau harus mengorbankan segalanya.
Alvin mengetuk pintu namun tak ada jawaban dari dalam. Bu Rahma yang kebetulan melintas menghampiri Alvin saat melihat menantunya itu beberapa kali mengetuk pintu namun tak kunjung dibukakan oleh Tami.
"Masuk saja, Vin. Biasanya pintunya tidak dikunci Tami. Mungkin dia lagi di kamar mandi jadi tidak mendengar ketukanmu."
"Iya, Ma. Terima kasih."
"Nanti keluar ya saat waktu shalat dzuhur. Kita makan siang bersama dan kamu bisa shalat berjamaah ikut kaum Adam di masjid komplek. Sementara kaum Hawa akan berjamaah di rumah saja. Nanti ba'da ashar kita baru berangkat ke hotel untuk resepsi."
Alvin menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Ia kemudian memegang gagang pintu namun pegangan tangan ibu Rahma di lengannya menghentikan pergerakannya.
"Mama minta maaf ya, Vin bagi pihak Karina. Mama tahu kamu pasti sangat terluka, tapi percayalah nak, bahwa Allah telah menakdirkan kalian tidak berjodoh. Tami lah jodoh yang disiapkan Allah untukmu. Mama yakin kalau kalian pasti akan bahagia. Tami itu mudah membuat orang lain jatuh cinta, Mama yakin dia mampu menaklukkan hatimu suatu hari nanti."
"Wa'alaikumussalam." bu Rahma menatap punggung menantunya yang menghilang di balik pintu. Beliau menghembuskan nafas dengan berat. Besar harapnnya agar pernikahan putri dan menantunya akan mengecap bahagia.
.....
Kedua bola mata Alvin berputar melihat seisi kamar Tami. Seluruh bagian tembok dicat dengan warna biru pastel kecuali bagian dinding yang menjadi tempat ranjang bersandar yang memakai walpaper. Barang-barang di kamar itu di dominasi warna putih dan pink. Ada ranjang kecil yang berada di ujung dan rak buku panjang di atasnya. Sepreinya berwarna putih dengan motif bunga-bunga kecil di atasnya.
"Kamarnya girlie banget, tapi tuan kamarnya preman pasar."
"Sudah selesai ngatain akunya?"
Alvin menatap Tami yang keluar dari kamar mandi. Gadis itu membalut tubuhnya dengan gamis berwarna coklat. Kepalanya tertutup handuk yang dikenakan seperti kerudung.
"Apa lihat-lihat?" tanya Tami galak. Kedua bola matanya melotot menatap Alvin.
"Hati-hati, Mbak."
"Hati-hati? Kenapa?" Tami makin melotot.
"Hati-hati nanti biji matamu tercecer di lantai kalau melotot terus seperti itu. Lagian dosa tahu kalau ninggiin suara dengan suami."
"Salah sendiri tadi pakai nyudutin aku segala."
"Sudah ah, malas berdebat dengan kamu. Aku mau mandi saja, nanti keburu gosong aku karena api amarah gara-gara berdebat dengan kamu."
"Salah sendiri cari perkara duluan."
"Nggak baik tahu kalau nyimpan dendam, apalagi dendam dengan suami. Nggak bakal diijinin nyium bau surga apalagi masuk surga."
"Siapa sur..." Alvin meletakkan telunjuknya di bibir Tami. Tami memukul jari Alvin dengan ganas. Tidak hanya jari Alvin yang terkena pukulannya, tapi bibirnya juga. Ia mengusap-usap bibirnya saat tangan Alvin tidak lagi bertengger di sana.
"Aduh jontor dah bibir seksiku ini."
__ADS_1
Alvin terkekeh mendengar kepedean Tami yang mengatakan bibirnya seksi. Selain galak seperti preman, tingkat kepedeannya juga sudah tahap nasional. Tami berlari ke arah cermin dan memperhatikan bibirnya dengan seksama. Serta-merta Alvin menarik handuk yang membalut kepala Tami.
"Minjem. Tadi aku nggak sempat bawa handuk ke sini karena terlalu excited mau nikah dengan kamu."
Tami merinding mendengar kalimat Alvin. Bukan karena ada kata horor yang diucapkannya, namun karena Alvin mengatakannya persis di telinganya sehingga ia bisa merasakan deru nafas Alvin dan membuat bulu halus di sekujur tubuhnya berdiri tegak. Belum sempat Tami mengeluarkan omelannya, Alvin sudah melenggang masuk ke kamar mandi sambil bersenandung ria.
"Rrr...Dasar dokter galak, songong, nyebellin, hantu laut." umpat Tami.
Tami membanting tubuhnya di atas kasur lalu menenggelamkan dirinya di dalam selimut tebal. Karena tubuhnya yang kelelahan, dengan cepat kelopak matanya mengatup. Ia harus mengumpulkan energi agar kuat berdiri menyalami para tamu undangan nanti. Alvin keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos oblong dan celana training. Tadi ia meminta pak Tedjo, supir keluarganya untuk membawakan pakaian karena nanti malam mereka akan menginap di hotel.
"Aaaaaaaa..." Tami berteriak kencang saat merasakan ada sesuatu yang menimpa tubuhnya. Dia berfikir mungkin ada Demit yang menimpa tubuhnya. Meskipun hal ini tak masuk akal juga karena di luar terang benderang, namun tak ada hal lain yang bisa dipikirkannya saat ini. Ia menjadi parnoan sendiri karena terlalu sering nonton film horor sewaktu SMA. Sekuat tenaga ia mendorong benda yang menimpa tubuhnya.
Bughhh
Tami memberanikan diri untuk mengintip dari balik selimut. Ia menarik nafas lega karena ternyata bukan Demit yang menimpanya melainkan suaminya sendiri, Alvin. Pria itu mengosok-gosok bagian belakangnya yang mendarat di lantai.
"Ngapain tadi nimpa badan aku segala? Mau ngambil kesempatan dalam kesempitan ya?" tanya Tami penuh selidik.
Alvin mendengus sebal. "Siapa yang mau ngambil kesempatan? Tadi aku cuma mau tidur tapi nggak taunya ada kamu di dalam selimut." Alvin segera berdiri dan menghampiri Tami. "Emang kenapa kalau aku ngambil kesempatan? Nggak dosa juga kan, toh kita sudah halal."
"Awas ya, kalau berani macam-macam bakal aku keluarin jurus ular sendok aku." Tami menarik selimut ke atas untuk menutupi kepalanya. Namun beberapa detik kemudian terdengar letusan tawa dari balik selimut yang membuat Alvin bergidik ngeri.
"Kenapa kamu ketawa, habis kesurupan kuntilanak ya?"
Tami menurunkan selimut hingga ke paras lehernya.
"Satu sama."
"Apanya yang satu sama?"
"Tadi aku yang jatuh ke lantai waktu di masjid, sekarang kamu yang jatuh dari tempat tidur. Itu tuh yang namanya karma."
"Terserah kamu lah. Aku capek, pengen tidur. Geser sana." Alvin mendorong tubuh Tami ke samping sampai mentok ke dinding . Lantas ia membaringkan tubuhnya.
"Ngapain tidur di sini. Sempit tahu." Tami melayangkan protesnya kepada Alvin namun pria itu tak menggubrisnya. Matanya bahkan sudah terpejam rapat. Jadilah Tami komat-kamit sendiri sampai ia terlelap juga.
.....
Tami menunduk dalam. Tempat resepsi itu sangat indah berhiaskan bunga berwarna merah. Semuanya tersusun sempurna. Air mata yang sedari tadi di tahan akhirnya keluar juga. Ia mengusapnya dengan punggung tangannya. Kakinya terasa berat untuk melangkah. Rasanya ingin saja ia berbalik dan berlari sejauh mungkin dari tempat ini.Tangannya bergetar hebat. Buket bunga yang berada di tangan kirinya dicengkram kuat.
Mbak Karina, bisakah Mbak datang saat ini? tolong Tami, Mbak. Tami nggak bisa melakukan semua ini. Rasanya sakit luar biasa. Semua ini dibuat spesial hanya untuk Mbak, bukan untuk Tami. Tami jadi merasa seperti orang yang paling jahat di dunia dengan menempati tempat milik Mbak.
Tami sudah ingin berbalik namun tangan kananya yang melingkar di tangan Alvin tertahan karena Alvin menjepitnya.
"Aku nggak bisa." bisik Tami. Suaranya terdengar bergetar.
"Harusnya kamu mengatakan itu beberapa hari yang lalu, bukan sekarang. Semuanya sudah terjadi dan nggak mungkin bagi kita untuk mundur lagi. Sekarang tersenyumlah, semua tamu sedang melihat kita. Jangan sampai mempermalukan keluarga kita."
Astagfirullahhaladzim.
Tami beristigfar lalu menyebut asma Allah berulang kali di dalam hatinya. Berharap agar Rabbnya memberi kekuatan dalam dirinya. Setelah beberapa saat ia menarik bibirnya ke atas untuk tersenyum kepada para undangan. Dengan ragu ia melangkahkan kedua kakinya mengikuti langkah Alvin untuk duduk di kursi pelaminan. Tamu-tamu yang datang berbisik-bisik. Dan Tami yakin seratus persen bahwa para tamu sedang membicarakan dirinya, sang mempelai pengganti. Tadi siang saja dia sempat melihat unggahan status WhatsApp dan Instagram beberapa staf rumah sakit yang diundang dengan caption,
"Kuy, ke nikahan Sang Mempelai Pengganti"
Unggahan itu bahkan dibagikan berulang kali. Zaman sekarang hanya butuh beberapa detik untuk membuat berita tersebar dengan luas.
Tasya dan Rara menatap tidak percaya ke arah bangku pelaminan. Mata mereka beberapa kali mengerjap seakan tak mempercayai adegan di depannya.
"Ra, Mai...bukannya yang di depan itu, Tami?" tanya Tasya sambil menyenggol keduanya.
"Iya, mata aku nggak salah lihat kan, ya?" Clara juga sama bingungnya dengan Tasya. Hanya Mai saja yang tampak tenang, tidak seheboh kedua sahabatnya. Ia malah sibuk memperbaiki khimar putrinya yang agak miring.
"Mai? Kok kamu diam saja sih?"
"Iya, kalian nggak salah lihat. Yang duduk di bangku pelaminan itu Tami, bukan Karina" jawabnya dengan tenang.
Mulut keduanya menganga lebar mendengar jawaban Mai.
"Sudah, nanti saja kalian tanya alasannya kenapa. Sekarang kita ke depan dulu untuk nyalamin pengantinnya. Mulut kalian ditutup nanti ada lalat yang masuk."
__ADS_1
Keduanya cepat-cepat mengatupkan bibir mereka lalu berjalan mengikuti Mai dan Nala ke arah pelaminan.