Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Andri, Julia dan David


__ADS_3

Hari masih belum beranjak siang saat dimana Andri sedang melakukan tugas rutin pekerjaan di kantornya. Tiba -tiba ia kedatangan seorang tamu yang ingin bertemu dengannya, sesuatu yang tak pernah terjadi dalam waktu lima tahun terakhir ini, dan ia begitu terperanjat begitu melihat sosok tamu yang datang.


"Kau David? Adiknya Julia?" Andri langsung mengenalinya walaupun baru satu kali mereka bertemu.


"Apa kabar Bang Andri?" David menyodorkan tangannya dan tersenyum. Andri menyambut tangannya David. David yang sekarang ia lihat tentu saja berbeda setelah lima tahun tidak bertemu, badannya lebih besar, tegap dan berisi, raut wajahnya juga menunjukkan dia lebih dewasa walaupun kacamata tebal yang bertengger diatas hidungnya masih tetap ada.


"Aku baik-baik saja, alhamdulillah, duduklah! bagaimana kau bisa sampai disini?" Andri bertanya sambil meenyerahkan salah satu kursi yang ada di pos jaga kepada David.


"Aku menonton hampir semua pertandinganmu dikompetisi basket kampus kemarin Bang! Permainanmu memang luat biasa! Kau bermain seperti pemain profesional."


"Kau bermain basket juga? Kau kuliah dimana?" Andri memperhatikan perawakan David, tangannya lebar dan berotot khas pemain basket, tapi kacamata tebal membuatnya ragu. Mereka sudah tak bertemu selama lebih dari lima tahun, terakhir kali bertemu David baru mau masuk SMA, kalau perjalanan hidupnya lancar pastilah dia sekarang sudah kuliah.

__ADS_1


"Aku di Universitas Indonesia, iya aku main basket tapi bukan team inti, sulit sekali menembus team inti disana." David tersenyum lirih lalu melanjutkan ceritanya..


"Aku rak menyangka akan melihatmu, awalnya aku menontonmu karena team kami baru akan main sesudahnya. Aku tak yakin kalau kau orang yang sama, kulitmu terlihat lebih gelap dari yang kuingat, dan wajahmu jelas berbeda, terlihat lebih matang dan berwibawa, kebencianku padamu belum hilang saat itu, tapi aku melihat kau begitu dewasa dilapangan, memimpin dengan baik, memberi semangat teammu saat mereka gagal. Menontonmu bermain sangat membingungkan bagiku mengingat aku hanya mendapat cerita yang buruk saja tentangmu." Davud coba mengatur nafas dan emosinya yang campur aduk, Andri hanya mendengarkan.


"Aku mencoba cari tahu tentangmu, aku sering nongkrong dikampus Abang, aku yakin kau akan jadi trending topik dikampus sejak kesuksesan kalian merebut peringkat tiga. secara diam-diam mendengarkan orang-orang membicarakan Abang, aku hanya mendapat cerita yang baik-baik, tak ada satupun sepertinya yang mengenal Abang dengan baik, tampaknya kehidupan kalian yang penuh misteri dan tertutup berjalan dengan sempurna. Akhirnya aku kesekolah SMA Abang yang dulu, dan mendapatkan alamat rumah orangtua Abang, aku sudah bertemu orang tua Bang Andri, aku datang untuk minta maaf atas nama ayahku karena perbuatannya menghina mereka. Harus kuakui orangtua Abang adalah orang-orang yang luar biasa, berjiwa besar. Mereka tak mendendam kepada orangtuaku dan menyambutku dengan hangat. Mereka memberikan alamat rumah kalian tapi mengarahkanku untuk kesini lebih dahulu. Aku kesini untuk meminta maaf atas perbuatan kami kepada Abang dan kak Julia."


"Kau tak perlu minta maaf, aku yang harusnya berterima kasih kepadamu, kau membelaku saat ayahmu dan para sekurity ingin menghajarku. Tapi ada satu yang menjadi pertanyaanku selama ini, saat itu kau membelaku, padahal kau bilang tadi begitu membenciku dan kenapa butuh lima tahun kau baru datang? Apakah selama ini kau tak kangen sama kakakmu?" David tertunduk malu mendengar pertanyaan Andri.


"Entahlah Bang, saat itu aku insting saja, mungkin karena aku tak suka kekerasan ada didepan mataku, walaupun saat itu aku merasa kecewa dengan Abang yang telah merusak hidup kakakku. kenapa baru sekarang datang? Itulah aku, aku tak pernah perduli dengan lingkungan sekitarku, aku hanya fokus dengan pikiran-pikiranku sendiri. Aku bisa kuliah dengan beasiswa dan segudang prestasi non akademik, dikampus aku terpandai, orang menyebutku kutu buku, aku tak perduli, tapi Aku tak punya teman, sampai akhirnya aku menyadari hidupku kosong ketika melihatmu bermain basket. Aku melihat bagaimana kau dicintai teman-temanmu dan kau menghargai mereka dengan baik. Saat itulah hidupku seakan hampa ketika aku menyadari aku kehilangan kakakku, kak Julia yang dulu begitu memperhatikanku, begitu sayang padaku, tapi aku bahkan tak membelanya ketika kalian datang kerumah membawa bayi yang baru lahir dan harus menerima perkataan kasar dan hinaan dari ayah ibuku, maafkan kami Bang!" Mata David berkaca-kaca bahkan sudah mulai meneteskan air mata, ia tertunduk, Andri mendekatinya dan menepuk bahu David.


"Aku akhirnya bisa tahu kebenarannya tentang kalian, aku tahu , kau justru datang menyelamatkan harga diri dan nyawa kakakku, nyawa keponakanku, tapi kami malah dibutakan oleh prestise, popularitas, karier yang entah akan kami bawa kemana."

__ADS_1


Sekarang David malah benar-benar menangis. Andri memang sering mendengar cerita Julia bagaimana seorang David, seorang anti sosial yang sangat fokus pada keinginannya, hidupnya hanya dihabiskan dengan komputer dan aneka robot buatannya.


"Julia sanga menyayangimu David, ia selalu menceritakan perihal dirimu, temuilah dia, dia pasti senang bertemu denganmu."


"Aku malu bertemu dengannya Bang! Itulah makanya aku bertemu Abang lebih dahulu, karena kau laki-laki dan kulihat kau bisa menerima dan bergaul dengan segala model teman-temanmu. Aku bayangkan hidup kalian sangat sulit lima tahun terakhir ini, dan aku merasa bersalah karena itu, tapi ternyata aku salah, kalian tampaknya berhasil berbahagia dan membuktikan kalau perkiraan semua orang salah."


"Untuk apa malu? Kau adiknya, apalagi semua yang kami lakukan adalah pilihan hidup kami, bukan kesalahanmu. aku mengerti kalau kau juga tak berdaya dengan kekuatan ego orangtuamu seperti itu, kita hanya biaa bersabar dan berdoa buat mereka, Tapi itu tak berarti kamu memutuskan hubungan dengan kakakmu, dan kau sudah punya dua keponakan, mereka pasti senang bertemu dengan pamannya yang pintar membuat robot dan pandai main basket."


"Baiklah Bang, aku akan kesana, dan mungkin aku akan sering datang main kerumah Abang bermain dengan keponakan-keponakanku. Aku pamit pulang dulu." David berdiri dan mencium tangan Andri.


"Pintu rumah kami akan selalu terbuka untukmu David, begitu juga buat Ayah dan ibumu, sampaikan salamku pada mereka." Andri memeluk David dengan erat.

__ADS_1


Sepeninggal David Andri justru bertanya dan merasa was-was apakah hasil pengintaian David dikampusnya juga berhasil menangkap hubungannya dengan Citra? Selintas pertanyaan itu sempat hadir namun ia tak berani menanyakannya kepada David. Andri mencoba menghilangkan pikirannya yang kalut dengan mengerjakan tugas-tugasnya.


Malam jelang kepulangannya dari tugas jaga ia mendapat pesan dari David yang menceritakan kebahagiaannya bertemu dengan kakaknya. Andri yang tadinya sudah siap pulang malah menjadi ragu dan cemas, namun akhirnya ia tetap menjalankan motornya untuk segera sampai dirumah.


__ADS_2