Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Kembali Kerumah


__ADS_3

Citra ikut tersenyum mendengar ungkapan Julia, tapi perasaannya masih sangat sakit. Akhirnya ia memutuskan untuk pulang, tidak ada lagi harapannya disini. Semakin lama ia disini hatinya semakin sakit.


"Aku mohon pamit permisi pulang Kak" Citra memohon. Lalu bangkit berdiri dari sofa.


"Aku senang kau datang, kita bisa ngobrol banyak, aku tak punya adik perempuan, tapi kalau kau ingin pulang biar nanti diantar Mas Andri." Julia kembali tersenyum, Citra kembali terperangah. Julia menghapus air mata Citra yang meleleh dipipinya dengan jemarinya yang halus.


"Biarkan Mas Andri mengantarmu, berikan dia kesempatan untuk menebus kesalahannya kepadamu."


Air mata Citra akhirnya tumpah tak tertahankan, Julia langsung menarik kembali Citra masuk dalam dekapannya, tangannya membelai rambut Citra yang sangat halus. Citra masih terus terisak dalam dekapan Julia.


"Saya tahu perasaan kamu sakit, tapi saya mohon jangan benci kami, apalag benci Mas Andri. Kita masih bisa saling memiliki, kamu bisa main kapan saja kemari. Anggap saja Mas Andri abangmu, dan aku selalu siap untuk jadi kakakmu."


Setelah tangisnya reda Citra melepas pelukannya, ia terdiam lalu tersenyum dan menganguk, ia meraih tangan kanan Julia menunduk sedikit dan menempelkan di dahinya. Ia melangkah keluar, ketika matanya bertatapan dengan Andri yang sudah siap di depan pintu untuk mengantar Citra pulang. Ada suasana kikuk di antara mereka. Keduanya terdiam, Andri melangkah lebih dahulu menuju motornya dan langsung menyalakannya, Citra sudah hampir sampai depan gerbang ketika matanya menangkap bungkusan yang ia bawa masih tergeletak di meja teras rumah Andri, ia berlari kembali mengambilnya dan menghampiri Julia.

__ADS_1


"Aku hampir lupa, aku tadi sempat bikin cake dibantu mamah, tolong diterima ya Kak, mudah-mudahan kakak suka." Citra langsung memeluk Julia dengan erat dan berkata dengan lirih dikuping Julia, mengucapkan terima kasih.


Diperjalanan pulang keduanya tak lagi bicara, Citra ragu untuk memeluk pinggang Andri, namun sedetik kemudian dia ingat kalimat terakhir Julia. Ia memeluk pinggang Andri lebih erat dari waktu mereka berangkat, kepalamya bersandar di pundak Andri. Citra tersenyum, dia kaget sendiri ketika melihat dirinya dari spion motor Andri dia sudah bisa tersenyum. Sampai depan gerbang rumahnya Citra bergegas turun namun tangannya di raih oleh Andri.


"Citra, maafkan Aku!" Andri memohon menatapnya dengan penuh harap. Citra hanya diam, ia menunduk memandang tangannya yang masih digenggam Andri. Akhirnya Citra balik memandang Andri, Julia benar, Andri melakukan hal yang sportif kepada dirinya. Walaupun sangat menyakitkan hatinya tapi Andri tak membiarkan hubungan mereka berlanjut pasti karena perduli dengan dirinya, memikirkan masa depannya. Kasih sayang Andri kepada dirinya ditunjukkannya dengan cara yang berbeda. Ia tersenyum, dan mengangguk kepada Andri, lalu berbalik dan berjalan masuk kerumahnya.


Masuk melewati ruang keluarga, Citra melihat kedua orangtuanya sedang duduk bersantai disana. Awalnya ia ingin langsung masuk kekamar dan merebahkan badannya dikasur sambil melupakan apa yang hari ini terjadi, tapi akhirnya ia memutuskan menghampiri dan bergabung bersama mereka. Melihat wajah putrinya yang hampa yang seharusnya gembira membuat kedua orangtuanya menjadi was-was.


"Bagaimana pertemuan dengan kedua orangtua Andri? Lancar atau ada kendala?" Ibunya bertanya.


"Lalu apa yang terjadi? Apakah Andri menyakitimu?" Ayahnya bertanya dengan gusar.


"Tidak! Andri tidak menyakitiku, tapi dia berbohong, aku bukan diajak bertemu orangtuanya, tapi aku diajak bertemu anak dan istrinya." Citra menjawab kegusaran ayahnya dengan nada datar saja, seakan itu adalah hal yang biasa terjadi padanya. Kedua orangtuanya sangat terperanjat mendengar informasi yang tak terduga dan juga kaget karena sikap putrinya yang mengagap hal itu seperti hal yang biasa. Ibunya langsung menghampiri, duduk disampingnya, Citra langsung merebahkan kepalanya dipangkuan ibunya. Citra lalu bercerita apa yang dialaminya tadi, ibunya mendengar sambil membelai rambut Citra.

__ADS_1


"Jadi Andri selama ini mencoba menolakmu, tapi tak bisa, dan akhirnya sebelum semua terlambat dia mengaku semuanya dengan cara yang tidak populer dilakukan oleh laki-laki." Ayahnya berkata dengan nada gusar, kekesalan dan kekecewaannya pada Andri yang telahngecewakan putrinya jelas terlihat, tapi karena Citra bercerita dengan hati yang sudah menerima kkenyataan, emosi kedua orangtuanya terkontrol dengan baik.


"Betul! Lelaki normal akan memilih salah satu, mengabaikan perasaan yang satunya. Lumayan berkelas juga bajingan itu." Citra tersenyum mendengar Andri disebut bajingan tapi mendapat pujian dari ibunya.


"Tapi apakah saat kau datang mereka jadi berkelahi, cekcok, adu mulut atau semacamnya?" Ayahnya bertanya dengan penuh rasa penasaran kepada Citra.


"Tidak, istrinya Andri sudah mencium gelagat bahwa suaminya terpikat denganku, tapi dia justru tidak melakukan konfontasi dengan suaminya, tidak menunjukkan kepada suaminya rasa cemburu dan kemarahannya karena telah diselingkuhi. Dia memilih memakai strategi yang berbeda untuk merebut Andri kembali. Dia memilih menjadi kompetitorku, dia memperbaiki kualitas servicenya kepada suaminya, menjadi istri yang benar-benar diinginkan suaminya. Istrinya sangat cantik, seorang sarjana dan punya posisi yang cukup baik diperusahaannya, apalagi mereka sudah punya dua anak yang sangat pintar dan lucu, wajarlah kalau Andri lebih memilih kembali kepada istrinya." Citra mencoba menceritakan kekagumannya terhadapJulia kepada kedua orangtuanya. Kedua orangtuanya hanya mendengarkan dengan terpana.


"Wow! Its different Class! Kalau aku yang diposisi Andri, ibumu pasti sudah mengusirku dari rumah, semua pakaianku sudah dilemparkannya keluar gerbang." Ayahnya Citra berseloroh menggoda istrinya.


"Bukan itu saja! Aku akan oanggil tukang sunat, biar 'burungmu' kusunat dua kali." Ibunya Citra menjawab seloroh suaminya dengan tatapan galak.


"Astaga! Habis dong punyaku." Ayahnya langsung menyilangkan kedua tangan didepan celananya, tingkahnya langsung mendapat gelak tawa dari istrinya, dan ketiganya tertawa.

__ADS_1


Citra tersenyum mendengarkan kedua orangtuanya bercanda dengan riang, itu menunjukan bagaimana mereka menjaga keharmonisan dan rasa cinta diantara mereka dengan saling terbuka dan komunikasi yang baik, sehingga Citra tak pernah mendengar ada prahara orang ketiga terjadi pada kisah orangtuanya.


Citra tak tahu apa yang terjadi sebelumnya antara Julia dan Andri, tapi bagaimana Julia mengatasi masalahnya bukan hal yang mudah, butuh kesabaran mental yang sangat luar biasa untuk mengendalikan emosi seperti itu. Julia pasti sangat sholekhah bisa seperti itu, karena ia juga sering melihat Andri yang tak pernah meninggalkan sholat lima waktunya. Tuhan mengabulkan doa Julia, yang tetap sabar walaupun sedang dizholimi, dan Citra menjadi sangat bersalah ketika ia menyadari sudah sangat lama ia tidak berdoa dan beribadah dengan baik. Kehidupan yang serba ada dan mudah mendapatkan segalanya membuatnya lupa kepada tuhannya. Tuhan mengingatkannya dengan Peristiwa hari ini bahwa dirinya hanyalah makhluk yang punya banyak kelemahan. Tak terasa air mata menetes dipipinya.


__ADS_2