Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Perdamaian


__ADS_3

Andri baru saja sampai dirumahnya setelah mengantar Citra, ketika dia hendak menutup gerbang dia dikejutkan oleh kedatangan sedan mewah yang tiba-tiba berhenti depan rumahnya. Tak lama kemudian pengemudi mobil mewah tadi berjalan menghampiri Andri.


"Selamat sore, maaf mengganggu, apa betul ini rumah Pak Andri dan Ibu Julia?" Pengemudi mobil tadi bertanya dengan sopan.


"Betul, Bapak siapa ya? Dan ada keperluan apa dengan kami?" Andri menjawab dengan nada heran namun tetap sopan.


Bapak tua itu tidak menjawab, dia hanya tersenyum, kemudian dia menghampiri pintu kursi penumpang sedan mewah tadi. Kaca jendela terbuka sedikit, Andri tidak bisa melihat siapa penumpang didalamnya karena kaca mobil itu sangat gelap. Tak lama kemudian kedua pintu mobil terbuka, sepasang manusia turun dengan pakaian yang gemerlap, Andri tersentak kaget ketika ia mengenali keduanya.


"Assalamualaikum nak Andri, apa kabarmu Nak? " Laki-laki tua itu berbicara menyapa Andri, seaaat Andri hanya terpaku, ia tak menyangka kedua mertuanya datang ke gubuk kecilnya. Ia agak ragu menjawab, namun sapaan sopan dan sorot mata bersahabat terpancar dari keduanya. Ini jelas berbeda ketika terakhir kali Andri bertemu mereka.


"Baik Pak, Alhamdulillah, silahkan masuk Pak, Bu!" Andri mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan, Andri masih tidak percaya dengan apa yang di alami saat ini. Dengan canggung Andri mengajak keduanya berjalan masuk kedalam rumah. Andri memangil Julia yang masih sibuk di dapur.


"Ada tamu buatmu, temuilah di depan."


"Siapa?" Julia bertanya heran.


"Entahlah!" Andri mengangkat bahu, pura-pura tidak tahu.


Julia langsung berjalan keluar dapur, baru saja beberapa langkah, ia berhenti dan terpaku menatao kedua tamunya. Ibunya yang sudah melihat Julia langsung bangkit dari sofa dan setengah berlari menghambur ke arah Julia, langsung saja Julia dipeluknya.


"Julia, apa kabarmu Nak?" Maafkan Mama.." Kedua wanita itu saling berpelukan dan menangis bersamaan. Setelah mamahnya melepaskan pelukan, Julia menghampiri laki-laki yang sudah berdiri dengan mata berkaca-kaca, Julia sudah tak ragu lagi langsung memeluknya.

__ADS_1


"Maafkan Papa Julia, Maafkan kami Andri, Aku baru tahu semuanya dari David, dia cerita semuanya. Maafkan kami telah menelantarkan kalian, darah daging kami sendiri." Ia berkata sambil terus memeluk dan membelai rambut Julia.


"Oh iya, kemana David? Kenapa dia tak ikut bersama kalian?" Julia bertanya dengan nada khawatir.


"David pergi dari rumah setelah mengungkap kebenaran tentang kalian kepada kami, karena kami awalnya menolak aoa yang ia ungkapkan. Dia pergi bgitu saja tanpa membawa apa-apa, bahkan ponselnya ikut ditinggal. tapi kalian jangan khawatir, kemarin dia memberikan alamat kalian dengan nomoer lain ke ponselku dan mengatakan kalau kami belum berdamai dengan kalian dia tak akan pulang."


"Astaga! Aku tak menyangka David bisa melakukan itu!" Tapi papa sudah menghubunginya kan?Julia masih menunjukam rasa khawatir karena ia sangat menyayangi adiknya.


"Dia tak mau menjawab pesan apalagi mengangkat telponnya, tapi kita tinggal kirim foto kita bersama ke nomer itu, dia butuh bukti, bukan janji." Ayahnya Julia tertawa.


"Jadi kalian kemari karena kehilangan David, bukan karena kehilanganku?" Julia merajuk.


"Jangan salah paham Julia, kami benar-benar hampa tanpa kalian, dulu aku sangat sibuk, mengurus bisnis dan karir politikku, sekarang para caleg mulai menyusun strategi kampanye, banyak orang datang kerumahku, mengharap sesuatu dariku, tapi anak-anakku sendiri tak mengambil sepeserpun hartaku, tak mau mendompleng popularitasku, disitulah aku merasa kehilangan kalian, sekali lagi kami minta maaf, dan tentu saja peristiwa pengusiran kalian dari rumahku, ketika aku memikirkannya lagi aku merasa lebih hina dari binatang." Ayah Julia memandang Andri dan keluarganya dengan mata berkaca-kaca.


Keempatnya sekarang duduk di sofa ruang tamu Andri, Julia ada ditengah orangtuanya, sesekali ia bersandar manja sama papanya, sesekali sama mamanya. Suasananya cukup haru ketika Julia bercerita bagaimana ia dan Andri menjalani hidupnya setelah terusir dari rumah. Andri hanya dia saja.


"Kemana cucu Mama? Dari tadi tak terlihat?"


"Sudah dua Ma! Sedang tidur siang, biar Aku bangunkan mereka!"


Andri tetap berjalan masuk menghampiri kamar anak-anaknya, tak memperdulikan protes mertuanya yang melarang ia membangunkan anak-anaknya. Tak lama kemudian Andri menuntun kedua Anaknya yang matanya masih memerah karena dibangunkan dari tidurnya.

__ADS_1


"Ramdan, Syifa, itu Oma dan Opa kalian ayo cium tangannya!" Andri memerintahkan kedua anaknya dengan lembut, keduanya langsung disambar dengan pelukan erat dari kedua mertua Andri. Ibu Julia seakan tak mau melepas keduanya dari pelukannya, ia mengambil Syifa untuk duduk dipangkuanya.


"Ganteng dan cantik sekali cucu- cucu Oma."


"Oma kata Ayah tinggal di luar negeri, luar negri tuh dimana sih Oma? Jauh ya? Koq Ayah dan Mamah bilang tidak bisa datang kerumah Oma pakai motor, harus pakai pesawat terbang katanya," Syifa bertanya dengan polosnya.


"Sekarang udah dekat koq, kalian bisa datang kerumah Oma kapan saja, ajak Ayah dan Mamah kesana, nanti Oma akan jemput kalian pakai mobil." Oma menjawab dengan lembut, matanya berkaca-kaca, ia memandang Andri dan menganguk sebagai tanda ucapan terima kasih. Andri dan Julia ternyata tak mengajarkan anak-anaknya dendam kepada mereka.


Tiga jam berselang mereka masih bercengkrama melepas rindu, tiba-tiba datang didepan gerbang rumah sebuah mobil SUV yang masih sangat baru. Ayahnya Julia langsung keluar dan bicara dengan pemilik mobil tersebut, tak lama kemudian dia kembali masuk. Ia menghampiri Syifa yang masih duduk dipangkuan omanya.


"Syifa ini mobil buat kamu, buat ajak Ayah sama Mama ke rumah Opa ya," Ia meletakkan kunci mobil digenggaman Syifa. Andri tak tahu harus bilang apa. Ia hanya diam saja.


Akhirnya pada waktunya mereka harus pulang namun sebelumnya tak puas -puasnya Oma menciumi kedua cucu-cucunya. Mereka hendak mengantar keduanya sampai kemobil, tiba -tiba Andri ditepuk pundaknya.


"Andri aku tahu kamu punya pengalaman di bengkel, kamu bisa jadi penerusku untuk melanjutkan perusahaan kami. Bidangnya tak jauh berbeda dengan keahlianmu, apalagi Julia juga bisa mengurus administrasinya. Kalianlah yang pas untuk ini."


"Entahlah Pa, biar nanti kami bicarakan dulu bagaimana baiknya!"


Sang Ayah paham, Andri tak bakal langsung mengiyakan tawarannya, sekian tahun tak pernah sekalipun datang untuk meminta apapun darinya, walaupun mereka hidup susah dan tahu bahwa mertuanya adalah orang kaya, itu sudah cukup menunjukkan bagaimana ego seorang Andri dibangun.


"Baiklah!" Sekali lagi Aku meminta maaf atas perbuatanku selama ini, dan Aku mengucapkan terima kasih karena engkau telah merawat dan menjaga putriku dan cucu-cucuku dengan baik." Sang Ayah menyodorkan tangannya yang disambut dengan senyum yang lebar di wajah Andri.

__ADS_1


"Apakah tahun ini Papah mencalonkan lagi sebagai angota legislatif?" Andri bertanya sambil menemani mertuanya berjalan ke mobil mereka.


"Tidak Andri! Kami sudah sepakat cukup sampai sini, kami hampir kehilangan hati nurani ketika ada disana, kehilangan kalian dan David. Politik tidak sehat buat jiwaku," Ayah mertua Andri tersenyum lebar, istrinya memeluk Julia sambil tersenyum.


__ADS_2