
Citra memandang wanita berhijab yang sekarang menatap Citra dengan tersenyum ramah, wanita cantik yang terlihat berkelas dan berpendidikan. seorang istri yang baik karena Citra melihat dia mencium tangan Andri bukan karena terbiasa melakukannya, tapi terlihat aura menghargai dan menghormati didalamnya, begitu juga ketika dia memangil anak-anaknya, suaranya sangat lembut dan penuh kasih sayang.
"Hai, Aku Julia, kamu pasti teman kuliahnya mas Andri, cantik sekali," Julia menyodorkan tangannya ke arah Citra, Citra tak tahu harus berbuat apa, Ia menyambut sodoran tangan Julia dengan gelagapan.
"Oh iya terima kasih, saya Citra, kakak juga cantik sekali." Akhirnya ada juga kalimat yang bisa keluar dari mulut Citra, mungkin karena pengaruh pemilik rumah yang sangat ramah, perasaan Citra yang masih carut marut bisa ditutupi dengn adabnya yang baik.
"Duduklah, jangan sungkan dan mohon maaf kalau akan sedikit ribut, dua bocah ini memang sedang nakal-nakalnya." Julia menangkap kedua anaknya yang sedari tadi hiruk pikuk berlarian.
"Sayang, tolong kamu temani Citra, biar anak-anak main sama aku di teras " Andri memohon kepada Julia.
Citra duduk disofa empuk yang levelnya jauh berbeda dari milik papahnya dirumah, namun penataan ruang dan barang dirumah yang sederhanal ini begitu menyenangkan mata Citra, sayangnya hatinya sudah terasa sakit, mengetahui ternyata Andri sudah memiliki istri dan anak, ia juga kecewa karena Andri selama ini berbohong kepadanya, mengaku masih bujangan, bahkan hari ini harusnya ia bertemu dengan orang tua Andri, bukan istrinya. Segala sumpah serapah yang ditujukan buat Andri sudah semuanya disebut, namun hanya bisa dilampiaskan dalam hatinya saja. Ingin rasanya ia memukul kepala Andri dengan tongkat bisbol dikamarnya, namun kenyataannya ia hanya duduk terpaku disini, tidak punya kekuatan untuk berlari keluar, ia hanya bisa pasrah seakan hendak disidang sebagai pelakor, namun melihat sikap Julia yang sangat ramah dan bersahabat rasa marah Citra berangsur-angsur turun. Akhirnya ia memberanikan diri bertanya hal yang dari tadi membuatnya penasaran.
"Maaf sebelumnya, apakah kakak yang mengatur pertemuan ini?" Citra bertanya dengan nada siap memulai peperangan.
"Maksudnya pertemuan apa? Mas Andri hanya kasih kabar semalam akan ada beberapa teman kampusnya main kerumah, aku disuruh bersiap dan dandan yang rapi, itu saja. Apakah masih akan ada yang datang?"
"Ooh, tidak, ooh entahlah," Citra jadi blingsatan, Julia jelas jujur karena ia melihat istrinya Andri menyiapkan banyak gelas di baki, begitu pula makanannya, ini bukan jamuan buat satu orang.
"Apakah mas Andri pernah cerita tentang saya? "Citra terus mencecar Julia, terlanjur basah, biar sekalian tenggelam saja." Citra membatin.
"Tidak sekalipun, tapi aku yakin kamulah wanita yang membuat mas Andri jarang dirumah lebih dari dua bulan ini." Julia berkata tetap dengan nada sopan dan lembut. Julia yang cerdas akhirnya langsung menyadari apa maksud dan tujuan suaminya membawa Citra kemari. Ia tersenyum penuh kemenangan.
__ADS_1
"Jadi Kakak sudah tahu dari awal hubungan kami?" Tenggelam, tenggelamlah sudah." Batin Citra sudah pasrah.
"Sebetul tidak, tapi saya wanita, insting wanita buat urusan kaya begini tidak pernah salah, betul enggak?" Julia tertawa, Citra merasa aneh, Julia bisa tertawa dan menganggap receh kejadian ini.
"Memangnya mas Andri bilang kamu mau bertemu dengan siapa?" Julia balik bertanya.
"Bertemu kedua orang tuanya, baru datang dari kampung." Muka Citra langsung merona merah ia langsung menunduk menahan malu. Julia langsung menyadari situasinya, Citra ingin serius dengan Andri, tapi Andri memilih untuk jujur, namun tidak berani mengungkapkannya langsung kepada Citra.
"Awas kau Mas, kubalas kau nanti!" Julia membatin kesal, mamun senyum bahagia yang muncul di bibir Julia. Citra masih menunduk, matanya mulai berkaca -kaca, Julia menghampiri dan duduk persis disebelah Citra, ia memegang tangan Citra mengusapnya dengan lembut. Citra mengangkat kepalanya menatapnya terperangah tak percaya.
"Jangan salahkan dirimu, tidak ada lelaki yang bisa menolak pesonamu, kau sangat cantik, kau juga sopan dan punya karakter dan pribadi yang baik. Mas Andri tak mungkin terpikat oleh wanita tak berkelas."
"Kalau saja Andri memberitahu sebelumnya kalau ia sudah beristri, aku tak akan mengganggu rumah tangga kakak." Kali ini Citra memandang Andri yang berada diteras dengan penuh emosi, Andri yang mendengar dari teras buru-buru mengalihkan perhatiannya dengan bermain kembali dengan anak-anaknya.
"Aku sudah menyadarinya dari awal, Andri sering pulang telat, lembur tak jelas, ada mata kuliah tambahanlah, inilah, itulah." Bibir julia mencibir, matanya melirik kepada suaminya.
"Kakak tidak melakukan apapun, apakah kakak tidak khawatir mas Andri akan berpaling?"
"Tentu saja aku khawatir, aku gelisah siang dan malam, namun pengalaman hidup mengajarkanku untuk melihat realita, bukan emosi semata. Aku kenal mas Andri dari SMA, ia orang yang bertanggung jawab, komitmen dan fokus pada tujuannya, itulah yang membuat kami berhasil mencapai tahap ini walaupun kami menikah sangat muda. Pertemuannya dengan kamu hanya sebuah fase dalam kehidupannya, aku belum pernah kenal kamu sebelumnya tapi aku yakin kamu pasti wanita cantik dan hebat, tidak mungkin ia tertarik wanita yang levelnya dibawah kamu. Mas Andri sudah berapa tahun bekerja, ia tak pernah terlibat hubungan dengan wanita lain, baru kali ini terjadi sama kamu."
"Tapi Kak, biasanya perempuan langsung emosi dan marah kepada suaminya kalau sampai ketahuan dia selingkuh, bagaimana kakak mengatasinya?" Citra kembali bertanya, kali ini dengan rasa ingin tahu yang biasa ia lakukan ke dosennya.
__ADS_1
"Jelas aku emosi! Aku marah! Aku kecewa! Tapi aku tak mau memperturutkan emosiku, karena aku tahu, kalau itu yang terjadi, kami hanya kan cekcok mulut tiap hari tiada henti, akhirnya rasa cinta diantara kami hilang menjadi rasa benci. Aku mengambil jalan yang berbeda. Aku hanya perlu bertindak sebagai kompetitormu, Aku membuat dia menjadi sulit untuk memiih. Biar aku lebih tua sedikit dari kamu, aku tak kalah cantik darimu kan?" Julia memalingkan wajahnya kekanan dan kekiri sambil tertawa tergelak, Citra juga ikut tersenyum.
"Memang benar Julia sangat cantik, ia hanya berdandan dengan make up seadanya tapi kecantikan alaminya luar biasa, bajunya bukan branded tapi dia punya selera yang bagus, cara pakai jilbabya juga kekinian." Memikirkan ini Citra merasa minder sendiri.
"Dan keuntunganku adalah dia suamiku, aku bisa menservis dia luar dalam lahir batin hahaha, kuberi ia service terbaik setiap dia dirumah, aku berusaha membuatnya merasa nyaman dan senang dirumah, ketika persoalan semakin rumit ia hanya akan punya jalan untuk pulang, bukan ketempat lain. Jangan kau lupa Citra, setiap pria terlahir sebagai problem solver, mereka makhluk logika yang berhitung dengan cermat untung ruginya. Aku tak perlu menekannya, ia akan semakin jauh dariku kalau aku menekannya, cukup menanyakan hal-hal yang memang harus aku tanya sekedar untuk dia ingat bahwa aku ada untuknya. Aku yakin Mas Andri bisa menyelesaikan masalahnya sendiri." Citra terdiam mendengar uraian Julia, wanita ini luar biasa, kedewasaan sikap dan berfikirnya jauh melebihi usianya, wajarlah Andri lebih memilih Julia.
"Kakak sungguh luar biasa!" Citra tak ragu memancarkan kekagumanya kepada Julia.
"Aku bahkan tadi sempat berfikir disini akan mendapat sumpah serapah dan makian dari kakak." Julia tersenyum kembali kepada Citra.
"untuk apa aku memarahimu? Aku juga wanita, kalau aku diposisimu aku juga akan jatuh hati dengannya, apalagi kalau kau sudah mengenalnya dengan baik, dibalik ketampananannya, karakter dan pribadi Mas Andri jauh lebih memikat wanita." Kali ini Julia memuji Andri dan ia menyatakan dengan jujur dari hatinya.
"Tapi hatiku sakit Kak, aku mencintai Andri, tadinya kupikir dia bujangan, kalau saja dari awal dia memberitahu aku tak akan jatuh kelubang ini," Citra langsung menangis tersedu. Julia memeluk tubuh Citra dengan erat.
"Tapi kita beruntung Citra, Mas Andri berlaku sportif kepada kita, tidak membiarkan dirinya bermain dibelakang kita berlarut-larut. Apakah kalian sudah melakukan hal yang lebih jauh?"
"Tidak! Demi tuhan tidak Kak! Andri belum pernah menciumku, menyatakan cinta, merayu, atau memberikan harapan apapun padaku, kupikir tadinya hari ini, tapi Kakak benar! Selama ini pasti terjadi peperangan dalam dirinya, dan Kakaklah yang menang."
"Tidak ada yang menang atau kalah dalam hidup ini Citra, Kita hanya perlu ambil semua ini jadi pengalaman untuk menjalani kehdupan kita selanjutnya." Julia masih mengelus tangan Citra. Citra hanya terdiam namun masih menangis sesegukan, akhirnya ia bisa kembali bersuara.
"Kak, aku minta maaf telah menggangu rumah tangga Kakak," Citra memohon dengan suara terisak.
__ADS_1
"Tak perlu minta maaf." Tangan kanan Julia mengambil dagu Citra dan mengangkatnya pelan. "Kamu wanita hebat, banyak laki-laki yang lebih hebat dari mas Andriku mengantri menunggu cintamu, kamu udah dapat standardnya kan sayang, keep it that level, oke!" Julia memberikan senyumnya kepada Citra.