
Malam itu Andri sedang duduk disofa setelah ia menidurkan kedua anaknya, ia memandang Honda CRV terbaru yang sekarang berada diteras rumahnya. Mertuanya memang sudah membelinya untuk mereka sebagai hadiah perdamaian dan permohonan maaf. Andri teringat tawaran mertuanya dan sedang memikirkannya, tiba-tiba ia dikejutkan oleh suara Julia.
"Sudah siap ceritanya?"
"Cerita apa?" Andri penasaran, tak mengerti maksud Julia.
"Cerita lengkap tentang kamu dan Citra!"
"Ah, kamu kan sudah dengar sendiri dari mulutnya, Kami tak pernah berbuat apa-apa, kami belum pernah ada yang menyatakan suka atau cinta!" Andri menjawab gusar.
"Tapi kamu suka sama Citra kan?" Julia senyum mengejek.
"Aku laki-laki normal sayang." Suara Andri tiba-tiba berubah lembut, ia meraih tangan Julia. "Aku tahu batasku, makanya aku memutuskan sebelum semuanya terlambat."
"Tapi kenapa bukan kamu saja yang langsung bicara? Kenapa kamu 'amprogin' dia ke aku?" Julia bertanya dengan gusar.
"Hahaha.... Aku ingin kamu merasakan kemenanganmu sendiri, istriku sayang," Kali ini sambil mencubit dagunya Julia.
"Maksudmu?"
"Hahahaha.. Aku merasakan sejak kamu mencurigaiku, sikapmu berubah 180 derajat kepadaku, servicemu sangat luar biasa, tak pernah kurasakan sebelumnya. Dulu kamu melakukannya seakan terpaksa saja. Kamu memaksaku untuk selalu merindukanmu, dan terbukti kamu menang. Aku melihat senyum kemenanganmu terus kau umbar didepan Citra!" Hahahaha.. Andri tergelak, namun tiba- tiba menjerit kesakitan. Perutnya di cubit dengan gemas oleh Julia.
"Sakit tau!" Andri meraba perutnya, sakitnya masih terasa.
"Rasain!" Julia terkikik geli. Ia mengusap perut yang ia cubit tadi dengan mesra, lalumenyandarkan kepalanya kepangkuan Andri.
"Maafkan aku ya Mas atas sikapku selama ini. Aku sungguh-sungguh menyesal telah meragukan cintamu, aku baru sadar begitu mencintaimu ketika aku hampir saja kehilanganmu."
"Sudahlah sayang lupakan saja." Andri membelai kepala Julia yang ada di pangkuannya. Julia bangkit dari pangkuan Andri, meraih tangan Andri dan menciumnya.
"Aku mau jujur padamu, ada satu rahasia yang selama ini kusimpan!" Suara Julia berubah menjadi bergetar.
__ADS_1
"Rahasia Apa?" Kening Andri berkenyit. Julia mulai gelisah, ia seperti menimbang apakah akan diungkapkan rahasianya apa tidak. Andri menunggu, ia menggenggam tangan Julia untuk memberi suport.
"Tapi Mas janji tidak marah ya, setidaknya dengarkan dahulu ceritaku sampai selesai." Julia memohon.
"Caraku mendapatkanmu kembali bukan kubaca dari buku, tapi berdasarkan pengalamanku sendiri." Julia masih gelisah, kali ini level gelisahnya lebih tinggi.
"Maksudmu?"
"Ingatkah Mas ketika aku mulai bekerja, karirku cepat naik itu bukan kebetulan Mas, Salah satu boss tempatku bekerja menaruh hati kepadaku dan aku saat itu terbuai arus, kami menjalani affair lebih dari enam bulan lamanya." Julia mulai menangis.
"Astaga!" Jantung Andri bedegup cepat, darahnya mulai naik kekepala, tak sadar ia melepaskan tangan Julia dari genggamannya. Julia cepat mengambil kembali tangan Andri.
"Tak sejauh yang engkau pikirkan Mas, percayalah walau ada sih kissing- kissing sedikit, hehehehe.." Julia mencoba tertawa dalam isaknya, berusaha mencairkan suasana, tapi Andri masih tegang.
"Namun entah kenapa tiba - tiba beliau seperti menghindariku, tak pernah lagi menemuiku, ku coba telpon tak pernah diangkat, malah nomerku diblokirnya, tak lama kemudian ia mundur dari jabatannya, pindah kerja ketempat lain, hubungan kami berakhir begitu saja." Julia masih menangis, tangisan sesal. Namun tampak ia lega telah mengeluarkan penyakit dalam hatinya.
"Astaga! Aku tak pernah tahu, aku tak pernah menyadarinya!" Andri masih tak percaya apa yang ia dengar, berita itu seperti petir di siang bolong.
"Tapi hubungan kamu selama itu, pasti kalian sudah bikin komitmen dan engkau sudah berniat meninggalkanku kan?" Suara Andri menggelegar berapi -api. Julia langsung merebahkan kepalanya ke pangkuan Andri, tangisannya semakin kencang tersedu-sedu. Andri menghela nafasnya yang tak beraturan. Mencoba menahan emosinya. Akhirnya ia membiarkan Julia menangis di pangkuannya. Ia mernyandarkann kepalanya di sofa. Seluruh frase gambar hubungannya dengan Julia dalam kehidupannya berputar dengan cepat dalam otaknya, ia sendiri menjadi pusing dibuatnya. Andri juga membayangkan bagaimana sulitnya Julia bertahan dari cacian dan hinaan dikantornya setelah ia dicampakkan bossnya, mungkin ia bertahan tetap bekerja disana karena kecintaannya kepada anak-anak dan keluarga yang memang saat itu butuh biaya. Pemikiran seperti itu yang membuat tangan Andri membelai rambut Julia.
"Laki-laki itu kembali kepada keluarganya?" Andri bertanya dengan suara datar, Julia hanya menganguk.
"Istrinya datang kepadamu lalu menceritakan semua triknya padamu?" Lagi-lagi hanya anggukan kepala yang diberikan Julia sambil menangis dipangkuan Andri. Andri mengangkat Julia duduk menghadapinya, Julia tidak berani menatap Andri, ia masih menangis sambil tertunduk. Andri mengangkat dagu Julia, menghapus air mata Julia dengan tangannya.
"Sudahlah, lupakan saja, Aku tahu kamu sudah berubah, kuharap cintamu tak luntur lagi kepadaku." Mendengar ucapan Andri Julia langsung memeluk Andri dengan erat, tangisannya malah semakin kencang. Andri melepas Julia dari pelukannya, tangannya kembali menghapus air mata Julia.
"Sudahlah, jangan menangis, sekarang kedudukan kita seri kan?" Andri tersenyum, Julia langsung mengekeh disela tangisannya. Julia menatap Andri manja, Andri memandang Julia, ia menangkap pancaran cinta di mata Julia, darahnya tiba-tiba bergolak hebat. Ia seperti melihat Julia waktu pertama kali bertemu di garasi sekolahnya. Julia mengambil tangan Andri dan langsung menciumnya mesra dengan bibirnya.
"Terima kasih Mas!" Sentuhan bibir Julia yang merah merekah yang menempel dikulit tangan Andri membuat darahnya berdesir hebat. Gairahnya langsung naik ke kepala.
__ADS_1
"Iya tapi kamu tetap harus dihukum!" Secara tiba -tiba Andri membopong tubuh Julia dan langsung berdiri. Mendapat gerakan Andri yang tiba -tiba Julia spontan berteriak kaget, lalu tertawa terkikik, tawanya langsung dibungkam oleh ciuman Andri yang \*\*\*\*\*\*\* bibir Julia dengan penuh gairah, Julia membalasnya dengan tak kalah bergairah pula, tangannya merangkul leher Andri, Andri membawanya kekamar dan langsung melempar Julia ke ranjang, Julia tertawa cekikikan.
Malam itu mereka seperti sepasang kekasih yang baru saja menikah. Mereka saling memberi dan menerima dengan penuh gairah tak putus-putusnya,. Entah sudah berapa banyak tanda -tanda merah di sekujur tubuh mereka, energi mereka seakan tak ada habisnya, saling berbagi mencapai kenikmatan yang memang halal buat mereka, sampai akhirnya keduanya terkulai lemas dengan keringat bercucuran membasahi tubuh keduanya, mereka tak perduli dimana mereka melempar pakaian dan selimutnya. Saat mereka masih terlentang mengatur napas, tiba-tiba suara ponsel Andri berbunyi menerima pesan.
"Dari siapa?" Julia bertanya dengan malas.
"Dari Citra, bacalah!" Julia mengambil ponsel Andri, membacanya sambil berbaring.
"Terima kasih buat pembelajaran hari ini, terima kasih atas persahabatan Mas Andri Dan Kak Julia yang telah di ulurkan kepada saya, saya pasti akan datang kerumah kalian. Btw cake yang saya buat enak engga ya?"Julia langsung mengambil posisi duduk, ia membalas chatnya Julia.
"Citra, ini Kak Julia, kuenya enak sekali, Kakak tunggu loh kamu main kerumah, Aku ingin diajarkan buat kue yang enak sama kamu. Mas Andri senang ngemil soalnya, hhihihi..Btw nama kamu di ponsel Andri koq jadi Agung yak wkwkwkwk." Tak beberapa lama Citra membalas.
" Hiihihihihi.. Dasar kadal buntung." Julia tersenyum membaca pesan yang diberikan Citra, Julia memberikannya nomer ponselnya kepada Citra, Citra membalas keponsel Julia.
"Terima kasih Kak, aku pasti datang, nanti akan kukabari Kakak, oh iya kalian selarut ini masih bangun, pasti lagi kerja keras yak hahahaha, semoga kalian selalu bahagia, lanjut deh! Hahahaha!" Julia tersenyum, lalu menyerahkan kembali ponselnya ke Andri, Andri membaca chat mereka, lalu tersenyum jahil.
"Dasar buaya!" Julia terkikik dan merebahkan badannya ke dada Andri.
Andri tersenyum bahagia, ia membelai rambut Julia, Julia merespon dengan membuat lingkaran -lingkaran kecil di perut Andri, Andri sedang menikmati apa yang diperbuat Julia dengan tangannya sambil matanya tak lepas memandang tubuh polos Julia, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
"Sayang, kamu dengar permintaan Papamu tadi? Bagaimana menurutmu?" Julia merubah posisinya kali ini wajahnya menghadap Andri tangannya menopang tubuhnya di dada Andri.
"Terserah Mas saja, aku ikut saja, aku sudah bahagia apapun kondisinya bersamamu Mas, Tapi bukankah Mas lulus masuk TC klub basket nasional? Aku senang sekali kalau punya suami pemain basket profesional, tapi tak mungkin kalau Mas masih menjadi sekurity, tapi kalau kita sambil menjalankan usaha, aku kira dua-duanya bisa berjalan." Andri tersenyum bahagia, ternyata Julia begitu pengertian, ia mengusap bibir Julia yang ranum dengan jarinya.
"Bagaimana kalau Aku jadi direktur lalu Aku jatuh cinta lagi kepada wanita yang lebih cantik dari Citra?" Andri tersenyum jahil menggoda Julia. Mendengar ucapan Andri Julia langsung duduk, tangannya meraih sesuatu dari laci meja riasnya, ternyata sebuah gunting panjang yang masih bening dan tajam. Andri langsung melompat, duduk menjauh dari Julia.
"Tidak akan ada kedua kalinya! Aku akan langsung memotong burungmu Mas!" Suara Julia dibuat segalak dan seseram mungkin sambil ia melirik ke bagian bawah tubuh Andri.
"Astaga!" Secara refleks ia menarik bantal menutupi bagian bawahnya. Julia tertawa melihat tingkah Andri.
"Ampun sayang, ampuuun..!" Andri meletakan kepalanya di pangkuan Julia tangannya memeluk perut Julia. Julia masih tertawa, ia meletakkan kembali guntingnya dan mengusap kepala Andri. Ia menunduk dan berbisik dengan mesra.
"Kamu masih kuat sayang? Aku masih mau ronde selanjutnya!" Andri menatap Julia, sedetik kemudian ia membanting Julia hingga terlentang di ranjang, Julia kembali cekikikan. Andri mengambil posisi di atas Julia. Julia langsung merangkul leher Andri.
"Bersiaplah untuk bolos besok! Aku akan membuatmu tak bisa berjalan besok pagi!"
"Oh yaaa? Buktikan padaku! Jangan cuma pandai bicara!"
__ADS_1
Mulut Andri langsung menerkam bibir Julia, Julia membalasnya dengan ganas. Malam itu tak berakhir buat kebahagiaan Andri dan Julia.