
Pagi ini Andri masih menikmati kopi pagi yang dibuat oleh istrinya sebelum ia berangkat melakukan test awal masuk klub basket nasional. Sebelum kesana ia akan kekampus dahulu untu menjemput Citra yang ingin melihat test Andri. Tentu saja kali ini ia masih berbohong kepada Julia. Awalnya ia ingin mengajak Julia tetapi tak disangka Citra lebih dahulu memintanya. Semalam ia dan Julia berbincang tentang David yang berkunjung kerumah mereka.
"Aku tak menyangka ia datang kesini Mas, kukira ia sudah tak perduli lagi denganku, " Julia berkata sambil merebahkan kepalanya ke pundak Andri.
"Dia semakin dewasa, pola pikirnya juga sudah berubah, lagipula tak mungkin dia melupakan hubungan darah antara kalian." Andri mengelus tangan Julia dengan mesra.
"Aku berterima kasih kau dan orangtuamu menyambut hangat kedatangannya, kalian orang-orang berjiwa besar, aku makin cinta padamu Mas!" Kali ini Julia benar-benar menggoda Andri, Andri langsung ******* bibir Julia dengan mesra. Namun pembicaraan selanjutnya membuat bulu kuduk Andri berdiri meremang.
"Kudengar ia bertemu kau saat kau ikut kompetisi basket antar kampus, kau tak cerita padaku kalau kau ikut kompetisi." Nada bicara Julia biasa saja, tidak ada nada menuntut, menyalahkan, marah atau curiga, Andri menjadi bingung menjawabnya.
"Aku dipaksa, mereka pernah lihat aku main iseng-iseng dikampus, mereka sampai membelikanku sepatu basket, aku menolak awalnya, tapi aku juga tak tega kalau kampusku jadi pecundang tiap tahun, itulah makanya aku sering terlambat pulang pekan kemarin." Susah payah Andri menjawabnya supaya terdengar jujur dan biasa.
"Lain kali kalau ada pertandingan lagi ajak aku ya Mas, dari dulu aku suka lihat kau main basket."
"Benarkah? Aku tak pernah melihat kau menontonku, kecuali kalau ada Guntur main."
"Tentu saja aku diam-diam dan menontonmu dari jauh, aku senang kalau dia sedang kalah darimu, dia bungkam tak banyak bicara."
"Tak banyak bicara tapi banyak beraksi ya?" Andri menggoda Julia. Mata Julia langsung melotot dan mencubit tangan Andri dengan gemas sampai dia berteriak kesakitan.
" Entah kau mau percaya atau tidak, tapi yang Mas saksikan waktu itu, itu juga pengalaman pertama buatku, aku tak kuasa menolak dibawah pengaruh alkohol." Kelopak mata Julia mulai berkaca-kaca. Andri langsung mendekap Julia yang bersedih.
"Maafkan aku, aku hanya bercanda tadi, tak ada niat sedikitpun menyinggung atau menyakitimu, apalagi mengungkit masa lalu, maafkan aku sayang!" Andri mengusap air mata dipipi Julia dengan lembut. Julia mengangguk dan tersenyum manja. Ia mengelus bekaa cubitannya ditangan Andri demgan penuh kasih sayang. Sekarang mata Julia menatap Andri dengan manja. Malam itu berakhir dengan penuh pelayanan spesial dari Julia.
__ADS_1
Sebelum matanya tepejam karena kelelahan melayani permainan Andri, Julia teringat cerita David. Julia tahu kalau Andri tidak memberitahu dia ikut kompetisi basket pasti karena ada wanita lain, wanita yang mau berkorban membelikan Andri sepatu basket mahal. Andri lupa kalau Julia dahulu juga orang kaya yang tahu mana barang KW dan mana barang ori. Tapi tekadnya sudah bulat untuk merebut cinta Andri dengan strategi dan cara yang berbeda. Ia sudah berikhtiar dan menyerahkan urusan ini kepada yang Maha Kuasa. Biarlah konflik yang akan terjadi adalah konflik antara Andri dan jiwanya, bukan konflik adu mulut antara mereka. Seandainya hasilnya ternyata pahit buatnya ia sudah siap menerima dengan ikhlas karena memang dari awal ini terjadi karena salahnya. Julia memandang Andri lalu memeluk Andri yang sudah terlelap dari belakang.
Andri yang ternyata belum terlelap menikmati dekapan Julia dari belakang tanpa bersuara, otaknya masih bertanya-tanya kenapa Julia yang jelas tahu ia bohongi bersikap biasa saja seolah sangat percaya Andri tak akan berpaling darinya. Tak ada istri yang seperti itu didunia yang normal. Andri merasa seperti anak kecil yang sudah ketahuan berbohong tapi masih tetap dipeluk ibunya.
"Apakah Julia sedang menyiapkan kejutan yang akan menyakitkan hatinya? Mungkinkah dia akan tiba-tiba menghilang membawa serta kedua anaknya? Apakah mungkin kedatangan David sudah mereka rencanakan untuk pergi menjauh darinya?" Ia yakin Julia bisa melakukkan itu karena Julia wanita yang kuat dan mandiri. Resah dan gelisahnya membuatnya tak bisa tidur sampai adzan shubuh datang.
Andri dan Citra sudah tiba di gedung basket milik klub yang mengundangnya datang, setelah melakukan registrasi Andri segera melakukan test. Ternyata cukup banyak juga yang ikut melakukan test kebanyakan mereka masih muda dan begitu bersemangat agar dapat terpilih menjadi bagian team. Citra mengambil kursi terdekat dengan lapangan menyaksikan berbagai macam test yang sedang dilakukan Andri.
Matahari sudah menghilang ketika test sudah selesai dan mereka berdua ada di sebuah cafe. Andri makan dengan lahap sementara Citra hanya memesan makanan ringan saja.
"Bagaimana hasil testnya, apakah sudah keluar?" Citra bertanya kepada Andri.
"Belum, pengumuman masuk atau tidaknya baru diumumkan minggu depan lewat email. Tapi kita tadi sudah dapat arahan kalau seandainya lulus akan ada test kedua, satu bulan penuh masuk training camp, dari sana baru akan diputuskan siapa yang layak masuk team."
"Entahlah, jadwal TC memang pas liburan semester, tapi bagaimana pekerjaanku? Selama training camp kita hanya boleh pulang seminggu sekali. Aku tak mungkin mengambil cuti sebulan lamanya, tak akan ada perusahaan yang mengizinkan kecuali perusahaan itu punya nenek moyangmu" Andri mnjawab sambil lalu seolah tak menjadi beban dipikirannya.
Citra tak tahu harus berkata atau memberi usul apapun. Andri jelas menolak ketika ditawari kerja diperusahaan ayahnya. Citra juga berpikir tak mungkin Andri berani spekulasi meninggalkan pekerjaannya untuk sesuatu yang belum pasti. Kebingungan Citra yang terlihat jelas diwajahnya tertangkap dimata Andri.
"Hahahaha... Tidak usah kau pikirkan Citra, waktunya masih lama, kita tak tahu apa yang akan terjadi sebelum masa itu datang." Wajah citra merona merah, ia teetangkap basah sedang memikirkan masa depan Andri. Padahal orangnya sendiri yang menjalaninya bersikap mengalir saja, seakan hidup tak ada beban.
"Tapi kuyakin kau pasti lolos, aku lihat kau berhasil disemua sesi testnya." Citra mencoba mengaburkan wajahnya supaya terlihat biasa.
"Wow, kau terlalu fokus menontonku,
__ADS_1
Hahahaha...kau tidak lihat tadi? begitu banyak yang punya skill dan kemampuan yang lebih hebat dariku. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin tadi, apapun hasilnya aku terima dengan lapang dada." Andri kembali melahap makanannya. Lalu ia bertanya kepada Citra.
"Kudengar kalian akan mengadakan pertunjukan teater lagi, apakah kali ini kau ikut bermain atau jadi sutradara saja?" Andri bertanya untuk mengalihkan pembicaraan mengenai dirinya.
"Aku ikut bermain, sekarang masih latihan-latihan dan persiapan yang lainnya. Kenapa kau tanya?, kau tak suka nonton teater kan? Kau kabur waktu itu!" Citra tertawa lepas, Andri ikut tertawa.
"Aku tidak kabur, aku ada keperluan mendadak saat itu, kau juga mengundangnya mendadak kan? jujur saja itu pengalaman pertamaku nonton teater, mungkin bukan tak suka, hanya tak terbiasa saja." Andri mencoba berkelit.
"Tapi kau hebat Citra, main teater, jadi sutradara, main basket, dan kuliahmu hampir selesai tanpa overtime."
"Hahaha.. Jadi sutradara juga dadakan, pihak kampus tak mau mengeluarkan biaya tambahan buat menggaji sutradara, akhirnya aku yang didorong-dorong sama teman-teman."
"Bagaimana dengan ide cerita, skenario, naskah dan dialognya?" Kali ini Andri bertanya lebih serius.
"Semua kita kerjakan bersama, itulah makanya pertunjukan selalu telat, terlalu banyak bercanda dan nongkrongnya." Citra tertawa lepas, Andri menelan ludahnya, tertawanya Citra membuat hatinya kembang kempis. Ingin rasanya ia membungkam tertawanya Citra seperti yang ia sering ia lakukan pada Julia yang juga memiliki tertawa yang menggoda.
"Setelah lulus kuliah apa rencanamu Citra?"
"Ayah sudah menyiapkanku menjadi penerus diperusahaannya, aku sudah mulai magang disana sejak setahun ini, tampaknya aku cukup nyaman dan menyukainya." Citra tersenyum tersipu.
"Pasti kau menyukainya, kau suka memerintah, tak mau diatur, suka memaksa orang, keinginanmu harus dituruti, kau memang pantas jadi boss." Andri tertawa meledek Citra.
"Sialan! Tak adakah hal baik yang bisa kau nilai dariku?" Citra melemparkan muka sebalnya kepada Andri tapi ikut tertawa.
__ADS_1