
Beberapa hari menjelang hari minggu hati Andri semakin cemas, banyak hal yang membuatnya menjadi khawatir. Begitu banyak hal-hal yang membuatnya takut akan keputusan yang telah ia ambil yang membuat keyakinannya menjadi goyah.
"Bagaimana kalau Citra bereaksi negatip? Apakah ia sanggup mengatasi masalah ini? Bagaimana bila selanjutnya Citra membencinya? Pergi kekampus pasti akan terasa berbeda bila Citra membencinya. Bagaimana kalau reaksi istrinya juga negatip? Apa yang akan terjadi dengan hubungan mereka? Lalu bagaimana dengan nasib anak-anaknya?" Semua pemikiran itu membuat kepala Andri seperti mau pecah. Andri juga sempat mempertimbangkan untuk membatalkan rencana pertemuan Citra dengan istrinya. Melepas Citra adalah sebuah kebodohan bagi laki-laki normal. Andri yakin separuh lelaki di kampusnya berani melakukan apa saja untuk mendapatkan cinta dan hatinya Citra, namun mempertahankan hubungannya akan menjadi bibit kehancuran masa depan keluarganya.
Dibenaknya Andri juga menimbang antara Citra dengan istrinya, Julia juga tak kalah cantik, ia ibu yang luar biasa hebat buat kedua anaknya, ia cerdas dan mandiri, dan anehnya akhir-akhir ini Julia selalu memberikan servise yang luar biasa buatnya, lebih hangat dan mesra, selama lebih dari dua bulan ini ia sudah mengabaikan Julia dan anak-anaknya, waktunya dihabiskan untuk jalan bersama Citra, mengingat hal itu membuat Andri semakin diliputi rasa bersalah. Andri juga teringat salah satu pesan ayahnya ketika ia meminta izin menikah di usia muda.
"Menikah bukan soal muda atau tua! menikah itu soal amanah. Allah akan menitipkan kamu seorang istri dan anak-anak yang harus kamu bimbing terus dijalan yang lurus sampai akhir hayatmu, amanah itu seperti engkau sedang memegang bola api, tidak boleh kamu lepas walaupun panas, kamu hanya harus mencari cara agar dia tetap ada ditanganmu!" Perkataan ayahnya begitu terngiang di telinga Andri beberapa hari terakhir ini. Andri membulatkan tekadnya untuk terus menjalani rencananya.
"Yang akan terjadi biarlah terjadi," Andri mengganguk pasrah, ia sudah siap menanggung resiko akibat perbuatannya.
__ADS_1
Sementara di sisi lain Citra semakin ceria menjalani hidupnya, senyumnya selalu merekah sepanjang ia menjalani hari-harinya menjelang pertemuan. Ia sudah memikirkan pakaian apa yang pantas untuk bertemu dengan orang tua Andri. Citra awalnya bingung kenapa Andri belum menyatakan cinta kepada dirinya tapi malah mengajaknya langsung bertemu dengan kedua orangtuanya. Citra berpikir mungkin karena Andri sudah masuk usia matang maka ia tak mau berlama-lama pacaran, ingin langsung serius, namun karena hormatnya kepada orangtua, Andri ingin calonnya direstui dulu oleh orang tuanya.
Citra memang merasa sangat nyaman bersama Andri, Andri teman yang enak diajak ngobrol, dia pendengar yang baik, punya sense of humor yang tinggi, dan tidak baperan, tentu saja ia tampan dan atletis, membayangkan Sosok Andri tak sadar membuat ia senyum-senyum senang. Citra begitu yakin bahwa Andri siap menjalani hubungan yang serius dengannya sehingga ia tak ragu bercerita perihal Andri kepada orangtuanya. Orang tua Citra tentu saja sangat gembira melihat putri kesayangannya berbahagia dan menemukan lelaki yang tepat buat menjadi pasangannya. Citra dan ibunya mempersiapkan momen hari ini dengan membuat kue untuk diberikan kepada keluarga Andri.
Hari minggu jam sepuluh pagi setelah jam tugas jaga malamnya berakhir Andri sudah berada didepan rumah Citra, rumah yang sangat besar dan megah. Keluarga Citra memang bukan keluarga kaleng-kaleng, begitulah yang Andri dengar dari teman-temannya, tapi itu tak membuat Citra menjadi sombong apalagi menjaga jarak dengan teman-temannya. Citra juga tak mempersoalkan dirinya yang hanya bekerja sebagai sekurity. Semakin ia memandang rumah tersebut dan menyadari bagaimana karakter dan pribadi orang-orang yang luar biasa yang tinggal didalamnya, semakin ia menyadari kalau keputusannya adalah yang terbaik buat Citra. Citra pantas mendapat lelaki yang bisa memberikan hatinya secara utuh, tak mendua seperti dirinya. Andri semakin memantapkan tekadnya untuk menyelesaikan masalahnya.
Setelah menunggu beberapa saat didepan gerbang akhirnya Citra keluar, dari gerbang rumahnya. Aroma yang keluar dari tubuhnya lebih dulu sampai ke hidung Andri dari pada pemiliknya, dari jauh pemiliknya menebarkan senyum yang sangat mempesona buat Andri. Citra memakai gaun yang simpel namun sangat pas di tubuhnya, rambutnya ditata dengan rapi. Ia benar-benar mempersiapkan pertemuan ini, ia tak tahu kalau Andri bukan ingin mempertemukan Citra dengan orangtuanya. Pagi yang akan dirasa indah buat Citra akan dirusak olehnya.
"Oh, ok naiklah," Andri setengah hatinya berharap dia jadi bajingan saja, Citra pasti akan dia bawa kesuatu tempat dan dia terkam disana, tak perlu memikirkan nasib anak istrinya kelak. Ia menghela nafas dengan berat. Motor sudah melaju, semakin dekat tujuan semakin sesak dada Andri.
__ADS_1
Perjalanan naik motor lebih dari setengah jam, selama itu Andri tidak banyak bicara, pikirannya terbagi antara fokus ke jalan dan mencari cara bagaimana ia harus bicara kepada Citra kalau dia bukan akan bertemu orangtuanya. Citra yang tidak menyadari apa yang akan terjadi terus saja tersenyum bahagia, tangannya memeluk erat pinggang Andri, Andri tak tahu harus berbuat apa, ia hanya berharap saat nanti tiba dirumah, istrinya tak ada didepan gerbang dan harus menyaksikan suaminya dipeluk dengan mesra oleh wanita lain.
Akhirnya sampailah mereka di depan gerbang rumah Andri. Mereka turun dan Andri memutuskan untuk tidak memberitahu apa-apa kepada Citra, yang akan terjadi terjadilah.
Andri membuka pagar rumahnya, motornya sengaja ia parkir depan gerbang rumahnya, Citra mengikutinya dari belakang, Andri mengetuk pintu dan memberi salam, terdengar jawaban salam dari dalam rumah dan pintu terbuka.
'Ayaaaah..!" Dua suara berteriak riang bersamaan dan langsung menghambur kepelukannya Andri. Andri menyambut antusias kedua anaknya, dipeluknya dan diberikan keduanya ciuman dikening mereka.
"A..A YAH?" Suara tercekat hampir lirih keluar dari mulut Citra, ia memandang Andri dan kedua anaknya tak percaya. Tenggorokannya terasa kering, jantungnya berdegub cepat, Kakinya lemas seakan ia berdiri terpatri disana, ia memutuskan berbalik ingin pergi, tapi sebelum hal itu terjadi tangannya sudah disambar dengan lembut oleh Andri.
__ADS_1
"Kamu belum berkenalan dengan istriku, ayolah, aku ingin kamu jadi tamu istimewa kami hari ini," Andri berkata dengan lembut, matanya memandang Citra yang masih terperangah tak tahu harus berbuat apa. Citra hanya bisa menuruti langkah kakinya kedalam rumah Andri karena Andri menuntunnya dengan lembut. Sampai didalam rumah yang kecil dan sederhana, ia menatap wanita cantik berhijab menyambutnya dengan ramah.