Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Kemenamgan Perdana


__ADS_3

Pertandingan pembuka turnamen akan segera dimulai, team kampus Andri sedang bersiap di pinggir lapangan bermain dengan salah satu kampus ternama di Jakarta. Rico datang dipanggil masuk team, tapi coach Joko tidak memainkannya. Ketika Rico datang Andri menyambutnya dengan menjulurkan tangan tapi Rico mengabaikannya. Begitu juga uluran tangan Kamal dan teman-teman lainnya. Para suporter berteriak gemuruh menyemangati teamnya masing-masing. Banyak sekali dari kampus Andri yang hadir. Ini sebuah kejutan kata Citra, karena tahun-tahun sebelumnya animo teman-teman kampus tidak sebesar ini. Tahun ini tampaknya mereka melihat harapan yang lebih baik.


"Ini efek kehadiranmu Andri, aku mendengar mereka di kampus ramai sekali ingin lihat aksimu." Kamal berbicara disamping Andri menunjuk rombongan suporter dan melambai kearah mereka.


"Semoga aku tak kencing di celana nanti." Andri tertawa bersama Kamal, ia sudah memakai sepatu basket baru hadiah dari Citra. Tentu saja kaki Andri mengenali mana sepatu Original dan yang imitasi, seperti yang selama ini dia pakai.


Di awal pertandingan pertarungan keduanya masih berjalan imbamg, selisih poin masih tipis dan saling mengejar. Namun pertengahan babak pertama team Andri mulai kewalahan. Andri tak lagi bisa bergerak bebas setelah musuh tahu kehebatannya. Dia bahkan mendapat pengawalan double team. Begitu juga Kamal yang biasanya mahir di area low pos, kali ini sulit bergerak ketika ia mendapat bola. Bola yang sudah dipegang Kamal harus kembali ke Andri atau malah terlepas direbut lawan. Untunglah tembakan-tembakan Andri dari luar garis busur jarang gagal. Team lawan juga sangat cepat melakukan transisi bertahan dan menyerang, mereka punya tiga orang penembak andal yang membuat pertahanan Andri dan kawa-kawan kocar-kacir. Babak pertama berakhir dengan selisih 10 poin buat keunggulan team lawan.


Coach Joko mengumpulkan pemainnya diruang ganti pemain, memberikan semangat dan mengingatkan para pemain untuk konsentrasi pada game plan yang sudah disusun. Serelah selesai, Andri menghampiri coach Joko mengajaknya bicara diluar.


"Coach, mengapa kau tak mainkan Rico?"


"Seperti kau bilang, dia harus belajar sopan santun. Aku percaya kau mampu memimpin team ini menang."


"Coach, kita butuh kemampuannya Rico, harus ada orang ketiga yang masuk ketika aku dan Kamal dicegat. Rico pandai, aku sudah melihatnya."


"Kau pikir aku tak tahu? Aku sudah memikirkannya sepanjang babak pertama tadi, tapi olahraga bukan cuma soal menang kalah, ini soal sportivitas dan attitude yang baik. biarlah dia belajar dari tepi lapangan"


"Bagaimana kalau aku bicara dengannya, dia bermasalah hanya denganku, tidak dengan yamg lain." Coach Joko diam sejenak dan menimbang penawaran Andri.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kau bilang dia siap, aku akan mainkan., kutunggu kalian dipinggir lapangan." Coach Joko kembali memanggil pemainnya untuk kembali ke lapangan, meninggalkan Rico sendirian di kamar ganti pemain. Andri masuk menghampiri Rico yang sedang duduk termenung dengan tatapan kosong.


"Bagaimana tanganmu Co, masih sakit? Aku meminta maaf telah memiting tanganmu kemarin." Rico menoleh menatap Andri kemudian kembali menundukan badannya sampai wajahnya menghadap lantai.. Andri mengambil kursi dan duduk berhadapan dengan Rico.


"Kau lihat permainan kita tadi? Team ini butuh keahlianmu Co, kalau kau mau kampus kita menang." Kembali Rico mengangkat kepalanya menatap Andri.


"Tidak! Kau tidak butuh aku. Kau bermain hebat tadi, kau memimpin team ini dengan baik. Kau tak menunjukkan gestur kecewa melihat temanmu salah atau gagal. Tidak seperti aku, entah kenapa setiap kali ada kejuaraan aku tak bisa mengendalikan sifat egoisku. Itulah kenapa selama ini aku gagal." Andri akhirnya mengerti, beban mental yang seperti ini tak sanggup ditanggung oleh Rico selama ini.


"Nah sekarang aku memohon bantuanmu untuk berbagi beban ini, aku bukan Kobe Bryant, aku hanya pemain tarkam, hanya mengandalkan insting. Kau yang lebih terlatih!"


"Apa kau benar-benar membutuhkanku? Bagaimana dengan yang lain? Aku sangat malu menghadapi mereka karena sikapku selama ini."


"Aku sama egoisnya dengan kau, tapi aku sadar kita tak akan menang tanpa kau, begitu juga pendapat coach dan yang lain." Suasana menjadi hening, peperangan terjadi dalam kepala dan hati Rico.


"Aku tak habis mengerti, Kau masih mau membujukku main bareng denganmu setelah aku mencoba melalakukan kekerasan padamu? Yah, walaupun pada akhirnya aku bertiga yang sakit. Orang normal tak akan melakukan itu Andri." mendengar suara Rico Andri berbalik menghadapi Rico yang ternyata sudah berdiri.


"Seperti kau bilang, aku memang tak normal, kau juga tak berhasil melukaiku. Untuk apa aku memusuhimu? Jaman sudah berubah Co, kita butuh relasi, bukan barisan sakit hati." Andri tertawa, begitu juga Rico.


"Tanganku baik-baik saja, aku siap bermain kalau memang kalian menerimaku kembali." Andri tersenyum lebar ia memberi kode kepada Rico agar mengikutinya. Andri lebih dahulu sampai ke tepi lapangan. Babak kedua telah mulai, mereka sekarang tertinggal 15 poin.

__ADS_1


"Dia siap main coach" Andri berbisik kepada coach Joko yang sedang berdiri berteriak mengingatkan pemainnya. Coach Joko berpaling dilihatnya Rico dibelakangnya mencoba tersenyum padanya.


"Aku mengandalkanmu Rico! Enjoy the game! Ok?" Coach Joko memegang bahu Rico dengan erat, Rico mengangguk bersemangat. Coach Joko meminta time out kepada wasit untuk mengumpulkan oemainnya. Ia berbisik kepada Andri.


"Kau yang pimpin brifingnya!" Andri mengangguk. Semua tim berkumpul dalam lingkaran kecil saling berangkulan bahu. termasuk Rico.


"Guys kita butuh menang, kita butuh Rico, dia siap main kalau kalian menerimanya kembali dengan tulus!" Andri memberi kode kepada Kamal. Kamal yang memahami kode dari Andri segera memeluk Rico erat.


"Welcome Back Kapten!" Kamal memberi tepukan keras kebahu Rico.dan Rico mendapatkan pelukan hangat dari semua temannya.


"Oke kapten!' apa yang akan kita lakukan?" Andri bertanya kepada Rico, Rico yang tak menyangka dipanggil kapten oleh Andri menjadi bingung ketika semua mata memandangnya. Dia tersenyum kepada Andri.


"Kalau kau tanya pendapatku, siapa yang tidak setuju boleh angkat tangan.Aku melihat mereka lemah di areanya Kamal. Mari kita buat Kamal besok dikejar- kejar gadis satu kampus!" Ternyata semua setuju dengan Rico, kecuali Kamal yang geleng-geleng kepala tersenyum lebar kepada Rico.


"Oke! Kita semua akan bergerak membuka ruang buat Kamal. Kamal kau jangan lupa peraturan tiga detiknya, Nanda! Bersiaplah rebound dan cari Bayu diruang terbuka. Bayu! Aku mengandalkan shooting-shooting ajaibmu. Santai saja, tak perlu takut gagal, gagal ulangi saja lagi oke?"


"SIAP BOSS!" Semua menjawab dengan teriak semangat arahan Andri. Mereka kembali memasuki lapangan.


"Tugasmu bergerak mencari ruang kosong, bola dariku akan mencarimu, sikat kalau ada kesempatan" Andri berbisik ditelinga Rico sambil berjalan. Rico memberikan dua jempolnya pada Andri.

__ADS_1


Masuknya Rico membuat permainan berubah arah. Rico dan Andri bergerak tak kenal lelah mencari ruang kosong, menembak atau memberikan assis buat temannya.. Team lawan sekarang kebingungan siapa yang harus mereka kawal. Semuanya bermain dengan hatinya seakan tak ada lagi hari esok. Bintang lapangan malam itu adalah Rico dan Kamal. Tak ada poin yang gagal ketika bola ditangan mereka. Kamal seperti kesetanan setiap mendapat bola matang di area low pos. Saat bertahan juga tak mampu dilewati oleh lawannya. Rico bergerak kesana kemari menusuk menghujani ring lawan dengan lay upnya. Gemuruh suporter mulai berganti nama setelah tadinya nama Andri yang bergema, sekarang berubah menjadi Nama Kamal dan Rico. Bayu dan Nanda sangat bersemangat membantu mereka.


Para shoter mereka tak lagi bebas menembak karena Andri dan kawan-kawan tak memberikan mereka ruang. Pada akhirnya kejutan terjadi, mereka berhasil memenangkan pertandingan dan maju kebabak selanjutnya.


__ADS_2