Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Pesta Kemenangan


__ADS_3

Esok harinya Andri tiba dikampus, tidak seperti biasanya kampus hari ini berbeda dengan hari lainnya. Euforia kemenangan kemarin begitu terasa. Ia baru saja memarkirkan motornya langsung disambut ucapan selamat dari teman-temannya. Begitu juga di beberapa sudut, hampir semua anggota teamnya sedang berkumpul bersuka cita bersama rekan-rekannya. Andri mendapat pesan dari Citra untuk menemuinya dikantin. Ia langsung menuju kesana.


Perjalanan ke kantin juga tak berjalan mulus seperti biasanya, semua orang hampir seperti mengenal Andri. Andri membalas setiap sapaan dan permintaan toss dari mereka yang bahkan tak pernah dikenal sebelumnya. Di depan kantin Kamal dan Rico sedang sibuk melayani para gadis yang sedang mengeroyok mereka.


"Kau terlambat!" Tiba-tiba Citra sudah berdiri sejajar dengan Andri dan dia langsung menggandeng tangan Andri. Andriyang kaget dengan gerakan Citra tak bisa menolak. Para gadis yang berkerumun melihat Andri digandeng Citra tak berani mendekat, mereka cuma menyapa Andri yang dijawab dengan lambaian tangan dan senyumnya. Citra dan Andri masih bergandengan ketika sampai dimeja kantin, disana Nanda dan Bayu sudah menunggu.


"Kau diselamatkan Citra Ndri! Lihat Kamal dan Rico! Mereka tak bisa bergerak!" Nanda tertawa.


"Oh itu tadi maksudmu? Kamu tak rela kalau aku berbagi dengan mereka?' Andri tertawa terbahak-bahak, begitu juga Nanda dan Bayu.


"Enak saja! Kebetulan saja aku dari toilet pas bertemu kau!" Muka Citra bersemu merah, dia lupa kalau dia yang menggandeng Andri duluan.


"Gila! Animonya luar biasa, padahal baru kemenangan perdana, tapi bukan itu masalahnya, masalahnya adalah mereka yakin dengan team kita Ndri!" Bayu berkata. Tak lama kemudian Shinta dan kamal menghampiri mereka sambil bergandengan tangan. Andri melihat aura wajah yang berbeda dikeduanya.


"Kalian jadian? Sejak kapan?" Citra Bayu dan Nanda langsung memandang mereka berdua dengan wajah keheranan. Shinta dan Kamal langsung merona, mereka mengambil kursi dan duduk bergabung bersama mereka.


"Semalam sehabis pertandingan Kamal menembakku, untung saja aku langsung mengiyakan, kalau tidak aku pasti keduluan gadis-gadis itu, ampun dah mereka! Sudah putus urat malunya!" Shinta geleng-geleng kepala, Kamal tertawa.


"Selamat buat kalian, tapi aku harus mengingatkanmu Kamal, Shinta gampang bosan, dia mudah terpikat cowok ganteng." Ledekan Citra membuat mukanya menerima gulungan tissu dari tangan Shinta.


"Aku bersumpah padamu Citra, dia tak akan bosan padaku!" Kamal tertawa. Shinta mengalihkan pembicaraan agar dia tak lagi jadi pusat bulyan.


"Aku mau berterima kasih padamu Andri, kau menerima Rico bermain setelah apa yang dia lakukan padamu. Kau tahu, semalam kami di mobil Rico, kulihat dia membeli sepatu basket baru, tapi ukurannya lebih kecil dari miliknya. Ketika kutanya buat siapa, ia tak bisa menjawab, malah kelihatan gugup."


"Maksudnya?" Andri tak mengerti arah pembicaraan Shinta.

__ADS_1


"Maksud Shinta, mungkin Rico dari awal ingin minta maaf padamu, ia membelikanmu sepatu baru sebagai permintaan maafnya. Tapi dia tak jadi melakukannya, entah karena kamu sudah pakai sepatu baru atau dia yang tak punya keberanian untuk meminta maaf duluan. Kau sangat bijaksana, menghampirinya dan memafkannya lebih dahulu."


"Tak mudah memang meminta maaf, tapi lebih sulit lagi memaafkan, butuh jiwa yang besar untuk bisa melakukan itu, makanya kami percaya kau Andri!" Kamal menyambung kalimatnya.


"Kau pegangi Aku, aku sebentar lagi terbang!" Andri mengepakkan tangannya dan tertawa.


"Sudahlah, tak usah dibesarkan, tapi kau boleh bilang sama Rico, aku masih menerima kalau ia mau menberikan sepatunya., hahahaha."


" Nanti akan ada yang cemburu kalau sepatunya bersaing dengan sepatu Rico." Shinta melirik Citra yang pura-pura tak mendengar ledekannya. Semua tertawa mlihat gaya mereka berdua.


Rico dan beberapa teman lainnya bergabung bersama, membicarakan persiapan pertandingan besok dan hal-hal lainnya. Sampai akhirnya satu persatu mereka bubar kembali kekelas masing-masing.


Pertandingan kedua juga berhasil dimenangkan oleh team kampus Andri. Permainan mereka senakin solid, semakin percaya diri dan semakin banyak suporter yang hadir. Bahkan dipertandingan ketiga pihak kampus mengakomodir transportasi buat para mahasiswa yang ingin ikut menonton langsung di sana.


Akhirnya team basket kampus Andri terhenti disemifinal, mereka masih berhasil mendapat medali perunggu. Satu pencapaian yang sangat layak mendapat apresiasi karena


Kemenangan ini memberikan kebahagiaan kepada Andri, namun disisi lain dia terus berbohong pada Julia. Andri tak memberi informasi kepada Julia kalau ia mengambil cuti selama seminggu, akibatnya waktu kosong yang harusnya jadwal ia bekerja digunakan untuk berkumpul bersama teman-temannya, atau yang menyenangkan lagi buatnya adalah selalu ada Citra disana. Keberadaan Citra membuat Andri begitu bersemangat menjalani turnamen.


Yang paling sulit berbohong di jaman seperti ini adalah akses informasi gampang didapat. Istrinya sebenarnya tinggal menghubungi pak Darman atau Irfan bertanya apakah benar suaminya ada di lokasi kerja. Tentu saja Andri tak berani bilang pada rekan kerjanya kalau ia berbohong kepada istrinya. Tapi anehnya baik Irfan dan pak Darman tak pernah dapat telepon dari istrinya. Dan yang lebih aneh lagi ketika waktunya pulang Julia hanya kirim pesan untuk hati-hati dijalan atau bertanya mau makan apa dan sebagainya, suatu hal yang tak pernah dilakukan Julia sebelumnya. Julia justru lebih cair, lebih mesra dan lebih perhatian dari sebelumnya.


"Huss! Jangan bengong! Tuh Rektor sudah datang!" Suara Citra membangunkan Andri dari lamunannya, team basket mereka sekarang sedang didalam ruangan dosen unrtuk menerima penghargaan dari rektor kampus atas prestasi mereka. Setelah seremoni singkat dan beberapa sambutan mereka akhirnya keluar dengan membawa hadiah dari rektor. Semua anggota team mendapat beasiswa satu semester.


Mereka melanjutkan pesta di sebuah rumah makan yang juga dihadiri oleh anggoota team basket putri dan coach Joko. Suasana gembira dan penuh canda tawa mewarnai acara makan bersama ketika kedatangan dua orang laki-laki berpakaian rapi meminta izin bergabung dengan mereka. Maksud dan tujuannya hendak bertemu Andri. Andri meminta izin berpisah sementara dengan teman-temannya, kemudian mencari meja yang kosong untuk mereka bertiga.


"Kami menyaksikan pemainanmu dari awal, Kau bermain luar biasa! Kau bisa berhasil menjadi pemain basket profesional kalau bergabung dengan kami Andri." Laki-laki tinggi besar berkulit putih bermata sipit yang mengenalkan dirinya bernama Hendrik menyodorkan kartu namanya ke Andri. Andri melihat kartu nama dengan logo sebuah klub basket.

__ADS_1


"Aku hanya pemain tarkam, aku terlihat bagus karena teman-temanku bermain bagus. Rasanya aku belum selevel itu untuk bermain diliga profesional." Andri mencoba melepaskan keterkejutannya.


"Aku suka pemain yang rendah hati! Kau punya bakat alami, tinggal dipoles sedikit akan menjadi lebih hebat lagi. Tapi yang paling penting kau punya jiwa pemimpin dan mental yang baik, tak mudah menyerah dan putus asa. Itu modal utamanya Andri."


"Bagaimana yang lain? Rico, kamal?"


"Mereka bagus, tapi aku tak yakin mereka bisa bagus kalau bukan kau yang memimpin mereka. Begini saja, kalau kau berminat kami merunggmu untuk ikut seleksi. Seleksi awal akan dilaksanakan hari minggu ini. Kau bisa datang pagi ke alamat yang ada dikartu namaku, aku berharap kau mempertimbangkan dengan serius penawaran kami Andri." Andri menganguk, mereka bertukar nomer ponsel dan berjabat tangan. Mereka mengantar Andri kembali bergabung bersama teman-temannya sekaligus berpamitan.


"Biar kutebak, mereka pencari bakat team IBL kan? Rico bertanya dengan gembira. Andri menyodorkam kartu nama yang tadi diberikan Hendrik. Rico mengambil dan membacanya.


"Wow! Ini bukan klub kacangan, mereka selalu jadi penantang serius juara!" Rico berteriak, kartu nama sekarang berpindah dari tangan yamg satu ketangan yang lain. Berakhir ditangan Citra.


"Ini luar biasa! Sudah kubilang kau hebat, kau harus gunakan kesempatan langka ini Andri. Mari kita bersulang buat Andri!" Kamal mengangkat gelasnya dan semua mengikutinya serempak menyebut nama Andri.


Pesta jamuan makan telah selesai satu persatu meningalkan meja kembali ke urusan mereka masing-masing. Andri yang harusnya bertugas jaga dikantor tak tahu harus kemana sehingga dia memutuskan tetap bertahan disana sampai akhir. Pada akhirnya hanya tinggal dia berdua dengan Citra yang tersisa dimeja. Suasana restoran juga semakin sepi.


"Kau akan datang seleksi kesana?"


"Entahlah, aku masih bimbang. Jadi pemain basket di Indonesia belum biaa jadi jaminan hidup. Kau lihat sendri. Tiap tahun jadwal kompetisi tak pernah sama, team yang iikut juga berubah-ubah, tergantung apakah mereka bisa dapat sponsornya. Pemerintah juga masih tak komitmen mengembangkan olahraga. Pemain hanya dikontrak satu musim. Tapi pastinya tuntutan untuk komitmen pada klub besar. Bagaimana kuliah dan karirku? aku fokus kuliah saja mungkin baru bisa lulus sampai umur 30. Bagaimana kalau aku tak fokus?" Citra manggut-manggut merndengar penuturan Andri. Kemasyhuran dan popularitas bukan hal yang dicari Andri, dia berfikir panjang untuk masa depannya.


"Tapi bukankah banyak juga mantan pemain profesional yang hidupnya makmur, iya kan?"


"Kau harus lebih detail melihatnya, mereka makmur karena memang dari golongan orang berada. Kebanyakan pemain basket itu dari golongan orang berada. Ikut klub basket dan atributnya bukan sedikit biayanya, kau lihat sendiri berapa harga sepatu yang kau berikan untukku? Sejak aku mengenal basket aku hanya sanggup mengimpikannya."


"Benar juga! tapi kalau aku boleh kasih saran, ikut saja dulu seleksi awalnya, lalu lihat bagaimana sistemnya bekerja, kalau memang tak cocok dengan jalurmu kau tinggal menolak kontraknya, betul kan?"

__ADS_1


"Betul juga, kecuali ada kontrak mengikat saat seleksi awal. Aku bisa langsung balik badan." Andri tertawa.


__ADS_2