Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Kemenangan Andri


__ADS_3

Andri sedang duduk melamun di pos tempat dia bekerja, semalam baru saja ia pergi makan berdua dengan Citra, entah sudah berapa kali mereka jalan berdua dalam tempo lebih dari dua bulan terakhir ini, ke bioskop, restoran, ke mall, nonton theater dan sebagainya. Hari -hari bersama dengan Citra begitu membahagiakan Andri, namun disatu sisi dia juga merasa cemas dan bersalah karena sudah membohongi istrinya selama ini. hampir sebulan ini nyaris dia tak pernah libur, hari-hari liburnya dipakai buat bersama Citra.


Sementara usahanya selama ini untuk meraih cintanya Julia yang sejak dahulu ia perjuangkan sudah berbuah manis, Julia yang sekarang tak ragu menyatakan cintanya, melayaninya dengan sepenuh hati dan cinta. Memberikannya kebahagiaan ketika ia sedang dirumah. Julia benar-benar berubah dari istri yang tak pernah menganggap keberadaan Andri menjadi istri yang selalu ia impikan sosoknya, dan sialnya itu terjadi saat ia sudah jatuh cinta pada Citra.


Yang lebih membingungkan Andri adalah sudah beberapa kali Andri tertangkap basah berbohong kepada Julia, tetapi Julia tak pernah mempermasalahkannya, hanya memintanya untuk lebih jujur dan terbuka padanya, inilah yang justru membuat Andri semakin merasa bersalah ketika membohongi Julia demi bertemu Citra.


"Berapa lama lagi permainan ini akan kamu mainkan Dri?" Tiba-tiba suara Pak Darman terdengar dari belakang, Andri tersentak kaget namun dia berusaha tenang.


"Permainan apa maksudnya Pak?" Andri pura-pura besikap bodoh padahal dia sudah tahu arah pembicaraan pak Darman.


"Kamu jangan pura- pura bodoh, saya tahu kamu sering tuker shif sama Irfan, kamu beruntung Irfan mau menutupi aibmu dengan berbohong kepada istrimu "


Andri terkulai lemas, ia hanya terdiam menatap Pak Darman. Irfan memang teman sejati, ia mau saja membela Andri yang selalu beralasan membackup jadwal Irfan dengn alasan Irfan harus menjaga ibunya dirumah sakit. Irfan bahkan pernah ditelpon Julia mengecek kebenarannya. Tentu saja pak Darman tahu karena dialah komandan sekuriti di sini.


"Istrimu orang baik, dan saya yakin wanita yang satunya juga orang baik, karena tidak mungkin kamu jatuh hati sama wanita nakal, kamu akan merusak keduanya kalau permainan ini terus kamu lanjutkan, semakin lama akan semakin sulit untuk kamu keluar, akhirnya.. BUUUM! "


"Kau harus menentukan mana yang akan kau pilih Andri, Aku sudah tak sanggup lagi berbohong kepada istrimu." Irfan menyambung perkataan Pak Darman. Andri semakin dibuat terjepit posisinya.


"Saya memang tak berhak mencampuri urusan pribadi kamu Ndri " Pak Darman melanjutkan dengan tekanan suara yang seakan menghimpit dada Andri dengan batu.

__ADS_1


"Atau bagaimana kau cari cara agar kau dapat keduanya Ndri, yang pertama ikhlas dimadu yang kedua ikhlas menerima jadi istri kedua." Irfan tergelak, kali ini Andri tak menjawab gurauan Irfan karena kepalanya sudah mau pecah, namun Irfan mendapat pelototan tajam dari pak Darman yang membuat tawanya berhenti.


"Kamu laki-laki dewasa pasti sudah tahu mana yang terbaik buat hidupmu, jangan sampai pada akhirnya semua yang kamu perjuangkan dengan susah payah hancur karena kesenangan semu." Kalimat terakhir Pak Darman begitu menghantam kepala Andri layaknya batu kena godam eskavator. Pak Darman meneguk kopinya lalu menepuk pundak Andri sambil tersenyum. Ia pergi keluar bersama Irfan yang sudah selesai dari tugas jaganya meninggalkan Andri sendirian, Hatinya semakin gundah, Andri meneguk kopinya, bahkan kopi sudah sangat hambar rasanya.


Malam selanjutnya Andri dan Citra bertemu kembali di sebuah mall. Seperti biasa sejak mereka mulai jalan berdua Citra tak lagi memakai pakaian sekenanya. Citra selalu berpakaian anggun yang menampilkan sisi feminim yang membuat kecantikannya sangat mempesona. Mereka berjalan bersisian saling menggengam tangan sambil melihat lihat barang- barang yang akan di beli Citra. Andri melihat wajah Citra begitu bahagia, Citra terlihat sangat nyaman bersama Andri, begitupun sebaliknya, tinggal masalah waktu saja apakah dia atau Citra yang akan memulai duluan.


Andri teringat ucapan Pak Darman tadi siang, pak Darman benar, semua ini harus diakhiri, Citra akan hancur kalau ini terus berlanjut. Inilah saatnya sebelum ada yang menyatakan suka, artinya posisi sekarang ini status mereka hanyalah teman saja. Sambil berjalan Andri berdoa supaya keinginannya untuk mengakhiri hubungannya tidak pudar oleh senyum bahagia Citra. Ekspresi wajah Andri yang aneh terbaca oleh Citra.


"Kamu kenapa Dri? " Koq mukamu kaya nahan berak gitu?" Citra memegang tangan Andri, menatapnya manja, hati Andri seperti lepas dari tempatnya.


"Aku dengar kau akan sidang skripsi sebentar lagi, apakah benar?" Andri mencoba memulai pembicaraannya.




"Aku khawatir jalan-jalan seperti ini mengganggu aktivitasmu,"


"Tidak, kecuali kau yang sebenarnya keberatan menemaniku." Citra menatap kepada Andri dengan tatapan manja, Andri tak kuasa mengelak.

__ADS_1


"Tidak! Aku tak keberatan, sungguh! Aku hanya tak mau keberadaanku mengganggu konsentrasimu, belum lagi kau harus mempersiapkan pertunjukan teater sebentar lagi." Kegugupan Andri begitu terbaca oleh Citra.


"Jangan khawatir,! Aku bisa mengatur waktuku, tapi kulihat hari ini kau aneh sekali Ndri, ada apa denganmu?"


"Ah Tidak tidak, tidak kenapa-kenapa, Aku tadi sedang nimbang -nimbang."


"Nimbang nimbang apa?"


"Aku tadi meninbang-nimbang apakah mungkin kamu mau aku ajak bertemu dengan keluargaku hari minggu besok?" Suara Andri semakin kacau, ia berharap suaranya cukup jelas didengar Citra, tubuhnya seakan tidak memiliki tulang lagi. Citra seperti tak percaya dengan pendengarannya, ini diluar ekspektasinya.


"Bertemu Ibu bapakmu? bukankah mereka ada dikampung?" Citra bertanya sambil terus memegang tangan Andri, suaranya penuh dengan kegembiraan.


"Iya, mereka akan datang kerumahku besok, aku mau perkenalkan kamu kepada mereka." Andri semakin yakin tulang-tulang tubuhnya sudah rontok semua . Andri memang berbohong kepada Citra selama ini ia bekerja untuk membiayai hidup kedua orangtua dan adik-adiknya.


"Tentu saja aku akan senang sekali bertemu mereka, tadinya aku akan mengajakmu kerumah karena mamah ingin berkenalan denganmu. Tapi itu bisa kita atur lagi nanti." Kegembiraan Citra tak lagi ia tutup-tutupi, dan benar apa yang ditakutkan Andri, cuma masalah waktu sebelum dia atau Citra yang menyatakan duluan, dia sudah merencanakan mempertemukannya dengan mamahnya, astaga.


"Kau bisa jemput aku hari minggu? Atau aku datang sendiri?"


"Tentu saja aku akan jemput kamu, kau tunggu saja dirumah."

__ADS_1


"Oke!" Suara Citra semakin ceria namun kali ini ia merangkul tangan Andri seakan enggan dilepas. Kaki Andri semakin berat melangkah. Jalan-jalan di mall kali ini terasa seperti mendaki gunung Himalaya. Nafas Andri menjadi sesak bukan karena kecapaian atau kehabisan oksigen. Waktu seakan lambat sekali berputar, sudah berabad-abad rasanya mengelilingi mall, tak juga usai.


__ADS_2