Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Kegelisahan Andri dan Citra


__ADS_3

Malam sudah sangat larut, Citra sedang tergolek di ranjangnya sambil memeluk boneka panda ukuran jumbo, namun matanya tidak bisa terpejam, sosok Andri masih saja terbayang dalam pikirannya.


"Aneh sekali, belum pernah ada sosok laki-laki di dunia ini yang bikin gue jadi begini" Citra membatin. Perawakannya yang tinggi dan berbadan tegap, wajahnya yang ganteng dan penuh misteri justru membuat hati Citra seperti nasi goreng sedang diaduk-aduk. Apalagi kalu melihatnya sedang bermain basket, hati Citra langsung meleleh, aura kepemimpinannya begitu terasa, emosinya stabil, dan ternyata Andri begitu matang dalam setiap langkah dan geraknya.


"Sial ! Mana gue besok ada jadwal kuliah pagi, jam segini masih juga susah tidur!" Citra melempar boneka pandanya secara asal, lalu dia beranjak dari ranjangnya menuju dapur, memikirkan Andri membuatnya kehausan.


"Belum tidur Citra? Citra terlonjak kaget ketika ada suara menyapanya.


"Astaga! Mama, bikin kaget saja!" Lagi ngapain didapur?" Citra yang hendak membuka kulkas berbalik menghampiri mamanya yang sedang membuat jus jeruk.


"Idih! Ditanya malah nanya balik. panas sekali malam ini, aku kehausan. Kau pasti tak bisa tidur karena cowok ya? Kapan kau akan kenalin ke Mama?" Mamanya citra mulai menggoda, Citra bukannya mengambil air sendiri malah minum air jeruk dari gelas mamanya.


"Mama apaan sih?" Muka Citra merona.


"Kamu tak bisa bohongi Mama Cantik! Aku lihat kamu sebulan terakhir ini begitu berbeda, bahagia, berseri seri, suka senyum-senyum sendiri. Apakah Cowok itu lebih ganteng dari Rico?"


"Rico?" Citra membalikkan jempolnya kebawah sambil mencibir, mamanya tertawa.


"Bawalah kemari, biar Mama mau lihat cowok seperti apa yang membuat anakku begitu bahagia." Ia membelai rambut Citra.


"Entahlah Ma, dia sangat menyenangkan, pribadinya oke, tapi penuh misteri." Citra mengangkat bahu.


"Yang pernah malam-malam antar kamu pulang pakai motor?"


"Maksud Mama apa? Karena dia naik motor tidak naik mobil, terus Mama tidak suka?"


"Kamu jangan salah paham dulu dong sayang, Maksud Mama, dia sudah lihat rumah kamu seperti apa, kamu juga kuliah naik mobil, banyak laki-laki yang ragu karena perbedaan sosial yang besar. Mereka akan berfikir selera dan gaya hidup kamu berbeda." Mendengar penuturan mamanya Citra yang tadinya cemberut pasang muka perang langsung tersenyum.


"Sepertinya begitu Ma, dia mahasiswa baru sebenarnya, tapi usianya lebih tua sedikit dariku, dia bekerja dulu mengumpulkan uang, baru bisa kuliah. Sekarang dia kuliah sambil bekerja."

__ADS_1


"Apalagi kondisinya seperti itu, berarti ada tanggung jawab yang ia pikul, mungkin orangtuanya, mungkin adik-adiknya. Mungkin saja sisa gajinya tak cukup buat sekedar traktir kamu makan, biaya kuliah tempat kamu kan mahal. Kamu yang harus lebih agresif."


"Ah Mama, aku malu, aku kan perempuan."


"Loh, kenapa harus malu? jamannya sudah berubah, sayaang. daripada cowok gebetanmu diambil orang, gimana?" Sang Mama memegang kedua pipi Citra. Sambil tersenyum manis. Citra menganguk setuju.


”Tidurlah sekarang cantik! Besok kau kuliah pagi kan? Mama mencium kening putrinya. Citra memeluk mamanya erat kemudian meneggak habis airr jeruk milik mamanya.


"Enak! Terima kasih Mamaku cantik!" Citra tertawa, berlari menuju kamarnya, sang mama menggeleng pasrah, memandang gelasnya yang kosong dan terpaksa harus membuatnya lagi.


Sebelum berbaring Citra mengambil handphone, dipasangnya earphone dan mulai memutar lagu -lagu favoritnya. Tak lama ia kembali merebahkan dirinya ke ranjang, mengambil posisi terlentang, matanya terpejam namun mulutnya menggumam mengikuti alunan lagu yang mengalir ditelinganya, jelang adzan shubuh barulah ia bisa terlelap.


Kuliah pagi ini dijalani Citra sambil terus menguap lebar, dia tak perduli teman-temannya protes terus, rasa kantuknya belum terpuaskan, tadi saja ia berangkat diantar sopir papahnya dan tidur sepanjang perjalanan. Ia tidak berani bawa mobil sendiri karena tidurnya semalam sangat singkat. Baru menjelang makan siang nyawanya pulih dan ia mencoba menghubungi Andri, namun berkali-kali ia mencoba telponnya tetap tidak diangkat.


"Kemana laki-laki sialan itu? Ini sudah waktunya istirahat siang, tidak mungkin masih ada yang masih di kelas!" Citra bertanya dengan kesal kedalam hatinya.


Akhirnya karena penasaran Ia berjalan menuju gedung fakultasnya Andri, namun ia menghela nafas kecewa, kelas Andri sudah kosong dan tak ada orang disana. Ia berjalan melewati taman belakang, dilihatnya sosok Andri sedang duduk bersandar dibangku taman sendirian, ia menghampiri Andri, semakin dekat dilihatnya ternyata Andri tertidur pulas.


Walaupun agak menurunkan harga dirinya tapi Citra tak perduli, kalau kesemparan itu datang ia akan manfaatkan untuk lebih mengenal lagi sosok Andri. Toh tak ada salahnya wanita lebih agresif, apalagi setelah popularitas Andri meledak dikalangan para gadis sebagai bintang baket kampus. Rekannya di team basket putri secara terang-terangan menyatakan cintanya kepada Andri saat ada Citra disana yang ditolak Andri dengan halus, untunglah.


Melihat Andri tertidur Citra tidak tega membangunkannya, ia mengambil posisi duduk disamping Andri. Dari posisinya Citra melihat ponsel Andri ada disaku kemejanya.


"Capek sekali dia kelihatannya, tidurnya sampai begitu pulas sampai tidak mendengar bunyi handphone." Citra membatin.


Citra terus menatap Andri, pikirannya penuh dengan pertanyaan, namun ia memutuskan duduk menunggu sampai Andri terbangun. Hampir setengah jam berlalu akhirnya Andri terbangun, ketika ia menoleh ia tersentak kaget melihat Citra sudah duduk disampingnya.


"Kaget ya bangun tidur ada bidadari dari surga disampingmu?" Citra melempar senyum manisnya sambil menyibakkan rambutnya yang hitam berkilau. "Melihat pemandangan barusan Andri terkesima sampai menelan air liurnya.


"Kukira tadi kuntilanak, karena tadi aku mimpi sedang di neraka."

__ADS_1


"Sialan!" Citra langsung cemberut.


"Hahahahahah" Andri tertawa tergelak, Kamu tambah cantik kalau cemberut begitu."


"Benarkah? Kalau begitu mulai sekarang aku pasang muka cemberut didepan kamu!"


"Hahahahaha.. Silahkan saja kalau enggak capek tuh bibir manyun begitu sepanjang hari."


"Sudah ah! Kamu kerja apa sih tidur sampai pulas begitu? " Citra bertanya, kali ini dengan mimik wajah serius. Mendapat pertanyaan seperti itu Andri bingung apakah akan menjawab jujur atau bohong.


"Aku bekerja sebagai sekurity di daerah Bekasi," Andri berkata jujur, ia tidak yakin apa yang ia harapkan dari Citra ketika mendengar jawabannya, sebagian hatinya berharap Citra memandang rendah dirinya lalu pergi menjauh, namun sebagian lagi ia menyesal berkata jujur, namun ia tak melihat perubahan di wajah Citra.


"Nanti malam kerjanya libur enggak? Kalau libur temanin aku yuk nonton film baru di bioskop! " Citra bertanya, sambil tersenyum, Andri menjadi gelagapan, dipandangnya wajah Citra lekat-lekat, namun tak ada hal yang aneh disana.


"Masa cutiku sudah berakhir, Aku masuk shif malam mulai sore nanti." Andri mencoba menolak dengan tegas.


"Kalau begitu kapan kamu libur?" Citra kembali bertanya, kali ini nadanya sudah penuh dengan pengharapan. Perasaan Andri semakin bergolak tak karuan.


"Entahlah, aku juga lagi banyak urusan minggu ini." Kembali Andri menjawab, kali ini suaranya bergetar tanpa keyakinan. Ia sudah begitu bersalah karena sepekan terakhir mengabaikan keluarganya. Maksud hati tadinya ia ingin menebusnya dengan mengajak istri dan anak-anaknya keluar dan jalan-jalan bersama. Citra langsung bangkit berdiri,


"Ooh, okelah kalau begitu."


wajahnya jelas menunjukkan ekspresi seperti baru saja kalah taruhan puluhan juta. Ia berjalan tanpa menoleh meninggalkan Andri yang masih bingung menatapnya.


Mereka memang tak pernah jalan berdua secara khusus. Setiap kali bertemu atau makan bersama selalu ada teman-teman yang mengelilingi mereka. Andri juga tak percaya pendengarannya ketika Citra mengajaknya nonton bioskop. Tekadnya untuk menjauhi Citra yang dari awal sudah ia canangkan sudah menguap begitu saja.


Pesona Citra sudah memikat dan menawan hatinya. Kulit putih, rambut panjang hitam, senyum yang menawan, kecerdasannya, kedewasaannya, gayanya yang jujur dan apa adanya tak mampu lepas dari pikirannya. Apalagi sudah terlihat oleh Andri bahwa Citra benar-benar menyukainya. Citra begitu marah ketika Andri mendiamkannya. Citra selalu datang disetiap pertandingan dan latihan, matanya tak pernah lepas melihat permainan Andri. Membelikannya sepatu basket, dan terakhir Citra juga yang memperjuangkan agar pihak kampus memberikan penghargaan kepada team basket pria atas prestasinya. Mereka cocok satu sama lain karena komunikasinya enak dan terbuka, walaupun dalam beberapa hal seleranya mungkin berbeda.


"Bagaimana kalau besok Lusa?" Andri berteriak, ternyata nafsu lelakinya yang menang. Citra berhenti berjalan, ia berbalik menatap Andri dengan sorot mata seakan siap membelah perut Andri.yang menatapnya penuh harap, sekian detik kemudian Citra melemparkan senyumnya seperti bunga mawar yang baru saja merekah, ia menyambungkan telinga dan mulutnya dengan jempol dan kelingkingnya, lalu ia berbalik kembali dan melangkah lagi, kali ini langkah kakinya lebih ringan.

__ADS_1


Andri menghempaskan tubuhnya ke bangku taman sambil menepuk jidatnya, otaknya sekarang sudah seperti benang yang super kusut. Bayang-bayang kemesraan yang ia dapat semalam dari Julia yang begitu menakjubkan diputar ulang oleh otaknya.


__ADS_2