Sang Pembelah Hati

Sang Pembelah Hati
Malam Romantis


__ADS_3

Sore hari yang ditunggu sudah datang. dua hari menunggu seakan seabad bagi Citra yang begitu antusias untuk berangkat kencan dengan Andri. Ia memakai gaun terbaiknya yang menonjolkan sisi feminim dirinya dan membuat kecantikannya begitu mempesona.


Sementara buat Andri yang hanya bisa berdandan seperti biasa karena iznnya kelada Julia adalah lembur membackup Irfan karena orangtua Irfan sedang dirawat dirumah sakit. Entah apa yang ada dipikiran Julia, tapi dia hanya tersenyum dan melepas Andri dengan mesra, memeluk Andri erat dan sekarang setiap kali Andri berangkat Julia minta dicium bibirnya.


Begitu sampai di Mall tempat mereka akan nonton film Andri tercengang dengan penampilan Citra. Dia benar-benar seperti bidadari yang turun dari syurga. Semua mata lelaki yang lewat tak lepas memandangnya dan berfikir Andri pastilah laki-laki yang beruntung. Sedangkan Andri sendiri menjadi rikuh karena ia hanya memakai celana levis dan kaos biasa yang hanya dibalut jaket kulit warna hitam yang biasa ia pakai buat naik motor.


"Astaga! Kau cantik sekali, kau pasti bukan Citra!" Citra yang sudah siap melayang menjadi jatuh lagi kebumi mendengar candaan Andri.


"Kau memang laki-laki sialan!" Ia mendengus kesal Tapi tangannya langsung menggandeng Andri, mengandengnya erat sampai tiba dibioskop.



Citra memilih film romantis yang bukan selera Andri, namun Andri tak mengatakannya karena akan membuat Citra kecewa. Sepanjang film dimainkan mereka saling berpegangan tangan dalam suasana romantis didalam biskop. Kalau saja adengan mencium Julia tak lewat dibenaknya, bibir Citra pasti habis dilumat Andri. Namun Andri berhasil menahan hasratnya sampai film usai.


Mereka berjalan keluar dari bioskop berpegangan tangan lebih erat dan lebih mesra menuju restoran. Andri menyerahkan kartu ATMnya kepada petugas penerima tamu, namun Citra mencegahnya, mengambil kartu Andri dan menukarnya dengan kartu miliknya. Citra menggandeng tangan Andri tak memperdulikan protesnya mengikuti petugas restoran yang menunjukan dimana meja mereka.


"Kau sudah bayar bioskopnya, gantian aku sekarang yang bayar." Citra tersenyum manis sambil mengembalikan kartu milik Andri. Andri hanya bisa mengambil kartunya dan memasukannya kembali kedalam dompetnya. Melihat menu yang datang dan suasana restoran Andri yakin rekeningnya langsung menderita membayar tagihannya. Citra yang memilih makanan untuknya karena Andri tak tahu apa yang akan ia makan.


"Kau bilang kerja jadi security? Kau bercanda atau memang itu pekerjaanmu?" Citra bertanya ringan ketika mereka sudah mulai menyantap makanan mereka.



"Begitulah, untuk apa aku bohong? Itulah makanya aku sering tidur dikampus, terutama kalau sebelumnya jaga malam, terus besoknya kuliah, ampun dah sepet sekali mataku." Citra tertawa melihat tingkah Andri.


__ADS_1


"Sudah berapa lama kau jadi security?"



"Sejak lulus SMA aku jadi sekurity, aku tak punya biaya buat kuliah, aementara bapak ibu justru sakit-sakitan, jadilah aku yang menanggung biaya mereka dan adikku. Sekarang adikku sudah lulus SMK dan sudah bekerja, makanya aku bisa kuliah. Kali ini Andri berbohong dan ia berharap citra tak menemukan kebohongannya.



"Kalau kau mau ayahku bisa menerima kau jadi pegawainya, kalau kau disana paling tidak jadwal kerjamu teratur, tidak harus shif-shifan."



"Terima kasih tawarannya, tapi aku sudah cukup nyaman disana."




"Waktu masuk Mall tadi kau perhatikan security yang jaga depan?" Citra menggeleng tak mengerti maksud pertanyaan Andri.


"Begitulah nasib seorang security, orang yang lewat memang tersenyum, mengucapkan terima kasih tapi sedetik kemudian meteka lupa. hahahaha... . " Citra terseyum kepada


Andri yang sedang tertawa, Andri yang begitu jujur mentertawakan kehidupannya. Yang begitu jujur tak mampu beli sepatu basket padahal sekali ke salon Citra bisa beli sepatu dua pasang. Andri yang memaafkan Rico begitu saja padahal dia diserang dengan penuh kebencian oleh Rico dan dibalasnya dengan menjadikan Rico seorang superstar kampus. Rasa cinta Citra kepada Andri semakin membuncah.


"Hey! Jangan bengong! Entar kesambet setan ganteng lewat!" Citra tersadar dari lamunannya.

__ADS_1


"Setannya masih kurang ajar duduk didepanku!" Andri pura-pura tengok kanan kiri mencari setan yang dimaksud Citra, Citra kembali tertawa dan melempar tissu kemuka Andri.



Citra masih berharap saat ini Andri menyatakan cintanya. Citra jadi bertanya cewek seperti apa yang mendapatkan cintanya Andri. Sekedar cantik dan seksi tak mungkin karena kemarin Andri menolak cinta temannya di team basket yang sangat cantik dan seksi, yang juga berprofesi sebagai seorang foto model.


"Kenapa kau tolak cintanya Sisca kemarin? Kau kan sudah akrab dengannya sejak kita latihan bersama."


"Kalau semua yang akrab denganku harus jadi pacarku, aku akan diblack list di KUA seperti bintang film tukang kawin cerai itu hahaha. "


"Tapi dia seriusloh?"


"Sisca memang menyenangkan ramah, gaul, supel, tapi kehiduoannya tak mungkin bisa kujamah, levelnya berbeda. Lagi pula aku tak bisa mikirin wanita sekarang, fokus pada citaku-citaku," Andri menjawab sambil makan untuk menyamarkan suaranya yang penuh kepalsuan.



Citra memikirkan jawaban Andri. Sedari tadi Andri terlalu sopan, hanya berani pegang tangannya, dan sedikit mesra membiarkan tubuhnya menempel saat jalan bersama, tak lebih dari itu. Bahkan suasana bioskop yang romantis tak membuatnya hilang kesopanannya. Rico bahkan berani mencium bibirnya saat kencan pertama mereka. Andri jelas menunjukan rasa suka dan perhatiannya kepada Citra, namun ia seperti tertahan seauatu untuk menyatakan cintanya. Citra memutuskan akan memberi ruang untuk Andri.



Sisa waktu direstoran hanya dihabiskan mereka berbicara hal-hal ringan saja, setelah itu mereka masih berjalan mengelilingi mall untuk membeli beberapa barang. Andri mendapat sebuah kemeja yang bagus dan sangat mahal dari Citra. Mereka masih berjalan dengan bergandengan tangan. Sesekali Andri berlari mengejar Citra yang berlari karena habis mencubit perutnya Andri yang tak berhenti menggoda Citra.


Malam semakin larut pada akhirnya kebahagiaan mereka berdua harus dipisahkan oleh waktu. Andri mengantar Citra sampai kemobilnya, memberikannya kissbye sebelum Citra menginjak pedal gasnya yang dibalas dengan ciuman jarak jauh dari Citra.


Di atas motornya Andri tak tahu harus pergi kemana setelah ini, seharusnya malam kebersamaannya bersama Citra tak boleh berakhir. Andaikan dia masih single Andri yakin keduanya akan menghabiskan malam ini di sebuah hotel dengan adegan romantis sampai pagi. Membayangkan hal itu membuat Andri bergidik dan ingatannya kembali kepada permainan ranjang Julia yang sangat luar biasa semalam. Namun Ia tak bisa pulang kerumah karena seharusnya ia jaga malam, baru besok pagi pulang.

__ADS_1


Sementara Citra telah sampai dirumah dengan wajah bahagia, walaupun keinginannya belum tercapai tapi ia yakin sudah mendapatkan hatinya Andri. Citra memberikan pelukan hangat kepada kedua orangtuanya dan memberikan tanda OK kepada mamanya sambil mengerlingkan sebelah mata. Sang mama tersenyum bahagia.


__ADS_2