
Beberapa hari sebelum David bertemu kembali dengan Julia dan Andri, David teringat ia sedang menonton tayangan bola basket di televisi ruang keluarga rumahnya namun hanya matanya yang menatap kelayar televisi, sementara pikirannya sedang tidak ada disana. Momen kompetisi basket antar kampus dimana saat itulah ia melihat Andri, kakak iparnya. Kakak ipar yang telah membawa pergi kakak perempuan satu-satunya menghilang tak tahu kemana lima tahun terakhir.
Permainan Andri yang membuat mata David takjub tak menyurutkan kekesalan dan kebenciannya pada Andri, tapi sikapnya yang friendly dan begitu dicintai oleh teman-temannya membuatnya berfikir ada yang salah dengan apa yang ia ketahui selama ini. Ia mulai merasa resah dan keresahannya diwujudkan dengan mendatangi rumah salah satu sahabat kakaknya, yang kebetulan ia tahu letaknya karena ia pernah mengantar Julia kesana.
David datang kerumah Silvi, sahabat kakaknya, Silvi masih tinggal dirumah orangtuanya, dia sudah bekerja namun masih belum berumah tangga. Silvi mempersilahkan David masuk setelah hilang dari rasa keterkejutannya.
"Entahlah David, aku juga tak tahu kabarnya, dia putus hubungannya denganku sejak hari itu, ia tak lagi dekat denganku, ia seperti menjauh dariku , mungkin ia kecewa karena aku tak mau membantunya saat itu" Silvi bercerita setelah David mengutarakan maksud dan tujuannya menemui Silvi.
"Saat itu maksudnya apa kak Silvi?"
"Kau tak tahu? Hari kematian Guntur, sejak itu Julia seperti depresi, ia menjauh dariku dan dari teman-temannya, hanya satu yang bisa mendekatinya, Andri."
"Kematian Guntur?" David semakin bingung.
"Kau tak rahu selama ini? Guntur pacar kakakmu, dia meninggal, motornya dihantam truk saat pulang dari perpisahan sekolah."
"Kak Julia tidak ada bersamanya saat itu?" David sedikit bernafas lega, walaupun ia sempat shock ketika mengetahui pacarnya Julia ternyata bukan Andri, tetapi Guntur, dan baru sekarang ia ketahui bahwa Guntur sudah meninggal.
"Itulah yang kupikir membuat ia menjauh dariku, malam itu sesudah acara perpisahan sekolah Julia dan Guntur melanjutkan pesta, aku pulang karena aku diantar orangtuaku. Jam dua pagi dia menghubungiku minta dijemput, dia mabuk berat begitu juga Guntur, tapi aku tak bisa datang, aku tak mungkin keluar rumah lagi apalagi malam sudah begitu larut. Paginya aku mendengar Guntur meninggal, tapi kakakmu selamat, tampaknya guntur pulang sendiri, dan ada yang menjemput kakakmu pulang yang mengantarnya sampai kerumah. Aku yakin itu Andri, karena aku tahu Guntur dan Andri berteman baik."
"Maaf Kak, tapi saat itu kakakku minta dijemput dimana?" Alarm bahaya diotak David mulai menyala, perasaannya sudah tercabik-cabik oleh rasa bersalah. Silvi tak langsung menjawabnya, ia menatap mata David dalam-dalam, mencoba menembus pikiran David dan menimbang apakah David siap menerima kebenarannya, Silvi sampai menghembuskan nafasnya berkali-kali.
__ADS_1
"Disebuah hotel, tak jauh dari gedung tempat perpisahan sekolah kami." Kata yang keluar dari mulut Silvi terasa berat, dan tubuh David langsung terkulai lemas.
Selanjurnya tak sulit lagi baginya mengurai siapa yang salah dan siapa yang benar dalam hal ini. Tentu saja David merasa bersalah karena ia tak pernah mau tahu apa yang terjadi pada kakaknya, ia tahu saat itu kakaknya depresi mengurung diri dikamarnya, ia sering mendengar kakaknya menangis bahkan meraung-raung dikamarnya yang bersebelahan dengan kamar David tapi ia tak perduli, ia asyik dengan robot dan komputernya. Dan lebih parahnya lagi ia telah menghakimi kakaknya sebelum mencari faktanya. Sampai aknirnya ia melihat lemari kakaknya kosong karena diusir orangtuanya akibat ketahuan hamil diluar nikah, tapi Ia masih tak perduli bahkan menyalahkan kakaknya. Tak terasa air mata menetes, saar itulah David memutuskan untuk mencari tahu keberadaan keluarga kakaknya. Ia sangat bersyukur ketika bertemu keduanya sangat tulus hati menerimanya dan keluarga mereka baik-baik saja.
Hari ini David memutuskan untuk menyampaikan kebenaran ini kepada kedua orangtuanya. Ia tetap optimis walaupun ia tahu betapa besar ego kedua orangtuanya, dan David sudah bersiap akan konsekuensinya. Ia berjalan keluar dari kamarnya menuju ruang keluarga dimana ayah dan ibunya sedang duduk berdua disana.
"Bagaimana hasil kompetisi kemarin, kau menang David?" Ayahnya langsung bertanya begitu melihat David berjalan turun dari tangga.
"Tidak, kami tak juara!" David menjawab dengan malas.
"Kudengar kau tak menjadi pemain inti? Bukankah sudah kuberikan surat referensi kepda pelatihmu?"
"Jangan munafik David, sekarang sudah jamannya seperti itu, aku mencapai titik karirku seperti ini semata-mata buat keberhasilan anak-anakku!"
"Oh ya? Bagaimana kabar anak Ayah yang satu lagi? Putri Ayah satu-satunya?" David benar-benar sudah siap menantang ayahnya.
"Aku tak perduli lagi dengannya."
__ADS_1
"Tapi aku perduli! dia kakakku, dan aku beri tahu kalian, kak Julia baik-baik saja, dia sudah lulus sarjana, berkat biaya suaminya, sekarang sudah bekerja, posisinya cukup mapan, mereka sudah punya rumah dan Ayah sudah punya dua cucu yang semuanya sehat dan bahagia, mereka titip salam buat kalian, mereka tak membenci kalian. Dahulu mereka datang kemari bukan untuk meminta sesuatu dari kalian, tapi karena menghormati dan mencintai kalian sebagai orangtua!" David masih menatap mata ayahnya dengan lekat.
"Perbuatan mereka telah mencoreng kehormatanku, menjatuhkan nama baikku!"
"Apa yang Ayah dapat dengan popularitas? Mau dibawa kemana semua kekayaan dan jabatan yang Ayah miliki? apakah mereka akan mendampingi Ayah ketika Ayah sudah dialam kubur sana? Aku bukan sok tahu tapi kita semua akan mati. Semua teman, relasi, jabatan uang popularitas menghilang, tinggal doa kami anak-anak dan cucu Ayah yang akan menemani Ayah disana nanti." David tetap meninggikan suaranya yang membuat ibunya terperanjat.
"David! Jangan kau berkata seperti itu kepada Ayahmu!" Ibunya berteriak kepada David.
"Maaf Ma, tapi itulah faktanya, kak Julia bisa hidup bahagia tanpa modal dan mendompleng nama Ayah. Aku bisa kuliah di UI tanpa mendompleng nama Ayah, dan tidak pakai duit Ayah. Sementara kalian menipu diri kalian sendiri dengan pura-pura tak kehilangan putri kalian. Kak Julia mungkin telah salah saat itu, tapi dia telah menebus kesalahannya dengan bertanggung jawab membesarkan anaknya tanpa bantuan kalian." Kedua orangtuanya terlihat emosinya naik ketika mendengar ucapan David.
"Kurang ajar kau David! Aku tak akan pernah memaafkan kesalahan mereka! Aku hampir gagal menjadi anggota DPR kalau saja aku tak keluar uang sangat banyak untuk membungkam mulut banyak orang!"
"Kalau uang yang jadi pertimbangan utama Ayah, silahkan coret juga nama saya dari kartu keluarga kalian, aku sudah tidak bisa tinggal dengan orang-orang yang tak punya hati!' David berbalik lalu melangkah keluar,
"David! Jangan pergi! Mau kemana kau?" Ibunya berteriak menahannya, David berhenti dan langsung bereaksi dengan tak memberikan kesempatan orangtuanya bicara.
"Oh iya satu hal lagi. Kalian harusnya berterima kasih kepada Bang Andri. Bang Andri yang telah menyelamatkan muka kalian, anak itu bukan anak bang Andri, dia datang untuk bertanggung jawab atas perbuatan pacarnya kak Julia yang sudah meninggal. Bang Andri juga yang menyelamatkan kak Julia saat dia nyaris bunuh diri. Aku tak tahu apa jadinya kalau sanpai kak Julia bunuh diri, apakah Ayah akan sampai duduk dikursi DPR?" David tersenyum sinis, ia melanjutkan langkahnya keluar, tak memperdulikan teriakan kedua orangtuanya yang memintanya berhenti. David bahkan tidak membawa motor atau mobilnya, dia keluar hanya berjalan kaki sampai hilang dari pandangan orangtuanya. Ibunya David yang tadinya diam karena berpikir David hanya menggertak tak akan punya keberanian untuk pergi, langsung berdiri hendak mengejar David, tapi tangannya langsung ditangkap suaminya.
"Biarkan saja! Dia akan pulang! Anak itu tak akan sanggup hidup sendiri!" Kesombongan masih jelas terdengar dari suara suaminya.
__ADS_1
Ibunya David hanya bisa menangis, selama ini ia memang tak pernah berani membantah apa yang menjadi keputusan suaminya. Ia menangis sepanjang hari dan begitulah yang bisa ia lakukan setelah David tak juga pulang sampai 3 hari lamanya. Ponsel David ternyata tak juga dibawa, ibunya menemukan ponsel David diatas meja belajarnya, dan semua isi kamarnya masih lengkap. David benar-benar pergi tanpa membawa apapun yang diberikan orangtuanya.