SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
SEPULUH


__ADS_3

Saat ini Sarah dan Savira sedang berada di taman bermain, banyak permainan dan beranekaragam jajanan yang menggugah selera.


Disini juga banyak remaja-remaja seperti mereka, ada yang berjalan berdua dengan pasangannya, ada juga yang sendiri, atau seperti mereka berdua ini.


Sudah lumayan lama mereka bermain, dan sekarang dua remaja tangguh ini memutuskan untuk istirahat sejenak mengisi kembali energi.


"Vir, beli gulali yuk. "


"Ayuk"


Setelah sampai di tempat gulali, Sarah langsung memesan dua gulali berbeda warna itu, yang pink untuknya, dan yang ungu untuk Savira.


"Habis ini mau main apa lagi? " Tanya Savira ketika mereka sedang duduk lesehan.


"Emmm, ga tau, heheh. Nanti aja kita liat lagi"


"Okay"


Keduanya lebih memilih diam, menikmati semilir angin menerpa wajah. Tenang, itu yang mereka berdua rasakan. Tapi sepertinya ketenangan itu tak berselang lama.


"Ekhem!! Hiling kok ga ngajak-ngajak sih! " seruan itu, sontak membuat kedua gadis itu melihat kebelakang, disana ada ke empat pemuda yang berjalan ke arah mereka.


"Ihh! Kok lo pada disini juga sih! " sewot Sarah tak terima dengan ke hadiran mereka.


"Yee, suka-suka dong, lo kira ni tempat punya nenek moyang lo! " sahut Antoni.


"Ganggu tau ga! Gue mau jalan berdua sama Savira doang, ihhh!! Kamu juga, kenapa kesini! " Amuknya pada sang kekasih.


"Aku kan ga tau kamu ke sini By, mereka ngajak jalan, ya aku sih ayo aja" jawab Raiden lembut. Ingat ini, selama Sarah berpacaran dengan Raiden, pemuda itu tak pernah menaikkan nada bicaranya, itu yang Sarah suka dari pemuda tersebut.


"Aku marah pokoknya" rajuknya. Savira hanya terkekeh geli melihat tingkah sahabatnya, dengan bahunya yang di rangkul Alfi.


"Kesini dari kapan? " tanya Alfi pelan.


"Hem? Dari jam 10, " jawab Savira pelan juga.


"Ouh, pantes pas gue ke rumah, lo nya ga ada"


"Ngapain ke rumah? "


"Mau ngajak jalan sih, tapi lo udah ke buru pergi"


"Ouhh, sorry"


"Kenapa minta maaf? "


"Emm, ga kenapa-kenapa"


"Ekhem, lo berdua bisik-bisik apa? " tanya Sarah memberhentikan pembicaraan Savira dan Alfi.

__ADS_1


"Kepo" jawab Alfi.


"Tu tangan tolong tau tata krama ya! Kawan gue masih suci, ga usah pegang-pegang! " sewot nya dan menjauhkan Savira dari Alfi.


"Pengganggu! " ketus Alfi.


"Kalian yang pengganggu! Datang-datang hancurin rencana gue sama Savira"


"Udah by, jangan marah-marah mulu. "


"Abisnya kalian ngeselin! "


"Iya iya, maaf. Yaudah ayuk jalan-jalan" ajak Raiden dan menarik Sarah untuk ikut dengannya, dan di belakang nya Antoni dan Anhar meninguti, terakhir Alfi dan Savira.


"Dia masih neror lo? " tanya Alfi.


"Enggak, "


"Kalau dia neror lagi, langsung bilang ya"


"He'em" Angguknya.


...****...


Tepat azan magrib berkumandang, Savira sampai di rumah diantar oleh Alfi. Iya, mereka pulang berdua, awalnya Sarah mengajaknya untuk pulang dengannya, tapi Alfi malah ngotot supaya Savira pulang dengannya.


"Emm, boleh deh. Sekalian numpang solat maghrib, boleh kan? "


"Boleh dong. Ayuk masuk, Ibu sama Bapak di dalam. " ujarnya, dan masuk ke dalam rumah di ikuti Alfi di belakangnya.


"Assalamu'alaikum, Ibu, Bapak, ada Alfi ni" ucap Savira. Nila yang mendengar suara putri sulung nya pun langsung berjalan ke pintu rumah menyambut sangat putri.


"Waalaikumsalam, eh ada nak Alfi. "


"Bu, " ucapnya sembari menyalim tangan Ni la, "Bapak sama adik-adik mana Bu? " tanya Alfi.


"Ouh, Bapak lagi di kamar, solat maghrib, kalau Ayu lagi belajar, dan Dino itu, nemenin kakaknya belajar"


"Ouh, Alfi juga izin numpang solat ya Bu"


"Silahkan Nak, jangan sungkan. Savira, kamu ambil kain sarung sama sajadah di kamar ya, "


"Iya Bu. Al, kamu ambil terus wudhu di belakang ya, "


"Iya"


Selesai berwudhu, Alfi langsung ke masuk ke kamar Dino dan Ayu, di sana sudah ada sarung dan sajadah yang disiapkan Savira. Istri idaman sekali bukan, hehe.


Jika kesini memang dia tak pernah masuk ke kamar Savira, hanya masuk ke kamar adiknya, itupun untuk solat, diluar itu tidak pernah. Kalaupun ia kerumah di saat hanya ada Savira, ia bahkan tak masuk ke dalam, lebih memilih duduk di teras untuk menghindari fitnah. Ia tau kondisi keluarga Savira disini hanya di pandang sebelah mata. Kehidupan mereka sudah susah, jadi ia tak ingin menambah beban mereka dengan omongan masyarakat sekitar. Belum lagi jika sampai menimbulkan fitnah.

__ADS_1


Selesai solat, niat nya ia ingin langsung pulang, tak enak berlama-lama di rumah orang. Tapi, Ridwan malah mengajaknya untuk ikut makan malam bersama. Katanya ia memiliki sedikit rezeki, sehingga bisa membeli ayam, walau hanya 5 potong. Tapi ia tetap bersyukur, tak apa ia tak makan, setidaknya putra putrinya bisa makan makanan enak.


Setelah selesai makan Alfi langsung pamit pulang, karena besok pun mereka masih harus sekolah.


"Bu, Pak. Alfi pamit dulu ya, assalamu'alaikum. "


"Waalaikumsalam"


"Vir, gue pulang dulu"


"Iya Al, hati-hati ya di jalan, jangan ngebut. "


Alfi memangguk, lalu menaiki motor ninjanya dan langsung pergi meninggalkan perkarangan rumah Savira.


...****...


"Waktu tenang lo udah habis Vir, let's play the game"


ujar seorang wanita, remaja tangguh sebaya Savira, menatap nyalang pada foto Savira.


"Lo itu anak baik Vir, tapi sayangnya ga ada nasib baik di dalam takdir hidup lo. Salah satu nasib buruk lo, lo berurusan dengan gue."


"Andai aja, mereka ga pilih kasih, gue juga ga akan lakuin hal gini. "


"They're evil right, Vir, they're the ones who did it, and you're the one who suffers the consequences"


"Hahahhaa, tapi gue ga peduli. kepedihan harus dibalas dengan hal yang sama"


...****...


Pagi ini suasana sekolah tampak aneh, sejak awal Savira dan Sarah datang, banyak yang memandang jijik pada Savira. Seolah mengatakan bahwa gadis tersebut baru saja melakukan hal yang hina.


Bahkan ketika sampai di kelas pun, tatapan itu masih sama. Sarah bingung, ia penasaran, informasi apa yang belum ia ketahui. Lalu ia pun langsung saja membuka handphone nya, setelah mendapat apa yang ia cari, ia langsung menarik Savira keluar kelas.


"Vir, lo ikut gue. Kita bolos aja hari ini, Raiden sama yang lain nunggu kita di tempat biasa. " ujarnya dan menarik Savira agar mengikuti nya. Untuk kali ini, Savira tak menolak ajakan bolos Sarah, ia juga tak nyaman dengan tatapan anak sekolah.


"Sar, kamu tau sesuatu? " tanya Savira.


"Gue ga tau Vir, tapi Raiden tau"


Setelah sampai di tempat, mereka langsung menemui ke enam pemuda tersebut. "Jelasin" ucap Sarah to the point.


"huh, gue ga tau ini lo atau bukan. But, but someone put this photo on the wall" ucap Raiden dah menyerah kan foto tersebut.


Sarah terkejut melihat foto tersebut, dan Savira yang mematung.


"I-ini.... "


...****...

__ADS_1


__ADS_2