
"Woy Jeje! " seru Savira. Jeje yang melihat kehadiran Sarah pun hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Ada perlu apa lo kesini? " tanya Jeje.
"Gue udah peringatan lo buat ga ganggu Savira lagi. Kenapa masih lo lakuin? Apa kurang peringatan yang gue kasih? " ucapannya membuat kebingungan sendiri bagi Jeje.
"Maksud lo? "
"Lo kan yang yang ngirim ni foto ke gue? " tanya Sarah sembari menunjukkan foto yang ada di handphone nya. Jeje terdiam melihat pesan dan foto tersebut. "Benerkan? Lo yang kirim ni foto. "
Jeje masih juga diam, di belakangnya, Ica dan Naifa tersenyum mengejek.
"Gue kasih lo peringatan terakhir ya Je. Jangan berani lo ganggu Savira, dan coba ngehasut gue untuk jauhin Savira. Gue ga akan termakan hasutan basi lo lagi. " tekannya pada setiap kalimat yang ia lontar kan. "And one more, kalau lo masih abai sama peringatan yang gue kasih, jangan salahin siapapun kalau lo di drop out dari sekolah. "
Jeje masih diam, ingin menyahut, tapi entah kenapa suaranya seperti tertahan. Bahkan setelah Sarah berlalu bersama Raiden pun, ia masih diam.
"Waahh, lo keren banget Je. " puji Ica.
"Kok lo ga bilang sih, kalau punya rencana se briliant ituu, " sahut Naifa.
Jeje masih menatap ke arah Sarah pergi tadi, dan ia mengucapkan satu kalimat yang membuat kebingungan bagi Ica dan Naifa.
"Tapi, bukan gue yang ngirim foto itu, "
...****...
"Vir, lo langsung ke cafe? " tanya Zafran. Saat ini mereka sedang berada di warkop tongkrongan biasa mereka. Raiden datang bersama Sarah, tak lama setelah nya Alfi dan Savira menyusul. Tenang, Sarah dan Savira tak membolos, hanya saja ini hari sabtu, dan sekolah bubar lebih cepat.
"Iya, sama Alfi. Yakan Al? " jawab dan tanya Savira.
"Hem"
"Kok gue liat-liat lo berdua jadi lengket banget ya, kemana-mana berdua terus, " tanya Zafran.
"He'em, sampai gue aja jadi jarang berdua sama Savira, " sungut Sarah.
"Emm, ya kan aku sama Alfi belajar bareng. Jadi ya sering berdua, abisnya kalian kalau di ajak ke perpus juga ga mau kan? " tutur Savira.
"Kalau lo ajaknya ke perpus ya jelas kita ogah, tapi coba lo ajak kita ke warkop, atau cafe, atau ke mall gitu. Gue sih hayuk, ya gak bro" ucap Antoni.
"Yoi" Sahut Zafran, Anhar, Sarah, dan Raiden.
"Tapi cukup pas belajar aja kali berdua nya. Ga usah pas beli buku atau jalan-jalan pun berdua" sahut Dimas sedikit tersirat rasa tak suka pada kalimat nya.
Alfi dan Raiden menatap bingung ke arah Dimas, "lo kenapa? Kok sewot? " tanya Raiden.
"Biasa aja" cuek Dimas.
"Lo jelous? " Pertanyaan Alfi sontak membuat Dimas terdiam. Ia juga tak tau, ia sudah memiliki kekasih, namun kenapa ketika melihat Savira lebih sering berdua dengan Alfi membuat sesuatu di dalam dirinya sakit.
"Enggak. Lagian gue juga udah punya pacar, ngapain jelous, ga jelas"
"Oh" jawab Alfi singkat. Bahkan tanpa di katakan pun, sudah jelas Dimas itu sedang cemburu.
Savira yang merasa tak enak, sebab ia merasa karena dirinya kedua teman itu bertengkar.
"Emm, kalau gitu aku ke cafe duluan ya, takut telat. Assalamu'alaikum, " pamit nya dan langsung pergi dari sana, Sarah hanya melambaikan tangannya ke arah Savira.
__ADS_1
"Gue duluan" Alfi pun ikut pergi menyusul Savira.
"Gue juga cabut. Adera nunggu gue, " ucap Dimas dan juga ikut pergi. Oh sedikit info, Adera itu pacarnya Dimas, ia adik kelasnya Dimas.
"Entah itu cuman feeling gue aja, tapi gue rasa Alfi dan Dimas, Sama-sama suka dengan cewek yang sama" ucapan Sarah, sontak membuat ke empat lelaki disitu menatapnya. "Itu cuman feeling aja, kali aja salah. Dah lah, gue juga mau pulang, udah capek. By ayo antar pulang, " ucapanya dan menarik tangan Raiden untuk mengikutinya.
"Gue duluan"
"Hati-hati bos"
Raiden hanya mengangguk sebagai jawaban.
'Ouh, rupanya Dimas suka sama Savira? Kayaknya permainannya bakal makin seru, ' ucap seseorang yang menatap ke pergian Sarah dengan seringai licik tergambar pada wajahnya.
...****...
Tiing~
+62-833-4536****
Hai Vira
^^^Siapa ya? ^^^
Mau tau ga siapa yang ngasih surat itu ke lo? Dan siapa yang ngirim foto ke Sarah?
Itu gue
Sebagai peringatan awal
Yang gue mau? Yang gue mau itu simpel, gue cuman mau kehidupan lo hancur.
And i think, ga ada buruknya juga kalau gue coba main-main sama keluarga lo
^^^Kamu boleh sakitin aku, tapi aku mohon jangan keluarga aku^^^
^^^P^^^
^^^P^^^
Nikmatin masa-masa tenang lo, sebelum gue mulai permainan kita.
Dan jangan berani-berani lo kasih tau siapapun tentang ini, kalau ada yang tau, gue ga akan segan-segan lukai mereka
Savira tampak gelisah sejak tadi, dan itu semua tertangkap jelas atensi Alfi.
"Lo kenapa? "
"Ouh? E-enggak, gak ada apa apa kok" sahutnya. Tapi apa yang ia ucapkan sangat tak sejalan dengan gerak geriknya yang terlihat sangat gelisah.
"Lo yakin? "
"I-iya, " jawabnya lagi, bahkan ia selalu mencoba untuk tidak melakukan kontak mata dengan Alfi. Karena ia tak percaya dengan ucapan Savira pun, ia mengambil tanpa izin handphone gadis tersebut.
"Sarah tau ini? Udah berapa lama dia ngancam lo? " tanya Alfi menatap intens Savira.
Savira diam, jujur ia takut. Seumur umur tak pernah ia menerima ancaman seperti ini. Jika bisa memilih, ia lebih memilih di bully seperti biasa, dari pada seperti ini. Ia tak di bully memang, tak ada hinaan juga yang biasa ia dengar, tapi hidupnya tak tenang. Ia takut, bagaimana jika orang ini benar-benar melukai keluarganya. Bahkan saking besar rasa takutnya, ia sampai tak sadar, jika air mata mulai keluar membasahi pipinya.
__ADS_1
Alfi yang melihat gadis tersebut menangis dalam diam dengan kedua tangan yang saling bertaut gemetar, langsung memosisikan dirinya di samping Savira. Ia bawa tubuh bergetar itu kedalam pelukannya.
"Jangan takut Vir, lo ga sendiri, ada gue dan yang lain disini. " tutur Alfi sembari mengelus punggung gadis tersebut, menenangkannya ketika ia rasa bahwa seragam sekolah nya mulai basah karena air mata Savira. "Gue bakal kasih tau mereka, supaya mereka juga bantu lo cari tau siapa ni orang"
"Ja-jangan, please jangan Al, aku mohon hiks" geleng nya cepat, menolak tawaran Alfi. "Aku ga mau kalian terluka. Hiks ka-kamu baca kan apa yang dia bilang, aku hiks ga bisa kasih tau mereka. Please, aku ga mau kalian kenapa napa hiks"
"Okay okay, lo tenang Vir. Okay gue ga akan kasih tau siapapun, tapi gue minta lo kasih tau gue apapun yang terjadi, paham. "
"Tapi nanti kamu dalam bahaya, "
"Gue janji, gue bakal baik-baik aja Vir. Kalau lo tutup semuanya sendiri, masalah ini ga akan selesai. Okay" tutur Alfi lembut namun tegas tak ingin di bantah. Savira pun hanya mengangguk pasrah. Tapi ia sedikit bersyukur, setidaknya ada orang yang mau ada di samping nya.
"Sorry Al, baju lo jadi basah" ucapnya merasa bersalah melihat seragam Alfi yang basah karena nya.
"Hem, ga papa. Lo jangan nangis lagi, nanti cantiknya hilang" ucapannya membuat semburat pink pada pipi Savira. Alfi yang melihat Savira salah tingkah karena ucapannya hanya bisa tertawa gemas terhadap gadis di depannya.
'Senyum terus Vir, senyum lo hal kedua paling indah di hidup gue'
...****...
Sebulan berlalu, tak terasa hari kelulusan tingga 2 bulan lagi. Savira semakin semangat dalam belajar untuk persiapan kelulusan, dan juga ujian masuk universitas impiannya. Untuk bahasa Korea, ia sudah sangat mahir. Alfi benar-benar serius mengajari nya, dan ia juga semangat untuk belajar, Alhasil dalam waktu sebulan ia sudah mahir bahasa Korea.
Tak hanya belajar bahasa Korea, Alfi juga sesekali mengajari Savira bahasa Turki. Katanya jika nanti Savira ke Turki ia sudah bisa bahasa tersebut. Savira sih iya-iya saja. Dan soal teror tersebut, setelah pesan di hari itu, ia tak pernah lagi mendapat teror apapun, tapi Alfi selalu mewanti-wantinya untuk tak lengah, karena bisa saja kan dia menyerang tiba-tiba.
Dan juga untuk masalah ini, hanya Alfi yang tahu, pemuda itu benar-benar menepati janjinya untuk tak memberitahu siapapun.
"Savira, Nak, " Di pagi ini, Savira bilang ia memiliki janji dengan Sarah, mereka berencana untuk bermain di taman bermain. Hanya berdua, sebab kata Sarah, ia sudah lama tak menghabiskan waktu berdua saja dengan Savira.
"Iya Bu? " tanya Savira setelah ia selesai berpakaian.
"Kamu nanti pulang jam berapa? "
"Sorean mungkin Bu, kenapa? Ibu mau nitip sesuatu? " tanyanya lembut.
"Enggak, kamu hati-hati yaa. Berdua aja dengan Neng Sarah? "
"Iya Bu, kami cuman berdua aja. Sarah bilang dia rindu jalan-jalan berdua, hehehe"
"Iya atuh, Ibu juga jarang liat kalian jalan berdua, kamunya lebih sering jalan dengan Nak Alfi, terus Neng Sarah lebih sering dengan Nak Raiden"
Iya, Nila sudah mengenal ke enam pemuda tersebut karena mereka terkadang datang berkunjung ke rumah, untuk menjemput Savira bersama Sarah, atau berkunjung saja. Ia juga sering pulang pergi bersama Alfi, entahlah, setelah tau letak rumah gadis itu, Alfi terkadang datang menjemput nya atau sekedar berjumpa dengan orang tuanya. Tapi setelah teror tersebut, Savira selalu pulang pergi bersama Alfi.
"Heheh, ya kan Savira belajar barang Alfi, Bu. "
"Iya-iya, "
Tiiitt
"Assalamu'alaikum, Saviraa~~ Main yuk"
"Yaudah, itu Neng Sarah udah datang, hati-hati ya, "
"Iya Bu, assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam"
...****...
__ADS_1