
"Sar seriusan bokapnya si Jeje bangkrut? " tanya Antoni.
"He'em" jangan Sarah sekenanya. Ia lebih memilih sibuk menikmati makanannya dari pada meladeni pembicaraan yang tak jauh-jauh tentang keluarga Jeje.
"Berarti tu orang ga bisa lagi dong bully-bully. Yeeyyy" ucap Anhar semangat.
"Kok lo seneng banget? Emang lo pernah jadi korban bully dia? "
"Eh, enggak sih, hehehe. Tapi kan gue palak aja liat dia bully-bully, padahal cantik. " jawabnya lagi.
"Lo suka sama dia? " tanya Zafran.
"Eung? Iya, hehehe. Tapi doi ga peka, susah"
Savira tertawa kecil melihat tingkah Anhar. Baginya Anhar itu lucu, dan selalu blablakan dalam berbicara.
"Iiihh, Vira jangan ketawaaa" rajuknya, sungguh tak pantas di pandang.
"Jijik tau Har" keluah Zafran.
"Yeee, bilang aja lo iri. Kan diantara kita cuman gue, Sarah sama Savira aja yang nomu nomu kiyowooo"
"Edan" ucap Dimas. Mengundang tatapan penuh kekecewaan dari Anhar.
"Kamu tega sama aku mas. KAMU TEGA!? " serunya mendrama.
"Please deh Har, jangan malu-malu in" ucap Antoni.
"Bukan kawan gue sumpah" sahut Zafran.
"Dari mana sih lo pada dapat spesies kaya gini? " tanya Sarah.
"Dari hutan amazon, harap malum jadi. Kelakuannya emang kadang-kadang suka mirip sama penghuni di sana"
Ucapan Dimas mengundang gelak tawa dari mereka semua kecuali Alfi yang sudah bosan melihat tingkah teman-teman nya yang tak pernah sadar umur. Padahal 2 bulan lagi mereka akan lulus, dan menjadi mahasiswa, tapi tetap saja tingkah laku seperti anak SD.
"Alfiii, tolongin akuuu. Mereka jahat sama akuuu" adunya pada Alfi yang mengundang tatapan menjijikan dari Alfi.
"Lepas" ucapnya dingin, seketika mengciutkan keberaniannya.
"Eh, hehehe piss ✌🏻"
Yang lain tertawa kecil melihat Anhar. Memang hanya Alfi yang bisa menghentikan tingkah randomnya. Lihatlah dia, hanya karena satu kata yang di keluar kan Alfi membuatnya seketika menciut.
__ADS_1
"Ouh ya, nanti kalian semua ke rumah gue ya
Ada yang mau Bokap gue sama Bokap Savira omongin. " bukan permintaan, melainkan perintah yang harus di turuti. Yaaa, semakin lama ke enam pemuda itu semakin mengenal seperti apa Savira dan Sarah itu.
Jika Savira cenderung mengalah, beda hal nya dengan Sarah yang tak ingin mengalah dan tak ingin dibantah.
"Emm, okay" jawab mereka.
"Gue kayaknya telat, ga papa kan Sar? Gue udah duluan ada janji sama Adera" ucap Dimas.
"Lo kok sering banget jalan sama Adera? " tanya Raiden. Ya dia tau kalau mereka sepasang kekasih, tapi dulu Dimas lebih banyak menghabiskan waktu dengan mereka. Biasanya ia akan pergi dengan pacarnya hanya saat libur saja. Tidak seperti sekarang yang hampir setiap hari.
"Emang kenapa? "
"ga ada, nanya doang"
...****...
Bell sudah berbunyi dari 10 menit yang lalu, tapi sampai sekarang kelas Savira masih belum ada guru, membuat kelas itu begitu ribut.
Seperti sekarang, beberapa siswi berkumpul sembari bergosip ria, atau membahas alat-alat skincare keluaran terbaru, ataupun barang-barang breanded.
Sedangkan beberapa siswa juga membuat kelompok kelompok untuk bermain game. Tapi ada juga beberapa siswa-siswi yang balajar, membaca novel, atau menyalin tugas milik temannya. Seperti Sarah sekarang yang sedang menyalin tugas Matematika milik Savira yang tengah sibuk dengan buku tebalnya yang mengalahi ketebalan Kamus.
Sedangkan di belakang mereka, ada Jeje yang sudah sedari istirahat tadi tidur di kelas. Kepalanya sangat sakit, belum lagi ia merasa suhu tubuhnya semakin tinggi.
Sesekali ia mendengar rintihan dari gadis tersebut, seperti sedang menahan sakit.
"Je, kamu okay? " tanya Savira pelan. Pertanyaannya mengundang rasa penasaran Sarah.
"Dia kenapa? " tanya Sarah pada Savira.
"Ga tau Sar. Tapi kayaknya Jeje lagi sakit deh"
Sarah yang memang penasran dan juga sedikit khawatir, menempelkan punggung tangannya pada dahi Jeje. Saat itu pula rasa panas menjalar pada tangannya.
"Ya ampun Je. Lo demam? Kok ga bilang? " tanyanya beruntun.
"Jeje demam? "
"Iya Vir. Je, bangun dulu" pintanya dengan mengguncang bahu Jeje.
"Eung, apasih Sar. Ganggu banget" ucapnya.
__ADS_1
"Bangun dulu bego! "
"Ck" decak nya namun tetap menuruti permintaan Sarah.
"Ya Allah. Muka kamu pucet banget Je. Mau ke UKS aja? Biar aku sama Sarah yang antar" tawar Savira. Ia tak tega melihat wajah pucat dan penuh peluh itu. Walaupun Jeje sering membully nya, namun ia tetap manusia yang memiliki hati nurani bukan?
"Ga usah, gue mau tidur aja" Namun baru ia akan kembali membenamkan wajahnya pada lipatan tangan. Sarah sudah keburu menarik tangannya dan Savira keluar meninggalkan kelas.
"Jangan keras kepala deh. Kalau lo sakit yang ada repot. " ketusnya, kendati demikian, ia sebenarnya hanya khawatir. Jeje hanya diam tak membalas, kepalanya sangat pusing sekarang, mungkin jika Savira tak memegangnya, ia bisa saja jatuh karena kakinya yang ikutan lemas.
"Sar, lain kali jangan main tarik gitu ya? Sayang Jeje nya, pasti kepalanya pening" nasehat Savira lembut. Ia tahu, jika terlalu keras memberi tahu, Sarah tak ada mau patuh.
"Iyaa. Sorry Je. Habisnya lo batu banget sih" keluhnya. Savira hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Sarah.
Setelah sampai di UKS, Jeje di baringkan pada brangkat pesakitan dengan bantuan Sarah dan Savira, setelah itu Savira berlalu untuk membuat teh manis dan juga obat penurun demam pada penjaga UKS.
"Ni Je, di minum dulu. Kamu udah makan belum? " tanyanya ketika Jeje selesai meminun teh hangat buatannya. Jeje membalas nya dengan gelengan. Gimana mau makan? Ia saja tak membawa bekal, dan lagi ia juga tak sanggup berjalan menuju kantin.
"Yaudah, lo tunggu di sini aja sama Savira, biar gue aja yang beli makanannya. " ucap Sarah.
"Sekalian air botol ya Sar"
"Oke" setelah itu, Sarah pergi menuju kantin, meninggalkan Savira dan Jeje yang hanya saling diam, mereka sama-sama canggung.
"Kenapa lo baik sama gue Vir? Padahal kalau lo mau, lo bisa bully gue sekarang. " ucapnya pelan tanpa melihat Savira yang berada di sampingnya.
"Karena aku di ajarkan untuk saling memaafkan, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan pula" jelasnya. Ridwan dan Nila benar-benar sukses mendidik Savira di tengah kesulitan ekonomi yang melanda.
"Gue minta maaf Vir. Selama ini gue selalu ngebully lo, selalu ngerendahin lo. Ga taunya, sekarang gue ada di posisi lo, bahkan lebih parah lagi. Gue udah ga punya orang tua sekarang, gue juga ga punya teman lagi sekarang, ga ada lagi yang sayang sama gue. " ucapnya lirih, tatapan itu kosong, namun menyimpan beribu kesakitan dan kekecewaan.
"Siapa bilang? Lo masih ada kami Je. Lo ga akan pernah sendirian" sahut Sarah yang entah sejak kapan sudah ada di depan pintu UKS bersama Raiden, Zafran dan Alfi. Yang lain kemana? Anhar dan Antoni sedang di kantin, sedangkan Dimas entah kemana.
"Sar? "
"Gue udah maafin lo kok. Sekarang, lo ga sendirian lagi Je. Ada kami, lo bisa cerita semuanya ke kami" ucapnya membuat Jeje terharu, ternyata masih ada yang menyayanginya.
"Jangan di pendam sendiri, itu ga bagus untuk kesehatan. Okay" Bahkan orang yang dulu selalu is bully, sekarang malah berbaik hati kepadanya, masih mau menerima dirinya sebagai teman.
"Hiks, makasih, hiks makasih karena udah mau maafin gue Vir, Sar. Hiks makasih" ucapnya berulang-ulang.
"Jangan nangis Je, nanti makin sakit kepalanya. Makan dulu ya, terus minum obat. Abis itu baru tidur. " Jeje tak menolak setiap suapan bubur yang di beri Savira. Setelah bubur itu habis, is meminum obat nya, lalu tidur.
"Kalian keluar sana, ngapain di sini" usir Sarah kepada pemuda-pemuda tersebut, yang mulai tadi hanya berdiri disana.
__ADS_1
"Jangan banyak bolos, kita udah mau lulus loh. Balik ke kelas ya" pinta Savira lembut, ini juga salah satu perbedaan Sarah dan Savira. Lagian, setiap pertemanan pasti ada perbedaan, karena dengan perbedaan itu, pertemanan semakin terasa lengkap.
...****...