SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
SEMBILAN BELAS


__ADS_3

Sesuai perintah Sarah tadi, sekarang mereka semua berkumpul di rumah Sarah. Sarah menyuruh mereka duduk diruang keluarga sementara dirinya dan Savira berganti pakaian. Ridwan dan Adit juga belum pulamg dari kantor.


Iya, mulai sekarang Ridwan berkerja di perusahaan Adit, sebagai karyawan dibagian pemasaran, jangan salah, Ridwan itu sangat cerdas, buktinya kecerdasan tersebut menurun pada putri sulungnya. Hanya saja memang pekerjaan di zaman sekarang susah untuk di dapat.


"Berarti sekarang Jeje tinggal sendiri ya? " tanya Anhar. Entah kenapa pemuda itu terus saja membahas Jeje, tapi jika sudah di hadapan Jeje ia hanya diam dan bahkan tingkah absurd nya tak keluar. Takut Jeje ilfil kali yak. Hehehe.


"Iya kali, " jawab Zafran acuh.


"Yaahh, sayang dong doi. Pasti sepi tu rumah"


"Kalau kasian, ya lo pergi kesana lah bego. Temenin gitu" ucap Antoni malas.


"Tapi, kalau dia nolak gimana? Kalau dia ngusir gue gimana? Aku kudu ottokeee"


"Har, lo kok makin hari makin ga waras. Itu lagi, lo dapat bahasa dari mana 'ottoke ottoke' gitu? " tanya Antoni jengah. Jujur, ia jengah. Memang di antara mereka semua, hanya dia yang paling dekat dengan Anhar, dan sekarang ia mulai lelah dengan tingkah absurd teman se-jomlonya ini.


"Dari noona-noona Korea dung. Emang lo, ketinggalan jaman" ejeknya pada Antoni. Oh iya. Jadi Anhar memang penggemar Kpop. Dia bilang, dia itu penggemar nomor satunya Blackpink, BTS, Seveenten, Exo, TXT, dan Wanna one. Bahkan ia pernah galau karena grup Wanna one tersebut bubar, kan ia tak rela.


Mereka juga tak heran lagi jika melihatnya nge-reong bersama sarah hanya karena Kpop.


"Gila memang"


"Suka-suka gue dong. BLACKPINK IN YOUR AREA YEY! " serunya sambil menarikan dance blackpink.


"Istighfar, Har. Lo lagi di rumah orang. Astaghfirullah, punya kawan kok edan sih" sahut Zafran.


"Ihh, kalian kok jahat banget sih sama gue. Ga like deh"


"Iuhhh" Zafran dan Antoni membuat wajah seolah-olah. Mereka ingin muntah mendengar ucapan Anhar.


"Lo kalau mau ribut mending di luar deh. Gue sumpek liat lo" ketus Raiden yang sadari tadi hanya menyimak pembicaraan mereka bersama Alfi yang juga memilih acuh, dan lebih sibuk membalas pesan dari sang Ibu, yang terus saja memaksanya membawa Savira ke rumah mereka.


Bukan ia tak ingin membawa, tapi memang mereka yang belum ada waktu. Ia pikir, akan membawa Savira ke rumah setelah masalah satu ini selesai.


"Ribut banget sih lo pada. Memang ya, tamu ga tau malu ya gini, datang ke rumah orang, bukannya duduk sopan, diem kayak Raiden sama Alfi, ini malah bikin ribut. Dasar" sindir Sarah yang datang dari dapur dengan membawa minuman dan juga kueh yang di bawa oleh Savira.

__ADS_1


Savira hanya tertawa kecil melihat wajah ke tiganya yang masam mendengar ucapan Sarah, terutama wajah Anhar. Ia sungguh merasa begitu tersindir.


"Jadi rencananya gimana? " tanya Alfi to the point ketika kedua gadis tersebut sudah meletakkan minuman dan kueh nya di atas meja.


"Papa bilang, Savira harus ketemu sama tu cewek. Karena kita kan ga tau apa motif dia sampai bertindak sejauh ini" jelas Sarah yang duduk di sebelah Raiden.


"Bukannya itu malah bahaya ya? " tanya Raiden di angguki mereka.


"Enggak kok. Kata Papa, nanti waktu Savira jumpa sama Adora, dia ga bakal pergi sendiri. Kita juga ikut"


"Tapi, kalau ada kita, pasti tu cewek ga bakal mau buka mulut kan? Gimana? " tanya Zafran.


"Ya kita di sana pantau dari jauh. Eh, tapi jangan jauh-jauh kali, nanti kawan gue diapa apain gimana? "


Savira tertawa melihat tingkah temannya, sempat-sempatnya ia bercanda di saat serius seperti ini. "Intinya, waktu aku jumpa sama dia, kalian cukup pantau aja"


"Asal dia ga nyakitin kamu, aku setuju-setujuh aja" tutur Alfi lembut. Entah mengapa membuat jantung Savira berdetak tak karuan.


"Ekhm! Di harapkan ke pada bapak alfi yang terhormat untuk tidak mengumbar ke uwuwan di hadapan publik. " ucap Anhar.


"Dasar manusia-manusia jomblo" celetuk Zafran mengundang delikan tajam dari kedua nya.


"Ouh ya. Btw nyokap nyokap lo pada kemana? " tanya Antoni karena sedari tadi ia tak melihat kedua nyonya tersebut.


"Ouh, nyokap gue sama nyokapnya Savira lagi belanja sih kata Bibi. Lebih tepatnya nyokap gue, nyokapnya Savira mah di seret ae sama nyokap supaya ikut, sekalian juga Ayu sama Dino juga ikut"


"Tumben orang tua lo di sini Sar. Biasanya juga di luar negeri atau kota"


"Papa ambil libur sebulan, dia ga keluar kota atau negeri dulu selama sebulan ini, katanya tunggu masalah ini selesai dulu, jadi Mama juga di rumah aja, paling juga keluar untuk shopping" jelasnya.


"Maaf ya Sar, Papa jadi sibuk cuman karena masalah aku" ucap Savira tak enak.


"Jangan bilang gitu Viraaa. Papa lakuin ini juga karena dia udah anggap lo kaya anak kandung nya sendirii" ucapnya gemas dengan sahabatnya ini.


"Maaf Non Sarah, Non Savira. Makan siangnya sudah siap" ujar salah satu maid di situ.

__ADS_1


"Ouh, oke. Makasih Bi" ucapnya pada Maid tersebut.


"Yaudah, ayo kita makan dulu" ajak Sarah pada mereka.


...****...


Hari sudah menjelang sore, mereka semua berada di ruang keluarga sebab kedua orang tua Sarah dan Savira yang baru saja pulang dari kegiatan mereka.


Sebenarnya Maya dan Nila sudah pulang dari dua jam yang lalu, tepat ketika mereka selesai makan siang. Sedangkan Adit dan Ridwan baru saja pulang setengah jam yang lalu. Karena tak banyak lagi kerjaan, Adit bisa pulang lebih cepat, dan tentu sana bersama Ridwan.


"Om tenang aja, kami pasti bakal bantu kok" ucap Anhar pd.


"Om senang, jika kalian mau membantu. " balas Adit di sertai senyuman.


"Jadi kapan kita bisa mulai rencananya Om? " tanya Raiden. Sebenarnya ia sedikit gugup. Jujur, siapa yang tidak gugup jika berhadapan dengan orang tua sang pujaan hati, walau Adit dan Maya sedari tadi sangat ramah, tetap saja ia gugup.


"Rancangan bisa kita jalanin, yang pasti tunggu kepastian dari Adora. " jawabnya.


"Kamu udah coba chat dia sayang? " tanya Nila lembut pada sang anak.


"Belum, nanti Savira chat. Kapan pastinya, Savira kasih tau" jawabnya.


"Baiklah. Yasudah, itu saja yang ingin saya bahas. " ucap Adit. Lalu tatapannua beralih kepada ke lima pemuda yang duduk di hadapannya. Iya, hanya berlima. Dimas yang katanya akan menyusul, mendadak tak bisa datang tanpa alasan yang jelas.


"Kalian ga ada niat pulang? Atau mau lanjut makan malam disini? " tanya Adit sedikit mengusir. Ia tak serius kok, hanya sedikit menggertak mereka, lucu saja melihat wajah canggung mereka.


"Ehh, i-iya Om. Ini kami mau pulang. " ucap Raiden langsung berdiri di ikuti ke empat nya.


Sedangkan yang lainnya tertawa pelan melihat tingkah pemuda pemuda tersebut.


"Hahahaha. Astaga, kalian serius sekali, padahal saya hanya bercanda. " ujar Adit sambil tertawa, membuat ke lima pemuda tersebut salah tingkah.


"Kamu ada-ada aja sih Mas. Maaf ya, Om Adit itu memang gitu, ayo-ayo duduk lagi sembari menunggu waktu makan malam" pinta Maya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2