
"Ya ampun, terus Savira nya gimana sekarang? " tanya Maya setelah Sarah selesai menjelaskan kejadian tadi.
"Dia udah ga papa kok. Cuman ya itu, pasti satu sekolah bakal hina dia lagi. " tuturnya, "Pa, Sarah harus gimana sekarang? "
"Huuh, Papa belum tau sayang. Nanti Papa pikir kan ya, biar besok Papa ke sekolah dan bahas masalah ini dengan dewan sekolah. "
"Emm, okay. Makasih Pa, Sarah sayang Papa" ucapnya lalu memeluk sang Papa.
"Papa nya aja ni yang di sayang? Mama ga di sayang? "
"Eh, sayang Mama juga dong, heheh" sahutnya lantas memeluk Maya erat.
"Yaudah, kamu ke kamar gih, belajar terus tidur. Jangan bergadang ya" tintah Maya.
"Jangan asik chatingan dengan Raiden ya. Papa tau kamu pacaran dengan dia. Papa ga larang, asal ga lupa sama kewajiban kamu di sekolah" ucap Adit tegas.
"Aye aye captain! Sarah ke kamar ya, goodnight Papa, Mama"
"Goodnight to sweethart"
...****...
Malam ini Savira sama sekali tak tertidur, ia terus memikirkan kejadian tadi. Ia sempat berfikir, apa ia pernah berbuat salah terhadap Adora? Sehingga gadis itu berlaku sejauh itu padanya. Orang tua Savira belum tau tentang kejadian tadi, ia tak ingin mereka cemas.
"Bagaimana Ara bisa nempel foto itu di mading sekolah? Apa dia sekolah di sana juga? Tapi aku ga pernah liat dia " monolognya. Saat sedang asik melamun, tiba-tiba handphone nya berbunyi. Alfi menelpon rupanya.
"Hallo assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam, Alfi? Ada apa? "
"Gue ganggu ga? lo udah tidur?"
"Enggak kok, ga bisa tidur, hehe"
"Emm, masih kepikiran soal tadi? " pertanyaan Alfi di jawab anggukkan oleh Savira, padahal Alfi tak akan dapan melihatnya. "Besok sekolah? "
"Sekolah, kenapa? "
"Enggak ada. Besok gue jemput ya"
"Eh, ga usah, nanti kamu repot"
"Enggak kok, ga repot"
"Emm, oke. " Setelah itu hening sejenak, mereka sama-sama bingung ingin membahas apa. "Ouh iya Al, aku mau nanya sesuatu, boleh? "
"Boleh. Mau nanyak apa? " tanya Alfi.
"Kamu ga malu temenan sama aku? Ga jijik? "
"Em? Karena foto itu? " Lagi-lagi Savira membalas dengan anggukan. "Enggak, aku ga malu, apa lagi jijik. Lagian kenapa aku harus malu? Aku tau kejadian yang sebenarnya, sedangkan mereka ga tau. Jangan terlalu difikirin, hem? I'm here, you're not alone, jadi jangan takut"
__ADS_1
Entah kenapa hati Savira menghangat dan sedikit tenang mendengar kalimat-kalimat yang di lontarkan Alfi. Ia tak tahu Alfi bisa semanis ini, dan apa tadi? 'aku-kamu'?
"Hem, makasih Al, "
"Sama-sama. " jawabnya, "By the way, kapan terakhir kerja? "
"Besok. Besok aku bakal ke cafe sebentar untuk pamit"
"Oke, besok biar aku temenin"
"Kalau kamu ga repot, ga papa"
"Ga repot kok. Yaudah, sekarang tidur. Jangan sampai sakit, okay? "
"Emm, yaudah, aku tutup ya. Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam good--"
Tuutt~
"--night" Alfi hanya bisa tersenyum, baru saja ingin mengucapkan selamat malam.
"Ya Allah, gini ya rasanya jatuh cinta. " lirihnya sembari melihat bintang yang bertebaran dari balkon kamarnya.
...****...
Seperti janjinya semalam, pagi ini Alfi sudah standby di depan rumah Savira. Mulai tadi banyak tetangga yang berbisik-bisik melihat ke arahnya.
'Ih, itu cowok yang sering mampir kan ya? Kok mau sih dia sama si Savira itu '
'Jangan jangan di guna-guna lagi, makanya tu cowo mau sama dia'
'Ih, ga malu apa ya, udah miskin, muka pas-pasan, masih ada cari yang di atas standar '
Begitu lah lebih kurang pembicaraan unfaedah ibu-ibu itu. Sudah lima belas menit ia menunggu, namun Savira tak kunjung datang.
"Alfi, lama ya? Maaf jadi nunggu" kalimat yang pertama kali keluar dari mulutnya ketika ia menghampiri Alfi.
"Iya, ga papa kok. Udah semua? Kalau udah, ayok, jangan telat"
"He'em" Angguknya. Namun, baru saja akan naik, tapi harus ia urungkan ketika seorang ibu ibu datang kepada nya.
"Eh, Savira sekarang udah berani ya pulang pergi sama cowok. Nakal banget" ucapan Ibu itu membuat emosi Alfi naik seketika.
"Maaf Bu, ini teman sekolah Savira, " jawab Savira.
"Teman atau teman? Kok sering banget pergi bareng, apalagi kalau pulang malem selalu berdua" ucap Ibu itu lagi "Atau jangan jangan kamu jual diri lagi, untuk lunasin hutang Bapak sama Ibu kamu yang miskin itu"
Lagi, dan lagi. Kenapa selalu ucapan itu yang keluar? Apa ia memang sehina itu. Dia tau, kalau ia menang tak perawan lagi, tapi itu kan kecelakaan, bukan karena keinginannya.
Tetangganya yang belum mengetahui hal itu saja sudah berbicara seperti ini, apa lagi jika mereka tahu? Apa lagi yang akan mereka ucapkan untuknya dan keluarganya. Lebih parah lagi, bisa saja mereka di usir.
__ADS_1
"Maaf Bu sebelumnya. Saya boleh bertanya? " tanya Alfi.
"Eh, boleh kok ganteng" See? Sekarang siapa yang pantas di sebut ke ganjengan.
"Ibu dulu sekolah lulusan apa? "
"Ouh, saya teh lulusan S1 FISIP"
"Ouh, saya kira Ibu lulusan SD. Soalnya mulut Ibu kayak kurang di kasih pendidikan. " ucapnya sakras. Tak lupa kan seperti apa Alfi itu sebelum bertemu Savira. Ia di kenal bermulut tajam. "Ayo Vir. Nanti kita bisa telat kalau terus disini"
"Eh, i-iya. Mari Bu, maaf sebelumnya"
Setelah mengatakan itu, mereka melesat pergi meninggalkan ibu ibu tersebut yang hanya bisa menahan emosi yang tak bisa ia lepaskan.
"Memang ya, anak jaman sekarang, ga ada tata krama nya lagi" ucapnya kesal, lalu pergi dari sana.
...****...
Sesampainya disekolah, Alfi terus menggandeng tangan Savira, tak melepaskannya barang sedetik pun. Walau semua mata menusuk tajam ke arah Savira, Alfi pun menunjukkan tatapan yang lebih tajam pada sekeliling nya, membuat beberapa siswa siswi memilih mengalihkan tatapannya.
"Jangan nunduk, kamu harus berani lawan" ucap Alfi tanpa mengalihkan tatapannya.
"Emm" angguk nya, namun tak meng-indahakan ucapan Alfi. Alfi yang melihatnya hanya bisa membuang nafas. Ia melirik arloji yang melingkar manis di tangannya. Masih ada 30 menit lagi sebelum bell masuk berbunyi, seperti nya mereka kecepatan.
"Kita ke rooftop dulu"
Savira hanya mengikuti kemana pemuda itu membawanya, bagaimana mau melawan, pergelangan tangannya di pegang erat namun tak menyakiti.
Sesampai di rooftop, mereka di sambut oleh Sarah, dan ke 5 pemuda lainnya.
"Woi bro" sapa Antoni, yang di balasan senyuman tipis oleh Alfi.
"Saviraaa" ucap Sarah girang, sembari memeluk sangat sahabat. "Gimana? Semalam bisa tidur? " tanya Savira.
"Bisa" jawabnya.
"Good, jangan terlalu di pikirin ya. Urusan ini nanti biar Papa yang urus sama pihak sekolah. Papa bilang, lo jangan terlalu banyak pikiran, fokus aja sama sekolah, bentar lagi kita lulus" jelasnya panjang lebar.
"Iya, makasih Sar"
"He'em, sama-sama" Kita tinggalkan dua teman itu.
"Gimana hubungan lo dengan dia? " tanya Raiden.
"Ga gimana-gimana"
"Lo ga mau jujur aja tentang perasaan lo? "
"Enggak, gue mau dia fokus dulu sama sekolah. Lagian kalau memang jodoh, ga akan kemana"
"Positif thinking banget lo"
__ADS_1
"Harus"
...****...