SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
TUJUH


__ADS_3

Sepulang dari cafe seperti biasa, ia langsung membersihkan diri dan memilih untuk beristirahat. Tenang, ia sudah solat kok saat di cafe tadi, bagaimana pun ibadah itu nomor 1, tak boleh di lewat kan.


Saat ingin memejamkan mata, ia teringat akan surat tadi pagi. Lantas langsung bangun dan mengambil surat tersebut.


To: Savira


Gue ga mau basa basi. Cukup jauhin Raiden and the gengs, termasuk Sarah. Kalau lo mau masa akhir sekolah lo tenang. Kalau enggak, lo bakal tau akibatnya.


Savira terdiam. Apa maksud semua ini, kenapa ia harus menjauhi mereka?


*Flashback Off*


"Aku ga bisa jauhin Sarah, bagaimana pun Sarah satu-satunya teman yang aku punya, " gumamnya. "Tapi, kalau aku ga lakuin, apa yang bakal dia lakuin ke Sarah? "


Savira bimbang, ia tak ingin mereka diapa-apakan. Tapi juga tak ingin menjauhi mereka.


"Huuh, " hela nafasnya. Malam itu ia habiskan dengan termenung memikir kan surat tersebut.


...****...


Pagi ini Savira bangun tanpa semangat seperti biasa, dari semalam ia sama sekali belum tidur, tak bisa tidur lebih tepatnya, ancaman itu terus teringang di kepalanya.


"Ya Allah, Savira harus gimana? Tolong kasih Savira petunjuk. " pintanya dalam doa subuhnya.


Selesai mengenakan seragam, ia lantas mengambil tas sekolahnya dan melangkah keluar untuk sarapan se-alakadarnya.


"Pagi Bapak, Ibu. " sapanya.


"Pagi juga sayang, " balas ayah dan ibunya serempak.


"Pagi kak Viraaaa! " seru Ayu tak kalah semangat.


"Padiii judaaa! " yang disapa si sulung, yang menyahut malah si bungsu -Dino.


"Pagi juga sayang-sayangnya kakak. " Gemasnya dengan kedua adiknya itu.


"Udah udah, ayuk kita makan, setelah itu kalian pergi sekolah, " Semuanya menurut, makan tanpa bersuara. Tanpa berkomentar kenapa menu pagi ini tempe dan tahu lagi.


Setelah makan, semuanya berangkat, Savira yang ke sekolah dengan berjalan kaki, sedangkan sang adik di antar ayahnya menggunakan becak, Savira juga sudah di tawari, tapi dia tak mau, katanya sudah biasa jalan kaki.


Tapi jujur, ia menolak bukan karena ia malu, tapi memang ia sudah terbiasa, lagian jika ayahnya harus mengantarnya dulu baru ke pangkalan, maka akan lama.


Sesampainya di sekolah ia langsung duduk di bangkunya, tak memperdulikan bisik-bisik di sekitarnya. Ia sedang dalam mood yang tidak baik sekarang.


Sarah sendiri belum terlihat, biasanya anak itu tak pernah telat. Mungkin, ia telat bangun, itu pikir Savira.


Tak berselang lama, orang yang bersangkutan datang dengan wajah sumringah nya, tampak sangat bahagia. Bahkan ketika ia sudah duduk di bangkunya pun, senyum itu tak juga luntur.


Savira memandang aneh sang sahabat.


'Sarah kenapa ya? Kok senyum-senyum gitu? Apa jangan-jangan dia kerasukan lagi! ' Pikiran negatif terus berputar di kepalanya.


"Vir, gue lagi seneng banget sekarang! " ucapanya. Savira tetap diam, ia juga ingin tahu, hal apa yang membuat Sarah sesenang ini. "Lo mau tau ga? " tanya nya lagi, yang di balas anggukan lucu oleh Savira.


"Gue bakal liburan ke Korea dong minggu depan! " serunya semangat. "Nanti gue bakal ke konser nya Seventeen, terus jumpa Wonwoo Oppa, Kyaa!! " Yaahh, seperti itu lah Sarah, ia salah satu fansbase Seventeen, dan yah, itu hal yang sudah biasa bagi Savira.


Ia sering melihat Sarah yang tiba-tiba histeris sendiri ketika melihat berita, atau kadang sang idol yang update di sosmed. Fangirl garis keras, ya itu lah Sarah.

__ADS_1


"Wah, seru dong. Sama Papa, Mama ya? " tanya Savira.


"He'em. Papa ngajak liburan, gue sih hayuk, apalagi ke Korea, hehe"


Savira tertawa kecil melihat tingkah Sarah. "Have fun" ucapnya.


"Pasti"


...****...


Sudah seminggu Sarah berlibur ke Korea, seminggu ini pula Savira selalu sendiri, tak sendiri juga sih, masih ada Raiden cs, tapi ia tak enak, masa ia perempuan sendiri, jadi ia lebih banyak menghabiskan waktunya di kelas atau perpustakaan. Sekedar mengisi waktu istirahat saja, ia tak pernah ke kantin sekolah, alasannya ya karena ia harus berhemat.


Ingat kan tentang beasiswa di Korea itu? Iya, Savira sudah pasti ke sana, bahkan ia sudah mengatakan pada Ibu Bapaknya dan pada Sarah, dan Sarah dengan semangat 45 nya mengatakan hal itu pada kedua orang tuanya, yang pasti di sambut baik, dan juga mereka mendukung tujuan Savira. Keluarga yang sangat baik bukan?


Orang tua Savira juga ngotot akan menanggung seluruh biaya Savira disana. Tapi karena Savira menolak, jadinya mereka hanya menanggung setengah, dan setengahnya lagi akan Savira cari sendiri.


Untuk masalah bahasa, Savira sudah cukup mahir berbahasa Inggris, tinggal bahasa Korea nya saja yang harus ia pelajari.


Karena tak ingin membuang banyak uang untuk mengambil privat, ia memutuskan untuk otodidak. Karena itu pula ia sering ke perpus, untuk belajar.


"Betah banget kayaknya di perpus" ucap seorang pemuda membuat fokus Savira teralih pada pemuda yang saat ini duduk di hadapannya dengan sebuah buku.


"Ouh Alfi. Aku kira siapa. Hehe, " ucapnya. Tak ada tanggapan dari Alfi. " Kamu tumben ke sini. Cari buku? " tanya Savira, sekedar membuka topik, ia sangat canggung jika berhadapan dengan pemuda di hadapan nya ini. Alfi terlalu pendiam, sehingga susah untuk di ajak berinteraksi, tak seperti temannya yang lain.


"Menurut lo? "


"Eh, hehe, " balasnya. Sumpah ia sangat canggung sekarang. Dalam hati terus merutuki Alfi, kenapa pemuda ini harus duduk satu meja dengannya, kenapa ga di meja lain aja? Pikirnya.


Karena merasa tak ada gunanya juga berbicara, ia kembali fokus kepada bukunya. Mengingat setiap kosa kata yang tertulis. Savira cepat tangkap dalam hal belajar, saat ini ia sudah bisa menulis Hangeul dan membaca tulisan Korea, untuk hal ini ia tak belajar sendiri. Tentunya Sarah sang pencinta negeri ginseng itu yang mengajarinya.


"Ehh, Vir, " panggilnya.


"Hem? " tanya Savira menatap Alfi, menunggu pemuda itu melanjutkan ucapannya. Tapi setelah beberapa detik, tak kunjung ada suara dari pemuda itu. "Kenapa? " tanyanya.


Ia tak menjawab, hanya sesekali melirik buku yang Savira pegang. Ia ingin bertanya, kenapa gadis itu mempelajari bahasa Korea? Kan dia bisa membantu. Sedikit rahasia, Alfi mahir beberapa bahasa, salah satunya Korea. Hanya saja cuman Raiden cs yang tau, ia malas jika orang lain tau. Dia tak suka di puji.


Namun nyatanya, Savira malah salah menangkap maksud dari tatapan Alfi.


"Kamu mau belajar bahasa Korea juga? Tapi aku belum terlalu pandai, baru bisa menulis sama bacanya aja, belum bisa kalau bicara, " tuturnya.


Alfi mengernyit kan dahinya. 'Lah, gue kan ga minta dia ajarin. Lagian gue juga bisa tu bahasa. ' batinnya.


"Alfi? Hei? "


"Eng-enggak. Siapa juga yang minta lo ngajarin. Gue cuman penasaran aja, kenapa lo belajar bahasa Korea, kan di sekolah ga ada mapel itu, " Wow, lihat lah, manusia es kita bisa berbicara panjang juga rupanya. Raiden cs harus melihat ini sih.


"Ouh, kirain. Aku mau ngambil beasiswa ke Korea, jadi harus belajar bahasanya dari sekarang, " jawab Savira.


"Kenapa ga ambil les privat? "


"Mahal. Kamu kan tau aku orang miskin, mana ada uang untuk les. Lagian aku harus simpan uang untuk biaya di sana. " jelasnya.


"Masuk Univ mana? " Ini kenapa Alfi jadi banyak tanyak? Pikir Savira.


"SNU"


"Jurusan? "

__ADS_1


"Kedokteran" jawab Savira lagi. "Kamu sendiri mau masuk mana? "


"Gue ambil di Turki, jurusan Perhubungan Internasional, "


"Woww, keren doang" ucapan Savira antusias. Entah kenapa berhasil menimbulkan seuntas senyum tipis dari Alfi.


"Lo juga keren. Btw, gue bisa bahasa Korea kok. Ya, kalau lo mau, gue bisa ajarin. Gimana? " tawar Alfi.


"Boleh? Ga repotin? "


"Enggak. Kalau mau, gue bisa ajarin lo di jam istirahat, sama waktu di cafe mungkin? " tanyanya.


"Boleh-boleh, aku mau kok. Makasih Alfi, " ucapnya dengan senyum tulus terukir di bibir merah cherry miliknya.


"Emm, Sama-sama, " balas Alfi juga dengan senyum tipis, walaupun begitu, entah kenapa menambah kadar ketampanan pemuda itu.


'Masya Allah, manis banget senyumnya' Batin Savira tanpa sadar. Ketika sadar dengan apa yang ia pikirkan, ia langsung menggelengkan kepala.


"Lo kenapa? " tanya Alfi.


"Eh, enggak kok. Eemm, aku balik ke kelas dulu ya, udah bell. Assalamu'alaikum" pamitnya dan langsung ngancir tanpa menunggu balasan Alfi.


Alfi tersenyum melihat tingkah Savira, "waalaikum salam"


...****...


Bruk!!


Savira terjatuh ketika ia hendak menuju bangkunya karena kakinya di sanggah oleh Tiara, anak kelasnya.


"Upss, sorry gue ga sengaja. Sakit ya? " tanya Tiara dengan mimik bersalah yang dibuat-buat.


"Enggak kok, ga papa. " ucapan Savira, lantas bangun dan membenarkan rok nya.


"Vira, kok lo bisa deket sih sama Alfi cs? Jangan-jangan lo pakek pelet lagi." tuduh Vina.


"Atau lo jual diri ke mereka? " tanya Anggi. Savira diam, ia tak ingin mengulang kesalahan yang sama lagi.


Ia mencoba menahan amarahnya dengan kedua tangan yang ia gempalkan di kedua sisi.


"Ih, masa sih Savira gitu? Ga mungkin ah, kan Savira anak baik" bela Tiara, tentu hanya drama. Di sudut kelas, Jeje dan kedua dayangnya hanya memandang pertunjukan di depan mereka. Jeje menatap datar Savira, sedangkan Ica dan Naifa tersenyum puasa


"Ya kak bisa aja. Kali aja dia butuh uang lebih, jadi deketin Raiden Cs dengan cara gitu lah. Kalau enggak siapa juga yang mau dekat sama dia yang orang miskin ga tau diri. " ucap Anggi.


"Tapi Sarah mau tu temenan sama dia, " lanjut Tiara lagi.


"Gue rasa sih Sarah udah di guna-guna ni ma dia, makanya Sarah mau berteman sama dia, " balas Anggi lagi.


Savira ingin membantah, tapi dia urungkan ketika Jeje menyahut.


"Lo bisa diam ga? Gue mau tenang! " serunya. Tiara, Anggi, dan Vina pun langsung diam. "Lo juga miskin, duduk sana di tempat lo! Mengganggu pandangan! " ketus Jeje. Ada yang berubah, Ica dan Naifa tau itu. Tapi, mereka tak tahu kenapa Jeje seperti ini, sudah lama Jeje tak membully siapa-siapa lagi.


Savira yang mendengar ucapan Jeje pun langsung duduk di bangkunya. Ia sedikit senang, karena secara tidak langsung Jeje membelanya, tapi ia juga takut, jika itu cuman drama saja. Seminggu tanpa Sarah, ia selalu menjadi bahan bualan teman sekelasnya, bahkan sekarang hampir seluruh sekolah juga membully nya, hal itu bermula semenjak ia dekat dengan Raiden cs.


'Sarah, lo kapan balik? ' batinnya.


...****...

__ADS_1


__ADS_2