
Hari ini sekolah tampak damai, tak ada kejadian kejadian aneh. Semuanya berjalan dengan baik hingga bell pulang berbunyi. Kali ini, Savira tak pulang dengan Alfi, ia pulang sendiri sebab Alfi harus mengantar Ibunya pergi arisan.
"Vir, ga papa pulang sendiri? " tanya Sarah untuk ke sekian kalinya, perasaan nya tak enak.
"Iyaa, lagian dulu juga aku selalu pulang dan pergi sendiri"
"Yaudah, hati-hati ya, kalau ada apa-apa, langsung hubungin gue, oke? "
"Iya"
Setelah itu Savira mulai melangkahkan kakinya untuk pulang ke rumah. Awalnya ia berniat naik bus, tapi ia urungkan, sudah lama juga tak jalan kaki seperti ini.
Ia pulang dengan persaan senang, hari ini adalah hati yang paling tenang. Walaupun beberapa hari yang lalu juga seperti ini, semenjak Jeje berhenti membully nya dengan alasan yang tak ia ketahui, harinya mulai tenang, setidaknya tak ada pembully -an, walaupun ejekan dari beberapa murid masih ada.
Ketika akan sampai rumah, ia melihat orang-orang ramai di depan rumah nya, segeralah ia berlari mendekati rumahnya. Dan betapa terkejutnya ia saat menyaksikan sendiri bagaimana beberapa warga menarik-narik tangan orang tuanya, dan juga mengeluarkan beberapa barang dari rumahnya. Hei, apa yang sebenarnya terjadi?
"Maaf Bu, Pak, sebelum nya ada apa ya. Kenapa barang-barang di rumah saya di keluarkan semuanya? "
"Ouhh, ini ni, cewe murahan yang ada di foto itu. " sahut seorang Ibu membuat Savira bingung.
"Dasar ga tau malu, "
"Mempermalukan warga saja. Orang kaya kamu tak pantas tinggal disini"
"Apa orang tua kamu ga sanggup lagi cari uang? Sampai kamu harus jual diri? Ha?! "
"Mak-maksudnya? "
"Ini kamu kan? " tanya kepala desa seraya menunjukkan foto.
DEG!
Foto itu, foto yang sama dengan foto yang tersebar di sekolah beberapa hari lalu. Savira kehilangan kata-katanya, rahasia yang ia jaga lagi-lagi terbongkar.
"Kalau kamu diam berarti benar ini kamu!? Sekarang lebih baik kamu dan keluarga kamu semuanya keluar dari desa ini?! Cepat?! " seru semua warga. Savira bertekuk lutut, memohon pada warga supaya ia dan keluarga nya tak diusir. Dimana lagi mereka akan tinggal jika tak disini. Namun permohonan nya seperti angin berlalu, mereka tak memperdulikan nya.
Ridwan yang tak sampai hati melihat sang putri seperti itu pun, merangkul pundaknya, menyuruhnya untuk berdiri.
"Enggak Bapak hiks, kita harus memohon supaya mereka izinin kita tinggal hiks"
"Enggak sayang, ga perlu"
"Pergi cepat?! Jangan menyebarkan keburukan di kampung kami?! "
"Ayo Bu, kita pergi" ajak Ridwan pada sang istri yang nampaknya pun juga sudah pasrah. Mereka tak menyalakan Savira, mereka jelas tau bahwa putri mereka tak bersalah disini.
Setelah itu, dengan memantapkan hati, Ridwan membawa keluarganya pergi dari sana, entah dimana sekarang mereka akan tinggal, ia pun tak tahu. Uang yang ia punya tak cukup untuk menyewa penginapan semalam.
__ADS_1
Hari sudah malam, saat ini mereka sedang duduk di taman setelah lelah berjalan berjam-jam tanpa tau tujuan, sebab becak yang biasa Ridwan pakai untuk kerja tertinggal, dan sekarang Ayu dan Dino sudah tertidur. Sedangkan Savira mulai tadi hanya diam, ia sangat-sangat merasa bersalah kepada kelurganya.
"Bu, Pak. Maaf hiks, maafin Savira hiks. Ka ... Hiks... Karena Savira, kita di usir warga, hiks. Maaf hiks maaf" ucapnya lantas berlutut di hadapan kedua orang tuanya. Sakit hati Ridwan dan Nila melihat putri sulung mereka seperti ini.
"Sayang, Hai, liat Ibu, Nak. Jangan nangis, jangan merasa bersalah, anak Ibu ga salah, kamu ga salah sayang hiks, jangan nangis hiks" ucap Nila memeluk sang anak dengan kata kata menenangkan, air matanya keluar, tak sanggup menahan rasa perih di hatinya.
"Ta-tapi hiks, karena Savira-"
"Kamu ga salah. Jangan salahin diri kamu terus. Bapak ga suka dengarnya, Bapak merasa gagal menjaga kalian" ucap Ridwan.
"Udah, ga ada yang salah. Ini udah takdir keluarga kita, kita jangan putus asa, hm.. Kita masih ada Allah, Allah bakal kasih jalan keluar untuk kita. " ucapnya dan menghapus air mata pada kedua pipi putrinya.
"I-Ibu, Bapak. Untuk malam ini kita nginap di hotel saja dulu ya, Savira ada uang kok, cukup untuk satu malam. Besok Savira bakal cari tempat tinggal lain. " ucapnya, ia baru ingat, bahwa ia membawa uang simpanannya.
"Tapi itu uang untuk kuliah kamu Nak" ucap Ridwan. Ia tahu putrinya bekerja keras untuk mengumpulkan uang-uang itu.
"Ga papa, yang penting malam ini kita ada tempat tinggal, sayang Dino dan Ayu, pasti mereka capek. " Melihat putra dan putri kecilnya yang memang tampak tak nyaman dalam tidurnya pun, akhirnya menganggu,menyetujui usulan Savira "Yaudah, kalau gitu kita pergi sekarang ya"
Biarlah malam ini mereka istirahat dulu, besok Savira akan memikirkan di mana mereka akan tinggal. Ia janji akan segera menyelesaikan masalah ini, ia harus berjumpa dengan Adora dan menanyakan tujuan gadis itu melakukan semua ini. Tak apa, kali ini ia akan mengenyampingkan rasa takutnya.
...****...
Ini masih jam 3 pagi, tapi Savira dan kedua orang tuanya sudah bangun untuk solat tahajud. Mengeluhkan semuanya kepada Tuhan, siapa lagi tempat mereka mengadu selain Allah. Mereka percaya, setiap cobaan yang Tuhan berikan untuk mereka, itu artinya mereka mampu melaluinya.
Karena setiap badai selalu berakhir pelangi, dan mereka sedang menunggu pelangi tersebut datang.
Sedangkan saat ini di sekolah, Sarah sedang khawatir setengah mati pada Savira. Gadis itu tak masuk sekolah, tak ada kabar, dan panggilannya tak di jawab. Ia tak bisa duduk tenang, membuat Raiden terus memaksanya untuk duduk dan berfikir dengan tenang.
"Tenang dulu Sar" ucapnya untuk kesekian kali.
"Gimana gue bisa tenang?! Savira ga datang, terus dia juga ga jawab telpon gue. Dan lagi perasaan gue mulai kemarin ga enak! " ucapnya, ia sangat cemas sekarang, membuat nya tanpa sadar meneteskan air mata. Raiden yang melihat itu pun langsung memeluk Sarah guna menenangkannya.
Alfi mulai tadi pun sama cemasnya dengan Sarah, tadi pagi ia tak sempat ke rumah Savira karena ada urusan dengan guru. Sama dengan Sarah, sudah berkali-kali pula ia mencoba menghubungi Savira, namun hasilnya nihil.
"Gue ke rumah Savira sekarang" putusnya.
"Tapi pintu pagar di kunci, ini masih jam kedua, dan pintu gerbang akan di buka saat istirahat nanti" jelas Raiden saat melihat Alfi yang akan pergi.
"Aihh sialan?! " makinya.
"Aku tau, ayo Alfi, kita kerumah Savira sekarang. " seru Sarah dan menarik tangan Alfi, meninggal kan Raiden yang terdiam.
"Hahaha, di tinggalin. " ejek Anhar, Antoni, dan Zafran. Masih sempat-sempatnya mereka tertawa di saat seperti ini. Sedangkan Dimas hanya diam.
"Ck, lo semua ikut juga" tinta hanya, di angguki mereka bertiga.
"Gue ga bisa, sorry. Gue udah ada janji sama Adera. "
__ADS_1
"Yaudah" Jawab Raiden singkat dan langsung pergi menyusul Sarah dan Alfi.
Sampai di pakiran, mereka melihat pintu gerbang yang sudah di buka sedikit oleh satpam, setidaknya muat untuk keluar motor.
"Ih, lama banget sih?! " amuk Sarah, ia sudah tak sabar bertemu Savira.
"Maaf sayang"
"Kok di bolehin?" tanya Zafran bingung, seperti nya ia lupa jika Sarah itu anak donatur terbesar di sekolah.
"Itu ga penting, sekarang kita ke rumah Savira dulu" ucap Alfi, dan langsung pergi duluan dengan motornya, disusul Raiden dengan Sarah, setelah itu Antoni dan Anhar.
"Woi! Gue kok di tinggal! " seru Zafran ketika mereka meninggalkan nya sendiri di sana.
...****...
Mereka diam mematunh ketika sampai di depan rumah Savira. Rumah itu tak bisa dikatakan baik-baik saja, halamannya berantakan, begitu juga kondisi dalam rumahnya, semuanya berantakan.
"Kenapa berantakan gini? " tanya Anhar entah pada siapa.
"Ck, Savira kamu dimana?? " gumam Alfi saat ia mencoba menelfon Savira untuk yang ke sekian kalinya.
"Eh, kalian ngapain disini? " tanya seorang bapak-baoak yang ketika lewat tak sengaja melihat mereka.
"Pak, kami kawannya Savira. Bapak tau ga mereka ke mana? " tanya Raiden.
"Savira? Savira sama keluarganya teh ga tinggal di sini lagi. Kemarin mereka di usir warga kampung"
"Ha!? Kok bisa? Ada masalah apa emangnya? " tanya Sarah.
"Saya teh kurang tau Neng, soalnya kemarin saya ga ada di tempat. " jelasnya. "Tapi teh, yang saya tau mereka di usir karena foto"
"Foto? Foto apa? " tanya Alfi.
"Foto Neng Savira lagi ****** sama cowok. Kalau kata Ibu-Ibu teh, dia jual diri"
"What?! Jadi sekarang mereka kemana? " tanya Sarah panik. Jika mereka di usir, kemana sang sahabat pergi saat ini, dimana mereka bermalam.
"Saya ga tau kalau itu. Yaudah saya mau pergi dulu"
"Ouh iya Pak, makasih informasi nya" ucap Antoni.
Saat sedang memikirkan kemana kira-kira Savira pergi, handphone Sarah berdering, nama orang yang mereka cemaska tertera di ID penelpon.
"Hallo, assalamu'alaikum Vir. Lo dimana? "
...****...
__ADS_1