
Setelah hari dimana ia dan Sarah membolos di rooftop dengan sekelompok siswa nakal itu, sekarang mereka semakin dekat, bahkan terkadang, mereka juga akan ikut berkumpul di taman sekolah menemani Sarah dan Savira.
Banyak yang menatap iri kedekatan Sarah dan Raiden, dan juga tatapan kebencian yang semakin terjadi tertuju pada Savira yang sering terlihat dekat dengan Dimas dan Zafran. Mereka tak pacaran kok, hanya saja memang dasarnya Savira anak yang ramah, jadi ia mudah dekat dengan orang yang baru ia kenal.
"Je, liat noh si miskin makin menjadi! Masa sekarang dia deketin Zafran sama Dimas sih. " kompor Ica.
"Padahal kan Dimas udah ada pacar ya, ga malu memang tu cewek. Cocok sih jadi *****, Hahaha" sahut Naifa.
"Iya tu, apa lagi Zafran itu punya Jeje, " sambung Ica lagi, lanjut memanas-manasi Jeje.
Iya, Jeje menaruh perasaan pada Zafran, bahkan sudah sangat lama, walaupun Zafran terkenal akan sifat buayanya, entah kenapa Jeje masih saja menyukainya. Yang membuat Jeje heran itu, kenapa sampai sekarang Zafran masih tak peka dengan perasaannya, padahal ia sering mengkode Zafran.
Rasa benci Jeje terhadap Savira semakin bertambah. Dulu ia merebut Sarah darinya, membuat Sarah membencinya, padahal dulu mereka berteman baik. Sekarang Zafran yang di rebut oleh Savira.
"Lo ga niat buat lakuin sesuatu gitu Je? " tanya Ica.
"He'em, kasih pelajaran gitu, biar tu orang ga gatel lagi deketin Zafran sama Dimas. " sambung Naifa.
Mereka berdua memang iblis berkedok manusia, selalu menghasut Jeje untuk berlaku buruk, yang sayangnya Jeje pun mau-mau saja kemakan hasutan mereka. Tak salah jika Sarah bilang bahwa Ica dan Naifa buka seorang teman yang baik. Lihat saja kelakuan mereka.
"Gue ga bisa gerak dulu sekarang" ucap Jeje. Mengundang tatapan bingung dan kedua temannya.
"Kenapa? Kok tumben? " tanya Naifa.
"Kalau gue bully Savira lagi, gue yang bakal berhadapan langsung dengan Sarah. Lo tau kan, kalau gue udah berhadapan dengan Sarah, itu artinya gue juga akan berhadapan dengan orang tuanya. " jelasnya.
Ica menaikkan alis tanda ia tak paham, kenapa tiba-tiba seperti ini? Ia seperti tak mengenal Jeje di hadapannya saat ini.
"Orang tua Sarah kasih surat peringatan untuk gue, dan peringatan itu di kasih langsung ke orang tua gue. Lo pada paham maksud gue kan? "
"Berarti kalau sampai lo ke tauan buat ulah lagi, lo bisa aja di kasih hukuman? "
"Bahkan lebih parah lagi, orang tua Sarah ga akan segan-segan untuk keluarin gue. Catatan pelanggaran gue udah terlalu banyak, walaupun selama ini gue ga pernah di hukum, " ia jeda sejenak, "dan juga itu bakal berimbas ke bisnis bokap gue. Karena bokap gue sama bokap nya Sarah ada ikatan kerja sama, dan keuntungan nya besar. Karena itu, gue ga bisa lagi bertindak suka-suka hati ke Savira. "
Ica dan Naifa hanya diam, bingung ingin menanggapi bagaimana. Jika sudah seperti ini, mereka tak bisa lagi membully Savira, dan mereka tak suka jika gadis itu hidup tenang tanpa gangguan.
Tapi, melihat tatapan Jeje yang penuh kebencian, mereka yakin lambat laun Jeje sendiri yang akan bertindak terhadap Savira. Tinggal tunggu tanggal main saja.
...****...
"Vira, Vira, " panggil Zafran.
"Iya? " tanya Savira.
"Lo tau ga apa bedanya kamu sama matahari? "
Yang lain hanya memutar bola mata malas mendengar gombalan Zafran, beda dengan Sarah yang sudah mendelik ke arah pemuda itu. Kendati begitu, Savira tetap meladeninya.
"Emm, kenapa? Aku ga tau, "
"Karena kalau matahari itu menyinari bumi, sedangkan kamu menyinari hari-hariku, " ucapnya dengan senyum buayanya.
__ADS_1
"Hueewwkk" Antoni dan Dimas serempak membuat suara orang muntah.
"Mual tau ga gue denger nya! " ketus Sarah.
"Bilang aja lo mau gue gombalin juga, " ucapnya pede.
"Coba ulang sekali lagi? " sahut Raiden.
"Mampus pawangnya bangun." seru Antoni.
"Ehh, hehe. Piece✌🏻, " ucapnya dengan cengiran dan juga tangan tanda perdamaian.
Savira hanya tersenyum saja. Menikmati pertunjukkan dihadapan nya. Tanpa ia sadari, seseorang terpukau akan senyuman gadis itu.
'Masya Allah, senyumnya manis banget, ' Batinnya.
"Yaudah yuk masuk, bentar lagi bell. " ajak Sarah diangguki Savira.
"Bolos aja lah Sar. Bokap lo kan punya sekolah, "
Belum Sarah menjawab, Raiden sudah terlebih dahulu membalas ucapan Antoni.
"Cewek gue harus rajin belajar goblok, ga boleh banyak bolos, nanti makin bodoh. " ucapnya santai, namun malah memancing amarah Sarah.
"Jadi lo bilang gue bodoh?! Ha!? " amuknya. Raiden hanya menggaruk belakang kepalanya bingung.
'Kan gue bener. Biar dia ga makin bodoh, masa calon ibu dari anak-anak gue goblok sih. Udah bapaknya goblok, jangan ibunya juga dong, ' grutunya dalam hati.
"Enggak gitu by, "
"Viraa~~ masa gue di bilang bodoh~~ gue pande kan?? Yakan?? Viraa~~" rengeknya dengan tangan bergelantung di tangan Savira.
"Iya, iya, kamu tu pandai banget. Jadi ga usah denger apa yang Raiden bilang okay? Nanti aku balenin kamu cheesecake, " Biasanya cara ini selalu berhasil mengembalikan mood Sarah
"Janji? " See? Dia memang seperti anak kecil, yang mudah sekali di bujuk dengan permen.
"Iyaa, yaudah ayuk ke kelas."
"Yuk. Dadaahh, gue pergi dulu yaa, jangan kangen, " ucapnya dan menarik tangan Savira menjauhi tempat itu .
"Kayaknya lo harus lebih banyak belajar dari Savira deh, Den. " tutur Dimas.
"Kuy kelas. Jangan bolos terus. Nanti GOBLOK! " ucap Alfi santai, dan berlalu ke kelas meninggalkan teman-temannya yang melongo melihatnya.
"Itu Alfi? Kesambet apa? Tumben ceria kali tu muka" tanya Anhar, di balas gelengan kepala oleh Raiden, Zafran, dan Antoni.
"Lo juga, tumben cuman diam-diam baek mulai tadi, biasanya juga ngerusuh sama Zafran. " tanya Dimas.
"Eh? Ga ada, lagi malas aja. Kuy kelas, " ajaknya berlalu dari sana.
"Ada yang disembunyiin, " gumam Antoni.
__ADS_1
****
Seperti biasa, setelah pulang sekolah Savira menuju cafe bersama Sarah. Tapi bedanya kali ini, tak hanya Sarah, namun ke -6 pemuda itu pun ikut.
"Aku mau kebelakang dulu ya, kalian mau pesan apa? Biar sekalian, " tanya nya.
"Gue kaya biasa ya Vir, " pinta Sarah, dan di angguki Savira, ia jelas tau apa yang temannya ini inginkan.
"Kami semua ice americano, kecuali Alfi, dia hot chocolate, itu aja, " pesan Raiden.
"Okay, tunggu bentar yaa, "
"Alfi ga bisa minum kopi? " tanya Sarah setelah Savira pergi.
"Iya, tu orang ga bisa minum kopi, alergi. " sahut Anhar saat melihat Alfi hanya mengangguk.
"Ouhh, sama dong kaya savira. " Entah kenapa perasaannya saja, atau bukan, tapi setiap ada Savira atau membahas tentang Savira, tiga pemuda di hadapannya ini seperti sangat antusias, tapi dua di antar ketiganya memang tak terlalu nampak, hanya saja tatapan matanya itu, seperti memiliki makna lain.
"Savira alergi kopi juga? " tanya Zafran saat Savira sudah ada di hadapan mereka dengan membawa pesanan mereka, di bantu Yono, salah satu pelayan disitu juga.
"Ha? Ouh, aku enggak alergi. Cuman aku nya ada riwayat lambung akut. Jadi ga bisa kenak kafein terlalu banyak. "
"Ouhh, " balas mereka.
"Vir, kamu disini aja ga papa. Biar abang aja yang gantiin. " ucap Yono.
"Eh, jangan lah. Kan itu tugas Savira, " tolak Savira.
"Sudah ga papa. Selamat menikmati mas-mas tampan dan adek Sarah sama adek Savira yang geulis, " ucapnya berlalu tanpa peduli tatapan tajam yang terlempar ke arahnya.
"Ekhm, sorry, bang Yono emang gitu, " ucap Savira. Mereka hanya acuh.
Dan seterusnya meja itu tanpa sangan ribut dengan ocehan random mereka.
...****...
Saat ini Savira sedang melamun memandang langit dari jendelanya. Setelah pulang dari cafe tadi, ia terus saja termenung. Ada hal yang ia pikirkan, dan itu terus mengganggu aktivitas nya. Apa benar ia seperti itu?
Lalu matanya kembali tertuju ke kertas putih di atas mejanya. Sebuah surat tanpa nama yang ia temukan di dalam lokernya ketika ia meletakkan beberapa buku yang tak ia perlukan.
Surat itu berisi seperti sebuah ancaman yang jelas tertuju padanya.
*Flashback on*
Savira datang sekolah dengan beberapa buku Olimpiade di tangannya. Ia berniat meletakkan buku-buku itu di dalam loker, supaya saat ia perlu di sekolah sudah ada.
Sesampai disana ia malah melihat lokernya yang sudah terbuka. Sempat bingung, namun ia menganggap mungkin dirinya lupa mengunci loker tersebut. Namun saat ia buka, ia malah menemukan sebuah surat di situ.
"Loh, kok ada surat? Dari siapa ya? Apa pengagum rahasia? Hahahaa, ngadi-ngadi kamu Vir, mana ada yang suka sama kamu, " ucapnya.
Niat hati ingin membuka surat tersebut namun urung ketika di depan lorong sana Sarah berteriak memanggil namanya, dan melambaikan tangan dengan semangat.
__ADS_1
Karena hal itu, ia terakhir memutuskan untuk menyimpan surat itu ke dalam tas, dan akan membukanya ketika ia sudah di rumah nanti.
...****...