
Tring~
"Eh, Savira" sapa pegawai cafe.
"Hai kak, emm Pak Zani udah ada belum ya di ruangannya? " tanya nya pada pegawai tadi. Sedangkan di belakang nya Alfi setia mengikuti kemana gadis itu melangkah.
"Ada kok, emang kenapa? "
"Aku ada perlu"
"Ouh, yaudah, keruangan nya aja terus"
Savira mengangguk sebagai jawaban, setelah pegawai tadi pergi, ia pun berbalik badan menghadap Alfi. "Al, kamu di sini aja ya. Duduk di sana aja, biar aku jumpa dulu sama manager cafe " pintah nya yang di angguki Alfi.
Setelah Alfi pergi ke meja yang di tunjuk Savira tadi, gadis itu pun langsung pergi ke ruangan manager setelah sebelumnya memesankan minuman untuk pemuda tersebut.
Tok tok tok
Ceklek~
"Assalamu'alaikum, permisi Pak, ini Savira. Boleh masuk? "
"Waalaikumsalam, masuk aja Vir"
Setelah mendapat jawaban, gadis itu pun masuk ke dalam. Ia menduduki dirinya di kursi depan meja manager nya tersebut.
"Ada apa kesini? "
"Emm, Pak. Saya mau mengundurkan diri dari cafe ini" ucapannya membuat Zani terkejut, pasalnya Savira adalah pegawai yang rajin, dan kesayangan semua orang yang ada di cafe ini.
"Apa ada masalah? Kenapa tiba-tiba sekali? "
"Saya lagi ada masalah pribadi, Pak. Jadi, saya mau menyelesaikan masalah saya dulu. Jika sudah selesai, mungkin saya akan bekerja di sini lagi jika Bapak mengizinkan. " jelasnya.
"Ouh, tentu saya akan menerima kamu. Bagaimana mungkin saya menolak pegawai serajin dan sesantun kamu. " ucapnya, "Yasudah, jika itu keputusan kamu. Semoga masalah kamu cepat selesai ya"
"Amiin, iya Pak. Makasih"
"Iya, sama-sama. Dan ini gaji kamu bulan ini" ujarnya seraya menyerah kan amplop berisi uang gaji terakhir Savira.
"Makasih Pak"
Setelah urusan nya selesai, ia pun keluar dari ruangan itu menuju kasir, untuk berpamitan dengan Sinta dan beberapa pegawai lain yang selama ini selalu membantunya.
"Yaaahh, kok gitu sih Vir" ucap Sinta "Ga ada kamu ga enak ih, serem tau suasana cafe jadinya"
"Heheh, kakak ada ada aja. Nanti Savira bakal sering kesini kok dengan Sarah"
"Janji yaa"
"Iyaaa" Sinta sekali lagi memeluk Savira. Ia sudah menganggap Savira seperti adik nya sendiri, jadi rasa tak rela lebih besar pada dirinya di banding pewagai lain.
"Udah, Sin. Sayang Savira, dia pasti udang ada janji dengan pacaranya" goda Yono.
"Ouh ya ampun. Sampai lupa" ucap Sinta setelah melepas pelukan mereka.
"Ih, Bang Yono apaan sih. Siapa juga yang pacaran? Ga boleh tau, dosa" ujar Savira. Alfi yang mendengar ucapan Savira hanya tersenyum. Lucu saja melihat interaksi mereka.
"Hahaha, kamu bener Vir, anak kecil ga boleh pacaran dulu" sahut Wawan.
"Terserah kalian aja deh, " pasrah Savira. Yang lain hanya tertawa melihat muka memelas nya.
Alfi yang merasa hari hampir sore pun, bangkin menuju Savira, ia harus mengantar gadis itu pulang. Tidak baik bukan jika laki-laki dan wanita tanpa setatus halal pulang malam hari? Jadi, sebagai lelaki yang baik, ia harus mengantar Savira pulang segera.
"Vira, udah mau sore. Ayo pulang" ajak Alfi.
"Tuh Vir, pulang sana. Hati-hati ya"
"Ouh, oke. Yaudah, Savira pulang ya Assalamu'alaikum"
__ADS_1
Ucapnya sebelum pergi dari sana.
"Saya duluan, Assalamu'alaikum" Alfi pun pergi menyusul Savira.
"Waalaikumsalam" jawab semuanya.
"Aduhhh, ganteng bangeett, udah gitu sopan lagi" puji Sinta.
"Sadar umur Sin. Kamu teh udah tua, masa suka sama yang brondong sih. Sini sama aku aja" ucap Yono. Mengundang tatapan jijik dari Sinta.
"Ga makasih, bye"
"Sabar ya, hahahha" Ejek Wawan, di sambut tawa oleh yang lain.
...****...
Jalanan sore ini lumayan macet, maklum sudah saat nya para pekerja pulang ke rumah masing-masing membuat jalanan menjadi macet. Tapi mereka menikmatinya, semilir angin sore begitu nikmat untuk mereka pengendara motor, cuacanya tak terlalu panas juga, mungkin karena sudah sore.
"Savira" panggil Alfi yang masih fokus mengendarai motor ninjanya.
"Iya? "
"Kapan-kapan ke rumah aku mau? " tawarnya.
"Mau ngapain? " tanya Savira, ia sedikit takut jika di ajak ke rumah orang lain, kecuali rumah Sarah. Mungkin karena masa lalunya.
"Tenang aja, aku enggak selicik itu kok. Umi mau jumpa sama kamu" sepertinya Alfi menyadari ketakutan gadis tersebut.
"Kenapa mau jumpa sama aku? " tanya nya lagi.
"Entah, Umi cuman bilang, sekali-kali ajak kamu ke rumah"
"Ouh, boleh kok. "
Alfi tersenyum senang di balik helm full facenya.
"Umi bukan orang kaya gitu kok. Umi udah tau latar belakang kamu, dia ga terlalu ambil pusing"
"Kamu sering cerita tentang aku? " tanya Savira.
"He'em"
"Kenapa? "
"Enggak kenapa-kenapa, mau aja" Savira tak menyahut lagi, ia hanya menganggukkan kepalanya.
Tak terasa, saking asiknya menikmati sore ini, motor Alfi berhenti tepat di perkarangan rumah Savira.
"Udah sampai" ucap Alfi. Savira turun perlahan dari motor tersebut, setelahnya ia merapikan sedikit rok sekolah nya.
"Makasih Alfi" ucapnya dengan senyum manis yang terukir.
"Sama-sama" balas Alfi pun dengan senyum lembut nya. "Masuk gih. Aku pulang terus ya"
"iya, hati-hati" Alfi mengangguk.
...****...
"Dimasss" seru seorang gadis cantik sembari memeluk Dimas dari belakang, "Udah nunggu lama? "
"Belum kok. Sini duduk" ucap Dimas dan menyuruh gadis tersebut duduk di hadapannya. "Mau pesan apa? " Tanya nya, sebab saat ini mereka sedang berada di salah satu restoran mewah.
"Emm, jus jeruk sama spagetti aja"
"Oke. Waiter! " panggilnya pada seorang pelayan restoran tersebut.
"Mau pesan apa Mas? " tanyanya dengan buku catatan kecil di tangannya.
"Jus jeruk satu, americano satu, spagetti dua" pesannya.
__ADS_1
"Oke. Tunggu sebentar ya"
Setalah waiter itu pergi, Dimas meraih tangan gadis di depannya.
"Kamu cantik banget malam ini" puji nya membut gadis di depannya tersenyum malu.
"Bisa aja "
"Ih serius lo Ra. " Gadis itu kekasihnya -Adera.
"Berarti selama ini aku jelek dong"
"Ya ga gituu, tapi malam ini kamu cantiknya berkali-kali lipat"
"Hehehe, makasih by. Kamu juga ganteng malam ini" puji nya balik.
"Sebelum-belumnya ganteng juga kan? "
"Enggak, biasanya kamu jelek, dekil lagi"
"He! Enak aja, pacar sendiri masak dibilang gitu" rajuknya.
"Iya iyaa, jangan cemberut gitu. Pacar aku yang paling ganteng deh"
Mereka sudah berpacaran selama 2 tahun. Dari awal Adera menajadi siswi kelas 1 SMA, Dimas sudah mengincar gadis tersebut untuk di jadikan pacar. And then, mereka masih bertahan hingga sekarang. Adera yang sudah terlalu jatuh hati pada pemuda di depannya, begitu pun Dimas.
"Kita udah lama ya ga jalan berdua gini" ucap Dimas.
"Habisnya kamu sibuk banget sih. Selalu kumpul dengan kak Raiden dan yang lain. Akunya di anggurin"
"Ya maaf By, "
"Emm, Kakak. Menurut Kakak, Kak Savira itu orangnya gimana? "
"Savira itu --" belum selesai ia bicara, pesanan mereka sudah datang, membuatnya menunda ucapannya.
"Selamat menikmati Mas, Mbak"
"Iya, makasih"
Setelah pelayan tersebut pergi, mereka mulai menikmati makanannya.
"Kakak, Kak Savira itu gimana? " tanya Adera lagi, sebab Dimas belum menjawab pertanyaannya.
"Dia anak yang baik dan sopan. Dia juga pinter" Jawabnnya sembari sesekali memakan makanannya.
"Dia ada hubungan ya sama Bang Alfi? " pertanyaan tersebut membuat pergerakan tangan Dimas terhenti.
"Ga tau" jawabnya. Entah kenapa, jika membahas Alfi dan Savira, ia kehilangan moodnya. Dan itu semua tertangkap atensi Adera.
"Kok ga tau? "
"Hubungan nya ga jelas, ga ada kepastian" jawabnya asal.
"Ouh. Tapi kayaknya ga mungkin kan Bang Alfi mau pacaran dengan Kak Savira" ucapannya lagi lagi membuat Dimas menatapnya.
"Kenapa gitu? "
"Yaa, Bang Alfi itu anak tunggal kaya raya, sedangkan Kak Savira cuman anak orang miskin. Terus terus, yang foto ituu, Kakak tau kan? Dia udah bekas, mana mau Bang Alfi" ujarnya "Terus ni ya, kenapa pihak sekolah masih diam aja, ga kelurin dia dari sekolah. Kan itu mempermalukan sekolah. Malahan guru-guru kayak ga peduli lagi dengan masalah ini"
Dimas hanya diam, ia malas menjawab. Topik kali ini benar-benar membuatnya kehilangan mood.
"Udah, ga perlu urusin hidup orang lain. Lanjut makannya, terus kita pergi" ucapnya dingin. Sedikit membuat Adera menciut.
"I-iya" Dimas dalam mode dingin itu mengerikan, sama seperti Alfi dan Raiden.
'Sebentar lagi Vir, sebentar lagi lo bakal hancur'
...****...
__ADS_1