SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
SEBELAS


__ADS_3

"I-ini" suara Savira tercekat, bayangan masa lalu kembali berputar di kepalanya layaknya kaset rusak. Tubuhnya seketika menggigil ketakutan.


Mereka yang ada di sana jelas panik melihat Savira.


"Vir, lo kenapa? Hey, Vir. Look at me" ujar Sarah mencoba mengambil atensi Savira. "Vir, please jangan gini"


"Duduk dulu Sar, " pinta Zafran. Setelah duduk, dan di beri minum oleh Anhar. Savira langsung memeluk erat tubuh Sarah, tubuh bergetar nya dapat jelas Sarah rasakan. Saat itu, ia tau sahabatnya tak baik-baik saja selama ini.


"Tenang Vir, ada gue disini" ucapnya mencoba untuk menenangkan. Sedangkan yang lain membiarkan Sarah yang menenangkan Savira, karena mereka juga bingung. "Kalau lo udah tenang, please, talk to me. Apa maksud foto itu"


Kalian mau tau apa isi foto tersebut? Foto itu menampakkan Savira sedang melakukan hubungan intim dengan seorang pria.


Don't think negative! Semua tak sesuai dengan apa yang terlihat pada foto itu.


*Flashback On*


Saat itu, Savira masih duduk di kelas 2 SMP, yaa kejadian itu saat ia masih SMP. Seperti yang terjadi di SMA, hal itu juga terjadi di SMP, ya apa lagi jika bukan pembullyan yang dialaminya.


Walau sering di bully, tak hayal Savira termasuk anak yang periang, ia tak pernah peduli dengan omongan orang lain terhadap dirinya. Dia jarang berfikir negatif. Saat itu, yang ia tau, ia harus tekun sekolah, dan menjadi orang hebat, setelah itu membawa seluruh keluarga nya pindah ke kediaman yang lebih layak. That's what she thought.


Nyatanya masa sekolah menengah awalnya lebih suram dari yang ia bayangkan. Saat itu ia berteman dekat dengan seorang gadis bernama Adora, yang biasa dipanggil Ara. Seorang gadis tampa ibu dan ayah, dia bukan yatim piatu, hanya saja ia ... Emm...terbuang? Di terlantarkan? Like that.


Adora anak yang pendiam, dia tak banyak bicara. Anak sekolah sering menganggapnya aneh, dan ia juga sering menjadi bahan gosip anak sekolah. Namun, walau begitu tak pernah ada yang berani membully nya. Mungkin, karena dia sedikit mengerikan? Walau pendiam, tatapan anak itu sungguh menakutkan.


Dari semua anak di sekolah, cuman Savira yang berani mendekatinya, iya, dia tak takut. Baginya untuk apa takut, toh sama sama manusia. Menurutnya, Adora hanya perlu lebih banyak berbicara dan berteman, itu saja. Dari karena itu ia mencoba berteman dengan gadis itu, walau awalnya ia mengira pasti gadis itu tak mau berteman dengannya. But, in fact it's wrong. Adora menerima baik kehadirannya, dan mereka menjadi semakin dekat.


Beberapa bulan berlalu, pertemanan mereka semakin menjadi obrolan hangat lingkungan sekitar. Bagaimana tidak, si anak miskin berteman dengan anak yang tak jelas orang tuanya.

__ADS_1


Namun sayangnya, Savira yang begitu lugu dan terlalu memuja ikatan pertemanan tak menyadari, bahwa selama ini bahaya mengintai nya.


Malam itu, entah kenapa saat Savira meminta izin untuk pergi jalan-jalan bersama Adora, hati Nila tak tenang. Ia seakan sangat ingin melarang Savira pergi. Tapi ia juga tak tega ketika melihat sangat anak yang sangat antusias. Dengan memantapkan hati, akhirnya ia membiarkan Savira pergi dengan hati yang terus berdoa, semoga sang anak selalu dalam lindungan Tuhan.


...****...


Nyatanya, firasat seorang Ibu tak pernah salah. Saat Adora mengajaknya untuk ikut ke apartemen nya dengan alasan bahwa ada barang pentingnya yang tertinggal, Savira langsung mengiyakan tanpa keraguan sedikit pun.


Setelah sampai di apartemen itu, Adora pamit ke kamarnya dulu, dan Savira menunggu di ruang tamu, tak ada yang aneh, semuanya okay. Savira menunggu sambil menikmati kueh yang di berikan Adora.


Awalnya semua baik, namun tiba-tiba saja ada seorang lelaki yang mabuk? Ia berjalan sempoyongan ke arah Savira dan langsung mendorong gadis itu terlentang di sofa, Savira lengah, ia tak sempat mengelak ketika lelaki itu mulai menyentuh tubuhnya, ia hanya bisa berteriak meminta tolong, namun sayang nya tak ada yang mendengar.


Adora kemana? Ia ada disitu, hanya menonton bagaimana sang teman digagahi, tanpa niat sedikitpun untuk menolong, dengan sebuah kamera di tangan.


Setelah kejadian itu, Savira sempat depresi, sehingga Ridwan dan Nila membawa sang putri ke psikiater setelah sebelumnya meminjam uang pada Adit. Adit yang mendengar cerita tersebut langsung membatu keluarga Ridwan dengan membayarkan pengobatan Savira, tentu gratis.


6 bulan Savira melakukan pengobatan rutin, setelahnya ia sembuh. Tapi, kejadian itu tak pernah hilang dipikirannya, hanya saja ia selalu meyakinkan dirinya, bahwa setelah itu, ia akan baik-baik saja.


*Flashback Off*


Semua terdiam mendengar cerita Savira, mereka tak menyangka gadis sebaiknya harus mengalami hal sekeji itu. Alfi yang pertama kali membuka suara disaat yang lain masih bingung harus merespon seperti apa.


"Vir, gue boleh pinjam handphone lo? " Pertanyaannya mengundang tatapan bingung dari yang lain. Sedangkan Savira langsung memberikan handphone nya kepada pemuda tersebut.


"Lo ngapain? " tanya Dimas.


Alfi tak menyahut, ia membuka room chat Savira dengan sang peneror, benar saja ada pesan baru yang belum di baca oleh Savira.

__ADS_1


+62-833-4536****


Suka dengan kejutannya?


Itu baru awal permainan, tunggu kejutan selanjutnya.


"Vir, gue rasa, gue tau siapa peneror itu" ujar Alfi. Membuat Savira mematung.


"Adora, dia neror lo. Karena cuman dia yang megang bukti waktu lo di perkosa" jelas Alfi.


"Lo diteror? " tanya Sarah, Savira hanya menganggu, ia masih bersandar pada Sarah, tenaganya seketika hilang ketika ia tahu, bahwa ia harus berhadapan lagi dengan orang yang sama. "Kenapa ga bilang? Siapa aja yang tau lo di teror? Jawab Vir"


"Dia ngancam, kalau sampai Savira kasih tau ke kita, maka dia bakal lukain kita. Dan cuman gue yang tau ini. " jawab Alfi mewakili Savira.


Savira kembali memeluk Sarah "Sarah, aku takut, aku harus gimana sekarang? Hiks" isakannya kembali terdengar. Sarah membalas pelukan sang sahabat, ia mengelus sayang punggung Savira. Jujur ia sakit mendengar masa lalu temannya.


Jika kalian mengira Sarah akan menjauhi Savira setelah tau hal itu, jelas tidak, ia tak akan lagi menjauhi sang teman. Ia tak akan membiarkan Savira menghadapi ini sendiri.


"Lo tenang ya, ada gue disini, Hem? Lo ga ga sendiri Vir, jangan takut. " ucapnya menenangkan.


"Untuk masalah foto ini gimana? Semuanya udah tau" ucap Antoni.


"Untuk urusan ini, bakal gue bicarain dengan bokap, dia juga tau kejadian ini, bokap bakal turun tangan. " ucapnya yakin. Ia yakin sang ayah tak akan tinggal diam, bagaimanapun, Savira juga sudah seperti anak sendiri bagi Adit dan Maya.


Yang lain mengangguk, yang harus mereka lakukan sekarang adalah, selalu berada di samping Savira.


"Vir, untuk sementara, berhenti kerja part time dulu ya, please" pinta Sarah. Savira hanya mengangguk, ia juga takut. Bagaimana jika ia sedang bekerja, terus gadis itu datang? Ia takut berhadapan lagi dengan gadis itu.

__ADS_1


...****...


"Pa, ada yang mau aku omongin" ucap Sarah pada Adit, saat ini keluarga tersebut sedang malam malam bersama, kebetulan Adit dan Maya mengambil libur selama seminggu untuk beristirahat, sekaligus menghabiskan waktu dengan putri semata wayangnya.


__ADS_2