SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
DELAPAN


__ADS_3

Alfi benar-benar serius dengan ucapannya, sudah berjalan dua minggu ia menjadi guru pribadi Savira. Mereka selalu belajar disaat jam istirahat, terkadang juga di cafe jika Savira sedang istirahat.


Mereka tak selalu belajar berdua, terkadang juga ada Sarah dan yang lain. Tapi, ya lebih sering berdua. Sebab Alfi selalu mengajak Savira untuk belajar di perpus, alasannya ya supaya tidak terlalu berisik. Savira sih iya iya saja, tak banyak membantah, toh sudah mau Alfi berbaik hati mengajarinya.


Ouh ya, btw Sarah juga sudah pulang minggu lalu. Tapi ada sedikit yang aneh dari Sarah. Dia tampak sedikit memberi jarak kepada Savira. Apa ia berbuat salah? Itu yang selalu dipikir oleh Savira. Tapi, entahlah, Savira juga tak tahu.


Seperti saat ini, mereka sedang berada di perpus. Karena jamkos, jadi mereka memutuskan untuk ke perpus. Saat di perpus pun Sarah lebih asik bermain dengan handphone nya dari pada berbicara kepada Savira. Padahal biasanya, Sarah jarang bermain handphone jika sedang bersama Savira. Karena rasa penasaran nya sudah sangan tinggi, ia pun memberanikan diri untuk bertanya.


"Emm, Sarah, " panggilnya.


"Hem" jawab Sarah, bahkan tanpa mengalihkan atensinya dari benda persegi panjang itu.


Melihat respon yang diberi Sarah sebenarnya sedikit membuat nya ragu untuk bertanya. Tapi, ia harus bertanya, supaya jelas apa yang membuat sahabat nya ini menjauhinya.


"Aku ada buat salah? " tanyanya to the point.


"Enggak" jawab Sarah singkat.


"Kamu yakin? Kalau ada ada salah bilang aja ga papa kok, "


Sarah memandang tak suka ke arah Savira, jujur sudah lama Savira tak melihat tatapan itu.


"Lo mau tau apa salah lo? " tanya Sarah tanpa mengubah raut wajahnya.


"I-iya"


Sarah tak menjawab, ia malah memberikan handphone nya kepada Savira, seakan menyuruh gadis tersebut untuk melihat sendiri apa isi handphone tersebut.


+62-812-578****


send photo 📸


Kawan yang lo bangga-banggain mau nikung lo. Pesan gue hati-hati. Cewek yang keliatannya baik dan polos, ga selamanya berhati malaikat. Upss


Mata Savira membola melihat foto tersebut. Kapan foto ini di ambil?


"Sar, ak-aku bisa jelasin, " ucapnya.


Sarah mengambil kembali handphone tersebut, lalu menatap Savira dengan tangan terlipat di dada.


"Jelasin."


"Itu memang aku. Tapi itu ga seperti yang ada di foto itu, "


"Terus gimana? Raiden nemenin lo ke toko buku, terus kalian lanjut ngedate, gitu? So sweet banget. "


"Plis dengerin aku dulu Sar. Memang aku lagi di toko buku, tapi ga sama Raiden, aku pergi sama Alfi. Kamu tau kan, kalau Alfi yang ngajarin aku bahasa Korea. Nah, karena ada buku yang aku perlu, jadi Alfi nemenin aku ke toko buku setelah kami pulang dari cafe-" jedanya, "Yang kamu liat di foto ini, memang aku sama Raiden, tapi kami ga sengaja jumpa, sumpah! Alfi lagi di dalam untuk bayar buku dia, dan aku nunggu di luar. Ga lama dari situ juga Alfi datang. Kamu boleh tanya Alfi kalau ga percaya. " Tak ada kebohongan yang coba di tutupi dari mata Savira. Dan Sarah tau itu.


Seketika ia merasa bersalah, seharusnya ia tak mencurigai Savira, seharusnya ia memastikan dulu pada Savira, atau pada Raiden. Iya, ia juga belum bertanya pada Raiden, ia hanya takut kalau apa yang ia pikirkan dan apa yang pesan itu bilang memang kenyataan. Tapi pikiran nya malah membuatnya menjauhi sahabatnya sendiri.


Tanpa mengucapkan apapun lagi, Sarah langsung memeluk erat Savira. "Sorry Vir, sorry. Gue ga bermaksud nuduh lo. Sorry. Please maafin gue. " pintanya lirih.


Savira tersenyum lembut dan membalas pelukan Sarah. "Iya Sar, ga papa. Aku maafin kok. Kamu ga sepenuhnya salah. Cuman aku minta kamu lebih percaya lagi sama aku Sar. Hem? " Sarah mengangguk, mengiyakan ucapan Savira.


"Iya, gue bakal lebih percaya lagi sama lo, " ucapnya setelah pelukan teletubbies itu terlepas.


"Udah kan pelukannya? " tanya Alfi mengejutkan kedua gadis tersebut. Ketika mereka berbalik, di belakang sana sudah ada Raiden cs yang sedari tadi memerhatikan kedua sahabat tersebut.

__ADS_1


"Ih lo ganggu suasana aja tau ga! " ketus Sarah. Savira hanya tertawa melihat tingkah Sarah.


"Bodoh amat. Geser lo! " pinta Alfi.


"Siapa lo suruh-suruh gue! " amuk Sarah, enak saja pikirnya. Masih banyak kursi di sini, kenapa harus ia yang di suruh pindah.


"Gue mau ngajarin Savira. Emang lo mau, kawan lo ga bisa lulus di Universitas yang dia mau? "


"Eh, heheh. Yaudah lanjut deh lanjut. " ucapnya dan berlalu. Ia melangkah riang ke arah sang kekasih. "Raiden~ lapar~. Ayo ke kantin, " pintanya dengan puppy eyesnya, membuat Raiden gemas.


"He'em. Ayo" ucapnya, lantas berlalu dengan menggandeng tangan Sarah.


"Gini amat ya nasib jomblo, " lirih Anton.


"Lo aja sih, gue mah kagak, " ucap Zafran dan berlalu untuk mengapeli adik kelas nya. Memang play boy, ya gimana.


"Kantin kuy, gue lapar, " ajak Anhar, diangguki oleh Anton.


"Dimas, ayok, " ajak Antoni seraya menarik tangan Dimas yang masih memandang kearah Alfi dan Savira. "Al, kami ke kantin ya. Lo mau gue beliin apa? " tanya Anhar.


"Roti coklat dua, sama susu vanilla satu, stoberi satu. " pintanya di anggukin Anhar. Setelah mereka bertiga berlalu, tinggalah Savira dan Alfi di situ. Karena memang masih jam pelajaran, jadi perpus sepi, walaupun biasanya juga sepi sih, tapi tak se sepi ini.


...****...


"Jadi karena foto itu kamu jauhin Savira? " tanya Raiden. Saat ini, ia, Sarah, dan ketiga curut sedang makan di kantin yang masih sepi. Ingat? Ini masih jam belajar. Karena kelas Sarah tidak ada guru, makanya ia bisa keluar sesuka hati. Sedangkan keenam pemuda tersebut, ya seperti biasa. Bolos, apalagi?


"He'em. Aku jadi merasa bersalah banget tau sama Savira, "


"Udah minta maaf? " tanyanya lagi seraya mengusap sayang kepala Sarah.


"udah"


Karena asik berdua, mereka bahkan tak sadar bahwa ada tiga nyamuk yang jengah menatap keromantisan di hadapan mereka ini.


"Kok gerah ya? " sindir Anhar.


"Biasa, ada yang bucin ga tau tempat, " sahut Antoni.


" Kenapa memangnya? Iri lo? " nyolot Sarah seraya memelototi kedua pemuda itu, membuat mereka menggeleng kan kepala seketika.


"Eh, enggak kok. Heheh, sok lanjut, "


Sarah hanya memutar kedua bola matanya malas.


"Sarah ngeri banget cok, " bisik Antoni pada Anhar.


"Ho'oh, gue takut njing jadinya, " balas Anhar tak kalah berbisik.


"Lo dapat tu foto dari siapa sih Sar? " tanya Dimas yang mulai tadi hanya diam menyimak.


"Nomor ga di kenal. Gue pengen banget cari tau ni nomor punya siapa, dan apa maksud dia, " ucap Sarah.


"Ya udah jelas dia ga suka liat hubungan persahabatan lo sama Savira. " balas Dimas. "Lo ga kepikiran siapapun gitu? Kaya, yang selama ni sering banget bully Savira? "


"Jeje? " gumam Sarah.


"Lo harus mastiin sih Sar saran gue. " ucap Antoni.

__ADS_1


"Gue kepikir satu nama sih, "


"Siapa? " tanya Raiden.


"Jeje."


"Tapi kamu bilang, dia udah dapat surat peringatan kan? "


"Iya sih, "


"Tapi bisa aja tu cewek memang mau rusak hubungan lo dengan Sarah, " sahut Zafran yang baru saja selesai mengapeli sang pacar baru. "Gue liat dia lagi di gudang belakang sama dua dayang dia, "


Ucapan Zafran ada benernya juga, pikir Sarah. "Yaudah, gue kesana dulu. Anton, jangan lupa bawain makanan untuk Savira. Gue ga mau sahabat gue sakit karena kelamaan belajar ma si kutub utara. " pintanya dan langsung melesat menuju gudang belakang sekolah. Raiden tentu tak membiarkan Sarah pergi sendiri, jadi ia pun juga menyusul Sarah.


"Makanan untuk Alfi sekalian, lo pada tau tu orang kalau udah belajar, suka ga ingat makan. " Setelah itu ia pun berlalu.


"Ga usah di bilang, juga kita tau kali, " sewot Anhar.


"Yaudah kuy ke perpus, antar makanan untuk naks rajin. Bestu kita ke warkop belakang sekolah. " ucap Zafran dan di anggukin ke empatnya.


...****...


"Jadi ada yang ngirim foto lo berdua sama Raiden ke Sarah? " tanya Alfi di sela-sela kegiatan belajar mereka. Savira hanya mengangguk sambil fokus menulis sebuah kalimat dalam bahasa Korea, iya, dia sedang berlatih membuat kalimat.


"Terus gimana? " tanya nya lagi. Karena merasa pemuda di samping nya ini tak akan berhenti bicara sebelum ia menjawab. Ia pun menyudahi acara menulisnya. Sedikit informasi, Savira baru tau jika Alfi itu sebenarnya sangat sangat cerewet.


"Yaa, ga gimana-gimana. Aku udah jelasin ke Sarah, kalau waktu itu aku pergi sama kamu. Kan aku ga bohong, terus ga sengaja jumpa Raiden, " Jelasnya.


"Sarah terima alasan lo? "


"Ya terima lah, kan aku bicara jujur. Terus yaudah, kami maaf maafan. Terus peluk-peluk kaya teletubbies, hehe, " cengirnya di akhir kalimat. Hal itu membuat Alfi gemas, dan refleks mencubit kedua pipi gadis tersebut.


"Gemesin banget sih lo, " ucapnya setelah melepas cubitan nya. Dan terlihat lah, pipi putih bersih itu, berubah menjadi merah akibat cubitan dari Alfi.


"Ih, sakit tau, "


"Hahahah, sorry sorry, abis lo gemesin banget. " ucapnya dan mengelus pipi merah itu. Hal itu sontak membuat jantung Savira tak karuan. Ia salting sendiri jadinya.


"Ekhem! " suara tersebut sontak membuat Alfi langsung menarik kembali tangannya. "Mau nge-bucin tau tempat dikit napa, " ucap Anhar.


"Udah di kantin liat yang bucin-bucin, eh sampai sini pun juga ada, " sambung Antoni.


Alfi hanya memutar bola matanya malas. Sedangkan Savira, kembali fokus ke buku tulisnya, walaupun ia tak bisa fokus, ia sangat malu sekarang, terbukti dari telinganya yang memerah.


"Ini makanan lo berdua, kami mau bolos ke tempat biasa. Nanti lo sama Raiden nyusul aja. " ucap Dimas dan langsung berlalu dari sana.


Alfi tak menjawab, ia hanya mengangguk. "Lo bertiga ngapain masih disitu? Pergi sana, " usir nya.


"Yeee, ngusir. Vir hati-hati yaa, Alfi diam-diam bahaya, " ucap Zafran dan langsung berlari dari sana di ikuti Anhar dan Antoni saat Alfi ingin melempari mereka dengan buku setebal kamus itu.


"Ga boleh lempar-lempar, sayang bukunya Alfi, " ucap Savira, seraya mengambil kembali buku yang berada di tangan Alfi.


"Nih makan dulu, jangan sakit, " ucapnya dan menggusur buku-buku yang ada di dapan Savira.


"Makasih, " senyum manis itu lagi-lagi menghancurkan fokus seorang Alfi.


"Hemm, "

__ADS_1


'Lo liat aja apa yang bakal gue lakuin ke lo, Vir' seseorang tersenyum licik menatap mereka, ohh tidak, lebih tepatnya ke arah Savira.


...****...


__ADS_2