SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi

SAVIRA : Sang Pengejar Mimpi
TUJUH BELAS


__ADS_3

* Flashback On *


"Mama sama Papa pulang? Tumben? " gumamnya ketika melihat dua mobil pribadi milik kedua orang tua nya.


"Lo kenapa Je? " tanya Naifa saat Jeje berhenti berjalan, Jeje hanya menanggapi nya dengan gelengan. Saat ini, Ica dan Naifa sedang berada di rumah Jeje, katanya ingin bermain. Jeje sih mengizinkan saja, toh di rumah juga sepi. Tapi seperti nya tidak dengan malam ini.


PRANK!!


Suara pecahan guci kesayangan sang Ibu yang pertama kali menyambut nya pulang ketika ia membuka pintu rumah. Rumahnya tampak tak baik, seperti baru saja terkena angin topan. Bagaimana tidak? Hampir seisi rumah penuh dengan pecahan kaca atau beling dan barang-barang lain.


"APA LAGI YANG HARUS KITA PERTAHANIN?! KAMU UDAH BANGKRUT! DAN AKU GA MAU HIDUP DENGAN ORANG MISKIN KAYA KAMU?! " seru lantang Viola -Mama Jeje. Sontak membuat Jeje dan kedua temannya terkejut. Papanya bangkrut?


"TERUS KAMU MAU APA SEKARANG HA?! " tanya Geo -Papa Jeje.


"Aku mau kita cerai! " pintanya.


"Okay kalau itu mau kamu. Sekarang, silahkan angkat kaki dari rumah ini! Aku pastikan surat perceraian itu sudah sampai besok di apartement selingkuhan mu! "


"What the hell.... " lirih Jeje. Kenapa seperti ini? Mereka jarang pulang dan meluangkan waktu untuknya. Namun, kenapa ketika mereka pulang, malah hal kejadian ini yang menyambut nya? Kemana sambutan hangan yang selalu di dapat? Ouh iya, ia lupa. Orang tuanya sudah berubah, tak ada lagi kehangatan, hanya ada perselisihan di setiap perjumpaan, tanpa memperdulikan perasaan sang buah hati yang selalu menjadi saksi bisu pertengkaran keduanya.


"Okay! Aku pergi sekarang! " ujarnya dan siap melangkah sebelum Jeje menahannya.


"Mama ga boleh pergi! Mama disini aja sama Jeje sama Papa. " mohon nya sendu. "Kenapa Mama mau pisah? Mama sama Papa udah ga sayang Jeje? " tanyanya lirih, mencubit hati nurani Geo dan Viola.


"Maaf Je. Mama ga bisa, "


"Kenapa? Apa karena Om Radit? Selingkuhan Mama? Papa juga kenapa? Apa karena Tante Alexa? " pertanyaan Jeje sontak membuat kedua orang tuanya memandang nya dengan tatapan seakan bertanya, bagaimana ia bisa tau? "Why are you silent? Want to know how do I know? I'm an adult, I'm no longer a child you can fool at will. Jika kalian memang udah ga sayang sama gue BILANG?! JANGAN KAYA GINI?! " teriaknya frustasi. Naifa dan Ica hanya melihat, tak ada niat untuk menenangkan.


"Kalian pulang setahun 2 kali, itupun kalau ada, bahkan ketika Jeje sakit pun, kalian enggak pulang. Selama ini Jeje sabar Ma, Pa! Jeje kangen kalian yang dulu, but I'm an adult right? I'm trying to understand that you're busy! Aku selalu mencoba untuk paham kalau kalian melakukan ini semua juga buat Jeje! Tapi, kenapa kalian ga bisa pahami ke inginan Jeje? " lirihnya di akhir kalimat. "Banyak yang mau Jeje cerita ke kalian, tentang hari-hari Jeje, tentang bosannya sekolah, tentang teman-teman Jeje. Jeje selalu iri kalau liat anak-anak lain bisa kumpul dengan keluarganya. Jeje juga ingin, tapi Jeje ga bisa"


"Udah setahun lebih kalian ga pulang, Jeje sendiri di sini, Jeje selalu ngerasa kalau Jeje kayak anak terbuang. Kenapa kalian pulang, kalau cuman untuk sebuah perpisahan? " tanyanya dengan pandangan kosong. Pertanyaannya membuat air mata yang Viola tahan meluruh begitu saja. Kenapa ia terlalu bodoh? Seharusnya ia berfikir, perbuatannya dapat melukai putri ke sayangannya. Dengan air mata yang berlinang ia ingin memeluk sangat buah hati, namun terhenti ketika Jeje menghindar dari pelukannya.

__ADS_1


"Mama mau pergi kan? Silahkan, pintu keluar di sebelah sana. " tunjuk nya pada Naifa dan Ica yang memang kebetulan masih berdiri di depan pintu. "Papa juga. Pergi aja Pa, ga papa. Tante Alexa pasti lagi nunggu Papa"


"Maaf, maafin Mama sayang. Mama sayang Jeje" ucapnya, lalu pergi dari sana setelah mengecup sayang kepala Jeje. Tak lama di ikuti Gio yang tak sanggup melihat putri tersayangnya menangis kecewa akan kelakuannya.


"It's all over" liriknya melihat ubin lantai.


"Naifa, Ica. Kalian ga akan ninggalin gue juga kan? " tanya nya berharap pada kedua sahabat nya.


Mereka tak langsung menjawab, hal itu membuat Jeje tertawa pelan, menertawakan kehidupan nya yang telah hancur.


"Ternyata benar ya, ga ada yang namanya ke setia an disini"


"Sorry Je. Tapi, lo tau kan, sekarang kita udah ga selevel. Apa kata orang nanti kalau gue sama Naifa temenan sama orang miskin sekaligus anak broken home? " ucap Ica santai.


"Mulai sekarang lo bukan teman kita lagi Je, jangan deket-deket okay, gue ga mau ketularan sial kaya lo" ujar Naifa.


"Lagian ya Je, kita temenin sama lo juga karena lo kaya, kalau enggak mana mau"


"Lo baru nyadar? "


"Lagian ni ya, ga ada yang bisa di banggain dari lo, kecuali kekayaan lo. Itu doang. Dan sekarang lo udah jatuh miskin Je. Jadi sekarang, lo jauh-jauh dari kita" ucap Naifa, dengan senyum temennya.


"Gue udah percaya sama kalian. Gue kira kalian ga kaya apa yang mereka bilang, gue kira kalian tulus berteman sama gue. Sumpah, gue ga nyangka kalian bisa sebangsat ini! " seru Jeje. Iya, Jeje.


"Well, thats what you think. Jangan marah ke kami dong. Salah lo sendiri, yang terlalu bego" ucap Ica.


"Yaudah deh, yuk Ca. Jangan lama-lama disini, nanti ketularan miskin lagi. Upss! " ejek Naifa, dan menarik tangan Ica pergi dari sana.


"AARRGGHH!! ANJING LO SEMUAAA!! "


BRUGH!

__ADS_1


"Hiks.. semua jahat, kalian semua jahat, hiks. Papa sama Mama juga jahat hiks, Jeje benci kalian hiks"


...****...


* Flashback Off *


Jeje duduk termenung memandang langit malam dari balkon kamarnya, tak memperdulikan dinginnya angin malam yang menusuk kulit. Air mata terus mengalir tanpa ada niat untuk berhenti. Dunianya hancur, hancur sudah segala impian yang ia bangun. Kenapa kehidupannya seperti ini? Apa ini balasan sebab ia sering membully anak-anak kurang mampu di sekolahnya? Seperti Savira misalnya?


Mengingat gadis itu, membuatnya kembali berfikir. Keluarga Savira tak sebanding dengan keluarganya, keluarga nya kaya dan keluarga Savira miskin. But, why does his family seem so warm? Tak seperti keluarga nya yang dingin. Ternyata memang benar, tak selamanya kekayaan bisa menghasilkan kebahagiaan. Karena terkadang kekayaan itu bisa jadi pemicu awal kehancuran, seperti keluarganya sekarang.


Pagi ini Jeje sudah bersiap untuk sekolah, padahal suhu tubuhnya sedang tak menungkinkannya untuk sekolah. Namun, setelah dipikir-pikir, untuk apa juga ia berdiam diri di rumah yang sudah tak seperti rumah lagi baginya. Lagian tak akan ada yang mengurusnya bukan?


Saat sampai di sekolah, semua mata memandang penuh ejekan ke arahnya, bahkan ada beberapa siswa siswi yang berbisik-bisik. Ia tau, pasti kabar itu sudah menyebar, tak perlu di tanya lagi siapa pelakunya, ia pun tau bahwa ini perbuatan Ica dan Naifa.


"Huuhh, ga papa Je, ga usah di hiraukan" gumamnya pada dirinya sendiri. Ia terus melangkah menuju kelasnya sambil terus mengacuhkan sekitarnya.


Saat sampai di kelas pun, semua tatapan itu memandang sama seperti pandangan di Koridor tadi. Lagi-lagi ia menghiraukan semuanya. Ketika ia sampai pada bangku nya, disana sudah ada Ica dan Naifa, dan bangku nya di duduki Naifa.


"Minggir Nai. Itu bangku gue. " ucapnya pelan dengan tatapan datar dan kosongnya.


"Ouh, maaf Je. Tapi mulai sekarang ini bangku gue, lo sana aja, duduk di belakang bangku Savira. Orang miskin harus sesamanya kan? " usir Naifa.


"HAHAHAHA" mengundang gelak tawa dari seluruh kelas.


Mencoba menahan amarahnya, Jeje pun melangkahkan kakinya menuju meja barunya yang berada tepat di belakang Savira. Ia melihat sejenak ke bangku depan yang terisi Savira, dan Sarah yang memandang acuh tak acuh ke arahnya. Sedangkan Savira, gadis itu sempat menoleh ke arahnya, namun dengan segera mengalihkan tatapannya ketika Jeje melihat ke arahnya juga.


Ia mendudukan dirinya di bangku tersebut, tak buruk juga, pikirnya. Ia bisa leluasa tidur jika disini.


"Jangan takut. Gue ga akan bully lo lagi. And ... Sorry" ucapnya sebelum membenamkan wajahnya pada lipatan tangannya. Savira tidak menoleh ke belakang, ia hanya tersenyum mendengar ucapan Jeje. Setidaknya satu masalah selesai bukan? Tak ada lagi Jeje yang membully nya.


Sarah juga mendengar nya, ia pun ikut tersenyum tipis. Ia harap, setelah ini, Jeje bisa berubah. Ia mengenal Jeje sudah lama. Ingat? Ia lebih mengenal siapa Jeje. Dulu Sarah berteman dekat dengan Jeje sebelum kedatangan Savira, ia tau Jeje anak yang baik, hanya saja ia butuh perhatian lebih dari orang tuanya, sama sepertinya ... dulu. Karena sekarang, orang tuanya tak hanya Adit dan Maya, ada Ridwan dan Nila yang juga tulus memberi kasih sayang padanya.

__ADS_1


...****...


__ADS_2