
"Jadi sudah berapa lama hubungan kamu dengan putri saya? " tanya Adit pada Raiden.
Hal itu sontak membuat Raiden yang akan menyuapi makanan ke mulutnya, terpaksa ia letakkan kembali. "Baru 5 bulan, Om" jawabnya pelan.
"Kamu ga pernah buat yang enggak-enggak kan terhadap putri saya? "
"Enggak kok Om! Saya ga akan pernah ngerusak Sarah!" ucapnya panik, dan tanpa sadar meningikan nada bicaranya.
"Kok kamu jadi ngebentak saya? " tanyanya lagi dengan nada suara yang juga ditinggikan.
"E-eh. Eng-enggak kok Om. Saya ga sengaja. Maaf Om, maaf" ucapnya panik. Sumpah, selera makannya sudah hilang, ia sangat-sangat gugup sekarang.
"Papa ih, jangan gitu dong! Kasihan kan, Raiden lagi makan! " rajuk Sarah.
"Hahahha, iya sayang. Papa cuman bercanda doang. Habisnya pacar kamu lucu, hahahah" tawa Adit di ikuti Ridwan dan yang lain. Sedangkan Raiden hanya menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Maaf ya, makan lagi makan lagi" pinta Adit. Raiden hanya mengangguk dan melanjutkan makannya dengan jantung yang masih berdetak tak karuan. Ngeri juga calon mertuanya ini, pikirnya.
Setelah itu mereka melanjutkan makannya dengan tenang, sesekali di silingi canda tawa yang membuat mereka tertawa. Alfi juga diam-diam curi pandang ke arah Savira. Ia ingin menyatakan perasaannya pada gadis tersebut.
Hanya saja ia teringat ucapan gadis itu di saat pertama kali mereka berkenalan, bahwa ia tak ingin menjalin hubungan di luar pernikahan. Dan juga ia tak ingin dulu memikirkan masalah percintaan, ia hanya ingin fokus kepada study dan karir masa depannya nanti.
Ucapan itu membuat Alfi mengurungkan niat nya untuk menyatakan perasaannya. Biarlah begini dulu, jika sudah waktunya, ia akan datang melamar gadis tersebut untuk menjadi mamakmumnya. Ia tak ingin gadis itu terbebani hanya karena pengakuannya.
Setelah makan, dan ke lima pemuda itu pamit, sekarang Sarah dan Savira sedang berada di kamar Sarah. Mereka memang tidak tidur sekamar, namun kamar mereka berhadapan. Mereka duduk di balkon kamar sembari menikmati hamparan bintang yang terbentang luas.
"Sar" panggil Savira.
"Hm? "
"Jeje sekarang keadaan nya gimana ya? Dia udah makan belum? Udah minum obat belum? " tanyanya. Jujur ia mengkhawatirkan Jeje, tak ada yang mengingatkan gadis itu makan dan minum obatnya sekarang.
"Lo khawatir ya sama dia? " tanya Sarah. Ia terkadang bingung, terbuat dari apa hati sang sahabat. Ia sangat mudah memaafkan kesalahan orang lain, tak seperti dirinya yang tak akan pernah melupakan kejahatan orang lain pada dirinya sebelum orang itu juga merasakan berada di posisinya.
"He'em. Kok orang tuanya tega ya? "
"Orang tua Jeje emang gitu Vir. Money is everything, and family is just a side business. Orang tuanya menikah bukan atas dasar cinta, mereka di jodohin, itu yang pernah Jeje cerita. Mereka hanya terlihat akur dan seperti saling mencintai cuma di hadapan Jeje. Padahal tak pernah seperti itu. " jelas Sarah. "Lo liat kan, keluarga gue yang selalu sibuk dengan kerjaannya? Orang tua Jeje itu workaholic, gila kerja. Bahkan mereka lebih parah dari nyokap bokap"
__ADS_1
"Kadang, setahun mereka cuma pulang 2 hingga 3 kali, selebihnya tak pernah pulang. Jeje anak yang baik, tapi dia terlalu naif, sehingga mudah untuk di hasut, apa lagi hasutan dari Ica dan Naifa. Dari awal Jeje kenalin mereka ke gue, gue udah ga suka ke mereka. Tapi, ya gitu, Jeje kemakan hasutan mereka, dan memilih lebih percaya sama mereka dari pada gue. "
"Tau ga Sar. Jika boleh jujur. Dulu aku suka iri, liat anak-anak yang pergi ke sekolah dengan di antar orang tuanya menggunakan mobil mewah, liat mereka yang bisa punya handphone, aku pengen juga, tapi ekonomi keluarga akau ga mendukung. Bahkan untuk nambah uang jajan aja, aku harus kerja dulu. Tapi sekarang, setidaknya aku bersyukur, orang tua aku ga seperti orang tua Jeje. " ucap Savira. "Mereka tulus sayang ke aku dan adik-adik aku, dan selalu berusaha ada untuk kami. Kaya Papa dan Mama, mereka juga selalu berusaha untuk mengosongkan waktu luang buat kamu, walaupun susah karena tuntutan kerja yang menyita waktu, tapi mereka tulus sayang sama kamu"
Ucapan Savira membuka pikirannya. Gadis itu benar, sesibuk apapun orang tuanya, setidaknya mereka tetap pulang walaupun 2 minggu sekali atau sebulan sekali untuk quality time bersama keluarga. Kasih sayang keluarga nya murni bukan hanya topeng belaka di hadapan publik.
"Btw Vir. Lo udah ajuin beasiswa yang mau lo ambil ke pihak sekolah? "
"Belum, berkasnya masih aku siapin"
"Emm. Nanti kalau udah di sana, jangan lupa telpon gue yaa, minimal sehari sekali gitu, heheh"
"Iya iyaa. Kalau aku ga sibuk, pasti aku hubungin kamu. "
"Vir, gue mau nanyak boleh? " tanya Sarah yang di amgguki Savira.
"Apa harapan lo di tahun ini? "
"Harapan ya?? Emm... Aku cuman berharap, bisa lulus dengan nilai yang baik, beasiswa aku bisa lolos, dan aku berharap, semoga aku selalu bisa laluin semua kejadian yang terjadi di hidup aku" jawab Savira, lalu ia memandang Sarah "kalau kamu? "
"Gue cuman berharap, gue bisa jadi seperti apa yang Papa dan Mama mau"
...****...
"Assalamu'alaikum... Umi, Alfi pulang" ucap Alfi saat pertama kali memasuki rumah, itu sudah kebiasaannya.
"Waalaikumsalam, tumben telat pulang ga kasih kabar sayang? " tanya Sari lembut.
"Tadi aku ke rumah temen dulu Ma, makanya telat. Maaf yaa"
"Iya sayang, ga papa kok. Kamu udah makan? " tanya nya seraya mengelus lembut rahang tegas sang putra, yang sama persis seperti mendiang sang suami.
"Udah kok. Umi udah makan? " tanyanya balik, sembari menikmati elusan lembut sang Ibu. Yaaa, Alfi memang seperti ini jika di rumah, ia akan sangat manja dan sayang kepada sang Ibu.
Lagian, tak ada yang iya punya selain Ibunya. Karena sang ayah yang sudah terlebih dahulu meninggalkannya dan sang Ibu ketika ia kecil.
"Udah kok. Yaudah, kamu pasti capek, sekarang bersih bersih dulu, terus istirahat yaa"
__ADS_1
"Iyaa. Malam Umi, Alfi sayang umi, selalu" ucapnya tulus seraya mengecup sayang pucuk kepala Sari.
"Umi juga sayang Alfi," jawabnya pun mencium pipi sang putra. Putra nya tak banyak berubah, masih sama seperti Alfi kecilnya yang selalu manja dan merengek ketika sang Ayah menjahili nya.
...****...
"Assalamu'alaikum"
"Waalaikumsalam. Kamu dari mana Raiden? Kenapa baru pulang? Kamu tau ga, Mama tu khawatir kalau kamu belum pulang! Mana ga ada kabar" Raiden pulang di sambut dengan omelan sang Mama yang sudah biasa baginya. Ia hanya menanggapinya dengan senyumnya, berharap sang Ibu luluh.
"Apa senyum senyum! " galak Putri.
"Hehe, Mama cantik deh malam ini" rayunya sembari memeluk manja sang Ibu.
"Ga usah peluk peluk ya! Ga bakal luluh! Jawab dulu abis dari mana! "
"Dari rumah calon mantu Mama lah, dari mana lagi. Sekalian jumpa camer sih, hehehe" jawabnya santai. Putri yang mendengar langsung menatap sang putra.
"Kok ga bilang sih!? Kan Mama bisa siapin apaa gitu untuk kamu bawak kesana. Masa jumpa camer dengan tangan kosong, ga gentle banget kamu"
"Apa sih Ma. Orang ga ada rencana juga, lagian aku kan juga ga tau kalau Om Adit sama Tante Maya ada di rumah"
"Ck, makanya lain kali pastiin dulu! Udah ah, mandi sana kamu bau. Ga usah peluk peluk Mama" ucapnya seraya melepas pelukan sang anak, dan kembali duduk di depan televisi menikmati sinetron favorit nya. Tak memperdulikan sang anak yang cemberut, kan ia masih ingin manja manja.
"Udah, masuk kamar sana. Ga usah ngambek ngambek ga cocok, yang ada mirip monyet" ucap Bagas yang baru datang dari dapur dengan secangkir kopi di tangan.
"Kalau aku monyet, berarti Papa juga monyet dong" balasnya.
"Berarti kalian ngatain Mama induk Monyet?! " timpal Putri tak terima.
"Ehh, Raiden ga ikutan loh Ma. Papa luan tuu bilang bilang Raiden Monyet, berarti Raiden ga salah dong. Kalau Raiden Monyet, berarti Mama sama Papa juga Monyet" ucapnya polos menyerempet ke bego.
"RAIDEN?! " amuk Putri. Raiden yang melihat sang Ibu mengamuk pun langsung melarikan diri ke kamar.
"Sayang..." Panggil Bagas lembut dengan niat hati ingin menenangkan sang istri, namun bukannya tenang, ia malah mendapat semburan dari sang istri.
"Apa?! Kamu mau bilang aku Monyet juga?! Memang Bapak sama anak, sama sama minus akhlak" ucapnya dan berlalu meninggalkan sang suami yang hanya bisa mengelus dadanya sabar.
__ADS_1
...****...