
Disini mereka semua berada, di kediaman Sarah dan keluarganya. Setelah menyusul Savira ke alamat yang di beri, mereka semua akhirnya pindah ke rumah Sarah atas paksaan gadis tersebut. Ia juga sudah menelpon orang tuanya, dan mengabari mereka kalau Savira dan keluarganya akan tinggal di rumah untuk sementara. Adit tentu mengizinkannya, dan sekarang Adit dan Maya sedang dalam perjalanan pulang.
"Lo kenapa ga telfon gue atau salah satu di antara kami sih Vir? " tanya Sarah, saat ini mereka sedang berada di ruang keluarga.
"Maaf Sar, aku lupa. Aku ga kepikir ke sana, lagian juga kalau aku nelpon kamu, yang ada aku buat kamu repot"
"Siapa yang bilang gue repot? Ga ada" ucapnya. "Gue ga mau tau, mulai hari ini lo tinggal di sini" putusnya.
"Jangan Nak, Bapak ga enak sama orang tua kamu, kami pasti ngerepotin. Kalian sudah terlalu banyak membantu kami" ujar Ridwan menolak.
"Enggak papa Pak, ga ada yang merasa di repotin di sini. Lagian Papa sama Mama juga setujuh, mereka lagi di jalan pulang. " bantah nya. "Lagian, jika Bapak dan keluarga disini kan lebih baik, Sarah jadi ada temannya. Kala Bapak mau kerja, juga pasti Papa bakal kasih kok, mau yaa"
"Iya Pak, benar apa yang Sarah bilang. Lebih baik bapak sekeluarga disini dulu. Setidaknya sampai kondisi membaik, dan kita tau siapa dalang di balik ini semua" jelas Raiden, ikut membujuk.
"Haah~ baiklah jika lebih baik begitu. Sekali lagi Bapak ngucapin terimakasih sama kamu Nak, kamu anak yang sangat baik, sama seperti kedua orang tua mu. Sekali lagi terimakasih" ucap Ridwan tulus.
"Iya Pak, sama-sama"
"Ibu, kita batal tindal cini? " tanya Dino mengundang pekikan gemas dari mereka.
"Iya ganteng, mulai sekarang Dino tinggal di sini ya sama kakak" sahut Sarah.
"Cama-cama Ibu, Bapak juda? "
"Iyaa, sama Ibu Bapak juga"
"Kak Savila? Kak Ayu? "
"Iya sayang, sama semuanyaa" jawabnya lagi. Gemas sekali ia melihat bocah di hadapannya ini.
"Yeeyyy lame-lame" Pekikkan girangnya lagi lagi membuat mereka tertawa.
"Ya udah, sambil tunggu Papa sama Mama pulang, Ibu sama Bapak istirahat aja dulu di kamar, lo juga Vir" ujarnya lantas memanggil satu maid rumahnya "tolong antar mereka ke kamar tamu ya"
"Baik Non. Mari Tuan, Nyonya, Nona" Setelah itu, Ridwan dan Nila pun mengikuti langkah Maid tersebut. Sedangkan Savira tetap memilih duduk di sana, karena Raiden yang lainnya juga belum pulang.
"Kalian bolos ya? " ucapnya ketika melihat seragam sekolah yang masih melekat di tubuh mereka.
__ADS_1
"Lo kira, gue bisa belajar dengan tenang, sedang kan lo ga ada kabar, ha?! "
"Heheh, maaf" cengirnya.
Setelah itu, mereka pun mulai berbincang tentang masalah ini, mereka semua memutuskan akan membantu Savira mencari keberadaan Adora, dan segera menyelesaikan masalah ini.
Hingga tak terasa hari mulai menjelang sore, membuat Raiden cs memutuskan untuk pulang. Lagi pula, di sini sudah ada Adit dan Maya, mereka baru sampai 2 jam yang lalu.
...****...
Malam ini, setelah selesai makan, mereka semua duduk di ruang keluarga membahas masalah yang sedang di landa keluarga Savira. Kecuali Ayu dan Dino yang saat ini sedang bermain bersama maid yang ada di sana.
"Jadi ada yang menyebar luaskan foto itu? " tanya Adit, yang di balas anggukan oleh Sarah dan Savira. "Kalian tau siapa? "
"Sarah ga tau. Tapi, dari cerita Savira, kayaknya pelakunya orang yang sama deh Pa" jawab Sarah.
"Kamu yakin Vira? " tanya nya pada Savira.
"Iya Pa. Karena cuman dia yang nyimpan foto itu"
"Apa abis kejadian itu, kamu pernah jumpa lagi sama dia? "
"Huuh, masalah ini bakal sedikit rumit, sebab kita tidak tau pasti keberadaan gadis itu" tutur Adit.
"Emm, Savira pikir, cara satu-satunya untuk selesaiin masalah ini, Savira harus ketemu berdua sama dia " tutur Savira.
"Ga boleh! Nanti kalau dia apa-apain lo gimana?! " bantah Sarah, ia tak ingin temannya mengambil resiko sebesar ini.
"Iya Nak, kamu ga mungkin lupa dengan kejadian dulu kan? Dia licik, dan kita ga boleh gegabah" jelas Maya.
"Iya sayang, Ibu setujuh dengan Sarah. Jangan asal ambil keputusan, kita harus pikir matana-matang masalah ini" sahut Nila.
Mendengar penolakan atas usulannya, membuat Savira hanya bisa menghela nafas pasrah. Ia bingung bagaiman caranya menghentikan Adora, dan yang ia pikir memang cara satu-satunya hanya itu.
"Tapi, ga ada buruknya juga ide kamu Vir. Kamu setuju ga dengan apa saya pikir, Wan? " ucap dan tanya Adit pada Ridwan, yang sedari tadi hanya diam menyimak.
"Saya juga setuju, ga ada salahnya kalau kita mencoba" sahut Ridwan.
__ADS_1
"Tapi, Pa. Kalau dia apa-apain Savira gimana?? " tanya Sarah.
"Kamu tenang dulu Sar. Besok, ajak Raiden dengan yang lainnya kemarin. Kita butuh mereka untuk masalah ini"
"Kamu ada rencana? " tanya Maya.
"Ya, aku sudah punya rencana yang matang. Kalian setuju kan? Bagaimana pun, putri kalian yang akan berkorban. "
"Iya, kami setuju, asal itu yang terbaik, tak apa" jawab Ridwan mantap.
"Tapi, anda yakin putri saya akan baik-baik aja kan? " tanya Nila.
"Saya jamin itu"
Savira tersenyum senang karena idenya di terima. Setelah ini, ia tinggal memantapkan hatinya dan mengontrol rasa takutnya saat berhadapan dengan Adora.
"Yasudah, karena ini juga sudah malam. Sebaiknya kita semua istirahat. Kalian berdua juga besok sekolah, jangan bergadang" Pesan Adit, menutup pembicaraan mereka malam itu.
...****...
"Jadi selama ini lo berdua cuman manfaatin gue? Hebat banget lo?! "
"Lo baru nyadar? "
"Lagian ni ya, ga ada yang bisa di banggain dari lo, kecuali kekayaan lo. Itu doang. Dan sekarang lo udah jatuh miskin dan juga orang tua lo udah cerai Je. Jadi sekarang, lo jauh-jauh dari kita" ucap Naifa, dengan senyum temennya.
"Gue udah percaya sama kalian. Gue kira kalian ga kaya apa yang mereka bilang, gue kira kalian tulus berteman sama gue. Sumpah, gue ga nyangka kalian bisa sebangsat ini! " seru Jeje. Iya, Jeje.
"Well, thats what you think. Jangan marah ke kami dong. Salah lo sendiri, yang terlalu bego" ucap Ica.
"Yaudah deh, yuk Ca. Jangan lama-lama disini, nanti ketularan miskin lagi. Upss! " ejek Naifa, dan menarik tangan Ica pergi dari sana.
"AARRGGHH!! ANJING LO SEMUAAA!! " Teriaknya.
BRUGH!
"Hiks.. semua jahat, kalian semua jahat, hiks. Papa sama Mama juga jahat hiks, Jeje benci kalian hiks"
__ADS_1
****