
Hari ini, kelas mereka mengadakan presentasi pada mapel sejarah. Sarah dan Savira sekelompok seperti biasa. Sekarang saat nya mereka yang maju untuk mempresentasikan pekerjaan mereka.
Setelah menjelaskan materi, mereka membuka sesi tanya jawab, ada beberapa yang bertanya serius, ada juga yang bertanya hanya untuk memojokkan Savira.
"Vir, enak ga? " ini Ica yang bertanya.
"Pasti enak lah, hahaha" ucap Naifa.
"Kalau untuk satu malam, Kira-kira berapa Vir? "
"Kenapa? Lo mau main sama dia? Kalau mau, gue join dong"
"Sok polos dan lugu, ga taunya pernah berbuat. Dasar miskin bermuka dua" sahut Jeje.
Sarah suda tak tahan lagi, ia sudah sangan kepalang emosi sekarang.
"LO PADA BISA DIAM GA HA?! " bentuknya.
"Ekhem! Sudah. Jangan ada lagi yang membuat keributan, Sarah dan Savira boleh kembali ke bangku kalian. "
"Sabar Sar" ucap Savira menenangkan.
"Gue ga bisa diam aja liat mereka ngehina lo! Belum gue potong aja tu burung satu satu, biar mampus sekalian" makinya.
"Huss! Ga boleh gitu. Ga baik Sar"
"Kok lo diam aja sih Vir! Sekali-kali lo harus jawab, jangan diam aja. Mereka makin mudah buat ngejatuhin lo"
"Aku harus ngelawan gimana Sar? Yang mereka bilang bener. Aku wanita murahan, aku ga suci lagi, aku udah ga sesempurna wanita lain" ucapnya menahan isakan tangis yang keluar. "Apalagi yang bisa aku banggain? Hal yang paling aku jangan udah ga ada lagi, aku harus apa? "
"Vir, ma-maaf, gue ga maksud ngomong gitu. Jangan nangis, please"
"Huuh, iya, ga papa. Aku mau ke kamar mandi dulu" ucapnya lalu pergi menghadap guru untuk izin.
"Haiiss, ni mulut juga ih" ucapnya dengan sesekali memukul bibirnya.
...****...
Setalah dari kamar mandi, Savira tak kembali ke kelas, sebab saat ingin kembali ke kelas tadi, ia berjumpa dengan Rina, sang guru Olim. Ia di minta untuk ke perpus, sebab ada yang ingin guru tersebut bahas.
__ADS_1
"Jadi, tujuan Ibu manggil kamu ke sini, karena ibu mau tanya masalah foto ini. Seharusnya sih ini tanggung jawab Bu Lilis, tapi karena berhubung beliau sedang duduk rapat dengan dewan sekolah, jadi Ibu ya g harus menggantikan belau. " Jelasnya "Bisa Vira jelasin ke Ibu tentang foto ini? Jika boleh jujur, Ibu tak percaya kamu melakukan hal ini. "
Savira diam sejenak, ia harus menetralkan datang jantungnya. Entah kenapa, setiap melihat foto tersebut, kejadian itu kembali berputar, membuat rasa traumanya timbul ke permukaan.
"Itu memang Savira, Bu. Tapi saat itu Savira di perkosa" Ucapnya, lalu menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada sang guru. Harap-harap, keterangan nya ini bisa membantunya terlepas dari masalah ini.
"Ya ampun. Jadi itu kejadian sebenarnya? " tanya nya ketika Savira telah selesai menceritakan ulang kejadian itu.
"Iya Bu"
"Yaudah, kamu ga usah khawatir. Ibu yang bakal jelasin ini ke pihak sekolah, supaya tak terjadi salah paham lagi" jelasnya lembut seraya mengusap lembut surai sang murid tersayang.
"Makasih Bu, Savira benar-benar bersyukur bisa jumpa guru sebaik Ibu"
"Aihh, kamu berlebihan sekali. Yasudah, setelah ini kamu disini saja, Ibu sudah memberi tahu bu Iin -guru sejarah, kalau kamu sedang ada perlu dengan Ibu. "
"Iya Bu, sekali lagi makasih yaa"
"Iya Nak. Yaudah, Ibu keluar dulu ya" Savira hanya membalasnya dengan anggukkan. Setalah Bu Rina keluar, ia memilih menghabiskan waktunya untuk membaca buku, setelah sebelumnya ia mengirimi pesan pada Sarah, bahwa ia berada di perpus.
'Kejutan selanjutnya menanti' disana, dia lagi-lagi memantau dengan senyum licik yang terukir.
...****...
"Savira mana? " Siapa lagi yang bertanya, jika bukan Alfi, si bucinnya Savira jika Anhar bilang.
"Katanya di perpus, tadi dia ada perlu sama Bu Rina. "
"Ouh, yaudah. Kita ke perpus dulu" ucap Raiden diangguki Sarah. Namun, baru akan berjalan, suara Alfi memberhentikan langkah mereka.
"Kalian ke kantin aja, biar gue yang jemput Savira"
"Emm, boleh juga. Bawa kawan gue ya, jangan sampai lecet, awas kalau lecet. " ancam Sarah.
"Iya iya, bawel" ujarnya dan berlalu dari sana. Meninggalkan Sarah yang menggerutu tak jelas akibat di panggil bawel. dia kan hanya memastikan keamanan Savira.
"Ini mah udah fiks banget, Alfi pasti sukak sama Savira" seru Zafran, disetujui oleh mereka.
"Ya ga masalah sih, kalau sahabat kesayangan gue sama Alfi yang ganteng, ga play boy, terus pandai lagi, yang penting dia ga sama lo bertiga, udah jelek, play boy tingkat akut, bodoh lagi" jawab Sarah sebelum pergi meninggalkan mereka.
__ADS_1
Anhar dan Antoni memegang dada mereka seakan sangat tersakiti akan ucapan Sarah sedangkan Zafran hanya memutar bola matanya malas. Sepertinya Sarah memiliki dendam yang berlum tersampaikan padanya, dia selalu ketus jika berhadapan dengan Zafran. Dan sayangnya Zafran hanya bisa bersabar. Pawangnya ngeri ***.
...****...
"Vir, " panggil Alfi, ketika melihat sang gadis pujaan sedang sangat serius membaca buku di hadapan nya.
"Eh, Alfi, udah bell ya? "
"He'em, ayo ke kantin. Simpan dulu bukunya. Nanti belajar lagi. " tuturnya lembut.
"He'em"
Setelah dari perpus, mereka langsung berjalan ke kantin sekolah, yang lain sudah menunggu mereka di sana. Sama seperti tadi pagi, sekarang pun Alfi menggenggam tangan Savira.
"Alfi sini! " panggil Antoni dengan melambaikan tangannya.
"Kamu mau apa? Bair aku yang pesan"
"Aku roti sana air mineral aja"
"Okey" Itu hanya ucapan, ia tetap akan membelikan makanan lain untuk Savira. Tak mungkin ia membiarkan pujaan hatinya hanya makan roti dan air hingga pulang sekolah nanti, walaupun ia belum tau Savira menyukainya juga atau tidak, setidaknya ia tak ingin Savira sakit.
Savira hanya membeli itu, karena ia harus berhemat, ingat kan, hari ini adalah hari terakhir nya bekerja part time di cafe, jadi ia harus lebih berhemat lagi mulai sekarang.
Tak lama menunggu, Alfi datang dengan pesanan Savira ditambah nasi goreng untuknya dan Savira.
"Eh, kan aku ga mesan nasi goreng ini"
"Ga papa, makan aja. Aku ga mau kamu sakit"
"Ekhm, kok sweet banget sihhh. Sekarang udah 'aku-kamu' ya" goda Sarah.
"Terus? Emangnya ga boleh? " tanya Alfi datar.
"Ya boleh doongg, heheh" cengirnya.
Savira sendiri hanya menggelengkan kepalanya, heran sendiri dia. Emangnya apa salahnya jika memanggil 'aku-kamu' kan tidak ada salahnya.
Aihh, susah kalau ga peka.
__ADS_1
...****...