
Savira sedang bersiap-siap sekarang, ia sudah membuat janji untuk bertemu dengan Adora di taman tak jauh dari Sekolah. Ia akan pergi sendiri, walaupun awalnya Sarah menolak, sebab bukan seperti ini perjanjian awal mereka. Bagaimana tidak, tiba-tiba saja Savira memutuskan untuk pergi sendiri, dan tidak memperbolehkan mereka untuk ikut seperti yang sudah di rencanakan.
Sarah betul-betul tak tau jalan pikir Savira. Namun, ingin membantah pun tak bisa, karena ia tau, ia akan kalah jika berdebat dengan gadis di hadapannya ini.
"Udah, jangan cemberut terus ih. Aku bakal jaga diri okay? " ucap Savira saat melihat Sarah masih saja memandangnya dengan bibir yang ia majukan 5 cm serta tangan terlipat di depan dada, persis seperti anak kecil yang merajuk karena tidak di beri mainan.
"Sar. Jangan khawatir, lagian aku udah setuju kan? Kalau Alfi yang bakal ikut aku"
Yaaa, memang sihh, setidaknya dari hasil perdebatan itu, Savira mau mengalah dengan membirakan Alfi ikut. Awalnya Sarah yang begitu keukeuh untuk ikut, namun Savira menolak, ia takut Sarah tak bisa membendung emosinya dan berakhir pertemuan ini tak membuahkan hasil yang positif.
Savira hanya ingin duduk, dan berbicara dengan baik-baik, tanpa ada emosi di dalam nya.
"Telpon kalau ada apa-apa"
"Iyaaaa. Dari pada kamu cemberut terus, mending siap-siap juga sana, kan mau ke temu camer" goda Savira membuat Sarah salah tingkah.
"Ihh, apaan sih"
"Hahaha" tawa Savira meledak melihat sang teman dengan pipi memerah dan salah tingkah.
Tok tok tok
"Maaf mengganggu Non, tapi di bawah ada Den Alfi" ucap salah seorang Maid yang tadi mengetuk pintu.
"ouh, iya Bi. "
"Yaudah, aku pergi dulu yaa, assalamu'alaikum" pamit Savira, sebab Sarah tak turun lagi, ia akan langsung ke kamarnya untuk bersiap.
"Hati-hati"
"Iyaaa"
...****...
Tak menghabiskan waktu lama, akhirnya Alfi dan Savira sampai pada taman yang sudah di janjikan. Mereka berjalan menyusuri taman tersebut hingga sampai pada danau tempat orang yang mereka tuju menunggu. Tak jauh dari danau itu, terdapat sebuah bangku dengan seorang gadis duduk di sana membelakangi mereka.
"Adora" sapa Savira ketika sudah berdiri di belakang gadis yang ia panggil Adora. Yang dipanggil membalikkan badannya, membuat baik Alfi maupun Savira terkejut bukan main.
"Oh hai, Alfi, Savira" sapanya dengan senyum manis. Savira masih terkejut, sungguh, tak hanya dia, namun Alfi pun sama.
Bagaimana tidak, di hadapan mereka sekarang bukan Adora, melainkan Adera.
__ADS_1
"Ke-kenapa kamu yang di sini? " tanya Savira linglung. Ia mengenal Adera tak lebih hanya tau bahwa gadis di depannya ini memiliki special relationship dengan Dimas.
"Lo ada janji dengan Dimas? " tanya Alfi.
"Nope"
"Lalu"
"Gue orang yang kalian cari, yang kirim neror selama ini"
Damn it! Kejutan apalagi sekarang.
"Kenapa? Terkejut? Take it easy, don't be to serious" tuturnya santai. Ia kembali duduk pada bangku taman itu, menghiraukan dua manusia yang masih mematung tak percaya.
"Lo mau tau, alasan kenapa gue neror lo? " tanyanya dengan pandangan yang terus terfokus pada hamparan danau di depannya.
*Flashback On*
Adora menatap tanpa arti gadis di hadapannya yang merupakan anak miskin yang sering menjadi bahan bully yang sekarang malah menjadi teman dekatnya. Ia bingung, bagaimana gadis itu bisa tetap tersenyum bahagia seakan menikmati hidup, di saat semua orang menghina dirinya.
Adora anak yang pendiam, banyak hal yang ia pendam dalam dirinya, dan entah kenapa, hanya Savira yang bisa melihat tatapan mata penuh luka tersebut. Savira sering menjadi tempatnya mengadu akan hidupnya yang sungguh tak adil.
Savira yang selalu ada ketika ia berniat mengakhiri hidupnya, Savira juga yang senantiasa mengobati luka memar maupun luka cambuk yang ia dapat dari sang Papa maupun Mamanya.
Adora saat itu menaruh hati pada seorang lelaki bernama Yuda, kakak tingkatnya yang banyak di kagumi kaum hawa. Ia menceritakan ketertarikannya tersebut pada Savira, yang tentunya mendapat dukungan dari sang teman.
Hingga hari itu tiba, dimana ia melihat sendiri Yuda yang menyatakan perasaannya pada Savira di hadapan umum, tepat setelah lelaki itu menolaknya.
Hal itu membuatnya membenci Savira, hingga ia nekat menjebak dan merusak sahabatnya sendiri.
Namun, nyatanya setelah kejadian itu, rasa bersalah terus menghantuinya, tatapan memohon dari Savira terus terbayang di benaknya, raungan ketakutan gadis itu seakan enggan berhenti bermain di kepalanya. Hal itu, terkadang sering membuatnya terlihat berbicara sendiri.
Mentalnya yang memang sudah hancur akibat perilaku kedua orang tuanya, bertambah hancur akibat kesalahan yang ia buat sendiri. Ia menyesal, sungguh, mau meminta maaf, namun ia sudah kepalang malu tak berani menampakkan lagi wajah nya setelah hari itu.
Terlebih mendengar Savira yang harus bertemu psikiater karena kejadian itu, membuat rasa bersalah kian membuncah. Membuatnya terus menyalahkan dirinya.
"Maaf, hiks maaf" gumamnya berulang-ulang.
*flashback off *
Savira tertegun mendengar cerita itu, ia tak menyangka karena hal itu, Adora bisa berbuat sejauh itu.
__ADS_1
"Ta-tapi, aku bahkan ga nerima kak Yuda hari itu. Aku tau Ara suka sama Kak Yuda, ta-tapi aku ga pernah ada niat untuk rebut kak Yuda" jelas Savira.
"I know. Karena itu, sekarang gue minta maaf, maaf karena udah neror lo, dan nyebarin aib lo, sampai lo dan keluarga lo di usir dari tempat lo" lirihnya merasa bersalah.
Saat ini, mereka hanya berdua, Alfi memutuskan untuk memberi waktu bagi mereka, jadi ia pergi untuk sekedar membeli minuman.
"Ara sekarang dimana? " tanya Savira "Dia baik-baik aja kan? "
"Dia ga pernah baik-baik aja setelah kejadian itu. Sekarang Kak Ara ada di Rumah Sakit Jiwa"
"Kenapa? "
"Self harm, dan percobaan bunuh diri untuk kesekian kalinya. Papa sama Mama mutusin buat masukin Kakak ke Rumah Sakit Jiwa. Lo pasti tau kan? Gimana perilaku Mama sama Papa? "
Savira menatap sendu danau di hadapannya, begitu beratkah kehidupan Adora selama ini?
"Jadi, dia menghilang saat itu, karena.. "
"Iya, karena ada di RSJ"
...****...
Setelah tadi bertemu Adera tadi, kini Savira dan Alfi berada di cafe tempat dulu Savira bekerja. Hanya sekedar untuk makan siang sekaligus berkunjung sebab sudah 2 bulan lebih ia berhenti berkerja.
"Aaaa~~ Saviraaa" Seru Sinta semangat, menarik perhatian beberapa pengunjung.
"Kak Sintaa"
"Ya ampun, kakak rindu banget sama kamu tauu"
"Heheh, Vira juga kangen kalian semua"
"aihhh, gemesin banget siihh. " Ujarnya seraya menyubit pelan pipi Savira.
"Kak, Savira mau makan siang disini yaa, sama Alfi"
"Ouh, okaayy. Sebentar yaa"
Setelah itu Alfi dan Savira duduk di salah satu bangku di sudut, bangku yang sering mereka tepati dulu u tuk belajar bersama.
"Teringat dulu yaa. Dulu aku yang di sana, berdiri di kasir nyambut pembeli, terus kamu duduk di sini nunggu aku buat belajar bareng. Eh ga taunya sekarang malah akunya datang sebagai pengunjung, heheh" kekehnya lucu mengingat dulu.
__ADS_1
Alfi mengangguk setuju ucapan Savira.
...****...