Saya Indigo

Saya Indigo
10.Membantu Reina (1)


__ADS_3

Malam hari setelah tahlilan kakek selesai,aku segera membersihkan diri dan segera beristirahat .


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30.


Saat aku hendak membaringkan tubuh,tiba-tiba angin berhembus kencang membanting kuat jendelaku,ternyata aku lupa menutup jendala kamar.Namun,aku merasa heran kenapa tiba-tiba ada angin berhembus disaat cuaca terang dengan banyak bintang bertaburan di langit.


"Aneh."ujarku


Aku segera berdiri untuk menutup jendela,namun saat aku hendak menutup jendela,aku terkejut melihat ada sosok anak kecil yang mengikuti bu Wida tadi.


Dia berdiri tidak jauh dari jendelaku.


Matanya menatapku begitu lekat.


"Tolong aku,Nasya."ujarnya padaku.


Badanku seketika membeku mendengar suaranya.


"Tolong bantu aku."ujarnya lagi kali ini dia tepat berada di depan jendelaku.Sorot matanya masih sama,masih tetap menyedihkan namun menurutku sedikit menyeramkan.


Aku yang kaget refleks menutup jendelaku dengan kuat.


"Astagafirullah."ujarku sambil mengelus dadaku.


Harum bau wangi melati tercium di hidungku,berbarengan dengan Tari yang muncul di hadapanku.


"Siapa anak itu Nasya."tanya Tari seakan tahu apa yang aku lihat barusan.


"Aku juga tidak tahu.Aku bertemu dengannya di sekolah tadi,dia mengikuti bu Wida guru baru di sekolahku."ujarku menjelaskan.


"Terus kenapa dia mengikuti kamu.??"tanya Tari heran.


"Aku juga heran,tadi di sekolah dia seperti mau minta tolong padaku."ujarku


"Kayaknya memang dia butuh bantuanmu,Sya.Buktinya dia sampai mengikuti kamu kemari."ujar Tari.


"Memangnya aku bisa bantu apa,Tari.??"ujarku bertanya.


"Mana aku tahu,kita kan belum nanya sama anak itu."ujar Tari sambil tertawa kecil.


"Terus gimana dong?? Kalau aku nggak ladenin,pasti dia neror aku terus."ujarku mengeluh.


"Gimana kalau kita tanya aja sama anak itu.??"usul Tari.


"Terserah kamu aja deh Tari.Aku ngantuk mau tidur dulu."ujarku segera naik ke atas ranjang.


"Oke,besok kita akan menanyakan padanya apa yang dia inginkan."ujar Tari.


"Kamu tidur aja,aku akan menjagamu di sini."sambung Tari lagi.


"Iya Tari."jawabku sambil memejamkan mata.


Keesokkan paginya,aku sudah bersiap untuk pergi ke sekolah.


Setelah berpamitan,aku segera berangkat bersama Rifat yang kebetulan juga mau berangkat ke sekolah.


"Nasya gimana sama anak kecil yang kemarin,apa dia masih mengganggumu."tanya Rifat saat kami berjalan beriringan.


"Kamu tahu dari mana kalau anak itu datang padaku lagi.??"tanyaku balik.


"Cuma nebak aja kok.Tapi berarti benar dong kalau dia datang lagi sama kamu."ujar Rifat.

__ADS_1


"Oh aku kira kamu juga ngikutin aku semalam."ujarku tersenyum simpul.


"Iya memang semalam dia datang ke menemuiku."ujarku lagi.


"Yaelah ngapain juga aku ngikutin kamu,kayak nggak ada kerjaan aja."ujar Rifat cengar-cengir.


"Terus dia bilang apa sama kamu."tanya Rifat lagi.


"Masih sama,Fat.Dia masih meminta tolong padaku."ujarku


"Memangnya dia mau minta tolong apa,Sya.??"tanya Rifat.


"Itu dia yang aku belum tahu,Fat.Rencananya hari ini aku dan Tari akan ketemu sama anak itu,terus nanya apa yang bisa aku bantu untuk dia."ujarku.


"Tari.?? Siapa dia.??"tanya Rifat heran.


"Dia adalah khodam yang menemani aku,semenjak aku memiliki kemampuan seperti ini."ujarku


"Kok kamu nggak pernah cerita."ujar Rifat sewot.


"Ngapain juga cerita sama kamu.Orang kamunya penakut."ujarku sambil tersenyum mengejek.


"Ihh kamu ini gimana sih,setidaknya aku bisa tahu apa yang berhubungan dengan kamu,Sya.Kita kan sahabat gitu."ujar Rifat merajuk.


"Ya udah nggak usah pasang muka gitu juga,Fat.Aku kan sekarang udah cerita sama kamu."ujarku sambil tersenyum melihat tingkah Rifat.


"Pokoknya kalau sebentar kamu mau ketemu sama anak kecil itu,aku harus ikut."tegas Rifat.


"Iya kamu boleh ikut,Fat."ujarku.


Setelah sampai di kelas aku dan Rifat segera duduk di kursi masing-masing.


"Fat,kamu mau melihat wujud Tari dan anak itu nggak.??"tanyaku pada Rifat sambil berjalan ke belakang sekolah.


"Emang boleh.?? Aku kan bukan anak indigo,Sya."ujar Rifat.


"Kamu tenang aja,aku bisa kok buat kamu ngelihat mereka."ujarku


"Gimana caranya,Sya.??"tanya Rifat.


"Kamu cukup genggam tanganku aja,Fat.Dan kamu bisa ngelihat mereka."ujarku.


"Berarti waktu itu,aku bisa ngelihat pocong yang di kebun pak lurah karena kamu ya,Sya.Waktu itu kan kamu genggam tanganku."ujar Rifat mengingat kejadian itu.


"Iya benar,Fat."jawabku.


"Wah,kalau gitu aku bisa dong ngelihat makhluk tak kasat mata hanya dengan menggenggam tangan kamu,Sya."ujar Rifat antusias.


"Yaelah,nih anak segitunya mau jadi indigo."ujarku geleng-geleng kepala melihat antusias dari Rifat.


"Kan seru,Sya.Kalau kita sama-sama bisa ngelihat hantu gitu."ujar Rifat.


"Terserah kamu aja deh."ujarku malas berdebat dengan Rifat.


Setelah sampai di belakang sekolah,aku melihat Tari sedang mengobrol dengan anak itu.


"Ayo sini,Sya."panggil Tari.


"Ayo kita ke sana,Fat."ajakku pada Rifat.


"Kemana,Sya.??"tanya Rifat.

__ADS_1


Aku segera menggenggam tangan Rifat,agar dia bisa melihat keberadaannya Tari dan anak itu.


"Mereka siapa,Sya.??"tanya Rifat yang sudah bisa melihat keberadaan Tari dan anak itu.


"Yang pakai baju kuning pastel adalah Tari,sedangkan yang di sebelahnya anak yang mau meminta tolong padaku.


"Kenapa kamu bawa teman kamu ini,Sya.??"tanya Tari saat kami sudah berada di depan mereka.


"Nggak papa kok Tari,dia nggak akan cerita sama orang-orang."ujarku pada Tari.


"Ya udah kalau gitu,Sya."jawab Tari pasrah.


"Hai,aku Rifat.Aku sahabatnya Nasya."ujar Rifat menyapa mereka.


Namun hanya di balas senyuman oleh Tari. Sedangkan anak itu,hanya menatap bingung pada kami.


"Siapa nama kamu."??tanyaku pada anak itu kemudian.


"Namaku Reina."jawabnya dengan muka yang lebih baik dari semalam.


"Kenapa kamu terus meminta tolong padaku.??"tanyaku tuduh poin.


"Tolong bantu mamaku menemukan jasadku.Agar aku bisa dikuburkan secara layak."ujar Reina padaku.


"Coba kamu ceritakan mengapa sampai kamu tidak bisa menemukan jasadmu."ujarku


"Aku di bunuh oleh papa tiriku.Waktu itu,mama dan papa tiriku bertengkar hebat.


Mereka bertengkar karena papa tiriku ketahuan selingkuh.Mama meminta cerai pada papa,namun papa tiriku nggak mau.


Kemudian papa mengurung mama di kamar mandi,aku sangat sedih dan berniat membukakan pintu kamar mandi agar mama bisa keluar.Namun,papa mengetahui tindakanku.Papa yang terbawa emosi memukulku begitu keras,hingga aku terjatuh dan kepalaku terbentur di dinding.Bukannya papa berhenti,dia malah semakin terbawa emosi dan mencekik leherku sampai aku mati."ujar Reina menceritakan kisahnya.


"Terus gimana setelah papa tirimu tahu kalau kamu sudah meninggal."tanya Rifat penasaran.


"Papa tiriku panik saat tahu aku meninggal karena di cekik olehnya.Karena takut ketahuan dia akhirnya menguburkan aku di bawah lantai kamarku,ia membuka keramik dan menggali kuburan untuk aku,kemudian dia menutup lagi keramik tersebut dengan rapi."ujar Reina.


"Jadi mama kamu itu bu Wida.??"tanyaku


"Iya,Sya."jawab Reina.


"Terus waktu bu Wida nyari kamu,papa tirimu jawab apa.??"tanya Tari yang sedari tadi diam.


"Papa tiriku hanya diam,dia bilang nggak tahu aku di mana."ujar Reina.


"Terus sekarang papa tirimu di mana.??"tanyaku.


"Dia sekarang di penjara,karena kasus penganiayaan dan juga kasus narkoba."jawab Reina.


"Jadi sampai sekarang mama kamu nggak tahu di mana keberadaanmu.??"tanyaku


"Iya,Sya.Makanya aku minta tolong sama kamu buat temuin aku dan mama,aku mau mengucapkan selamat tinggal pada mama untuk yang terakhir kalinya,sebelum aku kembali ke alamku."ujar Reina sedih.


"Baiklah aku akan membantumu,tapi nanti sepulang sekolah ya.Soalnya aku harus berpamitan dulu sama orang tuaku."ujarku akhirnya.


"Iya,Sya.Makasih ya kamu sudah mau membantuku."ujar Reina.


"Iya sama-sama."jawabku.


"Kalau begitu aku kembali dulu ke kelas,jam istirahat telah selesai Nanti aku akan menemuimu lagi.


"Ayo Rifat kita kembali ke kelas."ujarku sambil menarik tangan Rifat menuju ke kelas.

__ADS_1


__ADS_2