
Malam harinya setelah makan malam,kami semua segera beristirahat.
Aku yang hendak tidur,tiba-tiba kaget karena melihat sebuah bayangan di jendela kamarku.
Aku segera mendekat ke arah jendela,dan mengintip di balik gorden.Tiba-tiba saja tubuhku merinding,merasakan hawa lain disekitarku.
Saat aku mengintip aku terkejut,karena melihat seorang anak kecil yang berdiri di bawah pohon jambu yang tidak jauh dari kamarku.
"Siapa anak kecil itu,ngapain dia berdiri di bawah pohon jambu tengah malam begini.??"ujarku pelan.
Aku terus memperhatikan anak kecil itu.
Setelah aku perhatikan dengan jelas sepertinya aku mengenal anak itu.
"Bukannya itu Arya,anaknya pak Jamal.??"ujarku sambil terus memperhatikan anak itu.
"Ngapain dia di situ tengah malam begini."monolog diriku.
Karena penasaran,aku berniat keluar untuk mengecek sekalian aku mau bangunin ayah untuk menemani aku.
Saat aku mau keluar kamar,aku berpapasan dengan ayah yang hendak ke dapur.
"Kamu mau ke mana,Sya.Kok belum tidur.??"tanya ayah.
"Kebetulan ayah di sini,aku baru mau bangunan ayah untuk menemani aku keluar sebentar."
"Keluar kemana,ini kan udah malam,Sya.??"tanya ayah
"Tadi aku ngelihat Arya berdiri di bawah pohon jambu yang dekat kamarku,makanya aku mau ngecek ngapain dia malam-malam berdiri di situ."ujarku menjelaskan pada ayah.
"Hah Arya anaknya pak Jamal,Sya.??"tanya ayah.
"Iya ayah."jawabku.
"Nggak mungkin lah dia tengah malam berdiri di bawah pohon jambu,situ kan agak gelap,Sya."ujar ayah nggak percaya.
"Benaran yah,nggak mungkin aku bohong."ujarku.
"Mungkin kamu salah lihat,Sya.Dia itu kan masih kecil,umurnya baru empat tahunan gitu nggak mungkin orang tuanya ngebiarin dia di luar malam-malam begini."ujar ayah.
"Salah lihat gimana,orang aku lihat dengan jelas kalau Arya."ujarku kekeh.
"Sana kamu tidur aja,besok kan kamu sekolah.Ayah juga udah ngantuk nih.
Malas berdebat dengan ayah,akhirnya aku kembali ke kamar.
Saat melihat ke arah pohon jambu,Arya udah nggak ada di sana.
"Apa memang aku salah lihat tadi."gumamku yang mulai terpengaruh dengan omongan ayah.
__ADS_1
"Daripada mikirin hal-hal aneh yang bikin pusing,mending aku tidur aja."ujarku sendiri sambil naik ke atas ranjang.
**
Keesokkan paginya,kami dikagetkan dengan berita yang membuat aku syok.
Arya anak pak Jamal telah meninggal dunia.Itulah berita yang membuat aku sangat terkejut.Semalam aku masih ngelihat dia di bawah pohon jambu,dan pagi ini dia telah meninggal dunia.
"Benaran Arya udah meninggal,yah.??"tanyaku yang belum percaya dengan yang disampaikan ayahku,saat pulang dari masjid.
"Benaran Sya,tadi ayah ketemu pak Heri dia yang ngantarin pak Jamal untuk membawa Arya ke puskesmas tadi subuh.Pak Jamal minjam motor pak Heri, Sya."ujar ayah.
"Arya sakit apa,yah.??"tanyaku.
"Semalam katanya badan Arya panas,terus ibunya ngasih obat penurun panas.Setelah dikasih minum obat,panasnya udah mulai turun,tapi tiba-tiba tadi subuh badannya panas lagi dan Arya juga kejang-kejang.Kemudian mereka membawanya ke puskesma,namun nyawa Arya tidak bisa tertolong."ujar ayah panjang lebar.
"Kasihan sekali Arya."ujar ibu sedih.
""Iya bu,tapi mau bagaimana lagi kita nggak bisa berbuat apa-apa kalau Allah sudah berkehendak."ujar ayah.
"Yah,kalau semalam Arya udah sakit,terus yang aku lihat di bawah pohon jambu itu siapa.??"tanyaku bingung.
"Maksud kamu,Sya.??"tanya ibu.
"Iya bu,semalam itu Nasya katanya ngelihat Arya berdiri di bawah pohon jambu yang tidak jauh dari kamarnya."jawab ayah.
"Iya benaran bu."jawabku.
"Kok bisa gitu ya.Arya sakit semalam,terus kamu lihat dia di bawah pohon jambu,dan pagi ini Arya meninggal dunia."ujar ibu yang heran dengan kejadiannya.
"Ayah ingat nggak,kejadian waktu di kebun yang aku ketemu pak Ahmad,ternyata pak Ahmad lagi di rawat di rumah sakit,dan besoknya dia meninggal dunia."ujarku mengingatkan ayah kejadian waktu itu.
"Iya Sya,ayah ingat."jawab ayah.
"Sepertinya kamu memiliki mata batin yang sangat kuat."ujar ibu.
"Maksud ibu kuat gimana.??"tanyaku.
"Iya buktinya kamu bisa ngelihat arwah seseorang sebelum orang itu meninggal."jawab ibu.
"Mungkin hanya kebetulan aja bu."ujar ayah.
"Tapi aneh aja,yah."timpal ibu.
"Tahu ah pusing aku,mending aku siap-siap berangkat ke sekolah."ujarku akhirnya.
"Ya udah kamu siap-siap san."ujar ibu.
Setelah sarapan aku segera berangkat ke sekolah.Aku berangkat bareng Rifat yang kebetulan juga mau berangkat.
__ADS_1
"Sya kamu kenapa.??"tanya Rifat.
"Nggak papa,Fat."jawabku.
"Yaelah nggak usah bohong,Sya.Muka kamu itu menunjukkan kalau kamu lagi mikirin sesuatu."ujar Rifat.
"Sebenarnya aku mikirin Arya,Fat."ujarku.
"Iya kasihan ya Arya."ujar Rifat sedih.
"Iya kasihan,Fat.Tapi ada yang buat aku bingung dengan kejadian semalam."ujarku.
"Kejadian apa,Sya."tanya Rifat penasaran.
Aku pun menceritakan kejadian yang aku alami semalam pada Rifat.
"Hah benaran kamu lihat Arya semalam di bawah pohon jambu dekat kamarmu."tanya Rifat kaget.
"Iya benaran,Fat.Bahkan semalam aku mau ngecek keluar.Aku minta ditemanin ayah,hanya saja ayah nggak percaya dan malah bilang kalau aku salah lihat."ujarku.
"Tapi memang aneh,Sya.Ngapain Arya tengah malam di bawah pohon jambu itu."ujar Rifat yang masih belum percaya juga dengan ceritaku.
"Kamu lupa,aku ini anak indigo,Fat.Aku bisa lihat hal-hal yang di luar nalar manusia.Kamu ingat kejadiannya pak Ahmad.Aku ketemu pak Ahmad di kebun tapi ternyata dia lagi di rumah sakit,dan besoknya dia meninggal."ujarku meyakinkan Rifat.
"Iya kamu benar juga,Sya."ujar Rifat yang mulai percaya sama aku.
"Lagi ngobrolin apa sih kalian.??"tanya Tari yang tiba-tiba muncul.
"Lagi ngobrolin kejadian semalam."jawabku.
"Kamu ngomong sama siapa,Sya.??"tanya Rifat heran.
"Sama Tari,Fat."ujarku sambil memegang tangan Rifat biar dia bisa ngelihat Tari.
"Ohh kirain sama siapa."ujar Rifat.
"Kejadian yang kamu ngelihat si Arya di bawah pohon jambu,Sya.??"tanya Tari.
"Iya Tari.Tapi kok kamu bisa tahu kejadian semalam sih.??"tanyaku.
"Pasti dia tahu lah,Tari itu kan khodam yang selalu menemani kamu,Sya."jawab Rifat.
"Betul itu Sya,aku pasti tahu apa yang berhubungan dengan kamu.Soalnya aku kan khodam spesial."ujar Tari sambil cengar-cengir pada kami.
"Yaelah segitunya muji diri sendiri."ujarku sambil berjalan meninggalkan mereka.
"Nasya tunggu aku,kamu kok ninggalin aku sih.Aku kan nggak bisa lihat si Tari kalau kamu lepasin tangan kamu."ujar Rifat sambil mensejajarkan langkahnya denganku.
Sedangkan Tari hanya tersenyum melihat tingkah Nasya dan Rifat.
__ADS_1