Saya Indigo

Saya Indigo
2.Awal Mula Mata Indigo


__ADS_3

Setelah selesai dimandikan,jenazah kakek segera dikafani.Waktu itu aku masuk ke dapur ingin membasuh wajah,sampai di dapur aku melihat ada baskom besar berisi air,tapi airnya tinggal sedikit.Tanpa bertanya tentang air itu,aku langsung mengambil gayung dan membasuh wajahku dengan air itu.


Tiba-tiba aku dikagetkan dengan kedatangan Rifat."Sya kamu lagi ngapain??"


"Astaga Rifat,kamu ngagetin aja."ucapku kaget dengan kedatangan Rifat.


"Ini aku lagi basuh wajahku Fat."sambungku.


"Bukannya itu air bekas memandikan jenazah kakekmu??"tanya Rifat.


"Hah??benaran ini bekas air mandinya kakekku tadi."tanyaku yang tidak percaya sama Rifat.


"Iya benaran,soalnya tadi ayahmu bilang begitu sih,tadi aku tanya waktu aku ke sini sebelum jenazah kakekmu dimandikan."


"Terus gimana dong,?? udah terlanjur juga nih."


"Ya nggak harus gimana juga sih,hanya saja aku takut dengan mitos yang ada di desa kita ini Sya."ujar Rifat


"Mitos apa Fat."tanyaku


"itu mitos tentang air bekas memandikan jenazah,kata orang-orang di sini kalau kita membasuh wajah kita dengan air bekas memandikan jenazah mata batin kita bisa kebuka."ujar Rifat.

__ADS_1


"Halah itu kan cuma mitos,Fat."ujarku membantah ucapan Rifat,aku memang tidak percaya dengan hal-hal begituan.Karena ayah dan ibu selalu mengajarkan kami tentang agama,kepercayaan terhadap Allah dan mengajarkan kami agar tidak percaya dengan hal-hal yang belum tentu pasti.


"Terserah kamu kalau nggak percaya,Sya.Aku hanya memberi tahu saja."ujar Rifat.


Kemudian aku dan Rifat segera ke depan,karena jenazah kakek akan dishalatkan baru kemudian dibawa untuk dimakamkan.


Setelah selesai sholat jenazah,kami semua segera membawa jenazah kakek ke tempat pemakaman.Ayah dan dibantu tiga orang lainnya membawa jenazah kakek dalam keranda.Hanya butuh waktu sepuluh menit untuk sampai di tempat pemakaman kakek.Kakek dimakamkan di pemakaman keluarga kami,karena itu sudah menjadi wasiat dari kakek.Kata kakek bila nanti ia meninggal,tolong dimakamkan dipemakaman ini.


Proses pemakaman telah selesai.Warga yang lain sudah pada pulang.Hanya tertinggal keluarga inti saja yang masih berada di pemakaman.Ku lihat ayah dan bibi Rini yang masih larut dalam kesedihan.Mereka mengapit nenek di tengah dan menangis dalam diam sambil memandang kuburan kakek.Sedangkan aku,ibu,adikku dan paman Refan berdiri di samping makam kakek.Kami semua larut dalam kesedihan atas kepergian kakek.


Tidak lama nenek beranjak dari tempatnya.


"Ayo nak kita pulang,kita harus mengikhlaskan ayah kalian.Pasti ayah kalian sangat sedih jika melihat kita terus berlarut dalam kesedihan."ujar nenek berusaha tegar,seraya memegang pundak ayah dan bibi Rini.kamipun segera beranjak meninggalkan tempat pemakaman ini.Ayah,ibu dan nenek berjalan paling depan,disusul paman dan bibi di belakang sedangkan aku dan adikku Fadhil berada paling belakang.


"Nasya,,!!"suara yang memanggil namaku.Aku yang mendengar segera melihat ke belakang.Aku melihat kakek sedang berdiri di samping makamnya sambil tersenyum melihatku.Aku segera mengucek mataku mungkin saja aku sedang berhalusinasi karena masih bersedih atas kepergian kakek.Namun itu benaran kakek.


"Kakek."ucapkan pelan.


"Kakak kenapa sih??"tegur Fadhil yang berada di sampingku.


"Kamu nggak lihat,dek??"tanyaku sambil melihat Fadhil di sebelahku.

__ADS_1


"lihat apa,kak??"tanya Fadhil heran.


"itu kakek ada di sana."ujarku sambil menunjuk di tempat aku melihat kakek tadi.Namun anehnya,tidak ada siapa-siapa di sana.


"Bersedih boleh,tapi jangan terbawa halusinasi juga kak."ujar Fadhil yang mulai melanjutkan langkahnya.


Sepertinya Fadhil benar.Aku mungkin terbawa halusinasi karena masih bersedih atas kepergian kakek.Aku segera berlari menyusul Fadhil yang mulai menjauh,karena hari sudah sangat sore ditambah lagi awan yang mendung gelap membuat suasana sekitar pemakaman terasa mencekam.


Saat aku melewati pohon besar yang berada di ujung kampung,aku tiba-tiba melihat sekilas bayangan putih di atas pohon.Aku yang penasaran segera melihat ke atas pohon.Dan..


"Astagfirullah,apaan itu."ujarku


Aku melihat sosok perempuan yang sedang duduk sambil membelakangiku.Aku semakin mendekat ke arah perempuan itu.Tiba-tiba perempuan itu memutar kepalanya dan tertawa cekikikan sambil melihat ke arahku.Bola matanya berwarna putih semua,tidak ada warna hitam seperti manusia umumnya.


"Hantu,!!!"Aku yang syok langsung berteriak dan berlari sekencang-kencangnya.Setelah sampai di depan rumah barulah aku berhenti berlari.Orang-orang yang berada di rumahku merasa heran dengan kedatanganku yang penuh keringat sambil ngos-ngosan.


"Kamu kenapa,Sya??"tanya ayah yang berpapasan denganku di depan pintu.


"Nggak kenapa-kenpa kok ayah."ujarku yang tidak mau memberi tahu ayah apa yang ku lihat tadi.


"Ya udah sana cepat mandi dan segera ke masjid,sebentar lagi mau maghrib."ujar ayah.

__ADS_1


"iya ayah."jawabku sembari masuk ke dalam rumah.Aku melewati ruang tengah yang sudah di alas tikar untuk persiapan tahlilan kakek sebentar malam.


__ADS_2