
"Ayah,aku dan Rifat mau pergi mancing ke sungai,boleh ya.??"Tanyaku sambil memasang muka memelas.
"Boleh tapi kalian jangan masuk ke hutan ya,Sya.Banyak binatang buas."ujar ayah.
"Iya ayah,di sana juga ada pak Hendra yang mau angkat bubunya."ujarku.
"Iya nanti kalian pulang bareng pak Hendra aja,Sya."ujar ayah.
"Iya ayah."jawabku.
Setelah berpamitan,aku segera menghampiri Rifat ke rumahnya.
"Ayo Fat,kita berangkat."ajakku pada Rifat.
"Ayo Sya."ujar Rifat sambil mengayuh sepedanya di samping sepedaku.
"Nanti kita cari cacing dulu di sekitar sungai ya,Fat."ujarku.
"Nggak usah Sya,aku udah bawa pisang masak buat umpan nih."ujar Rifat.
"Baiklah kalau begitu."ujarku.
Setelah sepuluh menit mengayuh sepeda,akhirnya aku dan Rifat sampai di sungai.Sungai ini terletak dekat hutan yang katanya angker.Hutan tempat ayah dan ibu bertemu kakek tua yang ada di mimpi ayah.
Saat kami sampai kami berpapasan dengan pak Hendra dan pak Pandu yang mau mengangkat bubu.
"Loh ngapain kalian di sini.??"tanya pak Pandu.
"Mau mancing pak."jawab Rifat sambil menunjukkan alat pancing yang kami bawa.
"Iya pak,soalnya kami bosan di rumah terus.Sekolah kan lagi libur."ujarku.
"Oh gitu,tapi kalian jangan jauh-jauh ya."ujar pak Hendra.
"Iya pak."ujarku dan Rifat.
Setelah itu,aku dan Rifat mengeluarkan alat pancing yang kami bawa.
Kami segera mencari tempat yang nyaman,dan segera mulai memancing.
Baru sekitar lima menit,umpanku sudah ditarik.
"Wah umpanku dimakan,Fat."seruku sambil menarik umpanku.
"Ayo Sya,tarik jangan sampai lepas ikannya."ujar Rifat antusias.
__ADS_1
"Aku terus menarik tali pancingku,namun sepertinya ikan itu terus memberontak melepaskan diri.
"Sya ulur dulu pancingnya,biar ikannya nggak memberontak.Nanti udah tenang baru kamu tarik lagi tali pancingnya."ujar Rifat.
Aku segera mengulur tali pancingku,dan benar ikannya sudah tidak memberontak.Aku tidak menyia-nyiakan kesempatan itu,aku langsung menghentakkan tali pancingku ke atas dan segera menariknya.
Dan ikannya sudah ada di tanah,aku langsung menaruh ikan itu di ember yang kami bawa dari rumah.
"Wah besar juga ikannya,Sya."ujar Rifat.
"Iya Fat,lumayan kalau ikannya kita bakar pasti enak nih."timpalku sambil membayangkan ikan bakar yang lezat.
Setelah itu,aku segera memasang umpan yang baru dan melemparkan ke sungai lagi.
Tiba-tiba tali pancing Rifat Bergerak-gerak.Rifat segera menarik tali pancingnya.
"Wah umpanku juga dimakan,Sya."seru Rifat sambil menarik ulur tali pancingnya agar ikannya nggak lepas.
"Iya Fat,buruan tarik."seruku.
"Iya Sya."ujar Rifat sambil menghentakkan tali pancingnya ke atas.
Dan seokar ikan mujair besar tampak menggelepar di tanah.
Rifat segera membuka mata kail dari mulut ikan itu dan menaruh dalam ember.
Hampir sejam kami menunggu,tapi umpan kami belum ada tanda-tanda dimakan.
"Fat,ayo kita pindah ke sana."ujarku sambil menunjuk ke sebelah sungai.
"Ayo Sya,ikannya mungkin udah pindah ke sana."ujar Rifat.
Kami bergegas pindah ke tempat sebelah.Mungkin saja ikannya memang udah pindah ke sana.
Setelah itu,kami mengganti umpan dengan yang baru.Dan mulai duduk sambil menunggu di bawah pohon yang ada di situ.
Namun sudah beberapa kali kami berpindah tempat,tapi tetap saja umpan kami belum dimakan lagi.
Karena keasikkan memancing,kami tidak menyadari kalau hari sudah mulai sore serta awan mendung yang pertanda akan turun hujan.
"Wah Sya,udah sore nih.Ayo kita pulang sekarang,pasti kita dicari'in sama orang tua kita."ujar Rifat sambil membereskan alat pancing kami.
"Iya Fat,mana mau hujan."ujarku segera bergegas untuk pulang.
Kami menyusuri sungai dengan hati-hati,karena hari sudah begitu gelap.
__ADS_1
Sudah setengah jam kami berjalan,namun kami belum sampai ke tempat di mana kami memakir sepeda.
"Kok kita nggak sampai-sampai,Sya."ujar Rifat yang mulai khawatir.
"Iya Fat,padahal kita sudah berjalan lumayan jauh."timpalku yang juga mulai khawatir.
Tiba-tiba terdengar suara petir menggelegar dengan kilat yang menyambar-nyambar.
Aku segera memegang tangan Rifat.Aku memang takut dengan suara petir.
"Kamu nggak papa,Sya.??"tanya Rifat sambil membalas genggaman tanganku.
"Iya nggak papa,Fat."ujarku menahan rasa takut.
"Kita cari tempat buat istirahat dulu,Sya.Udah rintik-rintik nih."ujar Rifat.
Kami segera berteduh di bawah pohon besar yang berada di dekat kami.
"Sepertinya kita tersesat,Sya."ujar Rifat.
"Mudah-mudahan aja orang tua kita mencari kita di sini."ujarku"
"Iya Sya,semoga saja."jawab Rifat.
Tiba-tiba aku teringat dengan Tari.Semoga saja Tari bisa menyelamatkan kami.
"Tari tolong kami."gumamku memanggil nama Tari.
Namun,Tari tak kunjung datang.
Apa dia nggak bisa nemuin aku di sini.pikirku.
Hujan turun dengan begitu derasnya.Tubuhku dan Rifat menggigil kedinginan di kegelapan malam yang begitu menyeramkan.
Setengah jam kemudian hujan mulai reda,namun hawa dingin masih menusuk di tulang kami.
Dalam kesunyian kami,tiba-tiba aku mendengar suara dari balik semak-semak.
"Suara apa itu,Fat.??"tanyaku berbisik pada Rifat.
"Aku nggak tahu Sya."jawab Rifat.
Seketika mataku bisa melihat dalam kegelapan.Aku bisa melihat banyak makhluk halus yang berada di sekeliling kami.Mereka memperhatikan kami.
Ada yang di balik pohon dan juga yang di balik semak-semak.Namun,mereka seperti tidak berani mendekat ke arah kami.Mereka seperti takut untuk mendekat.
__ADS_1
Aku terus berdoa dalam hati,semoga saja kami segara mendapat pertolongan.