Saya Indigo

Saya Indigo
20.Tersesat (2)


__ADS_3

Waktu terus berjalan,aku sudah mulai mengantuk.


"Kamu tidur aja Sya,biar aku yang berjaga."ujar Rifat.


"Tapi kamu juga pasti ngantuk,Fat."timpalku.


"Nggak papa kok Sya,aku kan laki-laki pasti aku kuat kok cuma nahan kantuk gini."ujar Rifat padaku.


"Kalau gitu aku akan tetap terjaga,aku kan perempuan kuat juga,Fat."ujarku sambil tersenyum.


"Sya,aku mau nanya,kamu nggak takut kan di sini.??"tanya Rifat.


"Sedikit sih,Fat."ujarku cengar-cengir.


"Kalau kamu,Fat.??"tanyaku balik.


"Sedikit juga sih,tapi aku kasihan sama orang-orang rumah,pasti mereka lagi khawatir sama kita."ujar Rifat.


"Kamu benar,Fat."ujarku sedih membayangkan orang-orang rumah yang pasti lagi sibuk nyari'in aku dan Rifat.


**


Sementara itu di desa,warga tengah sibuk mencari Nasya dan Rifat.


"Pak Roni kita harus segera menyusul Nasya dan Rifat ke sungai.Sepertinya mereka tersesat di sana."ujar pak lurah.


"Iya pak,kita akan membagi kelompok untuk berpencar mencari Nasya dan Rifat di sana."sambung salah seorang warga.


"Baiklah kalau begitu."jawab ayah.


Para lelaki segera menyiapkan obor dan membawa beberapa senter untuk mencari Nasya dan Rifat nanti.


"Ayah tolong temukan Nasya dan Rifat."ujar ibu sambil menangis.


"Iya bu,ayah akan mencari mereka.Ibu di rumah aja sama mama dan Fadhil ya."ujar ayah menenangkan ibu.


"Iya nak,Roni tolong temukan anak-anak."ujar neneknya Rifat sambil menangis juga.


"Doakan kami bu,biar bisa menemukan Nasya dan Rifat."jawab ayah.


Setelah semua siap,para warga bergegas pergi ke sungai.Mereka naik mobil pick up milik pak lurah.

__ADS_1


Sesampai di jalan tempat masuk ke sungai mereka segera turun.


"Pak Pandu masih ingat tempat di mana mereka memancing.??"tanya pak lurah.


"Mereka tadi memancing tidak jauh dari sini pak lurah."jawab pak Pandu.


"Iya pak,tapi saat kami mau pulang mereka sudah nggak ada.Kami berpikir mungkin saja mereka sudah pulang duluan."ujar pak Hendra menimpali.


"Kalau begitu sekarang kita berpencar."ujar pak lurah.


Mereka membagi dua kelompok.Kelompok pertama berjumlah enam orang.Mereka mencari bagian timur.Sedangkan kelompok kedua berjumlah tujuh orang,mereka mencari di bagian barat yang berbatasan dengan hutan yang katanya angker.


Setelah itu,mereka bergegas berpencar.


"Nasyaaa,Rifaaat."teriak para warga memanggil Nasya dan Rifat.


Sudah sejam lebih mereka mencari,namun Nasya dan Rifat belum ditemukan.


"Bagaimana ini pak lurah,kita sudah mencari di setiap sudut sungai ini tapi mereka belum ketemu."ujar pak Hendra.


"Apa mungkin mereka tersesat di hutan angker itu."ujar salah satu warga.


"Bagaimana pak Roni,pak Heri ?? Apa kita melanjutkan mencari mereka di hutan itu."tanya pak lurah.


"Kita lanjutkan saja besok pencariannya pak lurah,ini juga sudah terlalu malam kasihan para warga."ujar pak Roni.


"Bagaimana pak Heri.??"tanya pak lurah pada pak Heri pamannya Rifat.


"Baiklah kalau begitu,pencariannya akan dilanjutkan besok."jawab pak Heri.


"Mudah-mudahan kakek buyutku bisa menolong Nasya dan Rifat kalau memang mereka tersesat di hutan itu."ujar pak Roni dalam hati.


Setelah itu,para warga segera kembali ke desa.Dan akan melanjutkan pencarian besok pagi.


**


Sementara itu di tempat Nasya dan Rifat.


"Fat aku mulai lapar nih."ujarku sambil memegang perut yang mulai sakit karena menahan lapar.


"Aku juga,Sya.Bagaimana kalau kita menyusuri hutan ini,siapa tau ada gubuk yang bisa kita temukan di sini,biar kita bisa bakar ikan yang kita dapat tadi."ujar Rifat.

__ADS_1


"Baiklah Fat,ayo kita segera bergegas."ajakku pada Rifat.


Saat hendak berdiri,aku memegang pohon yang ada di sampingku.Tiba-tiba pohon itu mengeluarkan cahaya putih yang menyilaukan mata.Saat kami membuka mata,kami telah berada di depan sebuah gubuk sederhana,namun tempatnya begitu rapi.


"Kita di mana ini,Sya.??"tanya Rifat bingung.


"Aku nggak tahu juga,Fat."jawabku.


"Ayo kita ke gubuk itu Sya,mungkin saja ada orang di dalamnya."ajak Rifat.


"Assalamu'alaikum"ujar Nasya dan Rifat.


"Wa'alaikumssalam."jawab seseorang dari dalam gubuk.


"Tidak lama pintu gubuk itu terbuka,dan menampakkan seorang kakek tua.


"Loh kakek ini bukan yang waktu itu ngasih kalung sama kita.??"tanyaku.


"Iya benar Sya,ini kakek yang waktu itu."timpal Rifat.


"Ayo silahkan masuk,kakek sudah menunggu kalian."ujar kakek itu.


Aku dan Rifat saling pandang,kami merasa heran dengan kakek itu.


"Ayo kita masuk Sya,aku udah lapar nih."ujar Rifat.


"Ya udah ayo,Fat."ujarku mengikuti Rifat.


Setelah kami masuk ke dalam gubuk aku dan Rifat,diberi baju ganti oleh sang kakek.Aku bingung dari mana dia mendapatkan pakaian ini,namun karena sudah kedinginan aku dan Rifat segera menerima pakaian itu tanpa bertanya lagi.


"Pasti kalian sangat lapar ya.??"tanya kakek itu.


"Iya kek,aku sangat lapar."jawab Rifat sambil memegang perutnya yang terus berbunyi.


"Kami membawa ikan hasil memancing di sungai tadi kek,apa di sini ada tempat untuk kami membakar ikan ini.??"tanyaku sambil menunjukkan ikan yang kami bawa.


"Wah ikannya besar-besar,bawalah di dapur,ada cucu kakek yang akan membakarnya untuk kalian."ujar kakek itu.


Aku segera membawa ikan itu ke dapur yang di tunjukkan oleh kakek.


Sesampainya di dapur aku terkejut dengan orang yang dimaksud cucu oleh kakek.

__ADS_1


"Kamu ngapain di sini.??"tanyaku pada orang itu.


__ADS_2