
"Teng teng teng."suara bel pulang telah berbunyi.
Aku dan Rifat segera berkemas.Kami secepatnya kembali ke rumah,untuk menjalankan misi kami.
"Rifat ayo kita pulang."ajakku pada Rifat.
"Ayo,Sya."timpal Rifat sambil berjalan keluar kelas.
"Kita jadi kan bantuin si Reina hari ini.??"tanya Rifat.
"Iya jadi,Fat.Aku kan udah janji sama Reina."jawabku.
Setelah sampai di rumah,aku segera berganti pakaian dan makan siang.
"Bu,ayah kemana.??"tanyaku saat mencuci piring bekas makan siangku.
"Ayah tadi pergi ngangkat bubu ( perangkap ikan yang terbuat dari bambu yang di anyam) di sungai,Sya."jawab ibu.
"Memangnya kenapa,Sya.??"tanya ibu balik.
"Mau minta izin bu."ujarku
"Mau minta izin kenapa.??"tanya ibu.
"Nanti aja kalau ayah sudah datang,sekalian nanti sama ibu juga."ujarku sambil berjalan ke kamarku.
"Kamu ini bikin penasaran aja,Sya."ujar ibu yang masih kudengar.
**
"Kamu yakin,Sya mau bantuin si Reina.??"tanya Tari saat aku sudah di kamar.
"Aku udah janji sama dia,nggak mungkin aku ingkari,Tari."jawabku yakin.
"Iya sih,kasian juga si Reina."ujar Tari.
"Aku akan meminta ayah untuk menemaniku dan tentunya kamu juga harus ikut bersamaku."ujarku.
"Aku akan selalu menemani kamu,dan siap membantu jika kamu memerlukan diriku."ujar Tari membuatku terharu.
"Makasih ya Tari."ujarku
"Iya sama-sama Nasya."jawab Tari sambil tersenyum hangat.
"Assalamu'alaikum."suara salam ayah.
"Wa'alaikumssalam."jawab ibu yang menghampiri ayah.
"Bu ini hasil ikan hari ini."ujar ayah sambil memberikan hasil tangkapannya.
"Wah Alhamdulillah,lumayan banyak,yah."ujar ibu menerima ikan itu.
"Iya Alhamdulillah bu."jawab ayah juga.
"Sana ayah mandi dulu,terus makan siang."ujar ibu.
"Iya bu."jawab ayah.
Aku duduk di ruang tengah sambil menunggu ayah selesai makan.
"Kamu minta izin kenapa,Sya.??"tanya ayah yang sudah duduk di depanku.
Pasti ibu yang sudah memberi tahu ayah,kalau aku mau minta izin.
"Begini yah,aku mau minta izin sekalian minta bantuan ayah buat menolong seseorang."ujarku menceritakan awal mula pertemuanku dengan Reina dan niatku yang ingin membantu Reina.
"Tapi nak,kita kan belum tahu alamat rumah Reina."ujar ayah.
"Tenang aja Sya,Reina sudah memberikan alamat rumahnya."ujar Tari yang tiba-tiba muncul.
"Aku sudah tahu alamat rumahnya ayah."jawabku pada ayah.
"Terus bagaimana kamu menjelaskan sama mamanya Reina nanti.??"tanya ibu yang juga mendengar percakapan aku dan ayah.
"Tenang aja bu,aku sudah mengatur bagaimana nantinya menjelaskan pada bu Wida."ujarku yakin.
"Baiklah kalau begitu kita bersiap untuk pergi ke rumahnya bu Wida."ujar ayah kemudian.
"Ya udah kalau gitu kita berangkat ayah."ujarku.
__ADS_1
Saat kami hendak berangkat,tiba-tiba aku keingat bahwa aku belum menghampiri Rifat.Ya aku sudah janji akan mengajak Rifat ke rumah Reina.
"Ayah tunggu sebentar ya."ujarku.
"Kenapa,Sya.??"tanya ayah.
"Aku mau panggil Rifat dulu,yah.Kami berdua sudah sepakat untuk pergi bareng ke rumah bu Wida,ayah."ujarku.
"Ya sudah,sana buruan panggil dia."ujar ayah.
Aku segera bergegas memanggil Rifat.Namun baru aja aku mau mengucapkan salam,Rifat sudah muncul di balik pintu rumahnya.
"Eh Rifat,aku barusan mau panggil kamu buat pergi ke rumah bu Wida.Kamu ternyata sudah siap,Fat."ujarku saat Rifat sudah di depanku.
"Iya,Sya.Aku juga udah pamitan sama nenekku."ujar Rifat.
"Kalau gitu ayo kita berangkat,ayahku udah nungguin tuh."ujarku mengajak Rifat.
"Ayo Nasya."ujar Rifat sambil berjalan di sampingku.
Kami bertiga segera berangkat.
Setelah dua puluh menit perjalanan,kami pun sampai di rumah bu Wida.Bu Wida tinggal di desa sebelah desaku.
Kami memandang rumah besar yang berada di hadapan kami.
"Ayo kita harus segera masuk,lebih cepat lebih baik."ujar Tari yang sudah berada di sampingku.
Aku segera mengajak ayah dan Rifat,untuk masuk ke dalam.
"Assalamu'alaikum"ujar ayah memberi salam.
Namun nggak ada jawaban dari dalam rumah.
"Sekali lagi yah."ujarku.
"Assalamu'alaikum."ujar ayah sekali lagi.
"Wa'alaikumssalam."jawab seseorang dari dalam.
Kemudian,pintu mulai terbuka dan menampakkan seorang wanita,namun bukan bu Wida.
"Apa benar ini rumah bu Wida.??tanya ayah balik.
"Iya benar pak."jawab wanita itu.
"Perkenalkan saya Roni dan ini Nasya anak saya,dan ini juga Rifat.Mereka adalah murid bu Wida."ujar ayah memperkenalkan diri.
"Oh kalian mau bertemu bu Wida.??"tanya wanita itu.
"Iya bu."jawab ayah.
"Kalau gitu kalian tunggu sebentar,saya mau panggilkan bu Wida dulu."ujar wanita itu sambil berlalu.
Tidak lama kemudian,wanita itu sudah kembali.
"Silahkan masuk,bu Wida sudah menunggu kalian di ruang tamu."ujar wanita itu sembari mempersilahkan kami masuk ke dalam.
"Silahkan duduk dulu."ujar Wida saat kami sudah berada di depannya.
Kami segera duduk di soda ruang tamu.
"Bi Sumi tolong buatkan minum ya."pintah bu Wida pada wanita tadi.Tenyata wanita itu asisten rumahnya.
"Baik bu."jawab bi Sumi sambil berlalu ke belakang.
Tidak lama bu Sumi kembali dengan membawa minuman untuk kami.
"Kalian ada perlu apa kemari.??"tanya bu Wida tuduh poin.
"Perkenalkan saya Roni ayahnya Nasya.Kami kemari ingin membantu bu Wida bertemu dengan Reina anak ibu."ujar ayah menjelaskan.
"Maksud kalian apa.?? Di mana kalian bertemu Reina.??seru bu Wida pada kami.Sepertinya dia kaget,bagaimana bisa kami mengetahui tentang Reina.
"Sabar dulu bu,tapi sebelumnya kami ingin memberi tahukan kabar buruk tentang Reina."ujarku sambil melihat Reina yang berada di belakang bu Wida.Reina nampak sedih melihat ibunya.
"Kabar buruk apa.??"tanya bu Wida tidak sabar.
"Reina telah meninggal bu Wida."ujar ayah pelan.
__ADS_1
"Nggak mungkin,Reina pasti masih hidup."ujar bu Wida syok,sambil menangis.
"Tapi itulah kenyataananya bu.Ibu yang sabar ya."ujar Rifat menimpali.
"Bagaimana kalian bisa tahu kalau Reina sudah meninggal.??"tanya bu Wida yang masih belum percaya pada kami.
"Reina sendiri yang sudah menceritakan padaku."ujarku.
"Maksud kamu apa Nasya.??"tanya bu Wida heran.
Kemudian aku pun menceritakan tentang diriku yang anak indigo,aku juga menceritakan pertemuanku dengan Reina.Juga tentang Reina yang meminta tolong padaku untuk bertemu dengan ibu untuk yang terakhir kali serta menemukan jasad Reina untuk dikuburkan secara layak."ujarku menceritakan semuanya.
Aku juga tidak lupa memberi tahu bu Wida,bawa suaminya yang telah membunuh Reina.
"Dasar suami pembunuh."umpat bu Wida dengan marah.
"Apa Reina ada di sini.??"tanya bu Wida kemudian,sambil terus menangis.
Aku menganggukkan kepala.
"Iya bu,Reina ada di sini di samping ibu."ujarku memberi tahu.
"Tolong pertemuanku aku dengar Reina,aku ingin memeluknya untuk terakhir kali."mohon bu Wida padaku.
Aku melihat ke arah Reina,untuk meminta persetujuan.Dan Reina menganggukkan kepala sambil tersenyum.
"Baiklah bu aku akan mempertemukan kalian.Tapi maaf bu aku tidak bisa lama,karena tenagaku akan terkuras."ujarku pada bu Wida.
Tari telah memberi tahu aku,kalau nanti saat mempertemukan mereka tenagaku akan terkuras.
"Nggak papa Nasya,yang penting aku bisa bertemu dengan Reina."ujar Wida
"Kalau begitu sekarang bu Wida pegang tanganku."pintahku sambil menyodorkan sebelah tanganku.Sedangkan tangan yang sebelah aku gunakan untuk memegang tangan Reina,aku segera memfokuskan pikiranku.
"Ayah,Rifat kalian tolong berdiri di belakangku."ujarku sambil mulai memejamkan mata.Pada detik kemudian aku seperti sudah melayang,saat aku membuka mata,ku lihat Reina dan bu Wida sudah saling melihat.
"Reina,anakku."ujar bu Wida menangis sambil memeluk Reina dari samping.
"Mana maafkan Reina,Reina nggak bisa bantu waktu mama dikurung papa di kamar mandi."ujar Reina sambil menangis juga.
"Kamu nggak perlu minta maaf,sayang."semua adalah salah papa kamu."ujar bu Wida.
"Iya ma.Tolong bantu aku untuk menguburkan jasadku dengan layak,agar aku bisa pergi dengan tenang."ujar Reina pada bu Wida.
"Mama akan melakukan itu,Reina."ujar bu Wida sambil membelai pipi Reina.
Aku turut bersedih melihat anak dan ibu itu.
"Baiklah kalau begitu,selamat tinggal ma,Reina sayang sama mama."ujar Reina sambil melepaskan genggaman tangannya.
Tiba-tiba tubuhku seperti di hempaskan ke bawah.Aku terkulai lemas di pelukkan ayah.Rifat segera mengambilkan minum untukku.Sedangkan Tari menyalurkan tenaganya padaku.
Setelah lima belas menit,tubuhku sudah mulai bertenaga lagi.
"Bu Wida,ayo kita harus menemukan jasad Reina agar segera di kuburkan dengan layak."ujarku kemudian.
"Kamu tahu di mana tempatnya.??"tanya bu Wida.
"Iya bu aku tahu."ujarku
Kami segera pergi ke kamar Reina.Karena di situlah jasad Reina berada.
Sampai di kamar Reina,aku segera menyuruh bu Wida untuk memanggil beberapa tetangga agar membantu kami.
Tidak lama kemudian,bu Wida kembali bersama empat orang laki-laki yang merupakan tetangganya.Aku segera menunjukkan di mana jasad Reina,merekapun segera membuka keramik dan menggali di situ.Setelah sepuluh menit menggali akhir mereka menemukan jasad Reina.
Bau tak sedap langsung menyergap penciuman kami.Setelah berhasil mengeluarkan jasad Reina,kemudian mereka segera menguburkan dengan layak jasad Reina di tempat pemakaman umum.
Setelah itu kami semua kembali ke rumah bu Wida.
"Terima kasih Nasya,pak Roni dan juga Rifat.Karena kalian sudah membantu saya."ujar bu Wida pada kami.
"Sama-sama bu Wida,sudah seharus kita saling membantu saat ada yang kesulitan."ujar ayah merendah.
Kalau begitu,kami pulang dulu bu Wida."ujar ayah berpamitan.
"Baiklah kalau begitu,mari saya antar ke depan."ujar bu Wida
Saat kami hendak pergi,aku melihat Reina di samping bu Wida.Dia tersenyum sambil mengucapkan terima kasih.
__ADS_1
Aku menganggukkan kepala sambil membalas senyumnya.