
Hari ini adalah hari minggu.Aku nggak ke sekolah.Aku dan adikku Fadhil berniat ikut ayah ke kebun.Setelah selesai sarapan kami segera bersiap untuk berangkat.Ayah segera melajukan motornya menuju ke kebun.
Setengah jam kemudian kami sampai.Kebun ayah masih sekitar 200 meter lagi dari tempat kami memarkir motor,dan kami harus berjalan kaki untuk ke sana,karena motor belum bisa melewati jalan tersebut.Setelah berjalan kurang lebih lima menit,akhirnya kami sampai di kebun ayah.
Aku dan Fadhil berlari kegirangan melihat kebun ayah yang di penuhi buah rambutan dan buah jeruk.
"Wah bisa makan sepuasnya nih aku."ujar Fadhil sambil mendekati pohon rambutan yang lebat buahnya.
"Iya nih,ayah aku mau memetik buah rambutan ini."ujarku sambil berjalan mendekati Fadhil.
"Iya nak,petiklah buah yang sudah matang terus taruh di dalam keranjang ini,kalian juga boleh makan sepuasnya."ujar ayah sambil memberikan keranjang untuk mengisi buah.
"Ayah mau memeriksa kebun ubi dulu di sebelah sana."lanjut ayah sembari berjalan meninggalkan kami berdua.
Aku dan Fadhil segera memetik buah rambutan yang sudah matang,lalu menaruhnya di keranjang.Sesekali juga kami selingi dengan memakan buah yang kami petik.
Waktu terus berjalan tidak terasa hari semakin siang.
"Nak,ayo kemari kita istirahat dulu."panggil ayah sambil duduk di bate-bate (sejenis gubuk tapi tidak memiliki dinding hanya diatap saja).
Aku dan Fadhil segera menuju bate-bate menghampiri ayah.
"Ayo,nak kita makan siang dulu."ajak ayah sambil membuka bekal makan siang yang di buatkan ibu tadi.
Sementara kami makan siang,hujan turun rintik-rintik.Kami bergegas menyelesaikan makan kami,agar kami segera pulang sebelum hujan turun deras nanti.
Tiba-tiba dari arah selatan terdengar suara orang berteriak.
"Kuuukkk.."suara orang berteriak (suara seperti itu adalah ciri khas kami di desa ini jika memberi tahu kalau ada orang di hutan ini selain kita).
"Kuuukkk.."Ayah pun membalas teriakan orang Itu.
"Siapa yah."tanyaku pada ayah.
"Mungkin Pak Ahmad,nak."jawab ayah.
Setelah selesai makan kami pun bersiap-siap untuk pulang.
Ayah segera memikul hasil buah rambutan yang tadi kami petik.
__ADS_1
Sesampainya di tempat kami memarkir motor ayah segera menaruh keranjang tersebut di depan.Saat ayah akan mengambil kunci motor,tiba-tiba ayah baru ingat kalau kunci motor tertinggal di bate-bate tadi.
"Yah biar saja aku yang pergi ngambil kunci motornya,kan dekat juga."ujarku pada ayah.
"Memangnya kamu berani,Sya.??"tanya ayah.
"Aku berani kok ayah."ujarku yakin pada ayah.
"Ya udah kalau gitu,kuncinya ayah gantung di paku yang dekat tempat makan kita tadi,Sya."ujar ayah memberi tahu.
Aku segera kembali ke bate-bate tadi.Sesampainya di sana aku lihat ada pak Ahmad sedang duduk di bate-bate.Tapi pak Ahmad mukanya pucat gitu,apa mungkin dia kecapean ya jadi beristirahat di sini.
"Pak Ahmad juga ke kebun ya.?? Aku,Fadhil dan ayah juga habis dari sini tadi,habis metik buah rambutan,ini mau ambil kunci motor yang ketinggalan."Ujarku panjang lebar.Tapi pak Ahmad hanya diam sambil menganggukkan kepala.
Terus sorot matanya seperti orang yang sedang sakit gitu.
"Mungkin memang dia kecapean,jadi saat aku tanya dia hanya diam."Pikirku dalam hati.Aku segera mengambil kunci motor yang tergantung,dan segera balik pada ayah dan Fadhil.
"Aku duluan ya pak."pamitku pada pak Ahmad.Namun,lagi-lagi pak Ahmad hanya diam sambil menganggukkan kepala.
"Ini ayah kunci motornya."ujarku setelah sampai di hadapan ayah dan Fadhil.
"Ayah tadi aku ketemu pak Ahmad di bate-bate.Tapi,saat aku tanya dia hanya diam saja."ujarku menceritakan pertemuanku dengan pak Ahmad.
"Iya mungkin yah."ujarku.
Setelah itu kami bergegas pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah,kami segera masuk dan membersihkan diri.
Sore hari kami semua berkumpul di ruang tengah sambil berbincang hangat di temani secangkir teh dan gorengan yang di buat ibu.
"Yah,kamu udah tau nggak.??tanya ibu tiba-tiba pada ayah.
"Tahu apa,kan belum di kasih tau bu."jawab ayah sambil bercanda.
"Ihh ayah ini,ibu lagi serius nih."timpal ibu lagi.
"Memangnya ada apa sih."tanya nenek yang ikut nimbrung pembicaraan ayah dan ibu.
__ADS_1
"Ini loh,katanya pak Ahmad sakit.Dia udah dua hari dibawa ke kota untuk dirawat di rumah sakit."jawab ibu.
Aku,Fadhil dan ayah saling bertukar pandang.
Bagaimana mungkin pak Ahmad di rumah sakit,sedangkan tadi aku bertemu dengannya di kebun.
"Nggak mungkin lah ibu,aku aja tadi masih ketemu pak Ahmad di kebun."ujarku tidak percaya.
"Iya benar bu,tadi aja dia masih kukunggon(berteriak untuk memberi tanda) di kebun bu."ujar ayah membenarkan perkataanku.
"Benar itu bu."sambung Fadhil lagi.
"Ngawur ya kalian,masa orang lagi terbaring di rumah sakit,bilangnya ada di kebun.Ada-ada saja kalian ini."ujar ibu yang tidak percaya dengan pernyataan kami bertiga.
"Lah kalau pak Ahmad lagi di rumah sakit,terus yang di kebun tadi siapa.??"tanyaku heran.
"Mana ibu tahu."jawab ibu.
"Tapi benaran Nasya tadi kamu ketemu pak Ahmad di kebun."tanya nenek yang mulai merasa heran juga.
"Benaran nek,masa iya aku bohong."ujarku pada nenek.
"Suara yang kami dengar juga,itu suara pak Ahmad bu."jawab ayah menimpali.
Kami semua terdiam dengan pikiran masing-masing.Aku yakin tadi itu memang pak Ahmad.
Selepas maghrib aku dan ayah duduk-duduk di teras.Tiba-tiba si Tari ikut nongkrong bersama kami.Aku yang sudah mulai terbiasa dengan kehadirannya yang selalu tiba-tiba,sudah nggak kaget lagi seperti awal-awal.Karena aku sudah bisa merasakan kalau si Tari akan muncul.
"Nasya kamu kenapa,kok kayak ada yang lagi di pikiran."tanya Tari padaku
"Iya,aku heran aja dengan kejadian tadi masa kata ibu pak Ahmad lagi terbaring di rumah sakit dan sudah dua hari.Padahal tadi aku ketemu dia di kebun."ujarku berbisik pada Tari,agar tidak kedengaran ayah.
"Ohh gitu ya."ujar Tari seakan-akan itu hal yang biasa terjadi.
"Kamu kok nggak terkejut,Tari.??"tanyaku yang heran dengannya.
"Aku itu sudah tahu hal-hal seperti ini akan terjadi sama kamu."Kedepannya akan lebih dari ini Nasya."ujar Tari padaku.
Aku hanya diam sambil memikirkan perkataan Tari barusan.
__ADS_1
"Nasya ayo kita masuk,sebentar lagi mau isya."ujar ayah tiba-tiba.
"Iya ayah."jawabku sambil mengikuti langkah ayah masuk ke dalam rumah.