Saya Indigo

Saya Indigo
8.Hilangnya Zidan


__ADS_3

Malam ini aku dan Rifat akan belajar bersama di rumahku.Kami sudah sepakat akan belajar bersama sampai waktu ujian tiba.


"Assalamu'alaikum."suara Rifat mengucap salam.


"Wa'alaikumssalam."jawab aku dan ibu yang kebetulan berada di ruang tamu.


Aku segera beranjak membukakan pintu untuk Rifat.


"Ayo masuk,Fat."ujarku mempersilahkan Rifat masuk.


"Iya,Sya."jawab Rifat sambil mengikuti langkahku duduk di ruang tamu.


"Kita langsung aja mulai belajarnya ya,Fat."ujarku.


"Iya kita langsung aja mulai."timpal Rifat.


"Ibu ke dapur dulu mau ngambil cemilan buat kalian ya."ujar ibu sambil berjalan ke dapur.


"Nih cemilannya."ujar ibu meletakkan Teh hangat dan kue brownis yang ibu buat tadi pagi.


"Makasih bu."ujarku dan Rifat.


Satu jam kemudian kami telah selesai belajar.


"Lumayan juga ya belajarnya."ujar Rifat sambil memakan kue brownisnya.


"Iya,Fat."ujarku ikut memakan kuenya.


Saat kami sedang membereskan buku dan alat tulis kami,tiba-tiba dari arah luar terdengar orang berteriak.


"Zidan.!!Zidan,kamu di mana nak.??"suara ibunya Zidan berteriak.


"Kenapa ibunya Zidan berteriak-teriak,Sya.??tanya Rifat


"Mana aku tahu Rifat,ayo kita lihat keluar."ujarku.


Aku dan Rifat segera keluar untuk melihat apa yang terjadi.


"Huuuhh huuuhh Zidan kamu di mana nak.??"suara tangis ibunya Zidan saat kami sudah berada di depan rumah mereka.


"Kamu tenang dulu bu."ujar pak Pandu ayahnya Zidan.


"Ini kenapa pak Pandu."tanya ayah yang kebetulan baru pulang habis tahlilan di rumah pak Ahmad.


"Ini pak Roni,Zidan hilang dari kamar."ujar pak Pandu menceritakan kejadiannya.


"Hah kok bisa.??"tanya pak Heri pamannya Rifat yang juga ada di situ.


"Saya tadi mau ke dapur mau ambil minum,setelah saya kembali Zidan sudah nggak ada di kamarnya.Saya kira ayahnya yang membawa Zidan ke ruang tengah,ayahnya sedang nonton tv di sana. Tapi pas saya ke ruang tengah,nggak ada Zidan di sana.Saya tanya suami saya,tapi dia bilang,bukannya Zidan ada di kamar sama kamu tadi.Aku bilang nggak ada,tadi aku pergi ngambil minum di dapur,pas balik Zidan udah nggak ada."ujar bu Fani panjang lebar.


"Kalian sudah cari dalam rumah.??tanya ibuku yang sudah berdiri di sampingku.


"Sudah bu Nisa."jawab bu Fani ibunya Zidan.


"Mungkin aja Zidan di bawa makhluk halus bu."ujar salah satu tetangga yang berada di samping ayahku.


"Huss,jangan ngomong sembarangan nanti benaran Zidan di bawa makhluk halus gimana."timpal tetangga lainnya.


"gini aja pak Pandu,kita berpencar dulu mencari Zidan di sekitar rumahmu,Namun kalau sampai kita nggak nemuin Zidan,kita harus segera lapor pak Lurah."usul ayahku.


"Ya sudah,kalau begitu mari kita berpencar. "ujar pak Pandu.


"Ayah,aku dan Rifat mau bantu cari Zidan boleh kan.??ujarku pada ayah."Iya boleh,tapi kalian jangan jauh-jauh ya."ujar berpesan.


"Iya ayah."jawabku dan Rifat sembari mengikuti para warga yang berpencar.


Aku,Rifat,pak Pandu dan ayah bersama-sama mencari bagian belakang rumah.Sedangkan para warga lainnya mencari di dalam rumah dan samping rumah pak Pandu.Di belakang rumah pak Pandu terdapat sumur tua yang sudah kering airnya.


Saat aku berdiri di samping sumur tersebut,tiba-tiba hawa dingin menerpa tubuhku padahal nggak ada angin yang bertiup.Aku merasakan hawa lain di dekat sumur itu.


Tiba-tiba aku mendengar tangisan bayi di dalam sumur tersebut.


"Oekkk oeekk."suara bayi menangis.


"Semuanya cepat kemari."ujarku berteriak.

__ADS_1


Orang-orang segera mendekat ke arahku.


"Kenapa,Sya."tanya ayah.


"Aku mendengar suara tangisan bayi di dalam sumur ini,yah."ujarku.


"Benaran kamu Nasya.??tanya para tetangga.


"Tapi kami dari tadi nggak mendengar tangisan bayi."timpal tetangga lainnya.


"Benaran kok,aku mendengarnya tadi."ujarku yakin.


"Oeeekkk oeeekk."suara tangisan itu terdengar lagi.


"Itu dengar suara tangisannya."ujarku kembali.


"Mana.?? nggak ada kok."jawab para warga.


"Masa kalian nggak dengar sih."ujarku yang masih ngotot meyakinkan mereka.


"Iya memang nggak ada kok,Nasya."ujar mereka lagi.


"Baiklah,kalau kalian nggak percaya,aku akan masuk ke dalam sumur ini."ujarku pada mereka semua.


"Jangan Nasya,bahaya di dalam sana."ujar ayah padaku.


"Ayah tenang saja,ada Allah yang akan melindungiku."ujarku.


"Aku akan menemani Nasya masuk ke dalam sumur ini."ujar pak Pandu tiba-tiba.


"Baiklah kalau bapak mau menemani saya."jawabku.


Setelah itu aku dan pak Pandu segera masuk ke dalam sumur tersebut.Kami membawa senter sebagai penerang nantinya.


Dalam sumur begitu gelap.Aku segera menyalakan senter yang ku bawa,begitupun dengan pak Pandu.


Ternyata dalam sumur ini,terdapat sebuah terowongan panjang.


"Pak apa bapak tahu tentang terowongan ini.??"tanyaku pada pak pandu.


"Saya tidak mengetahui terowongan ini.Sumur ini sudah ada saat kami pindah ke sini."ujar pak Pandu.


"Terus apa kita harus menelusuri terowongan ini,Sya."tanya pak pandu.


"Iya pak,instingku mengatakan kalau Zidan berada di dalam sana."ujarku pada pak Pandu.


"Baiklah kalau begitu."ujar pak Pandu.


"Aku dan pak Pandu segera berjalan menelusuri terowongan ini.Semakin kami masuk ke dalam,aku merasa hawanya semakin panas.


Ternyata,terowongan ini membawa kami masuk ke dalam sebuah ruangan seperti gua.


Saat kami hampir masuk ke dalam gua tersebut tiba-tiba terdengar lagi suara bayi itu.Dan kali ini pak Pandu mendengarnya.


"Oeeekkk oeeekkk."suara bayi itu.


"Itu suara Zidan,Sya."ujar pak pandu.


"Iya pak,ayo kita harus menyelamatkan Zidan."seruku pada pak Pandu.


"Aku dan pak Pandu segera masuk ke dalam gua itu.


"itu Zidan di sana."tunjuk pak pandu.


Aku segera melihat ke arah yang di tunjuk pak Pandu.


Dan benar saja Zidan berada di sana,dia berada di sebuah atas batu yang berbentuk seperti persegi,seperti tempat persembahan.Namun,di samping bayi itu ada seorang wanita tua yang wajahnya begitu mengerikan.Wajah wanita itu,berlubang-lubang kecil dan mengeluarkan nanah,serta sudut bibir wanita itu robek sampai ke bagian pipi.Matanya memancarkan aura hitam yang sangat kental,dia menatap kami dengan seringai menyeramkan.


"Ayo Nasya kita bawa Zidan pulang."ujar pak Pandu yang hendak mengambil Zidan di tempatnya.


"Tunggu pak.Kita harus mengalahkan nenek tua itu,agar bisa membawa Zidan pulang."ujarku menahan pak Pandu.


"Maksud kamu,Sya.??"tanya pak Pandu heran.


"Lihat itu pak di samping Zidan."ujarku sambil memegang tangan pak Pandu.

__ADS_1


"Astagfirullah,siapa dia Nasya.?? kenapa wajahnya menyeramkan,dan mau apa dia sama Zidan.??"ujar pak Pandu.


"Ha haha ha,mau apa kalian ke sini.??" jangan mengganggu ritualku."ujar wanita itu sambil tertawa menyeramkan.


"Kembalikan anakku."teriak pak Pandu pada wanita itu.


"Ha Haha ha,,bayi ini sekarang adalah milikku."ujar wanita tua itu.


"Jangan harap kamu bisa mengambil bayi itu."ujarku sambil menatap tajam wanita itu.


"Hei anak kecil,siapa kamu.?? beraninya kamu menatapku seperti itu."ujar wanita itu.


"Tidak penting siapa aku,yang terpenting aku akan melawanmu jika kamu berani menyakiti bayi itu."ujarku sengit.


"Siapa anak ini,kenapa dia begitu berani.Dia juga di keliling aura istimewa yang sangat kental.Aku harus berhati-hati."ujar wanita itu dalam hati.


"Kenapa kamu diam saja,apa kamu takut padaku."tanyaku yang mulai berani.


"Ha Haha ha,bagaimana mungkin aku takut pada bocah ingusan sepertimu."ujar wanita itu mulai terpancing emosi.


Wanita itu segera maju,untuk menyerangnya.


"Pak aku akan melepaskan tanganku,dan bapak tidak bisa melihat wanita itu lagi.Aku harus segera melawannya."ujarku pada pak Pandu.


"Iya Nasya,kamu hati-hati ya."jawab pak Pandu sembari mundur ke belakang.


Aku segera bersiap untuk melawan Wanita itu.Setelah membaca doa untuk meminta pertolongan pada Allah,aku segera berhadapan dengan wanita itu.


"Hiaaaa,rasakan ini."ujar wanita itu sambil melemparkan bola api padaku


Aku segera menghindar dari serangan itu.


Dan tiba-tiba dia mendekat padaku,dia hendak menangkapku,namun aku dengan cepat berkelit.Dan menendang tulang rusuk wanita itu.Dia terjatuh ke samping.


"Kurang ajar kamu."umpat wanita itu.


Dia segera berdiri,dan hendak menyerangku lagi.Namun aku telah menyerangnya terlebih dahulu.


Aku membaca Al-Fatihah sambil mengarahkan tanganku padanya.


"Allahhu Akbar."teriakku Sambil menyerangnya.Dan wanita itu terjengkang ke belakang,dia memuntahkan darah di mulutnya.


"uhuuk uhuuk,ampun nak,ampun."ujar wanita itu sambil terbatuk-batuk.


"Baiklah kalau kamu sudah menyerah."ujarku.


"Siapa kamu sebenarnya.??"tanya wanita itu sambil mencoba berdiri.


"Dia adalah keturunan Mian Bibisa."jawab Tari yang tiba-tiba muncul.


"Mian Bibisa.!! pantesan kemampuannya sangat kuat,ternyata kamu keturunan Mian Bibisa."ujar wanita itu.


"Tari,kok kamu baru muncul sih.??" kamu kemana aja."ujarku sambil memanyunkan bibirku.


"Hehe,maaf Nasya.Aku sebenarnya udah dari tadi di sini tapi,aku membiarkan kamu melawan dia."ujar Tari."Aku sudah yakin bahwa kamu bisa mengatasinya."ujar Tari lagi.


"Baiklah kalau begitu.Ayo pak Pandu kita keluar dari sini."ujarku pada pak Pandu yang sudah menggendong Zidan.Sepertinya pak Pandu semakin heran melihat aku yang berbicara sendiri.


"Ayo,Sya."ujar pak Pandu.


"Untuk kamu,jangan mencari masalah lagi di desaku ini, kalau kamu masih membuat masalah aku tidak akan segan untuk membakarmu."ujarku memperingati wanita tua itu.


"Iya,aku tidak akan membuat masalah lagi."jawab wanita itu.


Setelah itu,aku dan pak Pandu segera kembali.Sedangkan Tari sudah menghilang entah ke mana.


Sesampainya di sumur,pak Pandu segera berteriak.


"Tolong tarik talinya,kami mau naik ke atas."teriak pak Pandu.


Setelah itu,tali segera di tarik.Akhirnya,aku dan pak Pandu serta Zidan keluar dari sumur ini.


"Alhamdulillah,akhirnya kalian keluar juga"ucap semua warga yang ada di situ.


"Terima kasih Nasya,karenamu Zidan bisa kembali."ujar bu Fani ibunya Zidan.

__ADS_1


"Iya sama-sama bu."jawabku


"Kalau begitu,semuanya bisa kembali ke rumah masing-masing."ujar ayah pada semua warga.


__ADS_2