Saya Indigo

Saya Indigo
15.Mengusir Genderuwo


__ADS_3

Keesokkan paginya,ayah mengajak kami pergi ke salah satu tempat wisata di kota ini.


Setelah selesai sarapan bubur ayam yang dibeli ayah dan Rifat di depan,kami segera berangkat.


Tempat wisata yang kami kunjungi adalah sebuah danau yang memiliki air jernih.Danau ini dikelilingi ruma-rumah kecil yang bisa digunakan sebagai tempat berteduh bagi pengunjung.


Tempat ini juga di fasilitasi beberapa perahu yang di desain dengan unik untuk yang suka mendayung di danau ini.


"Ayo kita ke sana yah,aku mau naik perahu itu."ujar Fadhil pada ayah.


"Ya udah,ayo kita ke sana."ajak ayah.


"Ayo kak Nasya,kak Rifat."seru Fadhil begitu riang.


Kami segera naik perahu itu,kami di temani seorang yang membawa perahu ini.


Waktu terus berlalu,tidak terasa kami sudah dua jam berada di tempat wisata ini.


"Ayo anak-anak kita harus kembali ke kosan,sebentar lagi mau dzuhur."ajak ibu pada kami.


"Tapi Fadhil masih mau di sini bu."rengek Fadhil yang belum mau pulang.


"Sayang,ini kan sudah siang memangnya Fadhil nggak lapar.??ujar ayah agar Fadhil mau pulang.


"Tapi yah.??"ujar Fadhil.


"Kapan-kapan kita bisa ke sini lagi,sayang."ujar ibu membujuk Fadhil.


"Baiklah kalau begitu,ayo kita pulang."ujar Fadhil akhirnya.


Sesampainya di kosan,aku melihat sosok tersebut sedang duduk di bawah pohon.


Saat kami melewati sosok itu,dia menatap kami dengan tajam.Sepertinya dia tahu kalau akan segera di usir dari tempat ini.


**


Siang telah berganti malam.Saat semua orang terlelap dengan tidurnya,tapi aku,Rifat,ayah,ibu,serta pak Marto dan bu Sri masih terjaga untuk menjalankan misi.Sedangkan adikku Fadhil,sudah terlelap di kamar tamu pak Marto.


Angin berhembus membelai tubuh kami,aku yang sudah mempersiapkan diriku segera keluar dengan membawa garam yang sudah aku beri ajian doa Mian Bibisa yang di kasih Tari.Garam ini akan aku gunakan jika saat genting nanti.


Ayah dan lainnya berjaga-jaga di belakangku.Aku sudah memberi ajian doa agar mereka aman.Sedangkan Tari,dia akan berada tidak jauh dariku.


"Aku akan berada di dekatmu untuk berjaga-jaga."ujar Tari sebelum aku keluar.


"Baiklah Tari."jawabku.


Setelah berdoa memohon perlindungan dari yang Kuasa,aku segera keluar menghampiri sosok yang berdiri bawah pohon.


"Ggrrrhhh."Suara geraman makhluk itu.


Sepertinya dia juga sudah bersiap untuk menyambutku.


Kami saling bertatap muka.Aku mencoba tenang,agar nanti bisa mengalahkan makhluk itu.


"Apa maumu bocah ingusan.??"tanya makhluk itu dengan suara yang menyeramkan.


"Aku mau kamu pergi dari sini."jawabku tenang.


"Ha ha ha,,tidak semudah itu bocah."ujarnya dengan tawa yang menggelegar.

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu dengan siapa kamu berhadapan."ujarku sengaja menakutinya.


"Aku tahu dengan siapa aku berhadapan,tapi aku yakin aku akan mengalahkan bocah sepertimu."ujarnya sombong.


"Baiklah kalau begitu,bersiaplah melawanku."ujarku yang sudah mengambil ancang-ancang.


"Dasar bocah ingusan.Rasakan ini byusshh dia mengeluarkan api dalam mulutnnya untuk menyerangku.Aku yang sudah mengetahui serangannya,langsung menghindar.Dia terus saja meyerangku.


"Akan ku telan hidup-hidup tubuh kecilmu itu bocah."ujarnya yang mulai emosi.


Pertarungan pun begitu sengit.Aku berhasil melukai perutnya.Sedangkan dia berhasil melukai tanganku dengan kukunya yang tajam.


"Aduuh."ringisku merasakan sakit pada tangan kiriku.


Aku mulai kewalahan melawan makhluk itu.Dia dengan gencarnya menyerang diriku.


"Tamatlah riwayatmu bocah."ujarnya sambil mengeluarkan kekuatan besarnya.


"Hiaahh rasakan ini."ujarnya berteriak.


Aku segera menghindar ke samping,dan bergerak dengan cepat ke arahnya sambil melemparkan garam yang sudah aku persiapkan.


Saat garam itu mengenai tubuhnya,tiba-tiba dia berteriak.


"Ah panaass,tolong lepasin aku.Panaass,ampun tolong aku."Makhluk itu menjerit kesakitan.


"Minta tolong sama tuanmu sana."ujarku tersenyum.


"Toloooong akuu,jangan bakar tubuhku."ujarnya sambil terus menjerit.


"Makhluk seperti kalian tidak boleh dibiarkan bebas."ujarku sambil terus membaca ajian untuk membakar tubuh makhluk itu.


"Alhamdulillah."ujarku mengucap syukur.


Tidak lama kemudian,ayah dan lainnya segera mendekatiku.


"Nasya kamu nggak papa kan.??"tanya ibu saat sudah di dekatku.


"Astaga,tangan kamu terluka,Sya."ujar Rifat khawatir.


"Nggak papa kok,ini hanya luka kecil."ujarku menenangkan mereka.


"Tapi ini harus diobati."ujar bu Sri.


"Nanti juga lukanya kering sendiri bu."ujarku.


"Ayo kita segera masuk ke dalam,biar bisa diobati lukamu."ujar pak Marto.


Ayah segera menggendong tubuhku,dan masuk ke dalam rumah.


"Ini lukanya cukup parah,Sya."ujar bu Sri saat melihat ibu mengobati lukaku.


"Kalau kamu nggak tahan sakitnya,kita ke rumah sakit aja,sayang."ujar ayah khawatir.


"Nggak usah ayah,aku masih kuat kok."ujarku sambil tersenyum.


Tiba-tiba telepon rumah pak Marto berdering,kami semua saling pandang.


Siapa yang menelpon tengah malam begini.pikir kami.

__ADS_1


Pak Marto segera mengangkat telepon tersebut.


"Assalamu'alaikum"ucap pak Marto memulai pembicaraan.


"Wa'alaikumssalam."jawaban di sebrang sana.


"Mas Marto,ini aku Sela."ujar Sela dengan suara seperti orang menangis.


"Ada apa Sela,kenapa kamu telepon tengah malam begini.??"tanya pak Marto.


"Ini mas,aku mau kasih tahu kalau mas Surya masuk rumah sakit."ujar Sela memberi tahu.


"Astaga,memangnya Surya sakit apa.??"tanya pak Marto khawatir.


"Nggak tahu mas,aku menemukan mas Surya tergeletak di lantai dapur,dengan darah kental yang keluar dari mulutnya."ujar Sela.


"Baiklah aku akan segera ke sana."ujar pak Marto.


"Iya mas,aku tunggu."ujar Sela.


"Assalamu'alaikum."ujar pak Marto menutup teleponnya.


"Kenapa dengan adikmu pak.??"tanya bu Sri.


"Dia masuk rumah sakit,bu."ujar pak Marto.


"Sakit apa pak.??"tanya bu Sri lagi.


"Nggak tahu juga bu,kata Sela dia menemukan Surya tergeletak di lantai dapur dengan mulut mengeluarkan darah,aku harus ke rumah sakit sekarang."ujar pak Marto.


"Saya akan menemani pak Marto ke rumah sakit.Ini sudah larut malam pak,bahaya kalau pergi sendirian."ujar ayah menawarkan diri.


"Baiklah kalau begitu,ayo kita berangkat."ujar pak Marto.


"Bu kalian di sini aja dulu ya."ujar ayah pada ibu.


"Iya yah,kalian hati-hati di jalan."ujar ibu.


Setelah kepergian ayah dan pak Marto,kami segera beristirahat di rumah pak Marto.


Saat hendak tidur,tiba-tiba Tari muncul.


"Kamu nggak papa,Sya.??"tanya Tari.


"Nggak papa kok,Tari.Cuma luka dikit kok."ujarku.


"Coba sini aku lihat lukanya."ujar Tari.


Aku memperlihatkan lukaku pada Tari.


Tari kemudian mengusapkan tangannya pada lukaku.Dan lukaku tiba-tiba hilang.


"Wah kamu hebat,Tari."pujiku pada Tari.


"Yaelah biasa aja,Sya."ujar Tari.


"Makasih ya,Tari."ujarku.


"Iya sama-sama,Sya.Ya sudah kamu istirahat aja."ujar Tari.

__ADS_1


"Iya Tari."jawabku sambil memejamkan mata.


__ADS_2