
Hari semakin larut,semua orang rumah sudah masuk ke kamar masing-masing.
Sedangkan aku masih terjaga.Entahlah,aku merasa gelisah.Masih kepikiran tentang pak Ahmad.
Tiba-tiba tercium bau harum bunga melati.Aku tau itu pasti Tari,bau wangi tersebut adalah ciri khas dari Tari kalau ia muncul.
Dan benar saja,Tari telah muncul dia berdiri di samping lemariku.
"Kamu kok belum tidur,Sya.??"tanya Tari sambil duduk di tepi ranjang.
"Masih belum ngantuk nih."jawabku.
"Masih kepikiran pak Ahmad.??tanya Tari seolah mengetahui pikiranku.
"Iya Tari."jawabku
"Nggak usah dipikirin,mending kamu istirahat aja,besok kamu harus sekolah."ujar Tari.
"Iya udah mau istirahat nih."jawabku sambil membaringkan tubuhku.
Namun tiba-tiba,telingaku berdenging begitu keras.
"Aduh!!"ringisku sambil memegang telinga kiriku.
"Kamu kenapa,Sya."tanya Tari panik.
"Ini telingaku berdenging begitu keras,Tari."jawabku.
"Itu adalah suatu pertanda,Sya."ujar Tari.
"Maksud kamu pertanda gimana,Tari."tanyaku.
"Biasanya itu pertanda kalau kita akan mendengar berita buruk."jawab Tari.
"Masa sih,Tari."ujarku.
"Biasanya memang seperti itu."ujar Tari lagi.
"Ahh daripada pusing mikirin hal yang belum pasti,mendingan aku tidur."ujarku sembari membaringkan tubuhku.
"Iya istirahat aja sana."timpal Tari.
Aku terbangun saat mendengar bunyi peralatan di dapur.Pasti ibu yang sedang sibuk di dapur.Ibu memang selalu bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan kami.Aku segera bangun untuk melaksanakan shalat subuh.Saat ingin keluar mengambil air wudhu aku berpapasan dengan nenek yang juga ingin mengambil air wudhu.
"Nasya mau shalat subuh ya.??"tanya nenek.
"Iya nek."jawabku.
"Kalau gitu kita shalat berjama'ah aja."ujar nenek.
"Baiklah nek."ujarku
Aku dan nenek bergantian mengambil air wudhu.Setelah itu kami melaksanakan shalat subuh berjama'ah.
Setelah selesai shalat,aku membantu ibu menata sarapan di meja makan.
"sudah selesai shalat,Sya."tanya ibu.
"Sudah bu."jawabku."Ibu sudah shalat tadi.?? Kalau belum,biar aku aja yang menata piringnya,ibu shalat aja dulu."ujarku pada ibu.
__ADS_1
"Ibu sudah shalat kok,sebelum kamu bangun tadi."jawab ibu.
"Oh ya sudah kalau gitu."ujarku.
"Assalamu'alaikum."Suara ayah memberi salam.Ayah baru pulang dari shalat di masjid.
"Wa'alaikumssalam."jawab aku dan ibu.
Aku dan ibu segera menyalami tangan ayah.
"Sya,sana kamu mandi aja dulu,habis itu baru sarapan."perintah ibu padaku.
"Iya bu."jawabku sembari berjalan ke kamar mandi.
Kami semua sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan.
"Sya,kapan kamu ujian.??"tanya ayah di sela-sela makan kami.
"Minggu depan,yah."jawabku.
"Kamu harus rajin belajar sayang,biar bisa naik kelas."ujar ibu menimpali.
"Siap ibu."jawabku sembari tersenyum pada ibu.
Tiba-tiba terdengar suara ambulance lewat.Berpapasan dengan kami yang selesai sarapan.
"Wiuuu wiuuu wiuuuu."suara ambulance.
Kami semua saling pandang.Siapa yang ada di dalam ambulance itu.Suara ambulance yang menandakan ada yang meninggal.
Ayah segera keluar,rumah.
"Pak Ahmad yang meninggal Roni,itu pamannya Rifat di kasih tau sama pak lurah tadi."jawab bu Ani.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."ucap ayah saat mendengar berita tersebut.
"Siapa yang meninggal,yah.??"tanya nenek,saat ayah masuk ke dalam rumah.
"Pak Ahmad,ma."jawab ayah.
"Innalilahi wa inna ilaihi raji'un."ucap kami semua yang mendengarnya.
"Ayah mo siap-siap dulu,mau pergi melayat ke rumah duka."ujar ayah sambil berlalu menuju kamar.
Aku yang mendengar berita tersebut,masih belum menyangka kalau pak Ahmad sudah meninggal.
"Sudahlah Nasya,tidak usah dipikirkan,sudah menjadi kehendak Allah jika pak Ahmad harus pergi untuk selamanya."ujar ibu menasehatiku.
Aku memang tidak membantah tentang takdir pak Ahmad yang telah meninggal,karna semua orang memang akan mengalami yang namanya kematian.Hanya saja aku tidak habis pikir kemarin aku bertemu pak Ahmad di kebun,tapi ternyata dia sedang di rawat di rumah sakit,dan hari ini ia meninggal.
"Sana berangkat sekolah nanti kamu telat sayang."ujar nenek membuyarkan pikiranku.
"Iya nek,ini udah mau berangkat."
Setelah berpamitan pada orang rumah,aku segera berangkat ke sekolah.
Saat di jalan aku mencium bau wangi melati.Pasti Tari lagi di sini.Dan benar saja Tari sudah ada di sampingku.
"Kan apa aku bilang semalam,pasti kamu akan mendengar berita buruk."ujar Tari padaku.
__ADS_1
"Iya kamu benar Tari"jawabku.
"Kamu tidak hanya memiliki mata Indigo,tapi juga insting yang kuat,Sya."ujar Tari."Ini kelebihan yang sangat istimewa."sambung Tari.
"Entahlah,aku masih belum percaya aja kalu aku memiliki kemampuan seperti ini."ujarku.
"Kamu pasti bisa melewati semua ini,Sya."ujar Tari memberi semangat padaku.
"Terima kasih Tari,kamu sudah mau menemaniku menjalani semua ini."ujarku berterima kasih.
"Itu sudah tugasku,Nasya."jawab Tari.
Akhirnya aku sampai di sekolah.Aku segera masuk kelas untuk mengikuti pelajaran.
"Nasya,kamu kenapa sih,dari tadi aku perhatikan kamu kayak nggak semangat gitu."tanya Rifat saat jam istirahat.Aku dan Rifat sedang duduk di teras kelas.
"Nggak papa kok Rifat,aku hanya kecapean aja karena kemarin ikut ayah ke kebun."jawabku.
"Ohh gitu,kira kamu lagi ada masalah."ujar Rifat.
"Eh kamu udah siap untuk ujian minggu depan.??"tanyaku mengalihkan pembicaraan.
"Aku udah siap kok,kalau kamu.??"tanya balik Rifat.
"In Shaa Allah aku siap."jawabku.
"Nanti kita belajar bareng ya,Sya."ujar Rifat.
"Iya,Fat.Kapan kita belajarnya.??"tanyaku.
"Gimana kalau kita mulai nanti malam.??usul Rifat.
"Boleh juga,Fat."jawabku menerima usulnya.
"Sya,gimana saat ini kamu udah bisa lihat hal-hal tak kasat mata.??"tanya Rifat tiba-tiba.
"Maksud kamu,Fat.??"tanyaku balik
"Itu waktu habis mencuci muka kamu dengan air bekas jenazah kakekmu."
"Apa aku jujur aja sama Rifat,tentang kelebihanku ini."ujarku dalam hati.
"Kok kamu diam aja.??"tanya Rifat lagi.
"Rifat,kira-kira kamu percaya nggak kalau aku bilang aku bisa ngelihat hal-hal aneh yang seperti kamu bilang.??"ujarku bertanya.
"Jadi,kamu benaran bisa ngelihat makhluk tak kasat mata.??seru Rifat bertanya.
"Iya Rifat,aku bisa ngelihat mereka."jawabku.
"Wah,kamu hebat Annasya Rafanda."puji Rifat padaku.
"Hebat gimana,orang aku aja sebenarnya nggak mau punya kemampuan seperti ini."ujarku.
"Pokoknya kamu hebat,Sya."ujar Rifat kagum padaku."Kamu udah lihat apa aja Nasya,selain pocong waktu itu.??"tanya Rifat lagi.
"Pokoknya banyak deh."jawabku asal.
Setelah itu aku segera masuk kelas,karena bel pelajaran selanjutnya sudah berbunyi.
__ADS_1