
Sore ini adalah jadwal mengaji di masjid.Aku mengaji bersama anak-anak lain di desa ini,termasuk Rifat.Kami sudah janjian akan pergi ke masjid bersama.
Jarak rumahku ke masjid sekitar 400 meter.Rumahku memang terletak di ujung kampung,hanya ada tujuh rumah yang berdekatan,termasuk rumahnya Rifat.Kalau mau ke masjid kami harus melewati jalan sepi sekitar 150 meter,baru akan ada beberapa rumah yang di dapat.Setelah itu harus melewati lagi jalan sepi sekitar 100 meter yang di sisi kanan jalan itu terdapat pohon mangga yang sangat besar dan rindang.Barulah setelah itu kami masuk di pemukiman yang sudah ramai oleh rumah warga dan sudah tidak jauh dari masjid.Desaku ini memang belum terlalu banyak penduduknya,hanya ada 35 kepala keluarga di desa ini.
"Ibu aku pergi dulu ke masjid untuk mengaji ya."pamitku pada ibu yang sedang berada di dapur.
"Iya nak,hati-hati kalau mau menyebrang jalan ya."ujar ibu.
"Siap bu bos."jawabku sambil mengangkat jempolku.Setelah selesai berpamitan pada ibu aku segera keluar menghampiri Rifat yang sedang ngobrol dengan nenek di teras.
"Rifat ayo kita berangkat."ajakku setelah berada di hadapan Rifat.
"Ayo Sya."jawab Rifat sambil berdiri.
"Nek,kami pergi dulu ya."ujarku sambil mencium tangan nenek,yang disusul oleh Rifat.
"Iya hati-hati di jalan."jawab nenek.
Kami pun segera berangkat ke masjid.Tidak ada yang aneh saat kami berangkat.Kami tiba di masjid berpapasan dengan ustazd Fahri yang juga baru datang.Kami segera di pandu oleh ustadz Fahri untuk mengaji.
Satu jam kemudian,kami telah selesai mengaji.Setelah itu,kami menunaikan Shalat maghrib.Sehabis shalat maghrib aku dan Rifat segera bergegas pulang,kami pulang bersama Asti dan Lani yang memang rumah kami searah.
Kami berjalan menggunakan senter kecil yang dipegang oleh Rifat.Dia memang sengaja membawa senter tersebut setiap kami pergi ke masjid.Untuk penerangan kami jika pulang dari masjid.
Kami berjalan beriringan.Rifat berada paling depan di susul Asti,lalu Lani dan aku yang dibarisan paling belakang.
Saat melewati jalanan sepi yang ada pohon mangganya tiba-tiba aku merasa hawa dingin menerpa tubuhku.Tepat di depan pohon mangga itu aku mendengar orang bersiul dari atas pohon,aku mengira Rifat dan yang lainnya mendengar juga siulan itu,ternyata mereka tidak mendengarnya.Mereka tetap berjalan dengan santai.
"Apa aku yang salah dengar ya.??"gumamku sambil berjalan sedikit lebih cepat,menyusul teman-temanku.Namun baru beberapa meter aku melewati pohon tersebut ,terdengar lagi siulan yang lebih kencang dari pohon itu.Dan saat aku menengok ke belakang dan melihat ke atas pohon mangga,aku melihat seekor kera besar yang matanya merah,sedang duduk bertengger di salah satu cabang pohon mangga.Dia tersenyum menyeringai padaku sambil memperlihatkan dua taringnya yang tajam.Badanku serasa lemas,aku nggak bisa bergerak,badanku seketika menjadi kaku.Hampir saja aku pingsan,kalau saja Lani tidak menegurku.
"Kamu kenapa,Sya.??"tanya Lani padaku sambil mengikuti arah pandangku ke pohon mangga tersebut.Rifat dan Asti pun ikut berhenti sambil melihat ke arahku.
"Nggak papa kok,Lani."jawabku yang mulai bisa menggerakkan badanku lagi.Sepertinya mereka memang tidak bisa melihat kera tersebut,buktinya mereka nggak terlihat ketakutan,seperti diriku.
"Kalau gitu ayo kita lanjut lagi jalannya."Ujar Rifat yang mulai berjalan kembali,disusul Asti dan Lani.Akupun segera menyusul mereka.
Kami sudah sampai di depan rumah Asti dan Lani.
"Kami duluan ya."ujar Asti dan Lani sambil melambaikan tangan pada Aku dan Rifat.
Setelah itu,aku dan Rifat melanjutkan perjalanan.Kami akan melewati lagi jalanan sepi yang dipenuhi kebun pisang milik pak Lurah.
Aku yang mulai merasakan hawa yang sama waktu melewati pohon mangga tadi,segera memegang tangan Rifat dengan erat.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih,Sya.??"dari tadi aku perhatikan kamu kayak ketakutan gitu,kayak habis lihat hantu."ujar Rifat.
"Aku nggak papa,Fat."jawabku
masih tetap memegang tangan Rifat.
Tiba-Tiba dari arah pohon pisang aku mendengar suara seperti orang yang sedang melompat-lompat.
"Duk duk duk."bunyi suara tersebut.
Aku dan Rifat saling memandang.Ternyata kali ini Rifat mendengar suara tersebut.
"Fat kamu dengar suara itu kan.??"tanyaku pada Rifat.
"Iya aku dengar,Sya."jawab Rifat
"Duk dukduk duk."suara itu lagi.
Aku semakin mengencangkan peganganku pada Rifat.
Rifat segera mengarahkan cahaya senternya ke asal suara tersebut.
Aku dan Rifat spontan membeku di tempat kami berdiri.Badan kami tidak bisa bergerak.
"Tolong aku,tolong bukakan tali pengikatku. "ujar pocong tersebut sambil melompat ke arah kami.
Aku dan Rifat,komat-kamit membaca doa yang kami tahu.
"Tolong aku."ujar si pocong tersebut semakin mendekat ke arah kami.
Entah kekuatan dari mana,tiba-tiba tubuhku bisa bergerak lagi.Aku segera menarik tangan Rifat dan berlari sekencang-kencangnya.
"Po pocongg.."teriak aku dan Rifat yang mulai berlari menjauh dari pocong itu.
Akhirnya kami sampai di depan rumahku.
Aku dan Rifat masih ngos-ngosan akibat berlari tadi.
"Kalian kenapa.??"tanya Tari yang sedang nangkring di atas pohon kersen di depan rumahku.
"Habis melihat hantu."ujarku pada Tari.
"Ohh pantesan,muka kalian pucat gitu."tutur Tari.
__ADS_1
"Kamu ngomong sama siapa,Sya.??tanya Rifat yang heran padaku.
"Nggak ada kok,Fat."jawabku pada Rifat.
Aku lupa ternyata Rifat nggak bisa ngelihat si Tari,Tari kan makhluk tak kasat mata.
"Tapi,tadi kan Rifat bisa ngelihat pocong itu. Kenapa dia nggak bisa lihat di Tari sekarang."ujarku dalam hati.
"Ya udah,kalau gitu aku masuk ke rumahku dulu,Sya."ujar Rifat sambil berjalan masuk ke halaman rumahnya.
"Iya,Fat."jawabku yang juga berjalan masuk ke rumah,yang di ikuti si Tari dari belakang.
"Assalamualaikum."ucapku saat sudah masuk rumah.
"Wa'alaikumssalam."jawab ayah dan nenek yang berada di ruang tamu.
"Eh kamu udah pulang Nasya,padahal ayah baru mau jemput kamu nih."ujar ayah sambil menerima uluran tanganku.
"Iya ayah."jawabku yang menyalami nenek lagi.
"Maaf Nasya,soalnya ayah tadi habis ngantar hasil panen jagung ke kota."
"Nggak papa kok ayah,aku juga pulangnya sama Rifat tadi,jadi nggak sendirian kok."ujarku pada ayah.
Aku segera masuk ke kamarku dan mengganti bajuku.
"Tari kamu seharian ini ke mana aja sih.??"tanyaku pada Tari yang sedang duduk di tepi ranjangku.
"Hehe ada sedikit urusan,Sya."Jawab Tari sambil cengar-cengir padaku.
"Yaelah kamu kayak bos aja yang banyak urusan,Tar."ujarku menanggapi jawaban si Tari.
"Eh kamu tau nggak Tari,tadi itu aku ngelihat kera besar di pohon mangga yang di jalan sepi itu.Matanya merah,terus gigi taringnya panjang gitu.Yang lebih parah lagi aku sama Rifat ketemu pocong di kebun pisang milik pak lurah."ujarku menceritakan kejadian yang ku alami tadi.
"Kamu tenang aja,Sya mereka nggak akan ganggu kalau kita nggak ngusik mereka."jawab Tari."Itu belum seberapa Nasya,masih banyak lagi yang akan kamu temui ke depannya."sambung Tari lagi.
"Hufftt,,kayakya aku harus menyiapkan mentalku agar lebih siap dengan segala hal ke depannya."ujarku sambil menghela napas.
"Tari,aku juga mau tanya kenapa Rifat bisa ngelihat pocong yang tadi,tapi dia nggak bisa ngelihat kera besar yang di pohon mangga.??"tanyaku pada tari.
"Apa tadi saat melihat pocong itu kamu memegang tangan Rifat.??"tanya Tari.
"Iya Tari,aku memang memegang tangan Rifat tadi,kok kamu tahu sih.??ujarku heran.
__ADS_1
"Setiap kamu melihat hal yang tak Kasat mata,terus kamu memegang tangan orang lain,orang tersebut pasti akan ngelihat apa yang kamu lihat juga,Sya."ujar tari memberi tahuku.
"Ohh gitu ya."jawabku sambil manggut-manggut menanggapi cerita Tari.