
anaknya agar berkemas.
"Kak, maafkan Niken." ujarku pelan seraya memeluk tubuh kak Ami.
"Kakak sudah maafin kamu, maaf juga kakak lakuin ini. Kakak lakuin ini demi kebaikan kalian, ini sebenarnya nggak harus terjadi." "Iya kak, lakukanlah kalau itu baik buat keluarga kita."
Beberapa saat kemudian, Kak Ami dan Steven
meninggalkan apartementku. Steven Pov
"Kita tinggal dimana bun?" tanyaku pelan saat
didalam mobil, mataku sedang focus kejalan raya.
"Diapartemen yang disiapkan ayah mu Stev. Wait a minute, bukannya mobil yang ayah kirim itu Pajero,
kok berubah jadi ini." "Hemm ini hasil tabunganku bun, mobil dari ayah ku
titipkan dirumah sahabatku, Raka."
"Kamu menabung? Yang benar saja, Steven
Amstrong menabung."
"Ais bunda janga menghina."
"Ya fine bunda percaya." Sesampai diapartemen yang bunda maksud, ku
letakkan barang-barang kami.
"Not bad. Kenapa bunda rahasiakan apartemen ini?"
"Bunda rasa nggak perlu, karena bunda pikir bisa mantau kamu, ternyata bunda salah. Kamu malah memalukan, taro mana muka bunda kalau orang- orang tau, kamu pacaran sama tante mu sendiri?
"Aku juga nggak tau bakal begini, lagian aku sayang sama dia bun."
"Tapi itu nggak baik, tabu disini."
"Mau gimana lagi bun, namanya sama-sama sayang.
Pria bodoh aja yang tidak tertarik sama tante Niken. Dia cantik terus..
"Terus apa?"
"**** bun."
"Oh my god, kayanya aku salah didik anak. Anakku jadi mesum begini."
"Ya aku juga nggak tau, aku kan pria normal bun." "Argh Stev, kamu masuk kamarmu. Renungin apa yang kamu perbuat." kata bunda ku sambil menunjuk
kearah sebuah kamar.
Niken Pov
Saat ini ku sedang duduk dicoffe shop yang terletak dimall. Dengan segelas Frapuccino dhadapanku,
iphone yang ku letakkan dimeja tiada hentinya
berdering. Untung sudah ku ganti dengan Silent
mode, kalau tidak bisa diusir dari sini karena sangat mengganggu.
Lyla calling..
Ntah yang berapa kali Lyla menelponku, dan itu tidak
jauh-jauh dari perkerjaan.
Iphone ku pun kembali berdering, ku lihat nama yang
tertera. Chika calling..
"Halloo kenapa?" tanyaku to the point.
__ADS_1
"Jutek amat loe, posisi dimana
Steven pov
Saat ini aku sedang asyik menonton film yang ku setel di dvd playerku.
Entah rasanya aku malas untuk keluar, nggak mood.
Sudah beberapa hari nggak ketemu gadisku rasanya
rindu sekali, apalagi juniorku ini. Sering kami whatshap, Line, bbm maupun Skype.
Yap Skype kami bukan Skype yang nggak biasa. ribet kata-katanya Stev-
Terdengar bundaku sedang asyik berbicara ditelepon
hingga terdengar langkah kaki mendekat kearahku.
"Asyik bener nontonnya?" tanya bunda seraya duduk disampingku
"Yeah bunda juga asyik banget nelponnya sampai
nggak tau-tau." jawabku dengan nada megejek
"Tadi ayah ngabarin kalau mau nyusul kita keIndo
setelah urusannya selesai."
"Bagus dong, bunda nggak kesepian lagi." "Ya.. Ada satu lagi kabar."
"Ada lagi? Apa bun?"
"Kakek Tomi mau pulang keIndo."
"What?"
Setelah mendengar penuturan bunda, segera ku kabari Niken, dan sama halnya denganku. Ia kaget dan nggak percaya.
"Kamu nggak bohong yank, ayah Tomi akan balik keIndo?"
nampak jelas dari wajah gadis dihadapanku kalau ia sangat bahagia.
"Kok kamu bahagia sih yank?"
"Yalah, kangen banget nggak ketemu ayah Tomi
apalagi sama bunda." jawabnya tanpa
mengilangkahkan senyuman dari wajahnya.
"Kok aku begini banget ya?" "Loh kamu kenapa yank? Kok nggak senang?"
"Berarti aku makin lama nggak dapat jatah dong."
"Jatah apa?" tanya Niken dengan polos, timbul ide untuk mengisengi dia. Ku tarik tangannya, ku letakkan diatas Steven junior dan ku gesek tangannya
perlahan.
" terus yang."
"Eh apaan sih yank, malu diliat orang." tanya Niken melepas tangannya.
"Nggak diliat orang gini yank, kamu kan dipojokan."
kataku setengah berisik ditelinganya, sesekali ku kecup dan jilat kupingnya. Tanganku pun ku gerakan
kearah pahanya yang terekspos karena ia
menggunakan dress pendek.
"Ah, apaan sih? Makin gila disini. Balik yuk." katanya lalu ia berdiri dan melangkah menuju parkiran.
Ku tertawa terbahak-bahak melihatnya menahan
__ADS_1
malu, ku abaikan tatapan orang yang menatap heran
kearahku. Niken pov
Steven gila, dasar setan mesum.
Nggak habis pikir ia bisa melakukan itu padaku dicafe
tadi.
"Yang. Kamu marah kah?"
"Nggak, aku mau pulang. Ngantuk." "Ku antar ya?"
"Nggak usah, aku bawa mobil kok "
"Yakin bawa mobil, mana mobil mu?" tanya Stev
dengan nada mengejek. Ku cari sekeliling area parkir
dimana mobilku berada.
"Loh mobil ku kemana, sedangkan kuncinya ada disini... Loh nggak ada?"
Perasaan ku taro kunciku ditas, tapi kok nggak ada.
Pasti ini kerjaan bocah dihadapanku ini.
"Kamu kan yang giniin aku?" tanyaku seraya
menatap tajam kearah Stev.
"Iya aku ngaku. Tadi kuncinya ku ambil pas kamu ketoilet, terus ku suruh orang antar mobilmu
keapartemenmu."
"Terus aku gimana mau pulang?"
"Ya sama aku dong yank. Apa gunanya aku coba
disini?" katanya seraya langsung berjalan menuju
mobil milik cowok itu yang terparkir indah diparkiran. "Naik sudah yank." ujarnya dengan senyuman
dibibirnya. Tanpa banyak bicara, ku letakkan
pantatku dijok mobilnya. Ku rasa mobil ini asing bagiku..
"Mobil baru?"
"Iya yank, mobil dari ayah. Dia juga mau balik ke Indonesia. "
"Oh.."
Sepanjang jalan, yang ku dengar hanya ocehan
Steven. Entah mengapa untuk saat ini aku tidak
tertarik untuk berbicara dengannya mengingat
kelakuannya yang tadi. Aku lebih tertarik melihat tetesan air hujan dibalik
kaca. Perlahan namun pasti mataku terasa berat
karena ngantuk mrnyerang, masih ku dengar ocehan
dari cowok disampingku.
"Pantas ku ngomong nggak ada nyahut, ternyata
sudah tidur. Met tidur sayangku." katanya terdengar ditelingaku, dan terasa sesuatu yang hangat
menyentuh puncak kepala dan sudut bibirku. Namun
__ADS_1
ku abaikan karena mataku semakin berat dan
terlelap.