Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya

Saya Jatuh Cinta Dengan Keponakan Saya
Suci Dalam Debu


__ADS_3

“Tubuhku sudah hancur! Aku tak pantas lagi diampuni! Aku telah ternodai berkali-kali!”


Seorang wanita tengah meringkuk memeluk kedua kakinya dan menenggelamkan wajahnya di sana. Terdengar isakan tangis histeris begitu nyaring dari sana.


Pakaiannya yang teramat lusuh, kini tak lagi berhasil menutupi kemolekan tubuhnya yang ramping. Ia terlihat sangat frustrasi menghadapi kenyataan yang diterimanya.


Sebuah mobil berhenti di hadapannya, membuat matanya teramat silau dengan lampu mobil tersebut.


“Assalamualaikum. Maaf, kenapa Anda di sini malam-malam seperti ini. Apakah Anda membutuhkan bantuan atau Anda tersesat di sini?” tanya seorang pria, yang keuar dari mobil berwarna hitam.


Selang beberapa menit, pria itu mengulangi pertanyaannya dengan mengucap salam berkali-kali. Akan tetapi, Suci tidak menjawab.


“Maaf, apakah Anda baik-baik saja, atau saya mencarikan pertolongan ke warga sekitar jika Anda sedang sakit,” kata pria itu lagi.


Mendengar kata ‘warga’ Suci segera mengangkat wajahnya menatap pria yang masih berdiri di hadapannya itu.


“Astagfirullah!” Pria yang mengenakan masker itu memundurkan langkah melihat wajah yang dikenalnya.


“Kenapa membuka aurat, Suci!” kata pria itu, melihat kerudung Suci terbuka dan tidak menutupi lehernya seperti sediakala.


“Kau mengenalku?” lirih Suci.


‘Rupanya, dia tidak mengenalku di balik masker ini,’ batin Arka.


Namun, dia terkejut begitu Suci berdiri dan mendekatinya. Dengan tangannya yang lembut Suci berusaha menyentuh dada bidang Arka.


“Kenapa masih di sini? Apa kamu mau mencoba menikmati tubuhku juga?” racau Suci, “padahal, penampilan kamu seperti seorang ustad!”


“Ayo, nikmatilah tubuhku, Ustad!”


Suci semakin melangkah maju mendekati Arka. Wanita itu sepertinya tidak mengenal pria yang di hadapannya.


“Astagfirullah. Sadarlah, saya ingin membantumu saja,” ucap Arka, gemetar seraya berusaha menundukkan kepalanya, karena kerudung Suci sudah tidak tertutup sempurna.


“Tidak apa-apa. Aku tidak butuh bantuan sia pun. Aku ingin memberikan kebahagiaan kepada orang-orang!” Suci semakin mendekat.


Ia seolah tidak sadar dengan apa yang dilakukannya saat ini, karena kejadian satu jam yang lalu dimana seorang sopir taxi telah menodainya.


Deg!


Arka berhenti melangkah mundur ketika wanita itu kini berada tepat di hadapannya. Jantungnya berdegup kencang dengan nafas yang tidak beraturan. Arka juga manusia dan lelaki normal, melihat wanita secantik Suci dengan tubuh yang begitu mulus dan putih membuat darahnya berdesir.


Baru kali ini ustad tampan yang terkenal dingin sekaligus seorang dosen itu merasakan hal yang aneh kepada seorang wanita. Namun, Arka tetap berusaha mengingatkan dirinya akan Allah. Allah Maha Melihat dan Maha Mengetahui segalanya. Ia beristigfar di hatinya.


“Kau orang kota ini juga, bukan? Orang kota memang selalu mengedepankan egonya tanpa melihat siapa yang tersakiti dan rugi dengan usahanya yang berdasarkan nafsu dan ego!” lirih Suci, penuh penekanan.


Manik mata indah itu menatap lekat kedua mata Arka. Baru kali ini Arka memandangi kedua mata seorang wanita. Begitu indah apa yang Arka lihat saat ini.


‘Astagfirullah. Ampuni aku, Ya Allah. Mata dan wajahnya bukan hakku,’ batin Arka, mengingatkan dirinya agi.

__ADS_1


Di satu sisi, Arka bingung apa yang terjadi kepada Suci hingga dia seperti ini. Baru saja, pria itu mengenal Suci sebagai wanita yang pemberani, bijak, dan cerdas. Namun, kini keadaan Suci sangatlah memperihatinkan.


“Apa yang terjadi padamu? Apakah ada orang yang berbuat jahat padamu? Atau ada yang menikmati- ….” Ucapan Arka terpotong.


“CUKUP!” teriak Suci.


Tanpa melanjutkan perkataan, dengan frustrasi Suci menarik kasar kerudung yang tadinya menutupi sebagian kepalanya.


“Astagfirullah,” ucap Arka lagi, memejamkan matanya begitu rambut panjang dan lembut itu tergerai sempurna.


Sangat cantik!


Arka berbicara pada hatinya yang benar-benar memuji kecantikan wanita itu. Namun, Arka tetap mengusap dadanya seraya beristigfar di dalam hati.


“Ayo, nikmatilah tubuhku. Biar semuanya hancur dengan merelakan diriku menjadi santapan semua lelaki termasuk dirimu, agar para lelaki buas itu bahagia!”


Deg!


Suci memeluk tubuh Arka.


Bugh!


“Aw!” pekik Suci, yang merasakan sakit di tangannya ketika Arka mendorongnya spontan dan ia terjatuh.


“Maafkan saya. Bukan saya ingin berbuat kasar padamu. Saya hanya menjaga dirimu dan diriku agar Allah tidak membenci kita,” ucap Arka, merasa bersalah.


Arka menelan saliva. Matanya terbuka sempurna menatap tajam ke arah Suci yang baru saja mengatakan itu.


“Jangan berkata seperti itu. Allah Maha Adil. Ujian atau musibah yang menimpa adalah cara Allah memnguatkan hamba-Nya dan apabila kita sabar serta ikhlas menerimanya, maka Allah akan mengangkat derajat kita,” nasihat Arka, lembut.


“Aku terlalu lemah untuk dikuatkan dengan beban sebesar ini!” tukas Suci.


Entah mengapa sudut bibir Arka tertarik ke atas dan menciptakan sebuah lengkungan senyum. Ada rasa kagum di hatinya, karena Suci mampu merangkai kata untuk mendebatnya dalam keadaan seperti ini.


“Jika kamu kita tidak mampu, Allah tidak akan memberikannya. Yang membuatnya merasa berat dan begitu besar adalah kecilnya rasa syukur, sabar, dan keikhlasan di hati kita dalam menerima ujian tersebut.” Arka menimpali lagi.


Alih-alih menjawab atau mendengarkan nasihat Arka lagi, Suci berdiri dengan memeluk tas yang masih digenggamnya tanpa memedulikan penampilannya saat ini.


“Tunggu! Kamu mau kemana?!” Arka mengejar, namun Suci berlari.


Arka memutuskan untuk mengejar Suci dengan mobil. Bagaimana pun dia tidak bisa membiarkan seorang wanita dalam bahaya. Apalagi, Arka sudah mengenal siapa wanita itu.


“Ya Allah, sebenarnya apa yang terjadi padanya? Apakah ujian yang Engkau berikan padanya sangatlah besar? Maka itu artinya dia wanita yang sangat kuat,” gumam Arka, seraya menyetir mobil.


“Astagfirullah!” Arka terkejut, begitu melihat sekawanan orang asing telah menghadang Suci dan menyentuh rambut Suci yang masih tergerai indahnya.


“Kalian mau apa?” tanya Suci, datar.


“Ya jelas, di malam sunyi seperti ini, kami menginginkan santapan malam yang nikmat!” ucap salah satu dari mereka.

__ADS_1


“Jadi, kalian ingin menikmati tubuhku?”


Sekawanan orang asing itu terkejut mendengarnya. Seolah mendapatkan lampu hijau, mereka langsung menyergap kedua tangan Suci untuk membawanya ke suatu tempat.


“Tidak perlu menyeretku. Aku bisa berjalan sendiri dan mengikuti kalian,” ucap Suci, lemah.


Mereka terbelalak. “Gratis?” tanya salah satu diantara mereka.


Suci mengangguk pelan dengan tatapan nanar.


“Kalau begitu, aku ingin menikmati bibir manismu terlebih dahulu di sini, karena begitu menggairahkan!” gelak salah satu diantara mereka.


Suci hanya terdiam dan mematung dengan tatapan kosong. Sungguh, Suci merasa hidupnya sudah tiada arti lagi. Amanah sang ibu yang sesekali ia ingat, begitu menyesakkan dadanya. Sebab, ketika sopir taxi itu menikmati tubuhnya lagi, Suci merasa gagal menjalankan amanah sang ibu.


Salah satu pria itu mendekati wajah Suci dan mengarahkan bibirnya ke bibir mungil Suci.


Bugh!


Tendangan yang begitu kuat mengenai tengkuk lelaki itu hingga tersungkur ke tanah.


“Menyingkir!” perintah Arka, terhadap Suci. Namun, Suci seolah mendengar apa pun. Ia mematung tak sadar dengan apa yang terjadi di sekitarnya.


“SUCI! MENYINGKIR!” teriak Arka lagi, tapi Suci tetap tidak merespon apa pun.


“Akh!” Arka menjerit sakit, karena mendapatkan pukulan ketika ia sibuk meminta SUci untuk menepi.


Ini adalah kali kedua Arka melawan penjahat yang ingin melecehkan Suci. Perkelahian kali ini, lebih dari hari itu, karena Arka melawan lebih dari dua orang penjahat. Namun, selain sebagai seorang dosen dan ustad, Arka juga melatih ilmu bela diri di pesantren. Dia bisa melumpuhkan lawannya dengan mudah yang tidak mengetahui aturan bela diri dalam sebuah perkelahian.


“Sakit,” lirih Suci, mendapati tangannya ditarik oleh Arka hingga tenggelam ke pelukan Arka.


Arka menarik tangan Suci spontan karena dua orang lelaki diantara mereka hendak menyeret Suci bersamanya. Tanpa sadar, Arka menarik Suci ke pelukannya.


“Tetap di belakangku,” kata Arka, memperingati Suci.


Arka kembali menangkis lawannya. Hingga tiba saat yang ditunggu-tunggu, dimana para orang asing itu berlari terbirit-birit ketakutan meninggalkan Arka dan Suci.


“Ampuni aku, Ya Allah,” gumam Arka, memejamkan mata dan tanpa sadar setitik air mata terjatuh dari mata kirinya.


Arka teringat bahwa selama ini dia tidak pernah menyentuh wanita yang bukan mahramnya. Tapi, malam ini, Arka sudah berkali-kali bersenyuhan dengan Suci.


“Bagaimana pun niatku untuk menolong, jika caraku salah, tetaplah salah. Dosa tetaplah dosa,” lirihnya, sebelum membalikkan tubuhnya menghadap Suci yang membeku di belakang tubuhnya.


“Sebenarnya, kamu siapa? Kenapa rela melakukan semua itu hanya demi menoongku?” tanya Suci.


"Tapi, mata itu seperti Ustad Dingin itu. Aku yakin, kau Ustad Arka." Suci mengarahkan tangannya untuk membuka masker yang menutupi wajah Arka.


"Astagfirullah. Jangan sentuh saya lagi. Saya manusia biasa yang tidak bebas dari dosa dan khilaf," ucap Arka, tidak berani menatap Suci.


"Kamu merasa tergoda?

__ADS_1


__ADS_2