
Steven Pov
"BODOH." Umpatku dan terus berteriak. Tak ku
hiraukan orang-orang disekitar taman
memperhatikanku.
Aku cuma bisa terduduk disamping jalanan. Wajah
sedih dan kecewa Niken terus membayangiku. "Stev, loe gak apa-apa?" Tegur Bianca, ia mencoba
menyentuh pundakku tapi segera ku tepis.
"Mending loe pulang aja Bii. Sory bukannya gue usir
loe tapi takut loe yang kena getah dari luapan emosi gue."
"Tapi Stev? Please Bii.. Gue butuh waktu sendiri supaya gue tenang."
"Oke kalo itu mau loe. Tapi gue cuma negasin, kalo
gue nggak bermaksud merusak hubunganmu sama
Niken again." Kata Bianca seraya pergi
meninggalkanku. Dengan perlahan, aku berjalan menuju mobil dan
memasukinya.
Setelah menarik nafas untuk menenangkan diri, ku lajukan mobilku menuju apartemen.
Sesampai diapartement, ku buka pintu dan masuk kedalam. Segera ku cari sosok Niken dikamarnya.
Disana terlihat gadis itu terlelap dikasurnya. Nampak
jelas sekali wajahnya yang kusut dan terdapat bekas air mata diujung matanya.
Maafkan aku Niken.
Ku elus pelan wajahnya dan kecup keningnya. Perlahan ku rebahkan tubuh ini yang mulai lelah dan
mulai terlelap.
.
"Stev, bangun!" Terasa sekali badanku digoyang - goyang dengan kuat.
"Nanti yank. Masih ngantuk." BUG *Suara barang dilempar. anggap seperti itu
"Apaan ini? Kok dilempar gini?" Kataku setengah
berteriak. Alangkah kagetnya aku, baju-baju ku dilempar diwajahku.
"Loe pindah sekarang. Gue gak mau lihat wajah loe."
Ujar Niken, tangannya dilipat didepan dadanya. "Loh kamu kenapa
sih yank? Terus aku pindah kemana?"
"Siapa yang loe panggil yank-yank?"
"Kamu kan pacarku."
"Kita kan udah putus."
"Terus aku tidur dimana?"
"Loe kan sudah ada kamar sementara nunggu bunda loe. Detik ini juga jangan pernah masuk kamar ini.
Jangan sampai pas aku pulang masih disini, nggak
segan-segan loe gue usir. Camkan itu" kata gadis itu
seraya pergi.
Dengan gontai, ku langkahkan kaki menuju kamarku
__ADS_1
yang asli. Ku acak-acak rambutku dan berteriak
"AAA . BODOH KAMU STEVEN."
Segera ku pergi mandi dan bersiap kesekolah. Niken Pov
Sepulangnya dari taman, langsung ku kurung diriku
dikamar. Airmata nggak ada berhentinya, terus
berlinang tiada henti. Itu terus terjadi sampai aku
tertidur karena kelelahan.
. Kring.kring *alarm Hp*
Segera ku matikan alarm diiphone ku itu. Sinar
matahari mulai mengintip dari sela-sela tirai jendela
kamarku, terdengar hiruk pikuk kendaraan dari luar.
Ku kibaskan selimut yang menutupi tubuhku dan
mencoba bangun. Namun ada sesuatu yang berat menahan dibagian perutku. Ku angkat selimut yang
masih menutupi sekitar tubuhku. Terlihat Steven
yang tengah terlelap, hanya menggunakan boxernya
saja. Terlihat wajah polosnya yang tampan, tanpa ku
sadari tanganku hendak mengelus puncak kepalanya
namun cepat-cepat tersadar dan menarik kembali tanganku.
Ku langkahkan kakiku menuju kamar mandi, hendak
membersihkan diri karena ada jadwal fotoshot jam 8.
Ku kenakan skiny jeans hitam, croptee tanpa lengan
kenakan topi berwarna pink bertuliskan BAD GIRLS karena hari ini rambutku ku utak-atik.
Sebelum pergi, ku bangunkan terlebih dahulu Steven.
Ku goyang-goyang tubuhnya dengan keras.
"Stev, bangun!"
"Nanti yank, masuh ngantuk."
Dengan kesal, ku ambil baju Steven yang berserakan dikamar dan ku lempar ke tubuhnya.
BUG
"Apaan ini? Kok dilempar gini?" Kata cowok itu
setengah berteriak, matanya menatapku dengan
tatapan heran.
"Loe pindah sekarang. Gue nggak mau lihat wajah loe." Kataku seraya melipat tangan depan dada.
Maaf stev, aku terpaksa lakuin ini supaya kamu
kapok dan nggak bikin ulah lagi.
"Loh, kamu kenapa sih yank? Terus aku pindah
kemana?"
"Siapa yang loe panggil yank-yank?" "Kamu kan pacarku."
"Kita kan sudah putus."
Dan itu semua karena loe.
__ADS_1
"Terus aku tidur dimana?"
" "Loe kan sudah ada kamar sementara nunggu bunda
loe. Detik ini juga jangan pernah masuk kamar ini. Jangan sampai pas aku pulang masih disini, nggak
segan-segan loe gue usir. Camkan itu" kataku sambil
berlalu..
Steven Pov
Hari ini sekolah nampak ramai karena hari ini
pembagian pengumuman kelulusan.
Dengan malasnya, ku langkahkan kakiku menuju
kelas. Ku abaikan siswa-siswi yang menyapa ku.
"Hai kak stev." "Ih makin gagah aja stev."
"Kok stev murung gitu ya?"
"Tetap ganteng kok."
"Kak stev kenapa?"
"Sayang ya kita gak bisa liat kak Steven."
"Jadi pengen cepat-cepat lulus eh " "WOY." Teriak seseorang sambil mendorong bahuku.
holly ****.
Segera ku berbalik dan hendak ku hadiahi bogeman.
Tapi urung setelah melihat sumber suara itu.
"Calm down dude."
"Sialan loe. Hampir ku bogem itu mukamu." "Jangan dong bro. Muka ganteng ini."
"Sinting." Ku tinggalkan cowok berwajah chinnese itu
menuju kelas yang dibalas dengan tatapan heran
cowok itu. Ia pun berlari kearahku lalu merangkul
bahuku.
"Loe kenapa bro? Pagi udah mesem aja tu muka." "Badmood nih gue."
"Why?"
"Kelai gue sama Niken terus kita end."
"Yang sabar bro, setiap hubungan itu pasti ada
halangannya, jalan tol yang lancar aja ada loket-loket
yang menyetop." "Perumpamaan yang buruk ckck. Wait a minute, gue
liat loe cengengesan dari tadi. Habis ngobat loe ya."
"Pala loe. Ada yang bikin gue senang dong, hati ini
berbunga-bunga."
"Najong loe. Alay."
"Biarin.." .
Waktu pun berlalu, pengumuman kelulusan sudah
dibagi dan 100% Lulus. Dan disini cukup heran
melihat tradisi kelulusan, coret-coret dan jalan
__ADS_1
berarak-arakan. Macam celebration.
"Bro, gue sama anak-anak